Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 358


__ADS_3

"Iya Aku mengantuk sekali. Gantian ya," jawab Erra yang membuat Lee bingung.


"Gantian apa?" tanya Lee.


Kamu yang menyetir mobil aku yang tidur," jawab Erra yang membuat Lee tersenyum lucu.


"Kalau begitu kita ke hotel aja," ucap Lee.


"Awas, nanti kamu jadi korbanku," bisik Erra yang membuat Lee menggelengkan kepalanya.


Lalu mereka akhirnya pergi ke hotel milik Erra. Di dalam perjalanan si Kakak tampan itu terlelap tidur. Ingin rasanya Lee mengerjainya. Namun dirinya tidak tega melihat sang suami sangat kecapean.


Di tempat lain Imam dan Irwan sudah sampai di kediaman Pradipta. Kedua pria berbeda generasi itu melihat Mansion sangat sepi sekali. Mereka tidak langsung masuk ke dalam. Mereka berpencar untuk mencari para musuh yang sedang menyelinap.


Beberapa saat kemudian mereka menyatakan mansion sangat aman sekali. Bahkan tempat itu sering disterilkan oleh sang Widya.


"Bagaimana? Apakah aman di setiap sudut mansion?" tanya Irwan.


"Sangat aman sekali," jawab Imam.


"Baguslah. Tempat ini sering diseterilkan oleh mamamu sendiri. Hampir setiap hari mamamu tidak akan pernah lepas dari ruangan CCTV. Sekarang di dalam ada Suci dan Raka. Suci juga turut membantu untuk mengamankan tempat ini," ucap Irwan yang membuat Imam mengangguk.


"Kalau begitu aku sangat lega sekali. Bisa meninggalkan mereka di sini. Aku tidak akan mungkin meninggalkan mereka di apartemen atau markas," ujar Imam yang membuat Irwan paham.


"Sekarang kamu benar-benar serius untuk menyayangi mereka. Syukurlah... Sifat dinginmu itu akhirnya lelah seperti es krim yang berada di tengah-tengah matahari," puji Irwan yang melangkahkan kakinya menuju ke dalam.


Melihat kepergian Irwan, Imam menyunggingkan senyumnya sambil berkata, "Aku memang sangat mencintai mereka. Bahkan aku tidak akan melepaskan wanita yang telah membuat hidupku hancur seketika."


Di saat berkata seperti itu, Imam tidak menyadari kalau di belakangnya ada Suci. Tiba-tiba saja Suci yang tidak terima dengan ucapan calon suaminya itu langsung menyerangnya.


Imam yang mendapat serangan mendadak mengerti siapa yang menyerangnya itu. Ia tidak mungkin menyerangnya kembali. Seketika suci ingin melahapnya hidup-hidup. Dalam batin Suci berkata enak saja dia ngomong seperti itu.


"Yang berhenti dulu. Jangan menyerangku seperti ini," pinta Imam yang membuat Suci berhenti.


"Kenapa harus berhenti? Kamu kan yang salah? Bisa-bisanya aku membuat hidupmu hancur seperti itu? Memang laki-laki itu sangat egois kali," geram Suci lalu meninggalkan Imam.


"Neng Suci," seru Imam.


"Udah aku nggak mau dengar lagi. Aku mau tidur saja," teriak Suci sambil meninggalkan Imam.


Imam hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Jujur saja dirinya tidak salah berkata seperti itu. Dari awal Suci sudah memperkosanya dan membawa separuh hidupnya pergi.


Di dalam peristiwa ini Imam sangat beruntung sekali. Setelah kepergian Gisel, Imam tidak sepenuhnya menutup dirinya terhadap wanita lain. Akan tetapi dirinya belum bisa menerima wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta.


Sering sekali Imam diajak kencan oleh Putri kolega dari perusahaannya. Namun Imam sering menolaknya. Ketimbang berkencan sama mereka dirinya lebih memilih berlatih pedang atau menonton anime.


"Neng geulis... Jangan marah gitu atuh," rayu Imam yang membuat Suci semakin kesal.

__ADS_1


"Lagian akang mah. Kalau ngomong nggak disaring," geram Suci.


"Maaf neng saringannya jebol," celetuk Imam tanpa dosa sekalipun.


"Aish... Akang mah ada-ada saja atuh. Mari masuk kang," ucap Suci yang membuat Imam tersenyum kemenangan.


"Neng, di dalam ada mamah ngga?" tanya Imam.


"Mama main sama Raka. Papa baru saja datang dan ikutan bermain. Memangnya akang mau apa?" tanya Suci.


"Biasa neng. Kita ke kamar dan main kuda-kudaan," jawab Imam yang penuh dengan percaya diri lalu mendapat pukulan keras dari Suci.


Pletakkkkk!


"Aduh neng! Kok galak amat," ucap Imam yang pura-pura sakit.


"Abang yang ngajarin nggak-nggak. Masih siang bang. Nanti kalau Raka nyari gimana?" Tanya Suci yang menatap wajah Imam.


"Karungin saja neng sebentar," jawab Imam kemudian mendapatkan tatapan horor dari calon istrinya itu.


"Rasanya aku ingin menangis saja. Dulu aku mengenal akang orang yang sopan. Sekarang udah kayak kucing minta kawin. Sungguh luar binasa," kata Suci yang membuat Imam mengacungkan jempolnya.


"Itu juga gara-gara neng. Neng yang ngajarin Abang yang nggak-nggak," bisik Imam yang membuat Suci menggelengkan kepalanya.


"Ayo neng masuk! Ngapain juga kita dari tadi ke sini?" tanya Imam.


Imam menggandeng tangan suci dan masuk ke dalam. Lalu Siti mengajak Imam untuk bertemu Raka. Sore ini Suci sangat bahagia bisa bertemu dengan calon suaminya itu. Menurut Suci Imam adalah segalanya bagi hidupnya.


"Neng," panggil Imam.


"Ada apa bang?" tanya Suci.


"Raka tidak nakal di sini?" tanya Imam balik.


"Enggak. Sekarang Raka sudah bisa ngomong. Bahkan sekarang Raka sering berceloteh tentang hal yang dilihatnya," jawab suci yang membuat Imam tersenyum mengembang.


"Syukurlah kalau begitu. Aku rindu pada anak gembul itu. Ingin rasanya aku menggendongnya," ucap Imam.


"Kakak sangat menyayanginya ya?" tanya Suci.


"Sangat," jawab Imam. "Raka adalah darah dagingku sendiri. Meskipun kamu memperkosaku, dia tetap saja anakku sendiri. Jika aku tidak mengakuinya, sang Baginda raja dan permaisuri akan menghukumku. Yang kumiliki akan disita dan diberikan kepada Raka."


"Meskipun kamu tidak mengakuinya, aku tidak mengapa. Kamu tahu kan kalau aku adalah wanita strong bisa menghadapi kenyataan walau Itu menyakitkan hatiku," kata Suci sambil memeluk Imam.


"Jangan berbicara seperti itu. Apakah kamu tidak kasihan sama Raka? Suatu hari nanti Raka akan mencariku. Untunglah kalau kakak besarmu itu bercerita. Coba kalau tidak bercerita, pasti aku akan kehilangan separuh jiwaku," ungkap Imam sambil mengelus rambut hitam Suci.


"Terima kasih yang sudah mau menerima aku apa adanya. Jujur di saat aku hamil Raka, aku jatuh cinta pada kakak. Tapi aku tidak mengatakannya. Karena aku takut kakak akan marah sama aku. Padahal saat itu Kakak sedang patah hati," jelas suci yang membuat jantung Imam berdetak kencang.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu?" tanya Imam.


"Iya Kak. Aku memang mencintai kakak," jawab Suci. "Maafkan aku Kak terlalu jujur."


"Justru itu kejujuranmu bisa membuat aku semakin mencintaimu. Kamulah orang yang bisa menyembuhkan luka hatiku. Kenapa nggak dari dulu kamu mengatakannya. Sungguh tega dirimu Suci."


"Kakak mah selalu begitu. Ternyata kakak bisa ngelawak ya?"


"Kamu baru tahu ya?"


"Jujur iya."


"Oh iya... Yang tahu hanyalah Kakak besarmu itu. Kami selalu bertukar pesan dan mengirimkan cerita-cerita yang membuat kami tertawa.Kenapa kamu tidak bertanya pada Kakak besarmu itu? Bagaimana karakter diriku sebenarnya?"


"Aku sudah bertanya kepada kakak besar. Katanya kakak itu orangnya sangat hangat sekali. Bahkan lucu. Sangking lucunya Kakak besar sering tertawa.Itulah mengapa agak besar sangat akrab sekali kepada kakak."


"Harusnya kamu akrab juga dong sama aku?"


"Aku nggak berani Kak."


"Kenapa kamu nggak berani?"


"Aku bukan tipe wanita yang suka bergaul dengan orang penutup seperti kakak."


"Kamu benar. Aku memang orangnya sering menutup diri. Itulah kenapa Aku jarang sekali berbicara banyak kepada setiap orang yang aku jumpai. Tapi kalau sama mereka, aku malah berbicara banyak."


"Itu mungkin karena lingkungan. Jujur mereka orangnya sangat mengasyikkan. Apalagi kak Nanda. Dia adalah guruku yang membuat aku menjadi kuat seperti ini."


"Ya aku tahu itu. Nanda adalah seorang ketua pengawal khusus yang ditugaskan untuk melatih seluruh pengawal di White Eragon. Nanda juga yang membuat Kakak besarmu itu semakin menjadi wanita tangguh. Dia orangnya tidak pilih-pilih antara si a si B dan si c atau lainnya. Kalau lagi serius Jangan harap kamu bisa tertawa."


"Itu benar Kak. Aku memang mengaguminya sebagai guruku. Ada lagi orangnya slengean yang gak pernah serius.tapi sekalinya marah dunia bisa bergetar dan berguncang seperti gempa bumi yang skalanya tinggi."


"Aku tahu itu. Dia adalah Samuel anaknya bapak Saga. Samuel orangnya tidak pernah serius. Tapi sekalinya marah hancur sudah.Aku tidak tahu kenapa amarahnya itu bisa meledakkan seluruh bangunan yang berada di sekitarnya."


"Iya itu benar. Beda dengan kakak besar. Kakak besar orangnya kalem sekali. Jarang marah aku sangat mengaguminya."


"Iya itu benar. Aku harap kamu tidak cemburu pada Kakak besarmu itu. Karena kami sangat akrab sekali. Itulah satu wanita yang paling akrab di dalam hidupku. Yang lainnya tidak akan pernah akrab. Di sisi lain kakak besarmu sering membantu kakak. Ketika berkencan kakak sering mengajaknya untuk menggagalkan rencana tersebut."


"Lalu bagaimana dengan Tuan Erra?"


"Erra biasa saja. Dia tidak pernah marah apalagi cemburu. Karena kecemburuannya itu tidak penting buat kakak besarmu. Yang penting Kakak besarmu itu mengerti akan tugasnya."


"Tenang saja. Aku tidak akan cemburu sama kakak besar. Aku sangat menyayanginya juga. Karena sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Meskipun sibuk Kakak besar selalu menanyakan aku dan semuanya."


"Aku percaya soal itu," ucap Imam.


"Ayo Kak kita ke belakang. Raka sedang berenang bersama mama!" ajak Suci.

__ADS_1


"Apakah Raka sering berenang?" tanya Imam.


__ADS_2