Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 229


__ADS_3

Gerry segera menghindari lemparan asbak itu dengan menundukkan kepalanya. Lalu Gerry tersenyum kocak sambil meninggalkan kedua pria tua itu. 


"Bye semuanya," ucap Gerry yang berteriak.


"Aku rasa ini ulah singa betina yang membuat kedua perusahaan raksasa hancur,'' celetuk Adam.


"Ya… aku rasa,'' kesal Candra.


"Apakah kita akan mengejar singa betina?" tanya Adam.


Tiba-tiba saja Candra teringat akan Thomassen sama Emilia mati di tangan singa betina. Hatinya teriris bagai tersayat pisau. Candra menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku bisa menghancurkan sekarang. Tapi singa betina mulai menjadi seperti kuda lumping."


"Maksudnya apa?" tanya Adam yang tidak paham dengan kuda lumping.


"Masa kamu tidak tahu sih. Kalau kita usik kehidupannya, singa betina menjadi gila. Bahkan bertambah gila. Kedua kaki tanganku mati. Seperti Emilia pulang tinggal kepala saja. Terus Thomassen mati karena overdosis. Rasanya aku ingin menangis saja," kesal Candra yang menghela nafasnya.


Aslinya Adam menyerah pada keadaan. Bertahun-tahun sudah Adam memburu Lee hingga ke ujung neraka. Akan tetapi Adam tidak bisa menangkapnya. Bahkan Adam mengangkat kedua tangannya. 


"Bagaimana caranya kita biasa menghadapi singa betina itu ya?" tanya Adam.


"Kita culik saja dia. Lalu kamu nikahin tuh singa betina," jawab Candra yang memiliki ide konyol seperti itu.


"Apa?" pekik Adam. 


"Kamu niikahin dia lalu siksa. Jangan pernah diberi nafkah," pinta Candra.


"Kalau aku jatuh cinta sama singa betina bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Adam.


"Itu cerita kamu. Aku enggak mau ikut-ikutan," jawab Candra yang meledek Adam.


Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nanti jika Adam menikahi Lee. Apakah Adam yang terkena serangan jantung? Kemungkinan sih iya. Lee akan buat ulah terus menerus.


Lupakan saja kalau yang satu ini. Biarkan Lee akan hidup bahagia bersama sang suami. Akhirnya Adam protes keras terhadap sang author, "Thor… Kok lu tega sama gue!"


"Tega apaan sih? Lu kan yang membuat ulah. Kok sekarang gue diserang?" ketus Author lagi gabut. 

__ADS_1


"Ya… cerita gue kok ngenes?" tanya Adam.


"Ngenes apaan?" tanya Author balik yang sedang mengasah pisau lipatnya milik Candra.


"Lu enggak tahu kalau gue jomblo seumur hidup. Saat ini gue enggak pernah punya istri. Begitu juga dengan Abang gue itu. Mana make gigi palsu. Giginya sudah habis… ditambah lagi dengan wajahnya peyot. Ada tambahan lagi tubuhnya sudah renta," kata Adam secara jujur.


"Aku tambahin lagi kalau si Candra itu sudah tanah. Cepat atau lambat akan pergi ke kuburan," kesal Author yang datang dengan membawa pisaunya.


Cling!


Pisau yang baru saja diasah oleh sang Author sangat mengkilap, sang Author pun senang melihat pisau itu. Dengan senyumannya yang manis Author mendekati Candra sambil menghempaskan bokongnya di samping pria tua itu.


Candra yang sedari tadi melihat pisau itu bergidik ngeri. Lalu bagaimana dengan Adam? Adam juga sama dengan Candra. Bahkan tubuhnya sudah berkeringat dingin.


Candra menelan salivanya dengan susah payah ketika sang Author mengarah pisau itu ke hadapannya. Candra tubuhnya bergetar sambil berkata, "Thor… kenapa dengan pisau itu?" 


"Aku enggak apa-apa," jawab Author.


"Jangan Thor… Aku masih ingin makan nasi pecel Bu Minah," ucap Candra sambil memohon ketakutan.


"I… I… I…. Iya," jawab Candra yang berkata jujur.


"Rencana aku kesini mau ngasih tahu kalau Bayu sudah mengetahui riwayat penyakitmu. Yaitu penyakit jantungmu, cepat atau lambat kamu akan dikerjai sama singa betina,'' ujar sang Author.


Jedeerrrr.


Candra terkejut dengan apa yang didengarnya. Candra semakin bingung dan hanya menelan salivanya dengan susah payah. Candra memohon untuk kedua kalinya agar sang Author tidak berkata ke Bayu. Namun sang Author hanya mengedikkan bahunya. 


Ketika ingin pergi dari markas Black Lotus Author menatap Candra. Kemudian Author berdiri sambil melipat pisau itu, "Pisaumu aku bawa."


"Buat apa Thor? Bukannya kamu punya pisau baru?" tanya Candra.


"Buat ngupas bawang. Kalau bisa sih aku ingin menguliti kamu. Tapi itu tidak perlu. Aku akan menyerahkan ke Lee saja. Karena aku adalah Author baik hati dan tidak sombong sama sekali," jawab Author.


"Terserahlah apa katamu. Aku mah diam saja,'' ucap Candra yang pasrah akan kisah hidupnya beberapa bulan ke depan.

__ADS_1


Berita tentang skandal mencuatnya kekejaman Elizabeth sangat ramai sekali. Bahkan aparat kepolisian negara ini sudah menangkap Elizabeth. Elizabeth sekarang sudah masuk ke dalam tahanan khusus wanita. Elizabeth hanya bisa pasrah dengan keadaan. 


Namun di dalam penjara Elizabeth akan membuat laporan tentang kematian sang putri. Elizabeth akan bilang kalau dirinya disuruh Erra. Elizabeth akan memikirkan rencana agar Erra masuk ke dalam penjara. 


"Duh… bagaimana ini?  Erra juga harus masuk penjara," ucap Elizabeth.


Sekarang Elizabeth harus berpikir dengan keras. Lalu Elizabeth memiliki sebuah ide. Yang dimana ide itu akan menjerat Erra. Lalu apakah Erra akan terjerat dengan akal-akalannya? Atau apakah Elizabeth akan mendekam di penjara selama puluhan tahun? Belum lagi kasus besarnya di beberapa tempat yang belum selesai. 


Sedangkan Garda masih berada di dalam kamar. Garda merasakan kepalanya pusing. Akhir-akhir ini Garda kurang beristirahat karena mencari informasi pada musuh. 


Kemudian Garda segera mengambil ponselnya. Garda mencari nomor sekretarisnya itu yang bernama Arini. Garda tidak mau merepotkan sang mama. Karena jam segini sang mama langsung melayani papa ketika sudah pulang dari kantor. Rasanya Garda harus mencari istri agar dirinya ada yang merawat.


"Rasanya aku ingin sekali mencari istri,'' ucap Garda dalam hati yang menemukan nomor Arini dan menghubunginya.


Sementara Arini yang sudah sampai apartemennya langsung melemparkan tasnya ke sofa. Kemudian Arini pergi ke dapur untuk mengambil air di kulkas.


"Tumben hari ini pulang cepat," ucap Arini dalam hati. "Apakah tadi enggak ada Kak Garda?"


Saat sedang minum Arini mendengar ponselnya berdering. Arini segera menuju ke ruang tamu. Setelah itu Arini meraih tasnya lalu mengambil ponselnya.


Arini mengerutkan keningnya sambil melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Kemudian Arini mengusap lambang hijau sambil menyapa seseorang dengan nada lembut, "Halo."


"Posisi kamu dimana?" tanya Garda yang masih berbaring di dalam kamar.


"Aku berada di apartemen,'' jawab Arini.


"Kalau begitu tunggu aku di sana!" perintah Garda.


"Ah… baiklah," balas Arini.


Sambungan terputus. 


Arini menaruh ponselnya di atas meja. Sebelum Garda datang, Arini memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


Lalu Garda bangun dari tidurnya. Garda segera menghubungi pengawal pribadinya untuk mengantarkan ke apartemen milik Arini. Kemudian Garda meraih jaketnya dan menaruh ponselnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Maaf aku harus sembunyi untuk memperbaiki keadaan tubuhku," ucap Garda yang memakai jaket kulitnya itu. "Bye… aku mau pergi.''


__ADS_2