
Pertarungan sengit terjadi antara Garda dan Erra. Tiba-tiba saja Erra mengingat kejadian di masa lampau yang di mana Brucce sangat posesif sekali terhadap Lee.
''Kenapa gue jadi de javu ya???'' tanya Erra.
''Ada apa Tuan Muda Erra? Apakah Tuan muda sakit?'' tanya Pengawal.
''Tidak... Aku baik-baik saja. Aku merasa kembali ke masa lalu,'' jawab Erra.
''Maksudnya?'' tanya pengawal yang tidak mengerti.
''Sulit aku jelaskan kepadamu. Lebih baik kita serang saja,'' jawab Erra.
Erra yang dari tadi bersembunyi di balik pohon langsung mengisi pistolnya dengan peluru karet. Erra langsung menyerang Garda.
''Aku akan tetap mempertahankan istriku!!'' seru Erra yang berapi-api.
''Cih, itukan adik kecilku!!'' ejek Garda.
''Adik kecilmu?'' tanya Erra sambil mengerutkan keningnya.
''Iya... Lee adalah adik kecilku!!'' tegas Garda.
''Bukannya adik perempuanmu Tantri?'' tanya Erra.
Erra semakin tidak mengerti apa yang di maksud oleh Garda. Erra tidak percaya apa yang di omongin Garda. Garda mengakui secara terang-terangan kalau Lee adalah adiknya.
''Aku benar-benar de javu. Aku masih ingat kata-kata Brucce,'' ujar Erra.
''Maksudmu, siapa itu Brucce?'' tanya Garda.
''Brucce adalah kakaknya Lee yang posesif,'' ucap Erra.
''Ah... aku tidak peduli dengan namanya Brucce. Yang aku rasakan Lee adalah adikku,'' ketus Garda lalu meninggalkan Erra.
Erra yang berdiam diri di tempat dan masih bertanya-tanya.
''Apakah Garda adalah Brucce?'' tanya Erra dalam hati.
Kemudian Erra masuk ke dalam. Erra berkeliling mencari Lee dan tidak menemukannya. Erra memutuskan untuk kembali ke kamar.
Seorang wanita paruh baya memasuki restoran mewah dengan angkuhnya. Wanita tersebut duduk di meja sudut ruangan. Tangannya melambai ke arah pelayan yang sedang bersantai. Pelayan yang mendapat lambaian tangan langsung mendekatinya.
''Pagi Nyonya,'' sapa Rini ramah.
''Pagi,'' balas Emilia.
''Mau pesan apa nyonya?'' tanya Rini.
''Aku mau pesan hutspot dan sup ercis. Untuk minumannya koffie verkeerd dan air mineral,'' jawab Emilia.
''Tunggu sebentar, pesanannya akan datang,'' pamit Rini.
Kemudian Rini memberikan orderan itu ke dapur dan langsung di kerjakan oleh bagian dapur.
Beberapa menit kemudian, Alicia memarkir mobilnya. Alicia turun lalu masuk ke dalam restoran. Di saat menuju ruangannya, mata Alicia tertuju ke meja pojok lalu menghentikan langkahnya.
''Kenapa sih dia kesini?'' tanya Alicia dalam hati.
Di saat melangkahkan kakinya, Emilia yang sedang menunggu pesanannya langsung memanggilnya.
''Alicia... kemarilah!!'' seru Emilia.
__ADS_1
Alicia menghentikan langkahnya lagi dan memutar bola matanya malas. Mau tak mau Alicia mendekati Emilia.
''Kenapa kamu kesini?'' tanya Alicia.
''Sebelum aku jawab duduklah sebentar,'' ajak Emilia.
''Baiklah aku duduk,'' cicit Alicia kesal.
Kemudian Alicia duduk berhadapan dengan Emilia.
''Kenapa kamu tidak senang bertemu denganku? Memangnya aku tidak cantik lagi?'' tanya Emilia.
''Cih, pede amat ya,'' sindir Alicia.
''Harusnya kamu seneng ketemu dengan saudara kembarmu,'' ejek Emilia.
''Ck, saudara kembar enggak mirip!'' decak Alicia.
''Memang gak mirip. Aku sama kamu beda 15 menit,'' kesal Emilia.
''Ada apa kamu kesini?'' tanya Alicia.
''Kau itu, kesini enggak nanyain gimana kabarnya? Sehat apa sakit? Udah nikah apa belum? Nanya langsung ke intinya,'' kesal Emilia.
''Baiklah. Gimana kabarnya?'' tanya Alicia lembut.
''Wes kasep!!!'' jengah Emilia. ''Pulanglah ke Istanbul. Papa mencarimu,'' jawab Emilia.
''Aku tidak akan pulang ke sana,'' sahut Alicia jengah.
''Apa kamu tidak rindu pada Kak Candra?'' tanya Emilia.
''Kak Candra nyari kamu terus,'' ucap Emilia.
''Biarin aja dia nyari. Dari dulu memang membuat masalah denganku. Aku sudah bilang kalau aku tidak mencintainya. Aku lebih mencintai Andi,'' ujar Alicia.
''Cih, sok banget kamu mencintai Andi. Hey... aku mengerti hidup kamu di sini. Andi tidak pernah mencintaimu. Andi lebih mencintai Tika,'' sungut Emilia.
''Ah... tidak! Andi mencintaiku. Cintanya sangat tulus buatku,'' kelit Alicia.
''Kau jangan berbohong sama aku. Aku sudah tau sebenarnya. Kamu tau di rumahmu aku sudah memberikan mata-mata. Aku juga tau perlakuan Andi terhadapmu. Andi lebih memikirkan singa betina itu ketimbang kamu,'' timpal Emilia.
''Ayo kita pulang. Kita akan balas dendam atas kematian mama kita yang di bunuh sama 6 pilar utama dunia,'' ajak Emilia.
''Aku tidak mau,'' ucap Alicia.
'Baiklah kalau itu mau kamu. Cepat atau lambat aku akan memaksamu pulang. Kita akan sama-sama balas dendam atas kematian mama,'' ujar Emilia.
''Aku yakin bukan 6 pilar utama dunia yang membunuhnya,'' sahut Alicia.
''Apa kamu yakin?'' tanya Emilia.
''Sangat yakin,'' jawab Alicia.
Kemudian Rini datang membawa pesanan.
''Makanlah. Aku akan mengecek laporan bulan ini,'' ucap Alicia lembut sambil berdiri.
Kemudian Alicia meninggalkan Emilia. Setelah itu Alicia masuk ke dalam ruangan itu.
''Kamu benar kak. Tapi Andi memperlakukan aku sangat baik. Meskipun Andi tidak menyentuhku. aku tidak marah sama sekali. Kamu tidak akan pernah tau. Aku sudah mendapatkan kebahagiaan tiada tara. Putri Andi sangat menyayangiku,'' batin Alicia.
__ADS_1
Akhirnya Alicia duduk di kursi kebesarannya. Alicia langsung menangis karena mengingat masa lalunya.
Kisah hidup Alicia.
Alicia tidak pernah di perlakukan baik oleh keluarganya. Begitu juga dengan Emilia. Alicia kabur dari rumah di saat usianya 15 tahun. Alicia pergi dari Istanbul Turki melalui jalur laut sebagai imigran gelap.
Kapal yang membawa Alicia bersandar di Tanjung Priok Jakarta. Di kota Jakarta Alicia memulai hidup baru. Alicia bekerja di Jakarta sebagai serabutan. Pekerjaan ringan sampai berat ia lakukan.
Hingga akhirnya Alicia bertemu dengan gadis mungil bernama Lee. Kemudian Alicia mendekati Lee dan duduk bersama.
Flashback On.
''Hi... Gadis cantik,'' sapa Alicia.
''Hi... kakak... Kakak koq sangat cantik sekali,'' puji Lee tersenyum.
''Kamu kok sendiri di sini?'' tanya Alicia.
''Aku malas pulang kak. Aku enggak mau pulang. Aku rindu pada mama dan kakak,'' tangis Lee pecah.
Saat Lee menangis, hati Alicia tersayat. Alicia merasakan kesedihan Lee. Akhirnya Alicia memeluk Lee dengan erat.
''Menangislah adik kecil jika itu bisa mengurangi beban hatimu,'' ucap Alicia bergetar.
Setelah meluapkan airmatanya, Lee mengangkat kepalanya dan melihat Alicia yang sangat baik sekali.
''Kakak, nama kakak siapa?'' tanya Lee.
''Namaku Alicia,'' jawab Alicia lembut. ''Nama kamu siapa adik kecil?''
''Namaku Aleeyach tapi aku sering di panggil Lee,'' jawab Lee.
Kemudian ada seorang pria berbaju serba hitam mendekati Lee.
''Nona muda,'' sapa Dani.
''Paman Dani,'' pekik Lee dengan suara imutnya.
''Nona muda ayo ikut kami. Tuan besar sedang menunggu nona di rumah,'' ucap Dani lembut.
''Katakan pada Papa, Lee tidak mau pulang,'' ujar Lee sendu.
''Nona... Ayolah... pulang bersama Paman. Katanya janji pada Paman tidak ingin membuat Papa sakit,'' bujuk Dani.
Dani menatap mata Alicia lalu membisiki sesuatu.
''Nona, bujuklah nona kecil agar mau ikut pulang bersamaku,'' bisik Dani.
Alicia langsung mengangguk kepalanya tanda setuju.
''Adik kecil... Pulanglah bersama Paman Dani. Kasian Papamu sudah menunggu. Jangan biarkan papamu jatuh sakit,'' bujuk Alicia lembut.
''Baiklah aku akan ikut Paman Dani. Tapi kakak harus berjanji kita akan bertemu lagi,'' ucap Lee sambil menunjukkan kelingkingnya.
Kemudian Alicia memegang kelingking Lee dan menautkan bersama jari kelingkingnya.
Flashback Off.
Setelah pertemuan itu, hati Alicia sangat bahagia. Alicia mulai menata kembali hidupnya.
Waktu berlalu sangat cepat. Persahabatan Lee dan Alicia semakin kental. Akhirnya Alicia menutup identitas dirinya dan melupakan keluarganya.
__ADS_1