
Teringat dengan kenangan itu, Lee senyum-senyum sendiri di kamar. Hanya dirinya yang berani memaki Erra. Erra hanya bisa tertawa mengingat kejadian itu. Jujur saja saat itu memang sifat iblisnya selalu keluar. Tidak pernah sabar menghadapi masalah. Selalu berteriak-teriak tidak tahu arah.
Untung saja sang istri saat itu sangat sabar menghadapinya. Namun apakah Erra tahu, kalau sang istri adalah anggota mafia?
Jawabannya tidak. Mana mungkin dirinya mengatakan kehidupan singa betina itu. Malahan dirinya membuat rencana demi rencana agar bisa menindas sang sekretaris itu.
Namun naas, bukannya sang sekretaris terkena tindas. Melainkan dirinya yang terkena tindas. Bahkan Erra menjadi bahan tertawaan para petinggi White Eragon.
"Aku tidak pernah menyangka. Kalau aku sang bos ditindas oleh sekretarisnya sendiri," jawab Erra.
"Lagian salah sendiri. Kenapa dari dulu suka menindas? Memangnya aku salah apa?" tanya Lee.
"Tapi cerita itu aku simpan dalam memori otaku. Suatu hari nanti aku akan menceritakan kenangan ini kepada anak cucu kita kelak. Sang ketua mafia kejam langsung berubah menjadi kucing habis mandi," jawab Erra.
__ADS_1
"Kakak ini ada-ada saja. Ya sudah tidur sana. Katanya mengantuk. Aku juga mengantuk sekali. Mudah-mudahan nanti malam aku terbangun," balas Lee.
Cup.
Satu kecupan manis untuk Lee. Erra tersenyum menatap sang istri sambil memejamkan kedua matanya. Begitu juga dengan Lee. Wanita imut itu mengikuti sang suami untuk masuk ke dalam mimpi.
Mansion Drajat.
Pak Dwi masih saja menunggu di ruangan tamu. Pria paruh baya itu sengaja membawa seserahan yang banyak. Berharap penghuni rumah ini mau menerima barang itu dan menjadikan Erra seorang menantunya.
Bagaimana dengan sang istri? Rani dan Caroline memutuskan untuk bermain game di lantai tiga. Jujur saja para istri pun sangat jengah ketika ada yang mengusik ketenangan keluarganya.
Kedua wanita itu masih cukup sabar menghadapi Pak Dwi. Meskipun tidak menampakan batang hidungnya, Rani menyuruh pelayannya agar menyiapkan minuman.
__ADS_1
Lima jam berlalu. Pak Dwi memutuskan untuk pergi dari sini dengan hati yang dongkol. Dirinya akan membuat rencana bersama Brenda untuk menghancurkan Asco. Di sisi lain Brenda juga merebut Erra.
"Mereka adalah keluarga yang sombong! Capek capek datang ke sini membawa seserahan banyak seperti itu. Tidak ada yang mau keluar. Aku hanya meminta Erra untuk menjadikan sebagai menantuku. Kenapa hal itu bisa terjadi padaku?" geram Pak Dwi dalam hati.
Seluruh penjaga di sana mengaku puas Pak Dwi sudah pergi. Bagaimana tidak mereka disuruh mengambil barang-barang dengan cepat. Ditambah lagi dengan bentakan keras berulang kali untuk mereka.
"Jujur saja aku males lihat orang itu. Jika datang selalu membuat ulah. Padahal kita memiliki banyak majikan," kesal penjaga itu.
"Untung saja orang itu menjadi bagian dari kita. Salah satu sifat arogan di dalam diri kita harus dibuang jauh-jauh. Ditambah lagi dengan ucapannya seperti suara mesin rusak," jelas penjaga itu.
"Mungkin saja wataknya seperti itu. Semoga saja Tuan era menghadapi orang seperti itu," balas penjaga lainnya.
Beberapa saat kemudian datang Andi sambil mencari keberadaan Pak Dwi. Namun Andi tidak menemukannya sama sekali.
__ADS_1
"Ke mana orang itu?" tanya Andi sambil menegur salah satu pengawalnya.