
Sementara di pulau pribadi. Lee merasakan hatinya gelisah. Kemudian Lee memandang wajah Erra dengan lekat.
''Pak... Bapak yakin di sini aman?'' tanya Lee.
''Kenapa?'' tanya Erra balik.
''Beneran bapak yakin di sini aman?'' tanya Lee dengan menutup mulutnya Erra dengan jari telunjuk.
''Iya,'' jawab Erra.
Kemudian Lee memeluk Erra dan membisiki sesuatu.
''Pak bapak enggak tau ada pengawal bapak yang merangkap jadi mata-mata,'' bisik Lee sambil meraba punggung Erra dan menemukan pisau lipat dan melepaskan Erra.
''Dari mana kamu tau?'' tanya Erra mendengus harum tubuh Lee.
''Pak, sebentar lagi ada penyerangan. Apakah bapak tidak ngasih saya senjata?'' tanya Lee dengan wajah imut kembali.
Kemudian Nanda, Sam dan Jake datang memakai kapal nelayan. Kemudian mereka mendekati Lee dan Erra. Akhirnya Imam keluar dengan wajah datarnya.
''Adik kecil... Kemaren kirim Sos ya ke no ponsel kita?'' tanya Nanda.
''Iya kak. Mari kita pergi ke ruang bawah tanah. Ambil senjata yang kalian suka. Temani aku bermain,'' jawab Lee yang tersenyum renyah.
Gleeeekkkk.
Gubrakkkk.
Mereka hanya meringis melihat senyuman Lee yang renyah. Erra yang notabenenya kalem ketika musuh mulai mendekat. Di saat Erra melihat memasang wajah pucat karena melihat senyum renyah Lee.
Kemudian mereka menuju ke ruangan bawah. Lee langsung menutup pintu.
''Sore tadi aku sudah mensterilkan tempat ini. Ada 3 pelayan dan 2 pengawal yang jadi mata-mata!!!'' tegas Lee.
''Darimana kamu tau ada mata-mata? Harusnya lapor donk ke aku. Kamu kan istriku. Aku tidak mau membahayakan nyawa kamu Nyonya Muda Drajat!'' seru Erra yang kesal.
''Ra... Lu jangan ngeremehin Lee. Lu belum tau Lee sebenarnya. Selama ini senjata kita kirim lewat jalur laut di bajak. Lu tau siapa yang sering bantu? Yaitu Lee bersama pasukannya. Semua itu atas perintah Paman Bayu. Jadi gue bilang aman terus ke lu. Biar lu tenang,'' ujar Jake yang kesal.
''Kenapa lu kagak bilang kalau selama ini senjata yang kita kirim kagak aman!'' seru Erra yang mendekati Jake dengan penuh amarah.
''Lu tau selama ini lu kurang peka. Lu sibuk sama Asco. Dan lu jarang ke markas,'' ujar Jake yang kembali datar.
Kemudian Lee menengahi mereka berdua.
''Sabar napa ah. Koq jadi berantem gini!!'' seru Lee dengan wajah garangnya.
''Kami enggak berantem,'' jawab mereka serempak.
''Minggir dari hadapan kami!'' seru mereka serempak.
''Aish... Kalian ini. Kalau aku enggak mau minggir gimana? Apakah kalian akan memukulku? Kalian itu udah dewasa. Kalian itu harus mengerti. Selama ini pasukan khusus White Eragon tidak pernah ada tugas. Jadinya Paman Bayu menerjunkan sementara untuk pengiriman senjata. Itu yang bekerja anak buahku. Aku sendiri masih di kantor untuk ngurusi ASCO. Kalau sudah bahaya baru aku turun tangan,'' jelas Lee sambil menatap Erra tajam.
__ADS_1
''Garda bagaimana?'' tanya Erra.
''Lu enggak pernah kasian sama si Garda ya Ra. Gue harus buat lu pake logika. Garda kerjaannya banyak. Enggak di dunia bawah aja. Lu tau si Garda sekarang megang seluruh rumah sakit dan Garda adalah penyuplai alat-alat medis. Rumah sakit yang paman Bayu dan Paman Andi dirikan enggak cukup 1 2 saja. Coba lu bayangin Garda megang 2500 rumah sakit yang tersebar di dunia,'' jawab Nanda yang kalem.
''Sudah berantemnya?'' tanya Lee masih bingung melihat senjata yang canggih untuk di ambilnya.
''Kami tidak berantem!'' seru Erra, Nanda dan Jake kompak.
''Yo weslah... lek sampean tukaran terus. Sesuk wong telu tak gantung Nang ndukure wit klopo nang ngarep!'' ancam Lee dengan santai.
Seketika ruangan bawah tanah itu menjadi horror karena Lee.
''Jam berapa penyerangan akan terjadi?'' tanya Imam yang memecahkan kesunyian di malam hari.
''Tengah malam kak,'' jawab Lee.
''Darimana kamu tau info penyerangan itu, istriku?'' tanya Erra sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya.
''Sore kemaren pak,'' jawab Lee.
Flashback On.
Siang itu, Lee sedang berjalan-jalan di dekat bibir pantai. Lee sedang menikmati keindahan alam dengan suara deburan-deburan ombak. Suara burung bersahutan menambah indahnya siang ini. Lee hanya memakai dress biru langit menunggu Erra yang tidak datang. Lee lupa kalau Erra sedang tidur siang. Kemudian Lee menyisiri mansion dan tidak sengaja, ada 2 orang yang sedang berbincang-bincang. Dengan santainya Lee bersembunyi di balik tembok
''Bagaimana bro? Apakah kita akan Serang hari ini?'' tanya Aston.
''Sabar bro. Lu jangan terburu-buru napa. Gue udah koordinasi dengan ketua mafia paling sadis namanya Red Devils. Besok malam akan menerjunkan 1500 orang. Kalau bisa Erra langsung mati.,'' jawab Rendy.
''Dan besok malam para pelayan yang sudah gue perintah membuat kopi di campur sama sianida. Pasti mereka akan mati dalam sekejap. Kita bisa membunuh Erra,'' ujar Aston pun tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu Lee melihat dari kejauhan pura-pura dan tidak tahu. Lee dengan cepatnya mengirimkan S.O.S .
Flashback off.
''Jadi selama ini ada mata-mata di dalam Black Dragon?'' tanya Jake sangat geram sambil meremas meja.
''Iya bisa di katakan begitu,'' jawab Lee akhirnya duduk.
''Pasti berita kematian lu enggak bisa di manipulasi,'' ucap Imam menatap ke Erra.
''Ya enggak bisalah kak. Atau jangan-jangan mereka yang membajak pengiriman senjata ke seluruh dunia?'' tanya Lee menganalisis kasus Black Dragon.
''Bisa jadi. Kenapa kita kebobolan begini?'' tanya Sam balik.
''Aku sudah menyelidiki Garda. Garda tidak pernah terlibat kasus ini,'' jawab Lee.
''Garda tak selamanya bekerja di dunia hitam!'' tegas Jake.
''Iya gue tau. Apakah mereka anak buah Aldi?'' tanya Erra.
''Bisa iya bisa tidak,'' jawab Nanda.
__ADS_1
''Kalau aku analisis. Mereka bukan anak buah Aldi,'' ucap Lee melihat beberapa koleksi senjata yang berada di sudut ruangan kanan.
''Yang jadi PR buat kita, dengan siapa mereka bekerja?'' tanya Imam melontarkan pertanyaan yang menjadi teka-teki.
''Mau senggolan sama Asco? Oke... Gue layani. Siapapun itu. Jangan harap lu bisa lolos dari tangan gue!'' seru Lee merapatkan giginya sambil memancarkan aura membunuhnya.
''Kamu enggak usah terlibat. Biarkan kami bekerja. Jadilah istri dan ibu yang baik buat anak-anak aku,'' ucap Erra mengelus kepala Lee dan mengecup kening Lee.
Lee berdiri dengan penuh kemarahan. Kemudian Lee membanting dan mengancam Erra dengan aura pembunuh.
''Sekali lagi kamu mengancamku untuk tidak ikut-ikutan. Aku pastikan kamu tidak akan pernah menyentuhku. Kamu mengerti?'' seru Lee dengan mode garang.
Erra sangat ketakutan karena melihat gadis imutnya menjadi singa betina yang kelaparan. Erra mengangguk patuh.
Sam, Imam, Jake dan Nanda tertawa terbahak-bahak karena melihat Erra yang dulunya mirip serigala beringas menjadi kucing yang habis kejebur kolam.
Tiba-tiba saja Erra menurut apa yang di katakan oleh Lee.
''Oh... Dear God... Apakah ini di namakan anugerah buat Erra?'' tanya Jake.
Setelah itu Lee bangun dan memegang tangan Erra. Erra berdiri dan menunjuk lemari kaca yang berisikan senjata api rancangannya.
''Baiklah. Terima kasih suamiku,'' ucap Lee mengelus pipi Erra.
Erra menunjukkan sikap anak kecil yang patuh pada ibunya. Lee melihatnya menjadi gemas.
Sedangkan mereka berusaha melihat pemandangan yang sangat aneh itu.
''Serigala beringas jadi kucing kejebur got?'' tanyaJake memandang Lee dan Erra.
Lee membuka lemari yang berada di samping pintu masuk dan melihat baju hitam kemudian mengambilnya satu persatu.
''Ukurannya koq big size Eropa sih? Kan Aku ukurannya kecil,'' ucap Lee menghela nafasnya dengan pelan.
''Tidak ada. Memang ukuran seperti itu. Karena yang jaga di sini para bule,'' sahutErra mengambil baju yang di sebelah kiri dan menemukan ukuran s Eropa.
''Pake ini aja,'' ujar Erra memberikan ke Lee.
''Not Bad!'' seru Lee menerima dan langsung pergi ke kamar mandi.
Kemudian mereka pun berganti pakaian. Setelah selesai, mereka berkumpul di meja bundar.
''Tadi siang aku menghubungi 50 anggota White Eragon dari tim 4 daerah negara Amerika. Aku sudah berkoordinasi sama mereka,'' ucap Lee berbicara dengan serius.
''Apakah kamu memakai peledak?'' tanya Sam.
''Aku akan memakai bom dengan level terendah. Aku tidak akan menghancurkan mansion bapak Erra,''' jawab Lee memainkan pisau lipatnya Erra.
''Kalau kamu hancurkan ya hancurkan aja sekalian!'' seru Imam menyuruh Lee dengan serius.
''Tidak perlu. Aku akan menyisiri mansion dengan beberapa anak buah White Eragon untuk mencari bom,'' tutur Lee memberikan pisau itu ke Erra.
__ADS_1
''Kamu mau pisau ini. Ambillah!'' seru Erra membiarkan pisau itu yang masih di pegang Lee.