
“Kakak,” panggil Lee.
“Ada apa memangnya?” tanya Nanda.
“Di mana pelatihnya?” tanya Lee balik.
“Sebentar lagi. Mungkin saja sang pelatih sedang pergi ke toilet,” jawab Nanda yang melihat bermacam-macam senjata di depannya. “Maaf... Senjatamu sedang di dalam perjalanan. Kemarin pengawal lupa mengirimkannya. Harusnya kita berangkat bareng bersama senjata itu. Akhirnya sang pengawal meninggalkan senjata itu di markas.”
“Nggak papa Kak. Aku mau coba senjata lain. Seperti AK atau lainnya,” ucap Lee.
“Kalau begitu tunggulah di sini. Biarkanlah para pengawal yang menyiapkan semuanya!” perintah Nanda.
Lee akhirnya duduk di bawah pohon mangga. Matanya melihat ke atas sambil mencari mangga yang masak. Ia menemukan beberapa buah mangga yang masak, Lee menandainya untuk dipetik sebelum kembali ke Mansion.
“Sepertinya buah mangga ini masak semuanya? Rasanya aku ingin membeli semuanya,” ucap Lee dalam hati.
Sementara Nanda menemui pelatih tembak itu yang baru saja datang. Sang pelatih itu sedang membawa pisau di tangan kanannya bersama mangga yang baru dipetik. Nanda sangat terkejut ketika sang pelatih membawa mangga.
“Apakah Papa mau mangga?” tanya Nanda.
“Kalau ada ya mau,” jawab Andi. “Kamu kok kaget gitu?”
“Aku nggak kaget pa... Aku hanya terkejut, bagaimana bapak bisa mengambil mangga itu?” tanya Nanda lagi.
“Aku memakai jurus bergerak di atas angin. Jika kamu mengetahui jurus itu tanyakan saja pada papamu,” jawab Andi yang memberitahukan kenapa bisa naik ke atas.
“Ah... Aku pernah melihat jurus itu. Biasanya Lee memakai jurus itu saat menyerang musuh,” jawab Nanda dengan jujur.
“Lee sudah berlatih sejak usia lima tahun. Yang melatih jurus itu adalah papamu. Seharusnya kamu bisa menguasai jurus itu. Tapi kamu malas sekali Jika belajar terlalu lama. Kalau kamu menguasai jurus itu, Papa pastikan kamu bisa mengelabui musuh dengan cepat. Kamu tidak perlu susah payah memanjat pohon seperti dikejar anjing. Kamu hanya memakai tenaga dalam sepersepuluh saja. Apakah kamu paham?” tanya Andi yang menjelaskan kegunaan jurus tersebut.
“Paham pa... Rencana tahun ini aku mau belajar sama Lee ingin menguasai Jurus Tapak Naga asal Tiongkok. Aku ingin memiliki jurus itu hanya untuk membantai musuh sekaligus. Semoga Lee mau ikut latihan jurus itu,” ucap Nanda.
“Baguslah. Kamu harus banyak-banyak berlatih jurus dari negara manapun. Sebab para musuh yang kita hadapi bukan satu. Kamu tahu kan Adam dan Chandra itu gimana? Mereka memiliki kolega di berbagai negara di seluruh dunia,” ujar Andi yang menasehati Nanda. “mana orang yang kamu limpahkan kepada papa untuk dilatih?”
__ADS_1
“Itu anaknya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Sepertinya dia juga mengincar pohon mangga itu. Untunglah sama Pak Asep belum dijual,” ucap Nanda sambil menunjuk Lee.
“Kamu ingin membunuhku?” bentak Andi.
“Memangnya kenapa pa?” tanya Nanda.
“Gue bisa jantungan nih sama itu anak. Setiap berlatih selalu membawa bom. Jika nggak suka tinggal lempar saja bom itu,” keluh Andi.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Nanda.
“Aku akan menerapkan sistem militer saat kita berada di hutan dulu. Jika sistem militer itu dijalankan maka Lee tidak akan macam-macam menindasku seperti yang lainnya. Jujur saja meskipun putriku sendiri aku harus tegas. Namun dia memiliki sifat bar-bar melebihi aku dan mamanya itu. Sekarang pergilah biar aku yang menghadapinya,” ujar Andi datar yang mengusir Nanda dari area itu.
Andi berjalan tegak lurus menuju ke arah Lee. Pria itu sengaja memandangi dengan tajam seperti pedang. Akan tetapi yang dilihatnya sedang asyik menghitung mangga di atas. Dengan cepat Andi mengeluarkan hawa dingin.
Semakin dekat Lee merasakan hawa ingin seperti di Helsinki ketika turun salju. Lee tidak sadar kalau di depannya itu papanya sendiri. Namun hidung Lee segera mendeteksi aroma maskulin dari parfum pria. Akhirnya Lee menatap sang Papa berjalan menghampirinya.
“Papa... Kenapa bapak di sini?” tanya Lee.
“Aku bukan papamu! Aku adalah pelatihmu! Sekarang kamu harus bersiap-siap lari dua putaran!” tegas Andi yang membuat Lee ketakutan.
Flashback Off.
“Ternyata Papa sangat galak sekali ya?” tanya Erra.
“Nggak.... Kata siapa galak? Kalau nggak galak aku nggak bisa menjadi penembak luar biasa seperti Kak Nanda,” puji Lee ke sang papa.
“Sudah pakai bajunya?” tanya Lee.
“Kamu cocok sekali menjadi seorang ibu. Apalagi Ibu dari anak-anakku nanti. Rasanya aku ingin menjadi anakmu saja. Ketimbang menjadi suami kamu,” sahur Erra yang tersenyum manis.
“Apa yang kamu bilang?” tanya Lee.
“Ya kamu cocok jadi ibu saya,” jawab Erra.
__ADS_1
“Lama-lama Kak Erra sangat sangat sangat menyebalkan sekali. Bisa nggak sih... Ngambil kesempatan dalam kesempitan,” kesal Lee yang salah ngomong hingga membuat Erra tersenyum kemenangan.
Cup.
Dengan cepat Erra mencium bibir manis Lee. Kemudian pria itu memutuskan untuk berlari terlebih dahulu. Jujur saja Erra sangat takut ketika Lee sedang mengamuk. Namun tanpa diduga-duga sang istri malah malu sendiri. Wajahnya mulai memerah seperti kepiting rebus.
“Oh... Jantungku... Kenapa kamu berdebar sangat kencang?” tanya Lee sambil memegang jantungnya.
Malam ini benar-benar jatuh cinta kepada Erra lagi. Jantung yang biasanya normal tidak sengaja berdetak sangat kencang. Ia mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Di dalam hatinya Lee berdoa agar cinta mereka disatukan hingga nenek kakek.
Beberapa saat kemudian Lee mendengar deru jet sedang mendarat. Cepat-cepat Lee keluar dari kamar sambil membawa tas kecilnya. Kemudian Lee mendekati era lalu tersenyum manis.
“Bos sudah datang tuh,” ucap Lee.
“Bas bos bas bos.... Gue bukan bos lu,” sahut Erra dengan sombong.
“Lah... kenapa nih orang? Biasanya kalau di kantor sering tak panggil bos... Kok sekarang ngambek ya?” tanya Lee yang bingung.
“Kamu salah manggilnya. Coba kamu panggil sayang... Pesawatnya telah tiba. Mari kita bersiap-siap untuk masuk ke dalam pesawat. Contohnya seperti itu. Biar suami kamu itu tidak marah,” ujar Sam yang mengajari memanggil Erra dengan baik dan benar.
“Begitukah?” tanya Lee.
“Iya itu benar. Semua pria pasti menginginkan kalau Sang perempuan memanggilnya sayang. Begitu juga dengan aku. Berharap ada yang memanggil yang... bangun yang... Udah pagi... Jangan bobok terus. Kan enak. Biar suaminya nggak akan diambil orang,” jawab Sam yang memberikan ilmu untuk merayu Erra.
“Mana bisa begitu? Kenapa juga harus pakai sayang sayang sayang.... Nanti kalau udah bubar seluruh penghuni kebun binatang dipanggil semuanya,” kesal Lee yang membuat Erra tertawa.
“Memangnya ada ya kayak gitu?” tanya Nanda.
“Ya pasti ada... Nggak mungkin nggak ada... Aku juga pernah mengalami,” jawab Lee dengan kesal.
“Pasti anak divisi HRD,” tebak Erra.
“Nggak di situ juga kali. Ada di mana-mana. Bahkan lantai atas pun banyak yang kayak gitu. Kamunya aja jadi orang nggak ngeh sama sekali,” jelas Lee.
__ADS_1
“Berarti rame saat terjadi pertengkaran seperti itu?” tanya Garda yang tiba-tiba saja penasaran.