
Nanda membelalak sempurna ketika tahu singa betina maaf. Ia segera mengambil buku menu yang berada di sampingnya. Lalu Nanda memberikan buku menu itu ke Erra. “Pilihlah sesuka hatimu. Jangan kamu borong semua.”
“Kenapa?” tanya Erra yang meraih buku menu itu.
“Jika kamu borong semua maka tidak ada yang ingin membelinya,” jawab Nanda.
“Tidak akan. Aku hanya beli semampu singa betina makan,” ucap Erra.
“Ternyata kamu sangat menyayanginya,” puji Nanda ke Erra.
“Ya... aku sangat menyayanginya. Bahkan waktu sangat mencintainya,'’ sahut Erra yang kegirangan.
“Kamu harap jangan menyesal kalau singa betinaku makannya banyak,” ujar Nanda.
“Biarkan saja. Aku senang melihatnya. Semenjak aku bersama singa betina, nafsu makanku bertambah banyak,” celetuk Erra.
“Ya.... baguslah... kamu tidak perlu susah payah untuk membeli obat penambah atau makan. Apalagi kalau sekarang makan apapun dan enggak harus pergi ke restoran bintang lima. Aku sangat salut dengan kamu yang bisa makan di warteg hanya karena singa betina,” terang Nanda.
“Ya... itulah... aku sangat menyukainya. Banyak macam menu yang terhidang. Ditambah lagi dengan bermacam-macam ikan yang tersedia,” jawab Erra.
“Syukurlah... kamu hebat Ra,” balas Nanda.
“Kalau begitu aku mau pesan makanan,” imbuh Erra yang mencari keberadaan Lee.
Apa yang dikatakan oleh Erra memang benar apa adanya. Sebelum Lee datang, Erra dahulu sering makan di restoran terkenal. Jika makan siang telah tiba dirinya menyempatkan mencari restoran. Lalu setelah menikah dengan Lee, Erra sekarang lebih memilih makan di sebuah restoran. Garda yang menjadi saksi hidup Erra sangat terkejut sekali melihat perubahan sang bosnya kala itu. Ia ingin memprotes makanan yang dikonsumsi oleh Erra langsung mendapatkan tatapan horor dari Erra. Akhirnya Garda mundur alon-alon agar tidak terkena semprot dari Erra.
Erra menemukan sang istri saat sedang memesan makanan. Entah kenapa hatinya bahagia ketika melihat sang istri bingung untuk memesan. Lalu Erra mendekati Lee dan...
Bugh!
Erra jatuh tersungkur dan pingsan. Lee yang merasakan ada sesuatu dengan sang suami langsung menoleh dan melihat sang suami pingsan.
“Lha... kenapa kak Erra pingsan seperti ini?” tanya Lee dalam hati.
__ADS_1
Saat menuju ke arah Erra, ada seorang perempuan yang memakai baju kurang bahan menabrak Lee. Iajuga jatuh tersungkur dengan bersamaan Erra diangkat oleh beberapa orang yang memakai baju serba hitam.
Lee segera bangun dan mengejar orang-orang tadi. Ia memanggil Nanda hingga suaranya menggelegar di ruangan itu. Merasa namanya terpanggil, Nanda langsung mengejar Lee. Tak sengaja Nanda melihat beberapa orang yang memakai baju serba hitam membawa Erra. Ketika ingin keluar Nanda meminta para pengawal untuk menghadang mereka. Sedangkan Lee mencari ancang-ancang untuk segera menendang mereka. Untung saja restoran itu sudah mulai tutup.
Beberapa saat kemudian Lee langsung menendangnya memakai. Salah satu yang membawa mereka langsung jatuh tersungkur. Nanda yang melihat itu terkejut dan langsung berkoloborasi dengan Lee menghajar mereka.
Tak lama datang Maka Yi yang melihat mereka bertarung. Mama Yi juga melihat Erra yang pingsan. Ia segera meminta para pengawal untuk segera menolongnya. Wanita paruh baya itu menyuruhnya membawa ke ruangannya. Lee dan Nanda menghabisi mereka dengan teknik mematahkan tulang. Hanya beberapa menit orang tersebut meregangkan nyawanya.
“Fiuh,” ucap Lee yang kecapekan bertarung.
“Siapa ya mereka? Kok berani-beraninya ingin menculik Erra?” tanya Nanda yang bingung.
'Aku juga enggak tahu. Lebih baik aku memeriksanya,” ujar Lee yang mulai jongkok di hadapan. Mereka.
Lee segera memeriksa mereka dan melihat satu persatu orang yang sudah mati itu. Namun ia tidak menemukan orang tersebut. Hingga akhirnya Nanda menyuruh pengawal untuk membersihkan tempat ini.
“Apakah kamu menemukan sesuatu?” tanya Nanda.
“Tidak... aku tidak menemukan sesuatu. Aku hanya bingung kenapa Kak Erra ditangkap?” tanya Lee kembali.
“Jangan lupa kakak cek, siapa yang menabrak aku tadi,” seru Lee.
“Apakah kakiku ditabrak?” tanya Nanda.
“Ya kak. Aku tadi ada yang menabrak,” jawab Lee. “Ke mana Kak Erra?”
“Paling juga ke ruangannya mama,” jawab Nanda. “Ayo kita ke sana.”
Setelah pertarungan itu seorang gadis yang memakai baju kurang bahan langsung bermuram durja. Gadis itu tidak mengira kalau pengawalnya gagal membawa Erra. Ia mengepalkan kedua tangannya dan berkata dalam hati, “Sebentar lagi lu akan hancur di tangan gue Lee Sebastian!”
Gadis itu sepertinya membuat rencana baru untuk merebut Erra, Ia menancapkan gasnya pergi dari sini. Tanpa sengaja Garda yang baru saja sampai melihat wanita itu ketika masuk mobil. Ia ,etawa curiga dengan wajah gadis itu. Menurut Garda gadis itu sangat familiar di dalam otaknya.
Pria bertubuh kekar itu langsung masuk untuk mencari keberadaan Lee. Akan tetapi Garda sangat terkejut sekali melihat restoran yang berantakan. Ia menatap pada pengawal sedang membersihkan restoran itu lalu bertanya, “Ada apa ini?”
__ADS_1
Salah satu dari mereka menghentikan pekerjaannya sambil menunduk memberikan hormat sambil memberitahukan kalau Erra ada yang menculiknya. Mata Garda membulat sempurna dan tidak menyangka akan seperti ini. Kemudian Garda bingung, kenapa Erra bisa diculik?
“Di mana Erra dan Lee?” tanya Garda.
“Mereka berada di ruangan Mama Yi,,” jawab salah satu dari mereka.
“Baiklah... aku akan ke sana,” balas Garda.
Lee yang melihat Erra yang belum bangun juga sanga kesal. Ia tidak menyangka kalau kakak tampannya ada yang menculiknya. Baru kali ini ada seorang yang berani menculik pria yang masih ada istrinya di sekitarnya. Ia ingin tertawa tapi niatnya diurungkan.
“Aku baru tahu kalau kakak tampanku ada yang ingin menculiknya,” jawab Lee.
'Kenapa bisa begitu?” tanya Mama Yi.
“Entahlah. Aku malah ingin tertawa,” jawab Lee dengan jujur.
“Kalau begitu tertawa parah,” suruh Mama Yi sambil menggelengkan kepalanya karena kelakuan Lee.
“Apakah kamu enggak panik ketika kakak tampanmu diculik?” tanya Nanda.
“Enggak... aku pikir ini aneh saja. Dan mereka enggak tahu kalau yang diculiknya adalah ketua mafia,” jawab Lee yang meledakkan tawanya.
“Memang benar-benar dech singa betina enggak ada matinya. Coba saja yang menculik tahu kalau di sekitaran Erra masih ada singa betina,” ucap Nanda yang terkekeh.
“Lalu, bagaimana caranya aku membangunkan kakak tampanku?” tanya Lee.
“Lebih baik kam cium saja seperti kisah Putri Tidur,” jawab Mama Yi secara spontan.
Mata Lee membulat sempurna dan melihat Mama Yi dengan kocak. Ia tertawa lagi karena jawabannya menggelitik hati. Beberapa saat kemudian datang Garda dalam mode siaga. Ia segera masuk ke dalam sambil Lee yang tertawa. Ia segera mendekatinya sambil bertanya dengan nada tegas, “Ada apa ini?”
“Kakak tampanku mau diculik,” jawab Lee.
“Apa?” pekik Garda. “Gimana ceritanya?”
__ADS_1