
"Hmmp… sepertinya aku tanya pada papa dan kak Erra," jawab Lee.
"Kamu harus mutusin sendiri. Karena kamu adalah pemegang saham terbesar di Asco," ucap Rani.
"Tidak… tidak… sepertinya tidak perlu. Karena mama papa yang berhak memutuskannya," ujar Lee dengan sopan.
Beberapa saat kemudian Greg melihat Lee yang sedang berbicara dengan para mama. Greg masuk ke dalam sambil memanggil Lee, "Lee."
"Iya," sahut Lee.
"Dipanggil papa. Ada meeting di ruangan khusus," ucap Greg yang keluar dari ruangan itu.
Lee menganggukan kepalanya tanda setuju. Akhirnya Lee berpamitan untuk meminta izin kepada mereka. Setelah itu Lee pergi ke ruangan khusus.
Sesampainya di sana, Lee melihat para papa yang serius. Lee mendekati mereka sambil bertanya, "Ada apa?"
"Kemana Erra?" tanya Bayu.
"Erra berada di mansion Sebastian untuk mengajak Marvin kesini," jawab Lee.
"Apakah kamu tidak menjual barang kesayanganmu di pasar gelap?" tanya Irwan.
"Rasanya aku tidak menjual apa-apa. Aku ingin menjual ginjalnya Adam dan juga hatinya," celetuk Lee yang berbicara asal.
"Apakah kamu serius melakukannya?" tanya Erra yang berdiri di ambang pintu.
"Semakin lama nyali istri kau besar juga," puji Garda.
"Jangan main-main kamu sama Adam!" geram Andi.
"Aku enggak main-main sama Adam. Aku hanya ingin menggertak saja. Aku malas bermain dengan Candra," ucap Lee. "Lama-lama Candra enggak asyik diajak main. Bisanya melemparkan ke orang lain."
"Janganlah kamu bermain-main dengan Adam. Kamu bisa terbakar nanti. Kamu tahu kalau Adam lebih berbahaya dari Candra?" tanya Marvin yang baru saja masuk ke dalam ruangan khusus itu.
"Apakah benar demikian?" tanya Lee yang mendengus kesal.
"Jika kamu menyentuh sedikit saja. Adam akan murka," jawab Marvin yang mengerti tabiat Adam.
"Rasanya aku ingin memiskinkan Adam saat ini juga," celetuk Lee.
Memang Lee tidak ada matinya. Mafia kelas kakap dibantainya apalagi kelas teri yang masih ecek-ecek. Seluruh para papa memegang kepalanya secara serempak. Bagaimana bisa Lee mengatakan itu secara blak-blakan. Lalu bagaimana dengan Marvin? Marvin hanya mengeluarkan ekspresi dengan wajah datar. Marvin sudah mengetahui sepak terjang Lee dari awal menjadi anggota mafia.
"Lee… musuh kamu itu pembunuh berdarah dingin. Kamu harus mundur dari sini. Jika kamu tidak mundur," ucap Erra yang menggantung.
__ADS_1
"Ah… mundur bagaimana? Janganlah mundur… itu enggak asyik," kesal Lee yang ingin memakan sang suami bulat-bulat.
"Ah… rasanya aku salah ngomong sama istriku. bakalan ada yang jadi korban. Oh… ular kobraku bakalan kamu puasa sebulan ini," ringis Erra dalam hati.
"Aku tidak marah sama kamu. Aku hanya sinting saja hari ini," Lee memang senga membuat Erra terdiam.
"Iya kamu memang sinting dari dulu. Tapi apakah kamu enggak sadar kalau aku juga sinting. bahkan akulah orang yang paling sinting sedunia," ucap Erra.
"Memang kalian orang sinting yang pernah kami temui di dunia ini," ujar Bayu. "Bahkan kalian bisa menjadi satu keluarga. Menurutku itu sangat aneh sekali. Semoga cucuku kelak tidak ada yang mencontoh kesintingan kalian."
"Amin," ucap mereka serempak secara bersamaan.
"Ngapain kami dikumpulkan disini?" tanya Erra.
"Sejam lagi ada meeting. Aku harap dalam satu jam lagi bisa mengerti akan keadaan.," kata Bayu.
Terpaksa Bayu membubarkan meeting mendadak antara para petinggi White Eragon. Bayu tidak mau kalau Marvin berada disini dan mendengar segala rencana pasar gelap.Pertemuan ini sangat rahasia sekali dan tertutup. Bahkan ada para pengawal pun tidak boleh mengetahui.
"Imam," panggil Bayu yang sedari tadi melihat Imam yang tidak beranjak dari duduknya.
"Ya pa," sahut Imam yang sedang memainkan ponselnya.
"Sebaiknya kamu siapkan tempat untuk Marvin dan Dennis!" perintah Bayu.
"Bila perlu kamu ganti idenditas mereka. Agar aman dari kejaran Candra," usul Bayu buat Imam.
"Sudah aku pikirkan kesannya. Oh ya pa… memang ada rencana apa kok sepertinya penting?" tanya Imam.
"Antarkan dulu mereka ke Malang. Setelah itu kita akan membicarakan semuanya. Aku tidak mau mereka mendengar pembicaraan kita," pinta Bayu. "Meeting diundur sampai nanti malam. Pakailah heli untuk sampai ke Malang. Jangan pakai jet. Aku tahu jet kamu tidak bisa mendarat."
"Apakah kamu tahu kalau Imam sering mengadakan terjun payung di daerah Malang?" sahut Irwan yang masuk ke dalam.
"Sialan lu! Memangnya kalian ikut-ikutan sinting apa saja seperti Erra dan Lee?'' tanya Bayu dengan kesal.
Irwan dan Imam terlihat sangat kompak sekali jika melakukan hal gila. Bahkan mereka bisa dikatakan tidak normal. Sangking tidak normalnya mereka melakukan hal yang diluar nalar.
"Pakai jet saja. Setelah sampai sana akan terjun payung," usul Irwan.
"Apakah kamu tidak merasa kasihan sama kedua orang yang akan ditempatkan di Malang untuk mengurusi kebun sayuran? Bagaimana jika mereka mati?" Anya Erra yang peduli dengan keadaan Marvin dan Dennis.
"Ah… iya. Kok aku lupa kalau mereka mempunyai gelar sarjana pertanian," celetuk Imam.
"Bukan sarjana pertanian yang didapatkannya melainkan. Mereka juga memiliki titel sarjana Ekonomi," tambah Bayu yang paham dengan Marvin.
__ADS_1
Mereka paham apa yang dimaksud oleh Bayu. Mereka sengaja mempekerjakan anak bapak itu di kebun. Ditambah lagi mereka bisa mengajari warga di sana. Akhirnya Imam masuk keluar menuju kamar Dennis.
Sementara itu Dennis merasakan tubuhnya sudah kembali pulih dan segar. Dennis bisa merasakan energi yang baik buat tubuhnya. Malahan Dennis sangat bersyukur karena masih diizinkan hidup oleh Tuhan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Imam mendekati Dennis dan melihat wajahnya yang berseri. Imam bersyukur sekali karena Dennis bisa bertahan hidup hingga sekarang.
"Jangan lupa janjimu kepadaku. Jangan lupa menjalankan hidup yang lebih baik lagi. Dan jangan kembali lagi ke dunia mafia. Jika kamu balik lagi kesana aku tidak bisa membantumu," tutur Imam yang memberi nasihat kepada Dennis.
"Apakah kamu mau menjadi kakakku?" tanya Dennis.
"Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," jawab Imam yang tersenyum hingga membuat Dennis bingung.
"Maksud kamu apa?" tanya Dennis.
"Tunggulah waktu yang tepat," jawab Imam. "Apakah kamu tetap berbaring di sini? Perasaanku kamu sepertinya menjadi pria pemalas semenjak disini?"
"Kamu tahu aku lagi menikmati hidup bermalas-malasan seperti ini. Semenjak aku menjadi kaki tangan Candra. Aku tidak bisa bermalas-malasan seperti ini. Bahkan waktu tidurku berkurang. Candra selalu menyiksa kami seenaknya,'' jawab Dennis yang berkata jujur.
Imam pun paham apa yang dikatakan oleh Dennis. Memang menjadi kaki tangan Candra tidak boleh tidur. Mereka harus berjaga sepanjang malam untuk mendapatkan tugas dari Candra.
"Aku paham itu. Kamu tahu aku pernah menjadi mata-mata Candra. Bahkan aku pernah menjadi pengawal Candra," ujar Imam yang pernah menjadi mata-mata Candra.
Dennis hanya bisa menggelengkan kepalanya. Imam ternyata mempunyai nyawa banyak. Yang Dennis tahu menjadi mata-mata di Black Lotus tidak akan bisa selamat. Bahkan pulang hanya membawa nama.
"Syukurlah…. kamu sekarang masih hidup," ledek Dennis.
"Memangnya kenapa aku masih hidup?" tanya Imam.
"Kamu tahu jika masuk ke dalam sarang Black Lotus kalau pulang akan tinggal nama," jawab Dennis.
Imam hanya memutar bola matanya dengan malas. Imam hanya menghembuskan nafasnya secara kasar, "Aku hanya seminggu disana. Aku keluar meminta bantuan singa betina."
"Apa?" tanya Dennis.
"Ya aku meminta bantuan singa betina menyerang markas Black Lotus demi menyelamatkanku," jawab Imam.
Imam berkata jujur kepada Dennis ketika menjadi mata-mata Black Lotus. Ketika nyawanya terancam Imam meminta Lee menyelamatkannya. Ketika Lee mengetahui Imam masuk kesana, Imam memberi sebuah petunjuk. Yang dimana ada pintu rahasia bisa dimasuki oleh Lee dan pengawal White Eragon. Namun aksi Lee saat itu ketahuan sama Candra dan Gerry. Mau tidak mau Lee menyerang markas Black Lotus dan membakar semuanya.
Sontak saja Dennis terkejut dengan penuturan Imam. Dennis tidak menyangka kalau Lee seberani itu. Bahkan mebakar markas Black Lotus.
__ADS_1
"Persiapkan dirimu ada yang ingin bertemu dengan kamu!" titah Imam.