
"Itu benar. Aku menerimamu sebagai teman hidupku," jawab Yoona yang membuat Adam tersenyum manis.
"Rasanya aku tidak percaya. Kalau aku memiliki seorang seorang istri," ucap Adam.
"Percayalah... Bahwa di dunia ini ada yang tidak mungkin. Semua orang sudah ada jodohnya masing-masing. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Berbuat baiklah seterusnya. Kelak kamu akan mendapatkan sesuatu dari Tuhan," ucap Garda.
Adam merasa terharu mendengar kata-kata tiga anak muda di depannya itu. Andaikan dirinya sadar sedari dulu, kemungkinan besar Adam akan menjadi pria paling bahagia. Ditambah lagi dirinya sudah memiliki banyak anak dan cucu.
"Maafkanlah Aku," ucap Adam kepada Yoona.
"Kenapa kamu minta maaf kepadaku? Apakah ada yang salah? Apakah aku kurang sempurna di matamu?" Tanya Yoona bertubi-tubi.
"Kamu tidak ada yang salah sama sekali. Aku yang salah selama ini. Aku harap kamu tidak akan marah lagi sama aku. Meninggalkan aku sendirian di dalam rumah. Jadi maafkanlah Aku," jawab Adam yang membuat seluruh orang terharu begitu juga dengan Gerry yang masih menunggu tuannya itu di dalam kamar.
"Kamu nggak salah. Aku tidak akan marah sama kamu. Tapi percayalah... Kamu adalah pria yang sempurna di mataku. Kalau begitu mari kita menikah dan membuat sebuah keluarga. Bagaimana menurutmu?" tanya Yoona dengan serius.
"Baiklah kita akan menikah. Cepat atau lambat kita akan membangun rumah tangga ini. Tapi Bolehkah mereka menjadi teman spesialku dalam upacara pernikahan kita?" tanya Adam sambil menunjuk Lee Erra dan Garda.
Lalu Yoona menoleh ke belakang. Dirinya melihat ada Erra, Lee dan Garda. Yoona melemparkan senyumnya kepada mereka sambil mengangguk ke arah Adam kemudian berkata, "Baiklah... Kamu boleh mengundang mereka semua."
"Terima kasih sayang. Kamu sudah menjadi wanita terbaik untukku. Aku harap kamu tidak akan pergi ke mana-mana lagi," pinta Adam.
"Daripada aku mengganggu kalian lebih baik aku pergi. Semoga kalian bahagia selamanya. Dan kita akan bertemu nanti malam," pamit Lee.
"Baiklah kalau begitu. aku terima kasih sama kalian karena sudah membuat aku sadar. Selama aku masih hidup, aku akan melindungi kalian," seru Adam.
"Begitu juga dengan kami. Kami juga akan menjadi sahabat kalian. Aku harap kamu tidak akan menyesal menjadi sahabatku. Semoga berbahagia," seru Lee sambil melangkahkan kakinya bersama Erra dan Garda.
__ADS_1
Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di kota Bangkok. Jujur hari ini mereka sangat bahagia sekali. Saking bahagianya mereka meluapkan dengan cara membeli makanan di pedagang kaki lima Lalu membagikan ke setiap orang yang lewat. Itulah cara mereka ketika berbagi dengan sesama.
Saat mereka berbagi, para papa mendekati mereka dan berkata, "Apakah kalian sibuk?"
"Tidak pa.... Kami di sini hanya untuk membuang uang saja. Aku bingung dengan yang berada di ATM ku tidak habis-habis. Makanya aku ingin membuangnya dengan cara membagi," jawab Lee dengan jujur.
"Ada yang harus aku bicarakan pada kalian. Tapi kalau kalian sibuk ya sudah," ujar Andi.
"Kami tidak akan sibuk Jika pekerjaan ini dilimpahkan ke beberapa pengawal bayangan kita untuk membagikan seluruh makanan yang telah dibeli," sahut Garda.
"Kalau begitu baiklah. Papa tunggu di restoran seberang sana,"tegas Andi sambil menunjuk restoran tersebut yang berada di depan mereka.
"Siap. Kami akan menyusul Papa setelah memberikan tugas ini kepada pengawal," seru Erra.
Akhirnya Andi dan Bayu pergi meninggalkan mereka untuk menuju ke restoran depan. Kedua pria paruh baya itu sedang bahagia sekali. Masalah demi masalah telah selesai. Mereka sekarang terbebas dari Adam maupun Chandra. Sekarang mereka menganggap Candra sebagai keluarganya sendiri.
Melihat kepergian Andi dan Bayu, mereka menyunggingkan senyumnya. Hari ini adalah hari yang cerah di kota Bangkok. Sepertinya mereka akan pulang cepat dan tidak perlu berlama-lama lagi di sini. Lalu, Bagaimana kisah mafia lainnya? Jika Adam dan Gerry bergabung di kelompok White Eragon? Entahlah... Kita tunggu jawabannya.
"Selamat hari pernikahan kalian yang pertama. Semoga kalian diberikan momongan secepatnya. Kamu sudah rindu itu. Setelah ini janganlah kalian menunda-nunda lagi. Kalau bisa kembar lima sekalian," celetuk Andi yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Lee dan Erra saling memandang dan menghembuskan nafasnya secara kasar. Lalu Erra mendekati Lee sambil berbisik, "Sepertinya kita harus memproduksi anak setiap tahun?"
"Ide yang bagus itu. Lebih baik kalian lakukanlah," pinta Adam yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Adam ke sini ya?" tanya Lee.
"Ketika aku ingin tidur, papamu menyuruhku ke sini untuk merayakan hari pernikahan kalian yang pertama. Aku harap kamu tidak mengusirku dan mengajak bertarung untuk kesekian kalinya," jawab Adam.
__ADS_1
"Jujur aku sudah capek jika bertarung terus menerus. Masalah tidak akan selesai dan semakin meruncing hidup juga tidak akan tenang seperti ini. Aku ingin hidup tenang tanpa ada gangguan dan hambatan dari siapapun," ucap Lee dengan bijaksana.
"Aku menyetujui usulmu itu. Semoga di antara kita sudah tidak ada lagi apa-apa," udara Adam sambil tersenyum menatap Lee.
"Jangan kamu tatap istriku seperti itu Adam! Aku tidak menyukainya! Wanita itu adalah milikku!" seru Erra yang tidak rela melihat istrinya ditatap seperti itu.
"Ternyata suamimu sangat posesif sekali ya. Coba saja kamu lihat... Ketika aku ingin memandangmu dan mengharapkan kamu kuangkat menjadi anak.... Suamimu sangat agresif sekali. Tidak bisa aku menjadi korban selanjutnya," ledek Adam kepada era yang membuat ruangan itu bergema.
"Itulah suamiku. Biarkanlah saja. Kalau begitu mari kita duduk bersama. Jangan sungkan terhadap kami," ajak Lee dengan penuh sopan.
Adam sangat tersanjung sekali ketika Lee menawarkan duduk bersama. Dengan sopannya lee menarik kursi itu dan menyuruh Adam duduk. Kemudian mereka duduk sambil membaca menu makanan. Sambil melihat menu makanan Erra kebingungan dan tidak tahu mau makan apa.
"Kamu mau makan apa?" bisik Erra ke Lee.
"Terserah kamu. Kamu mau makan apa memangnya?" tanya Lee balik.
"Aku lagi pengen makan es krim rasa strawberry. Boleh ya?" tanya Erra dengan wajah sendu.
Lee mengerutkan keningnya sambil menatap wajah sang suami yang sendu itu. Lalu dirinya bertanya-tanya, kenapa wajah sang suami menjadi sendu? Bukannya dari bangun tidur tadi sampai sekarang wajahnya ceria sekali? Inilah yang membuat Lee pusing.
"Kamu sakit?" tanya Lee.
"Aku nggak apa-apa. Kemungkinan besar aku sedang kecapean," jawab Erra.
"Bukannya akhir-akhir ini kamu sering tidur?" tanya Lee.
"Memang. Tapi kenapa badanku sakit semua?" tanya Erra balik.
__ADS_1
"Berarti kamu harus ke dokter," jawab Lee.
"Apa itu dokter?" tanya Erra.