Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 72


__ADS_3

Suci tergagap tidak bisa menjawab. Tugas Suci adalah membuat susu buat Raka dan memberikan susu itu ke Irwan.


"Maaf Tuan Imam saya harus pergi," pamit Suci.


"Bisakah kamu menjelaskan sesuatu padaku. Siapa anak kecil yang sedang di gendong papaku?" tanya Imam.


"Maaf Tuan! Saya sedang sibuk," jawab Suci.


Imam yang tak terima jawaban Suci langsung menggendong Suci seperti karung beras ke lab lalu mendudukkan Suci di kursi kayu. Kemudian Imam mengambil tali dan mengikat Suci di kursi itu.


Suci semakin ketakutan lalu terisak. "Tuan, Apa yang akan Tuan lakukan kepadaku?"


Imam mendekati Suci lalu menarik kursi di belakangnya. Dengan santainya Imam duduk di depan Suci. "Suci, jelaskan padaku anak kecil itu?"


Suci tidak menjawab pertanyaan Imam. Suci memutuskan untuk diam tanpa kata.


"Jelaskan padaku anak kecil yang sedang di gendong oleh Papaku?" tanya Imam dengan aura pembunuh.


"Aish... Ini orang. Apa yang harus aku jelaskan padamu? Aku tidak akan menjelaskan siapa Raka. Tuan Imam mending kamu bunuh aku saja," batin Suci.


"Gadis nakal. Kenapa kamu diam saja!!!" geram Imam.


"Aku bukan gadis Imam Ali Pradipta. Aku sekarang wanita dan juga seorang ibu!!!" seru Suci dengan suara meninggi.


"Baiklah. Kamu adalah seorang wanita dan juga seorang Ibu. Sekarang jelaskan padaku siapa bocah kecil yang sedang di gendong oleh Tuan Irwan? Dan kenapa Tuan Irwan sangat menyukai anak kecil itu?" tanya Imam dengan santai.


"Maaf, Tuan Imam. Aku tidak bisa menjelaskan anak kecil itu," jawab Suci.


Di saat Raka bermain bersama Irwan. Raka menangis ketakutan. Raka merasakan sang Ibu dalam bahaya. Irwan yang melihat Raka menangis ketakutan dengan cepat menggendong Raka dan mencari Suci.


Sesampainya di depan Lab, Raka menangis semakin menjadi. Suci yang mendengar Raka menangis hatinya semakin teriris.


"Tuan Imam lepaskan saya. Anak saya menangis," ucap Suci dengan memohon.


Imam berdiri kemudian menuju ke ruangan itu dan langsung membukakan pintu dan melihat Raka yang menangis. Irwan yang melihat Imam menyekap Suci menatap Raka sambil tersenyum. "Ikutlah papamu yang agak gila itu."


"Aku belum gila Papa. Kenapa juga Papa menyuruh anak kecil itu memanggilku Papa? Aku belum menikah!!" geram Imam.


Dengan santainya, Irwan menurunkan Raka. Raka langsung berlari menuju ke arah Suci dan menangis melihat Suci.


Irwan meninggalkan mereka dengan hati yang bahagia. Sementara itu Imam datang lalu duduk di depan Suci sambil menatap lekat mata Suci.


"Jangan menangis sayang. Bunda tidak apa-apa," ucap Suci yang menghibur Raka.

__ADS_1


Raka langsung diam dan melihat Imam. Raka mendekati Imam dengan penuh air mata. Secara tak sadar, Imam mengangkat tangannya lalu menghapus air mata Raka di pipi gembulnya.


"Mata ini... Mata tajamku yang turun ke anak ini. Bagaimana dia cara menatapku?" batin Imam.


Raka memandang wajah Imam dengan lekat. Raka tersenyum manis dan mengangkat tangannya untuk meminta gendong. Suci hanya pasrah melihat keadaan Raka yang butuh sosok Ayah.


Imam langsung menggendong Raka dan memeluknya dengan rasa yang membuncah. Imam menciumi pipi gembul Raka secara terus menerus hingga tertawa lucu. Tangan mungil Raka memegang wajah Imam.


"Siapa namamu, nak?" tanya Imam.


"Laka om," jawab Raka dengan cadel.


"Tuan Imam, Bagaimana dengan saya?" tanya Suci.


"Biasanya kamu bisa melepaskan diri jika sedang di culik," jawab Imam dengan santai.


Dengan malasnya Suci ingin sekali melemparkan Imam ke Sungai Gangga. Suci langsung melepaskan ikatan tali itu dengan cepat dan mendekati Raka.


"Raka.. ikut Bunda," ajak Suci.


"No," sahut Raka.


"Raka... ayo ke rumah Tante Lee," ucap Suci.


"Raka... Ayo kita pergi ke taman bermain," ujar Suci.


"No Unda," ucap Raka.


"Raka, Om Imam bekerja dulu ya. Nanti kalau Om Imam selesai bekerja Raka main lagi," ajak Suci yang mulai emosi.


"No Unda," jawab Raka yang marah.


"Astaga ini anak. Kenapa bisa jadi begini?" batin Suci.


"Jangan menyuruh Raka memanggilku Om!" titah Imam.


Imam menurunkan Raka lalu mendekati Suci. "Apakah dia anakku?"


"Kalau aku mengatakan Raka anak orang lain?" tanya Suci balik.


"Kamu harus mengatakannya kepadaku. Jika kamu berkata jujur sama aku. Aku tidak perlu tes DNA untuk Raka," jawab Imam yang sedang memperhatikan Raka bermain.


"Raka bukan anakmu," ucap Suci yang berbohong.

__ADS_1


Mata elang Imam menatap lekat wajah Suci yang sangat ketakutan. Suci berusaha menyembunyikan siapa ayah kandung Raka?


"Ok... Aku harus melakukan tes DNA. Jika Raka anakku, akan aku ambil paksa darimu. Mengertilah akan hal itu," ujar Imam sambil tersenyum licik.


Tubuh Suci seakan mati rasa. Tubuhnya semakin bergetar dan melemah. Tangis Suci pecah lalu menarik baju Imam. "Jangan bawa anakku. Aku mohon."


Imam langsung meninggalkan Suci dan menggendong Raka. Imam mengajak Raka bermain di kamarnya.


Lee yang baru saja datang di kejutkan suara tangisan Suci. Lee masuk ke dalam dan melihat Suci yang menangis.


"Suci!!" seru Lee.


"Kakak besar... selamatkanlah Raka. Aku mohon kak," ucap Suci yang sambil memohon ke Lee.


"Ada apa dengan Raka?" tanya Lee.


"Raka di bawa oleh Tuan Imam," jawab Suci yang terisak.


Lee memeluk Suci dan membiarkannya menangis. Setelah selesai menangis Lee memberikannya minum. ''Suci, apakah kamu akan terus-terusan menyembunyikan Raka dari Ayah kandungnya?"


"Aku tetap akan menyembunyikan Raka dari Tuan Imam. Aku tidak mau Tuan Imam mengambil Raka," jawab Suci.


"Suci... biar bagaimanapun Raka juga berhak tau siapa Ayah kandungnya? Raka juga berhak bersama Kak Imam. Karena Kak Imam adalah Ayah kandung Raka," jelas Lee.


"Tuan Imam ingin memisahkan Raka dariku," ujar Suci.


"Hadeh... Suci. Kak Imam enggak akan memisahkan Raka darimu. Kamu sendiri tau kalau Kak Imam sibuk banget. Kalau Raka di bawa sama Kak Imam siapa yang menjaganya? Kak Imam bukan tipe percaya dengan orang."


"Tapi kakak besar."


"Enggak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu tenang saja. Kak Imam bukan pria jahat. Aku pastikan Kak Imam Ayah yang baik buat Raka. Suci temani aku makan rujak mangga."


"Ayo kak," ajak Suci.


Setelah mendapatkan pencerahan oleh Lee. Hati Suci menjadi sangat tenang sekali. Kemudian Suci menemani Lee pergi ke kebun belakang. Mata Lee berbinar ketika ada buah mangga yang sudah menggantung.


"Suci... Enak sekali. Rasanya aku ingin makan mangga itu," ucap Lee yang menatap mangga di atas.


"Aku suruh pengawal mengambilnya ya," sahut Suci.


Lee hanya menganggukkan kepalanya. Suci melihat ada pengawal yang sedang bersantai lalu memanggilnya.


"Hey... kalian kesini!" seru Suci.

__ADS_1


Salah satu pengawal tersebut menoleh dan melihat Suci. "Iya Nona Suci. Ada apa?"


__ADS_2