
"Papa tahu Erra adalah anak yang menyebalkan," kesal Brucce.
"Ya... Aku tahu itu. Bahkan yang paling menyebalkan adalah kamu. Masa ada teman malah suka angin," ucap Erra yang kesal. "Kenapa juga ya papa enggak melemparkan aku ke Nanda, Imam atau Sam? Mereka adalah teman yang asyik."
Brucce memutar bolanya dengan malas. Lalu Andi menancapkan gasnya untuk pergi menuju ke rumah sakit. Sesampainya di sana Erra dan Brucce berjalan seperti layaknya bos membuat semua orang terkagum-kagum. Tak jarang mereka mendapat pujian dan colekan dari pengunjung rumah sakit. Meskipun begitu Andi tidak memberikan pengawalan yang ketat.
Ketika baru sampai di ruangan dokter kandungan Erra dan Brucce mulai lagi. Brucce melarang Erra untuk masuk. Sedangkan Erra tetap ngotot ingin masuk ke dalam. Kemudian Tika memutar bola matanya dengan jengah. Kenapa saat-saat mendebarkan seperti ini malah berantem? Mau tidak mau Tika mengajak kedua bocah itu masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam Tika dan Andi mendapat sambutan hangat dari sang dokter. Tak lupa juga sang dokter menyapa kedua bocah itu yang sedang memasang bendera peperangan. Setelah menyambut mereka dokter mempersilakan Tika berbaring dengan dibantu oleh para suster. Sedangkan sang bocil itupun mendekati Tika dan diam tidak bersuara.
Ketika dokter mengoles gel di atas perut Tika, Brucce dan Erra menatap perut Tika dengan takjub. Mereka serempak bertanya kepada Tika. Apakah mereka pernah hidup di dalam perut? Seluruh orang yang berada di sana bengong. Yang lebih parahnya lagi mereka bertanya, kenapa kami bisa berada di dalam perut? Mau tidak mau dokter itu menjelaskan secara mendetail.
Setelah menjelaskan semuanya sang dokter pun memulai pemeriksaan kondisi Tika dan bayinya. Dokter pun tersenyum puas dan senang dengan keadaan Tika yang baik-baik saja. Ketika layar USG sudah memperlihatkan janin yang berusia tujuh bulan, Andi dan kedua bocil itu menelan salivanya secara kasar. Andi mengagumi calon anak keduanya yang sedang tidur terlelap. Lalu tidak sengaja sang bayi merubah posisinya. Bayi itu sengaja memperlihatkan jenis kelaminnya. Sungguh pemandangan ini sangat unik sekali. Dokter itupun melihat jelas kalau sang bayi ternyata berjenis kelamin perempuan.
"Selamat ya... Kalian mendapatkan seorang bayi perempuan," ucap sang dokter.
Andi tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Senyumnya yang merekah membuat semua orang menjadi bahagia. Lalu bagaimana dengan kedua bocil itu? Ternyata mereka masih mengibarkan bendera perang.
"Dia calon istriku," celetuk Erra yang tersenyum manis.
Semua orang yang berada di sana hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bagaimana bisa Erra yang notabenenya masih bocil langsung mengklaim bayi perempuan itu adalah calon istrinya? Sementara Brucce menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Dia adikku. Aku sangat menyayanginya."
Flashback Off.
"Jadi kakak sudah mengikat aku semenjak dalam kandungan?" tanya Lee.
"Ya... Aku sudah mengikat kamu. Aku memang menyukaimu," jawab Erra.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Erra memang sudah mencintai Lee dari dalam kandungan emaknya. Lee tidak akan bisa lepas dari jeratan Erra yang sekarang sangat posesif. Meskipun Lee adalah anggota inti mafia. Diam-diam Erra melindunginya. Begitu juga dengan Lee yang berusaha melindungi Erra dengan caranya sendiri.
"Apakah kita enggak ke kantor?" tanya Lee.
"Apakah kamu rindu dengan pekerjaan kamu?" tanya Erra den
__ADS_1
"Ya... Aku sangat merindukan pekerjaan itu," jawab Lee. "Rindu ingin mengerjai bos yang seperti kulkas."
"What?" pekik Erra. "Kenapa kamu menyebutku kulkas?"
"Karena kamu adalah seorang atasan yang dingin," jawab Lee.
Erra mulai memandang wajah Lee dan tersenyum, "Kamu benar."
"Mandilah," suruh Lee.
"Mandikan ya," pinta Erra.
Lee menganggukan kepalanya tanda tidak sadar menyetujui permintaan Erra. Erra segera melepaskan pakaiannya dan membuangnya ke segala arah. Setelah melepaskan baju Erra memegang tangan Lee sambil menarik tangannya.
"Mau kemana?" tanya Lee.
"Mandilah," jawab Erra.
"Mandi," ucap Lee yang baru sadar.
"Apa!" pekik Lee yang baru sadar. "Lebih baik kamu mandi sendiri. Aku akan menyiapkan bajumu."
"Tidak. Pokoknya kamu harus memandikan aku sebelum kita memiliki anak," ucap Erra secara blak-blakan.
"Lalu, jika kita sudah memiliki anak?" tanya Lee.
"Tetap kamu akan memandikan aku," jawab Erra yang senyumannya yang merekah tanpa merasa bersalah.
"Aya... Aya... Wae... Kumaha atuh," kesal Lee.
"Jangan kesal sama kakak tampanmu ini. Apakah kamu tidak mau dapat ridho dari Allah?" tanya Erra.
"Kalau sudah berbicara seperti ini aku hanya bisa apa? Lagian juga itu senjata yang paling ampuh yang dimiliki oleh Erra Drajat," ucap Lee dengan lesu.
__ADS_1
Memang kata-kata seperti itu membuat Lee menjadi luluh. Lee harus melaksanakan tugasnya sebagai istri. Jujur saja Lee mengenal Erra sebagai bos yang dingin dan tidak pernah tersentuh. Lalu sekarang ah... Sudahlah jangan pernah mengeluh. Jalani saja apa yang diminta oleh Erra. Bukannya Lee tidak mau menuruti keinginan sang suami. Tapi ujung-ujungnya Lee harus berendam dalam satu bathup bersama suaminya. Menikmati kehangatan bersama dan tentu saja melakukan hubungan suami istri. Ah... Erra bisa saja kamu merayu singa betinamu itu. Untung saja singa betinamu tidak mengaum.
Di lain tempat Angela merasakan perutnya merasa diaduk-aduk. Angela segera bangun dari tidurnya dan pergi menuju ke toilet. Angela memuntahkan seluruh isi perutnya setelah sarapan.
Hoekkkkk!
Hoekkkkk!
Tubuh Angela mulai melemas dan tidak bisa digerakkan. Sementara Feli yang selesai membereskan meja mendengar Angela muntah. Feli bergegas mendekati Angela dan memandang wajah Angela yang pucat, "Kakak sakit?"
"Tubuhku lemas," jawab Angela.
"Ayo kak... Kita ke kamar!" ajak Feli yang memapah Angela keluar dari toilet.
Feli akhirnya memapah Angela hingga ke kamar. Saat berjalan menuju ke kamar ada seseorang yang mengetuk pintu. Mata Feli membulat sempurna dan mengerutkan keningnya, "Apakah itu Tuan Jake?"
"Maksudnya?" tanya Angela.
"Maksudnya, apakah itu Tuan Jake? Tadi tuan Jake mengirim pesan untuk menjemputku," jawab Feli.
"Oh... Berarti kamu disusul oleh Tuan Jake?" tanya Angela.
"Iya," jawab Angela.
Feli membantu membaringkan Angela dan menyelimutinya. Feli segera keluar dari kamar dan berteriak, "Tunggu sebentar." Feli mendekati pintu dan menghela nafasnya sambil memegang daun pintu. Dengan nafas panjangnya Feli membukanya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Feli tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang sangat cantik dan elegan sambil membawa oleh-oleh. Feli terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Saat Feli melamun wanita itu memanggil Feli sambil tersenyum, "Selamat pagi Felicia."
"Pa... Pa... Pa... Pagi nyonya Yi," sapa Feli.
__ADS_1
"Apakah kamu membiarkan aku berdiri di sini?" tanya mama Yi nama wanita itu.