
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Imam.
'Itu bawa pedang buat apa?" tanya Lee.
"Oh... habis motong ayam kalkun tadi,'' jawab Imam.
"Emangnya ada ya ayam kalkun disini?" tanya Lee.
"Ada hanya satu. Kemarin baru beli,'' jawab Imam yang tersenyum.
"Ada-ada saja. Motong ayam pake pedang! Memangnya disini enggak ada pisau apa?" keluh Lee yang merasakan keanehan.
Imam langsung tertawa terbahak-bahak. Ia sangat terhibur sekali dengan ucapan Lee. Memang benar di markas ini tidak ada yang namanya pisau. Yang ada malahan pedang katana.
"Disini enggak ada pisau sama sekali. Disini adanya pedang dan shuriken,'' ucap Imam yang menghentikan tawanya.
"Aneh,'' cebik Lee.
"Semenjak kakak tampanmu pulang ke Jakarta pengawal disini jarang ada yang membeli pisau. Mereka juga jarang ke markas. Kakak tampanmu itu sudah memberikan pekerjaan masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Jadi wajar saja mereka jarang kumpul di sini. Adapun yang kumpul disini hanya berlibur,'' jelas Imam.
"Kalau begitu?" tanya Lee.
"Meski bekerja di Asco, Pradipta dan Anders mereka masih merawat tempat ini dengan baik,'' jawab Imam. "Kenapa kamu tadi seperti ketakutan?''
"Aku hanya waspada saja. Takut ada musuh yang mengikuti,'' jawab Lee.
"Baguslah. Tingkatkan kewaspadaan kamu. Karena musuh bisa menyerang kapan saja!" titah Imam.
"Ya sudah dech kak. Aku masuk terlebih dahulu. Aku ingin bertemu dengan Kak Erra untuk berdiskusi tentang pengiriman barang nanti sore,'' pamit Lee.
"Nanti aku ikut,'' seru Imam.
Lee menganggukan badannya bergegas meninggalkan Imam. Langkahnya semakin cepat hingga ia menabrak Garda.
Bruk.
Tubuh mungil Lee akhirnya terpental sejauh satu meter. Sangking kerasnya Lee jatuh tersungkur. Melihat sang adik jatuh tersungkur Garda membulatkan matanya sambil menghembuskan nafasnya.
Lee hanya bisa menatap wajah Garda untuk meminta pertolongan. Garda hanya tersenyum melihat Lee jatuh. Dengan cepat garda membantu Lee bangun dan berkata, "Sudah dua kali kita bertabrakan seperti ini.''
__ADS_1
"Aish... tubuh kakak sangat besar sekali. Sekali nabrak bisa membuat aku terpental,'' ucap Lee yang dibarengi memegang dari Garda.
"Lagian juga tubuh kamu sangat mungil bagaikan lidi. Jadi kamu bisa tertabrak,'' ujar Tara.
"Kok lidi sih?" tanya Lee yang tidak terima disamakan oleh lidi.
"Memang tubuh kamu kecil banget. Makanya semalam Erra menggendong kamu kuat,'' jawab Garda.
"EDntahlah kak. Tubuhku seperti ini semenjak lahir. Aku hanya menang tinggi. Banyak orang mengira tubuhku seperti triplek. Namun nyatanya kakak tampanku antar mengagumi tubuhku,'' ucap Lee dengan sedih.
"Kamu harusnya bersyukur karena memiliki tubuh seperti itu. Biarkan mereka berbicara apa? Yang penting tubuh kamu milik satu pria saja. Dan pria itu sangat menginginkan dan mengagumi tubuhku. Pria itu tidak pernah protes akan ukuran tubuh kamu. Janganlah kamu bersedih tetaplah semangat,'' pesan Garda dengan tulus.
Memang benar apa adanya Lee kadang merasa minder dengan tubuh kecilnya. Bahkan sewaktu kuliah dirinya sering terkena bully sesama kaumnya. Mereka membully Lee karena bentuk tubuh seperti triplek. Namun Lee tidak patah semangat dan menjadikan bahan bully-an itu menjadi seperti ini. Satu kata buat Lee sukses.
"Kamarnya kakak tampan dimana?" tanya Lee.
"Kakak kamu ada di ruangan bawah tanah. Kakak kamu sedang berdiskusi dengan Simon'' jawab Garda.
"Kakak enggak ikut?" tanya Lee.
''Ikut nanti,'' jawab Garda.
Lee segera menuju pos ruangan bawah tanah. Namun ketika sampai ke lorong dirinya sangat bingung lewat mana. Jujur baru kali ini Lee melihat markas yang dalamnya rumit. Akhirnya Lee bertanya dalam hati, serumit inilah hidupnya kakak tampan di sini?
"Istriku!'' teriak Erra yang keluar dari ruangan khusus.
Lee menoleh lalu melihat Erra. Lee tersenyum sumringah lalu mendekati Erra. Sepanjang lorong Lee melihat beberapa foto dirinya yang terpasang di dinding. Matanya membulat sempurna, bagaimana bisa foto masa kecilnya terpasang di dinding seperti ini?"
Lalu Lee berhenti disalah satu foto yang di mana dirinya selesai wisuda. Lee tersenyum merekah dan memandang foto itu.
Erra yang melihat Lee memandang salah satu foto itu langsung mendekatinya. Erra memegang tangan Lee sambil tersenyum, "Aku mendapatkan foto itu dari Nanda.''
"Oh... kenapa kakak enggak minta langsung ke orangnya?" tanya Lee.
"Bukannya aku enggak minta langsung ke kamu. Aku Saat itu aku ingin terbang ke Helsinki. Berhubung papa memintaku untuk pulang ke Jakarta sebentar jadi aku enggak kesana,'' jawab Erra dengan lemah.
"Masih banyak lagi foto itu di Helsinki. Aku masih menyimpannya dengan baik,'' ucap Lee.
"Enggak ada foto papa?" tanya Erra.
__ADS_1
"Pengennya,'' ucap Lee dengan lemah. "Saat itu papa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi mama yang mewakili papa. Tapi aku cukup senang dengan hadirnya mama,'' jawab Lee.
"Ya udah jangan bersedih lagi,'' hibur Erra.
"Kakak tahu enggak saat itu aku berharap sama kakak tampan agar hadir,'' tanya Lee.
"Bagaimana bisa hadir aku disuruh pulang. Sam sudah menyuruhku ke sana. Aku sudah menyiapkan semuanya dan kejutan. Tapi papa ngotot untuk menyuruhku pulang,'' jelas Erra.
"Tak apa kak. Meskipun kakak enggak hadir aku enggak apa-apa,'' jawab Lee. "Mana Simon?"
"Menulis rute yang akan dilalui oleh pengawal Candra,'' jawab Erra.
"Bagaimana menurut kakak terhadap Simon?'' tanya Lee.
"Bagaimana apanya?' tanya Erra.
"Apakah kakak merasa kalau Simon terlibat?" tanya Lee.
"Instingku berkata enggak. Simon hanya menjadi korban. Aku bisa membaca raut wajahnya yang cemas. Ditambah lagi hidupnya terteka selama menjadi polisi. Dia ingin mengundurkan kepolisian tapi Nicky dan atasannya mengancamnya agar stay disini,'' jelas Erra.
"Mundur salah enggak mundur salah. Dia bingung apa yang akan dilakukannya. Kakak tahukan bagaimana Candra? Dia tidak akan melepaskan korbannya. Dan akan menjeratnya hingga titik penghabisannya supaya tutup mulut. Ditambah lagi dengan Adam yang terlalu ambisius untuk menghabisi enam pilar utama. Diam-diam Adam juga ingin melenyapkan Candra. Jika Candra sudah mati langkah terakhirnya menghabisi kita dengan cara licik. Kita harus waspada soal ini,'' jelas Lee panjang lebar lalu Erra mulai mencernanya satu-persatu.
"Yang kamu katakan benar. Inilah rasanya berat saat dihadapkan pada kenyataan hidup. Apalagi musuh terbesar kita adalah orang yang ambisius. Sangking ambisiusnya dia akan melakukan berbagai cara,'' keluh Erra.
"Bagaimana kalau adik kakak itu saling bunuh membunuh?" tanya Imam yang baru saja datang.
"Imam?" pekik Erra.
"Iya ini aku,'' jawab Imam yang mulai mendekati Lee dan Erra.
"Aku kira kamu pulang,'' jawab Erra.
"Aku enggak pulang. Semua orang enggak ada yang pulang. Mereka tetap stay di New York,'' jawab Imam.
"Seharusnya kakak pulang,'' ucap Lee.
"Kami sengaja enggak pulang. Saat masuk bandara ada sebuah pesan dari seseorang tentang pengiriman barang ke pelabuhan. Makanya kami enggak jadi pulang. Candra mengerahkan seluruh kepolisian agar Lee tidak menyentuhnya,'' jelas Imam.
"Berarti semua orang sudah tahu ya?" tanya Lee.
__ADS_1