
Flashback On.
Pagi yang cerah di kawasan puncak Bogor. Lee yang baru saja datang langsung mencari keberadaan Nanda. Gadis mungil itu berlari-lari memasuki area villa. Namun sebelum masuk Lee dipanggil salah satu pengawal Nanda. Ia tersenyum ramah dan memintanya untuk mengantarkan ke ruangan Nanda. Pengawal itu pun menurut dan mengantarkannya ke sana.
Sepanjang perjalanan Lee melihat foto-foto Nanda yang menghiasi dinding. Ia sangat takjub sekali kepada sang kakak angkatnya itu. Ia tidak menyangka kalau sang kakak angkatnya sangat tampan ketika berpose di kamera. Banyak yang mengira pria itu adalah foto model. Namun kenyataannya tidak. Pria bertubuh kurus itu adalah seorang CEO dari SW Groups International Corporation. Bahkan Nanda memiliki jabatan penting di suatu organisasi bawah tanah yang bisa dikatakan sudah mencapai tingkat tertinggi. Jarang ada pria yang masih berusia muda bisa menjabat sebagai Master kepala pengawal. Ia sendiri sudah memegang ratusan bahkan ribuan pengawal White Eragon.
Sesampainya di dalam Lee masuk ke dalam ruangan itu. Iya melihat Nanda sedang sibuk di layar laptopnya. Gadis itu langsung menghempaskan bokongnya di sofa. Kemudian matanya menatap Nanda sambil menyapa, “Aku datang Kak.”
“Aku tahu itu,” ucap Nanda dan mematikan laptopnya sambil meraih berkas. “Kamu kok nggak nanya, kenapa aku menunggumu datang ke sini?”
“Buat Apa aku bertanya? Bukankah hari ini adalah latihan tembak?” tanya Lee.
“Kamu harusnya bertanya,” ujar Nanda yang membuat Lee malas.
Pria bertubuh kurus itu pun berdiri dan menghampiri Lee. Nanda segera menyodorkan berkas-berkas itu ke hadapan Lee, “Ini.”
“Apa ini kak?” tanya Lee sambil meraih berkas tersebut.
“Kamu sekarang berada di Indonesia jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Ada seseorang sekitaran usia lima puluh-an yang menggantikanku sebagai pelatih yang baru. Tugasku sudah selesai untuk melatihmu menembak. Tapi soal mengawalmu itu masih tugas utamaku,” jawab Nanda.
“Maksud kakak?” tanya Lee.
“Seminggu setelah dari Helsinki. Pekerjaanku sangat banyak sekali. Aku tidak bisa memanage waktu. Jadinya aku harus mengorbankan salah satunya. Tapi kamu tenang saja soal dokumen dan identitas asli maupun rahasia aku masih menyimpannya. Jika kamu membutuhkannya carilah aku di SW. Beberapa bulan ke depan aku harus mendekam di perusahaan itu,” jelas Nanda yang menghembuskan nafasnya secara berat.
“Sepertinya Kakak berat bekerja di sana?” tanya Lee.
“Bukan berat... Tapi tugasku banyak sekali. Aku harus menghavaluasi seluruh pegawai yang berada di pusat dan cabang. Kamu tahu kan sifatku yang satu ini, aku tidak mudah percaya dengan orang lain. Meskipun orang itu sudah sering dekat denganku. Bahkan pengawal saja tidak terlalu percaya,” jawab Nanda.
“Lalu kenapa Kakak memberikan pelatih yang tidak dikenal? Apakah Kakak memberikanku seorang polisi?” tanya Lee.
__ADS_1
“Tidak. Pria inilah sering berada di area White Eragon,” jawab Nanda yang memberikan sebuah teka-teki untuk Lee.
“Kakak selalu memberikan aku teka-teki. Aku kan bukan detektif yang bisa memecahkan teka-teki,” gerutu Lee.
“Aku tidak memberikanmu teka-teki. Aku hanya ingin memberitahukan berarti kamu kayak apa. Aku tidak ingin kaget saat berlatih sama dia. Aku berharap kamu enjoy sekali saat kita berlatih bersama,” ucap Nanda.
“Begitukah Kak?” tanya Lee.
“Ya begitulah. Sekarang bacalah seluruh informasi tentang dia. Jam delapan sang pelatih barumu akan datang. Kamu harus bersiap-siap menuju ke klub tembak. Jika kamu terlambat sedikit saja. Kamu pasti mendapatkan hukuman yaitu memutari lapangan klub tembak itu sebanyak sepuluh kali. Apakah kamu paham soal ini?” tanya Nanda dengan serius.
“Sepertinya orang itu sangat galak sekali?” tanya Lee yang membuat Nanda bungkam
“Tak tahulah. Nanti kamu nilai sendiri,” jawab Nanda yang mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
“Kenapa tidak tahu?” tanya Lee.
Nanda hanya menghela nafasnya. Ia tidak mungkin membocorkan gaya berlatih orang tersebut. Nanda akan menyerahkan tugas ini ke orang tersebut. Setelah membaca, tidak tertarik sama sekali sama pelatih barunya. Ia akan mengerjai dan mengusir pelatih itu dari lapangan tembak.
“Tidak tertarik sama sekali. Bahkan aku memiliki ide untuk mengusir orang tersebut dari latihan tembak!” tegas Lee yang membuat mata Nanda membulat sempurna.
“Kalau kamu berani maka lakukanlah. Aku akan memberikanmu sebuah mobil sport keluaran terbaru,” ucap Nanda.
“Nggak perlu mobil baru. Yang penting Kakak bisa menemukan kakak tampanku. Aku sangat merindukannya. Aku ingin tahu wajah kakak tampanku seperti apa?” tanya Lee yang sangat merindukan Kakak tampannya itu.
“Tenang saja. Besok kamu akan menemukannya,” hibur Nanda sambil menatap jam tangannya itu. “Sudah jam delapan kurang lima menit. Ayo kita ke sana mumpung pelatihmu belum datang.”
Kemudian Nanda mengajak Lee pergi ke area klub tembak yang berada di belakang villa tersebut Nanda hanya bisa terdiam dan memasang ekspresi wajah datar. Banyak sekali pengawal yang sudah berjaga di area sana. Sementara Lee melihat ada sebuah mobil yang cukup dikenalnya itu. Lalu Lee segera menarik baju Nanda agar segera berhenti.
“Kakak,” panggil Lee yang menarik baju Nanda.
__ADS_1
Seketika Nanda berhenti dan membalikkan badannya. Ia menatap wajah Lee sambil bertanya, “Ada apa?”
“Sepertinya aku mengenal mobil itu?” celetuk Lee sambil menunjuk mobil itu yang terparkir sangat rapi sekali.
“Memangnya kamu tahu itu mobil siapa?” tanya Nanda.
“Tahulah... Itu kan mobil papa Andi,” jawab Lee dengan jujur. “Memangnya papa ada di sini?”
“Enggak tahu?” jawab Nanda dengan asal. “Ayolah kita masuk ke sana. Perkenalkanlah dirimu sama Master Chicken Pop.”
“Seperti nama makanan saja. Memangnya sang pelatih adalah pemilik kedai Chicken P itu? Sepertinya cafe sederhana itu sangat ramai dan enak dikunjungi. Apakah kakak mau mengajakku ke sana?” pinta Lee.
“Nanti sore ya... Mumpung hari Sabtu kita berkencan,” jawab Nanda dengan asal agar Lee semangat berlatih.
“Ah... Baiklah. Ayo kita masuk!” ajak Lee yang semangat.
Mereka akhirnya masuk ke dalam dan melihat lapangan tembak itu sangat sepi. Di sana belum ada yang berlatih sama sekali. Biasanya enam pilar utama sudah berkumpul setiap pagi. Akan tetapi mereka memutuskan untuk beristirahat.
“Kok sepi ya?” tanya Lee.
“Semalam para penghuni tempat ini memutuskan untuk tidak berlatih. Mereka sedang beristirahat agar besok bisa beraktivitas. Beberapa minggu terakhir mereka sedang disibukkan padatnya aktivitas. Bukannya besok kamu masuk kerja di Asco pertama kalinya,” tanya Nanda.
“Iya... Entah kenapa aku diberi jabatan tertinggi di sana. Padahal aku melamar sebagai anggota divisi keuangan,” jawab Lee yang merasa aneh.
“Memangnya apa jabatan kamu?” tanya Nanda.
“Seorang sekretaris sang CEO. Yang aku dengar CEO itu sangat aneh sekali. Nggak pernah ke klub, nggak pernah mabuk, nggak pernah merokok apalagi tidak memiliki julukan bad boy,” jawab Lee yang membuat Nanda menganga sempurna.
Sontak saja Nanda terkejut atas pengakuan Lee. Memang benar apa yang dikatakan Lee tentang CEO barunya itu. Sedangkan Lee memiliki sifat berbanding terbalik. Lee yang meriang dan lucu harus menghadapi kenyataan seperti ini. Lalu, bagaimana dengan Nanda? Nanda memilih diam dan tidak banyak bicara soal ini. Jujur saja Nanda juga bingung sama sang CEO itu. Namun Nanda hanya bisa pasrah ketika sang CEO memiliki sekretaris bar-bar.
__ADS_1
“Apakah Sam sudah gila memberikan seorang sekretaris barbar seperti ini? Bagaimana dengan Erra yang notabennya pendiam seperti kulkas berjalan?” tanya Nanda di dalam hati.