
"Sudah malam. Kita nggak perlu kemana-mana. Kita pulang ke rumah dan beristirahat," jawab Arini.
Garda langsung memasang wajah muram. Dirinya tidak mau malam ini berakhir dengan seperti ini. Lalu Garda mengajak Arini ke suatu tempat. Entah tempat apa itu namanya hanya Garda yang tahu.
Di taman Pita bersama Sam sedang diam. Mereka berdua hanya melihat pemandangan taman itu. Mereka tidak memiliki topik untuk dibicarakan. Akhirnya Pita yang pertama kali memulai obrolan.
"Kak Samuel," panggil Pita.
"Ya," sahut Sam. "Ada apa memangnya?"
"Di depan sana ada yang jual kembang gula. Aku ingin ke sana ya untuk membeli kembang gula. Rasanya aku teringat pada masa kecilku," jawab Pita sambil beranjak berdiri.
"Baiklah," balas Sam.
Akhirnya Pita meninggalkan Samuel di sini. Dengan hati yang ceria Pita langsung menuju ke penjual kembang gula. Lalu Pita mendekatinya dan melihat banyak anak yang sedang mengantri. Dengan senyumnya yang manis, Pita juga ikutan mengantri.
Hampir 10 menit Pita tidak muncul juga. Akhirnya saya memutuskan untuk menuju ke sana. Saat menuju ke sana saya melihat anak-anak kecil yang lucu dan ceria. Seketika dirinya merasakan naluri ayahnya keluar. Ketika ingin bermain bersama mereka, Sam ingat dengan pita. Mau tidak mau niat itu diurungkan untuk sementara waktu. Demi menyusul sang kekasih.
"Aku tidak akan menunda waktu pernikahanku. Aku akan meminta ayah untuk melamar Pita sekarang juga. Aku bosan sendiri terus-terusan. Aku harus mencari seorang wanita yang bersedia mau di dekatku," keluh Sam dalam hati.
Ketika giliran Pita membeli, Sam memanggilnya terlebih dahulu. Lalu Pita menoleh ke arah Sam. Kemudian sang penjual kembang gula itu terkejut mendengar nama pita. Penjual itu mengangkat wajahnya dan melihat Pita yang sangat cantik sekali.
"Pita," ucap penjual kembang gula itu sambil menatap wajah Pita.
Pita pun terkejut melihat wajah penjual kembang gula itu. Pita tidak sengaja mengucapkan nama sang penjual kembang gula itu, "Waluyo."
Saat Pita memandang wajahnya, Samuel datang dan memegang tangan Pita. Dengan senyumnya yang khas, Samuel memanggilnya dan bertanya, "Apakah kamu sudah selesai membeli kembang gula itu?"
Sontak saja kita terkejut dengan perlakuan Sam. Pita segera membuang wajahnya dan menarik tangan Sam menjauh dari sana.
__ADS_1
"Aku tidak jadi membelinya," jawab Pita.
"Kenapa kamu tidak jadi membelinya? Bukankah sedari dulu kamu sangat menyukainya? Apakah uangmu kurang untuk membeli kembang gula itu?" tanya Sam bertubi-tubi.
"Bagaimana ya aku harus menjelaskannya. Sementara sang penjual kembang gula itu adalah mantanku. Apakah Kak Sam percaya dengan ucapanku ini?" ucap Pita dalam hati.
"Katakanlah. Kenapa kamu tidak membelinya?" tanya Sam sekali lagi.
"Bukannya aku tidak ingin membelinya. Aku sangat suka sekali dengan kembang gula itu. Tapi aku sangat takut sekali ketika berhubungan dengan sang penjual kembang gula itu," jawab Pita yang membuat Samuel bingung.
"Maksud kamu apa? Kok aku jadi bingung seperti ini?" tanya Sam sekali lagi.
"Dia bernama Waluyo. Dia adalah bekas pacarku dulu," jawab Pita dengan jujur.
Ternyata oh ternyata Waluyo melihat kepergian Pita. Lalu Waluyo membawa kembang gula itu dan mengejarnya. Kemudian Waluyo berteriak, "Pita."
Kita pun terdiam dan melihat wajah Sam. Merasa dilihat sama Pita, Samuel melihat wajah sang kekasih itu. Lalu Samuel berkata, "Apakah kamu tidak ingin menyapanya terlebih dahulu?"
Sam pun menganggukkan kepalanya. Sam membiarkan Pita untuk menyapa Waluyo. Kemudian Pita menuju ke arah Waluyo sambil bertanya, "Ada apa?"
"Aku ingin memberikanmu hadiah ini. Aku masih ingat snack apa yang kamu sukai sedari dulu," jawab Waluyo sambil memberikan kembang gula itu ke arah Pita.
Tidak sengaja Samuel mendekati pita lalu menyapa Waluyo. Melihat kembang gula milik Waluyo, Samuel sangat tertarik sekali. Samuel lalu menyapanya dan membeli seluruh kembang gula itu.
"Hai Waluyo," sapa Sam.
Waluyo pun terkejut dan menatap wajah Sam. Lalu Waluyo menganggukan kepalanya dan memberikan kembang gula itu ke arah Pita, "Ambillah kembang gula ini. Aku tidak akan memberikan jampi-jampi kepadamu."
"Berikanlah kepadaku kembang gula itu," sahut Sam.
__ADS_1
Terpaksa Waluyo memberikan kembang gula itu ke Sam. Lalu Waluyo mengucapkan terima kasih. Ketika Waluyo melangkahkan kakinya, Samuel berteriak dan merogoh kantongnya untuk mengambil dompet.
"Berapa harga kembang gula itu?" tanya Sam.
"Harga kembang gula itu lima ribu saja," jawab Waluyo.
"Buatkanlah sebanyak-banyaknya. Lalu berikan kepada anak-anak kecil sedang bermain di taman ini. Saat kamu memberikannya jangan pernah meminta bayaran lagi. Aku akan membayarnya dengan harga lebih," ucap Sam yang memberikan kembang gula itu ke arah Pita.
Pita akhirnya menerima kembang gula itu. Lalu Sam membayar kembang gula itu ke Waluyo. Setelah itu Sam mengajak kita ke tempat yang tadi. Sam tahu sepertinya Pita menyembunyikan sesuatu dari dalam dirinya.
"Kamu Kenapa diam saja seperti itu? Harusnya kamu terima kembang gula itu," tanya Sam yang menghempaskan bokongnya di kursi taman.
"Aku nggak bermaksud untuk menyakiti Waluyo. Aku teringat pada peristiwa di masa laluku," jawab Pita.
"Masa lalu apa?" tanya Sam.
"Masa lalu yang di mana aku pernah dilabrak oleh calon istrinya," jawab pita yang membuat Sam bingung.
"Kenapa kamu dilabrak sama calon istrinya? Memangnya kamu pernah merebut Waluyo dari calon istrinya itu," tanya Samyang menghempaskan bokongnya di samping Sam.
"Ceritaku ini agak konyol. Gini ceritanya. Aku memang udah putus dari Waluyo beberapa bulan sebelum mereka menikah. Aku sengaja melepaskan Waluyo demi orang tuanya itu. Saat putus aku pergi ke Jakarta untuk menyambung hidup hingga beberapa bulan ke depan. Bisa dikatakan lah aku hidup di Jakarta empat bulan. Setelah itu aku rindu kepada orang tuaku. Lalu aku memutuskan untuk pulang dan mendengar kabar Waluyo akan menikah. Aku saat itu tidak memperdulikannya lagi. Baru dapat sehari pulang, calon istrinya datang dan menuduhku merebut Waluyo. Aku hanya bisa diam. Hingga satu kampung mengusirku dan tidak boleh kembali lagi ke kampung itu. Ya begitulah aku sangat trauma sekali Jika bertemu dengan Waluyo," jelas Pita yang akhirnya Samuel paham.
"Oh begitu. Jadi kamu takut soal itu," ucap Sam.
"Iya aku takut banget. Bukan masalah kekuatanku yang hebat ini. Aku tidak mau berubah menjadi gadis bar-bar lagi. Jika aku tidak merubah sikapku ini. Bagaimana bisa aku menemukan seorang kekasih untuk dijadikan suami masa depan?" tanya Pita.
Sam terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Pita. Lalu Sam memegang rambut Pita dan mengelusnya, "Kenapa kamu bingung seperti itu?"
"Aku bingung nanti tidak ada seorang pria yang melirikku," jawab Pita.
__ADS_1
"Kalau aku melirikmu bagaimana?" tanya Samuel sambil memandang wajah Pita dan tersenyum manis.