Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 325


__ADS_3

“Maksudnya apa?” tanya Lee yang tidak paham.


“Kamu pengen bilang yang tanggung jawab adalah mereka. Menurutku itu aneh. Mana ada mayat bisa mempertanggungjawabkan. Jika ada ya itu sangat menyeramkan bagiku. Mau tidak mau ya kita harus tanggung jawab. Paling ya hukumannya suruh bersihin kolam buaya Papa Andi,” jelas Nanda.


“Bener juga. Mana ada mayat disuruh tanggung jawab. Yang ada sang hakim pada kabur entah di mana dirimu berada hampa terasa hidupku tanpa dirimu,” jelas Lee yang memakai logika dalam berpikir.


“Nah itu dia. Aku sudah bilang jangan terlalu dipikirkan. Banyak-banyak berdoa agar lolos dari hukuman para papa. Oh iya.... Apakah kamu akan mencari pelakunya?” tanya Sam yang masih fokus pada kendaraan.


“Entahlah. Sebentar lagi mau pulang ke Indonesia. Paling bos utamanya adalah Adam. Nggak mungkin orang lain yang  melakukan pembunuhan secara massal terhadap anak banyak atau musuhnya sendiri ditambah lagi dengan keberadaan para pria tersebut,” jawab Nanda yang membuat Lee diam.


“Jujur aku sudah lama tidak menyerang markas Black Lotus. Rasanya aku ingin melakukannya dan membakarnya hingga hangus tidak tersisa,” sahut Lee.


“Jangan gila terlebih dahulu Jika kamu gila terlebih dahulu maka kenyataannya tidak asik. Kita kan pakai sistem tarik ulur. Makanya kita harus melakukannya dengan cara tarik ulur seperti layangan. Biar Adam yang merasakannya,” celetuk Sam yang membelokkan mobilnya ke dalam hutan.


Markas Black Dragon.


Setelah Andi melepaskan kedua putranya itu, Andi masuk ke dalam kamar. Andi mengambil ponselnya dan melihat beberapa pesan. Tak sengaja pria paruh baya itu melihat pesan dari sang istri. Andi menyungginkan senyumnya sambil memegang dadanya.


“Oh... Begini rasanya jatuh cinta,” ucap Andi yang tergila-gila pada istrinya itu.


Bisa dikatakan Andi adalah pria yang sangat setia kepada istrinya. Ia tidak pernah melihat wanita lain dan memujanya. Sering sekali banyak wanita yang patah hati. Ada juga beberapa wanita yang sengaja melempar tubuhnya ke ranjang Andi. Pria paruh baya itu pun tidak pernah menggubrisnya. Ia lebih memilih meninggalkan kamar hotel tersebut dan memesan kamar lainnya. Ia lebih menjaga perasaan istrinya tersebut meskipun jauh.


Garda dan Erra duduk berhadap-hadapan. Mereka memutuskan untuk tidak meneruskan peperangan ini. Mereka mulai bersikap dewasa dan mengingat banyak kejadian yang akan dialaminya. Selain itu juga mereka harus ekstra hati-hati ketika Lee keluar dari mansion ataupun markas.


“Gue semalem dapat pesan dari mata-mata. Cepat atau lambat Lee dalam bahaya besar. Adam sudah menurunkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Lee. Gue nggak habis pikir sama orang tua itu. Seharusnya dia tobat malah makin menjadi. Lee pernah bercerita kalau dirinya pengen damai sama Adam dan Chandra. Tapi mereka nggak pernah mau damai. Mau nggak mau Lee membuat banyak rencana agar bisa menyerang mereka,” jelas Garda yang mengusap wajahnya.


“Gue tahu itu. Semakin hari gue semakin frustasi karena orang itu. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah bukannya dulu yang menyebabkan terjadinya peperangan ini adalah orang tuanya. Seharusnya mereka berdua menghentikan agar tidak merambat terlalu jauh. Mereka bisa berdiri tanpa harus menyenggol enam pilar utama. Dia melakukan hal kecurangan pun itu tidak jadi masalah. Sekarang mereka menuntut enam pilar utama mati tak tersisa. Inilah yang membuat gue bingung,” ujar Erra.


“Mereka bodoh. Bayangkan saja kedua orang tuanya mendoktrin otak mereka untuk menghancurkan enam pilar utama. Beberapa hari terakhir aku bertemu Marco dan Ignatius. Mereka menceritakan satu fakta yang membuat kita tercengang. Fakta itu adalah Adam dan Chandra dijadikan mesin untuk menghabisi enam pilar utama sekaligus,” ucap Garda dengan serius.


“Apakah itu benar?” tanya Erra.

__ADS_1


“Iya itu benar. Kamu tahu kedua orang tuanya Ignatius dan Marco adalah penyambung lidah. Semacam pengantar kurir kata itu menurutku. Mereka adalah saksi hidup yang dekat dengan kedua orang tuanya Chandra. Bisa dikatakan best friend. Mereka juga tidak menampik bekerja sama dengan enam pilar utama saat itu. Kerjasama ini bagi mereka sangat menguntungkan,” jelas Garda.


“Lalu, Apakah mereka mendukung Adam dan Chandra?” tanya Erra.


“Tidak, mereka tidak mendukung orang tua Candra dan Adam. Mereka lebih memilih netral. Jika tidak netral maka berdampak pada perusahaan kita semua. Dan sampai sekarang mereka tidak membuat kesalahan sekalipun. Papa sering memakai jasa ekspedisi milik Ignatius. Ignatius malah memberikan sebuah bonus khusus karena perusahaan kita adalah perusahaan terlama yang mengajak kerjasama. Dari tahun ke tahun papa sangat nyaman mengajak kerjasama Ignatius. Itulah kenapa para enam pilar utama tidak pernah menganggap mereka musuh. Melainkan Adam dan Chandra menganggap kita musuh utama. Semoga saja Adam diberikan ketabahan untuk menghadapi adik kita yang konyol ini,” terang Garda sambil melihat isi ponselnya dan tidak sengaja menemukan sebuah berita bahwa apartemen milik Erra hancur.


“Terus Apakah aku harus membenci mereka?” tanya Erra.


“Lihatlah, gedung apartemenmu hancur,” jawab Garda sambil menyodorkan ponselnya ke arah Erra.


“Janganlah kau bercanda seperti itu. Jika kau dendam dendam saja. Aku nggak mempan kamu takut-takutin seperti itu,” cibir Erra.


“Gue nggak bercanda! Gue serius! Emangnya gue tahu bohong sama lu!” tegas Garda.


“Bilang aja sejujurnya kalau lu ngerjain gue?” ujar Erra sambil meraih ponselnya Garda.


Kemudian Erra melihat video tentang gedung apartemennya ambruk matanya perlahan membola sempurna. Semalam ia ke sana gedung itu masih baik-baik saja. Lalu kenapa gedung itu bisa hancur berantakan? Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil menarik rambutnya.


“Iya, gue tahu itu. Elu bangun gedung itu menghabiskan uang tabungan lo. Dan sekarang gedung itu udah hancur berantakan,” kesal Garda yang ikut menanam modal di sana.


“Apa yang harus gue lakuin ya?” tanya Erra dengan sendu.


Beberapa saat kemudian datang Lee, Nanda dan Sam. Mereka masuk ke dalam ruangan itu lalu melihat Erra dan Garda frustasi. Mereka tahu apa penyebab utama Garda dan Erra frustasi. Kemudian Lee mulai mendekati Erra sambil menghempaskan bokongnya.


“Kakak,” panggil Lee dengan lirih.


“Ada apa?” tanya Erra yang mulai tangannya memegang pinggang Lee.


“Ada apa dengan kakak?” tanya Lee.


“Aku kaget,” jawab Erra yang mulai memeluk Lee.

__ADS_1


“Kenapa? Apakah aku pergi dari markas?” tanya Lee yang memandang wajah Erra.


“Bukan, bukan itu. Sebenarnya aku nggak mau mengatakan ini. Karena masalah ini akan menjadi beban hidupmu,” jawab Erra.


“Bukannya kalau kita sudah menikah, kita bisa berbagi segala macam beban diantara kita? Seharusnya kakak berbicara apa masalah yang membelenggu sendiri,” ucap Lee yang mengerti akan kegundahan sang suami.


“Kamu tahu, gedung yang aku bangun pas kuliah di sini ternyata ambruk. Aku nggak tahu penyebabnya apa kok bisa ambruk begitu saja. Padahal gedung itu adalah gedung di mana saat aku mulai menapaki dunia bisnis. Jika aku tahu siapa yang membuat gedung itu hancur, maka aku yang akan menghancurkan hidupnya,” ucap Erra dengan lemah.


Mata Lee membola sempurna. Gedung yang baru saja dihancurkan ternyata awal karir sang suami. Ia tidak menyangka kalau jurus tapak naganya itu bisa membuat sang suami lesu. Sementara itu Sam dan Nanda hanya bisa terbengong. Jujur saja mereka harus menjelaskan apa?


“Bagaimana aku menjelaskannya kalau keadaannya istrimu diserang?” tanya Nanda dalam hati.


Sam melihat Nanda yang sedang gelisah. Ia juga bingung untuk mengatakan sebenarnya. Mereka takut jika Erra murka dan menghancurkan karirnya masing-masing. Yang namanya Erra tetap Erra. Erra yang begitu dingin adalah pria kejam. Jangankan sang musuh terkadang temannya sendiri juga dilahap.


“Maafkan aku,” ucap Lee.


“Maksud kamu apa?” tanya Erra yang tidak mengerti.


“Jika aku jujur, apakah kakak marah sama aku?” tanya Lee kembali.


“Apa maksud kamu?” tanya Erra yang melihat wajah sang istri pucat ketakutan.


“Aku akan jujur kepadamu. Tapi jangan kamu menghancurkan karirnya Kak Nanda dan Kak Sam,” jawab Lee.


“Tiba-tiba saja kamu minta maaf. Lalu kamu ingin berkata jujur. Jujur aku tidak marah sama kamu. Kamu pergi sama Sam atau Nanda hatiku sangat tenang. Bahkan mereka bisa melindungimu dalam segala macam bahaya. Sekarang aku tanya, Ada apa dengan kamu? Kok tiba-tiba saja wajahmu pucat? Apakah kamu sakit dan demam?” tanya Erra.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2