
Rani segera menghubungi Bayu untuk datang kesini. Rani juga bingung apa yang telah terjadi? Akhir-akhir ini Rani jarang update tentang berita-berita yang sedang berkembang pesat saat ini.
Mansion Sebastian.
Lee yang selesai membersihkan tubuhnya hanya bisa melihat Erra yang tidak memakai baju. Lee memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat tubuh bagus Erra itu. Lee benar-benar takut khilaf dan menyerang Erra membabi buta.
"Sayang," panggil Lee dengan nakal.
Erra yang sedari tadi melihat ponselnya hanya bisa terdiam. Erra tidak menyangka kalau Lee memanggilnya sayang dengan nada yang nakal. Erra sangat bahagia seperti mendapatkan mainan baru dari ibunya. Jarang-jarang Lee memanggilnya dengan kata sayang.
"Ada apa?" tanya Erra dengan mata berbinar.
"Bisakah kakak memakai baju?" tanya Lee yang merasakan tubuhnya mulai kepanasan.
"Kenapa aku harus memakai baju?" tanya Erra yang tidak paham.
"Kakak harus memakai bajunya. Aku takut khilaf," jawab Lee.
"Tidak mau. Aku memang membiarkan kamu khilaf," ucap Erra yang tersenyum devil.
Melihat Erra yang tersenyum devil, Lee sangat ketakutan. Baginya Erra sangat menyeramkan melebihi Candra.
"Kakak lebih menyeramkan ketimbang Candra," kesal Lee.
Erra hanya terkekeh mendengar kekesalannya Lee. Erra malah memiliki ide konyol buat Lee. Pertama-tama Erra akan membuka celananya dengan perlahan. Erra sangat menikmati momen tersebut. Lee hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terpaksa Lee menjadi khilaf. Lee mendekati Erra langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Lee mulai menyentuh area tertentu yang membuat Erra merasakan ada glenyar-glenyar aneh. Namun Erra menahannya agar tidak mendesah. Erra ingin melihat sang singa betina menaklukkan dirinya.
Ketika Lee semakin menggodanya, Erra sudah tidak kuat lagi. Erra memegang tubuhnya Lee dan menukar posisinya. Sekarang Lee berada di bawah dan Erra berada di atas. Erra mulai mengabsen satu persatu kelemahannya. Ternyata Lee kalah telak dari Erra. Ceritanya Lee ingin menggoda Erra. Malah Lee yang menjadi korban.
Ketika ingin melakukan pelepasan ponsel Erra berdering. Erra membiarkan ponsel itu terus-terusan berdering. Hingga akhirnya Lee meminta untuk menghentikan Erra sebentar, "Kak… berhenti dulu sana."
"Mau pelepasan sayang," ucap Erra.
"Tapi kak… telepon kakak berbunyi terus menerus. Angkatlah terlebih dahulu. Siapa tahu penting," usul Lee.
"Baiklah kalau begitu," sahut Erra yang patuh terhadap Lee.
Erra meraih ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Erra mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Apakah ponselmu mati?"
"Tidak. Ponselku hidup semua," jawab Lee.
"Lebih baik kamu angkat. Kemungkinan besar mama mencarimu," ucap Erra yang menyodorkan ponselnya ke arah Lee.
Lee segera meraih ponselnya Erra dan langsung mengangkatnya. Lalu Lee menyapa Rani dengan sopan, "Halo ma."
"Kamu berada dimana?" tanya Rani.
"Di kamar bersama Kak Erra," jawab Lee.
__ADS_1
"Kalau begitu datanglah ke mansion Drajat sekarang. Ada yang harus dibicarakan bersama," suruh Rani.
"Baik ma," balas ma.
Sambungan terputus.
Lee memandang wajah sang suami yang penuh pertanyaan. Lee tersenyum manis lalu berkata, "Lebih baik kita tunda terlebih dahulu. Kita harus ke mansion terlebih dahulu."
"Apakah kamu akan melanjutkan di kamar aku pas kita lagi tidur berdua ketika masih kecil?" tanya Erra.
"Memangnya ada apa di kamar kakak?" tanya Lee.
"Di kamar itu banyak kenangan indah. Aku meminta mama agar tidak merubahnya sedikitpun hingga kamu pulang ke mansion," jawab Erra yang ingin membuatnya penasaran.
"Apakah itu benar?" tanya Lee. "Kok aku jadi penasaran?"
"Ayolah. Kita akan bersiap-siap ke mansion," ajak Erra.
Lee menganggukan kepalanya dan bersiap-siap. Sementara di bawah Andi dan Garda melihat Marvin. Mereka ingin menghabisi Marvin saat itu juga. Namun mereka mengurungkan niatnya. Karena mereka sudah diancam oleh Lee, jangan membuat kegaduhan di dalam mansion.
"Habislah papa jika membuat kegaduhan di dalam mansion," ucap Andi yang benar-benar ketakutan.
"Apakah papa takut dengan ancaman singa betina?" tanya Garda.
''Ya… papa takut," jawab Andi yang bergidik ngeri.
"Pa," panggil Lee.
"Kamu mau kemana? Sudah tiba di mansion tapi kamu malah pergi," kesal Andi.
"Aku mau pergi terlebih dahulu ke mansion Drajat. Mungkin aku tidak akan pulang sekarang," jawab Lee.
"Iyalah," sahut Andi yang sebenarnya malas kalau Erra selalu mengikuti Lee.
"Pergilah," usir Andi. "Pulanglah dengan membawa hasil."
"Apa itu?" tanya Lee.
"Hasil garis dua," jawab Andi tersenyum smirk.
Lee hanya tersenyum manis dan paham apa yang diminta oleh Andi. Lee segera menarik tangan Erra sambil wajahnya memerah.
"Lihatlah mantan bosmu itu! Semakin lama semakin bucin! Lee kemanapun selalu diikuti!" geram Andi.
Garda menahan tawanya karena melihat Andi cemburu kepada Erra. Bisa-bisanya Erra telah memonopoli Lee seutuhnya. Sedangkan Andi ingin berduaan sama Lee tidak bisa. Sepertinya Andi harus mengalah kepada Erra.
"Apakah ini yang dinamakan jika anak perempuan sudah menikah. Maka hidupnya akan diserahkan kepada sang suami dengan utuh?" tanya Andi yang semakin frustasi.
__ADS_1
Saat lewat di depan Andi, Caroline terkejut dengan pertanyaan Andi. Bagaimana bisa Andi mengatakan seperti itu? Apakah Andi lupa ketika pertama kali menikah? Dirinya telah dimonopoli seutuhnya? Ketika ingin bertemu dengan orang lain atau siapapun Andi harus ikut. Meskipun saat itu sedang sibuk Andi harus melakukannya. Terkadang membuat Caroline jengah.
"Kamu bicara apa tadi?" tanya Caroline.
"Aku sudah tidak memiliki waktu bersama Lee. Kamu tahu kalau enggak ada tugas. Aku sering mengajaknya ke Singapura atau Jepang hanya untuk bersenang-senang," jawab Andi.
"Kamu tahu, Lee sekarang sudah memiliki keluarga. Kamu harus paham itu. Janganlah kamu egois jadi papa. Biarkan Lee menjadi milik Erra sesungguhnya," ujar Caroline yang melipat kedua tangannya di dada sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi Lee masih putriku," kesal Andi.
"Lalu?" tanya Caroline.
"Apakah aku tidak boleh menculiknya beberapa hari dan menikmati quality time bersama?" tanya Andi.
Caroline paham apa yang dimaksud oleh Andi. Caroline juga ingin melakukannya. Lalu bagaimana dengan Garda? Garda juga begitu. Ingin sekali Garda merasakan quality time bersama keluarga.
"Apakah kita harus melakukannya?" tanya Garda.
"Pastilah. Tapi enggak sekarang. Kamu tahu kita banyak pekerjaan," jawab Caroline.
"Kalau begitu lakukanlah," seru Andi.
"Lalu bagaimana nasib Marvin disini?" tanya Caroline.
"Biarkanlah Lee yang akan mengurusnya. Seluruh nasib Marvin dan Dennis berada di tangan Lee. Aku harap mereka berdua tidak bermacam-macam," jawab Andi.
Semua keputusan tentang Marvin dan Dennis akan ditentukan besok. Lee pergi ke mansion Drajat untuk berembuk masalah demi masalah. Lee ingin masalah ini cepat selesai. Bahkan Lee sudah jengah ketika memiliki musuh yang licin.
Ketika masuk ke dalam area mansion Drajat, mata Lee membulat sempurna dan melihat wartawan yang banyak sekali. Lee tidak tahu apa yang akan dilakukannya lagi. Sementara itu Erra terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Erra menatap mata istrinya sambil mencari jawaban. Lee hanya menebak ada apa sebenarnya?
"Ada apa sih kok wartawan seantero jagat mendadak datang di area mansion?" tanya Erra.
"Aku akan menebak ada apa yang terjadi selama kita tinggal di Tottenham Inggris," jawab Lee.
"Apa itu?" tanya Erra.
"Sepertinya Elizabeth sedang membuat ulah untuk membuat namanya jatuh ke bawah," jawab Lee yang menebak ada apa sebenarnya.
"Masalah apa yang kamu maksud?" tanya Erra. "Kok aku enggak tahu sama sekali."
"Kamu masih ingat enggak dengan ancaman Elizabeth?" tanya Lee yang berusaha mengingatkan kejadian ketika ada rapat pemegang saham.
"Bukankah itu masalah sudah sangat lama sekali?" tanya Erra yang mengerutkan keningnya.
"Memang itu masalah lama yang akan membuat nama kamu jatuh dengan skandal terbesar," jawab Lee.
"Sek… kok aku enggak ingat dengan kata-kata Elizabeth ya?" tanya Erra kepada Lee.
__ADS_1