
Beberapa saat kemudian datang Imam untuk melihat Raka. Lalu Imam merentangkan kedua tangannya. Raka sengaja menyembunyikan kepalanya di dada Lee, "Raka... Ayo ikut ayah."
Raka tersenyum lucu ketika Imam ingin mengajaknya. Sedangkan Lee tersenyum memandang Imam sambil berkata, "Sepertinya Raka rindu sama aku."
Imam hanya terkekeh mendengar pengakuan Lee. Memang benar Raka sangat rindu sama Lee. Namun Imam tak pantang menyerah untuk merayu sang putra agar ikut dengannya, "Raka... Ikut ayah. Ayah akan mengajakmu berjalan-jalan."
Mendengar kata jalan-jalan Raka menoleh dan memandang Imam. Raka merentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Ikut."
"Ayolah... Sama ayah," rayu Imam.
Lee memberikan Raka ke Imam. Lalu Imam menerima Raka dengan bahagia. Tak sengaja lee melihat raut wajah Imam yang bahagia. Lalu Lee tersenyum dan mengucapkan selamat ke Imam, "Selamat ya kak... Sebentar lagi akan menikah."
"Terima kasih. Berkat kamu juga dan Erra," sahut Imam. "Andaikan kalau kamu tidak berbicara tentang Raka. Kemungkinan besar aku tidak mengetahuinya."
"Aku sudah memikirkan ini semuanya. Aku tidak ingin melihat Raka yang menderita ketika tumbuh dewasa," ucap Lee dengan tulus.
"Aku tahu itu," ujar Imam.
"Ya sudah dech aku mau masuk," ujar Lee meminta izin kepada Imam.
"Baiklah," balas Imam.
Lalu Lee masuk ke dalam. Kemudian Imam mengajak Raka mencari keberadaan Suci. Imam mengaku lega atas perbuatan Lee. Sementara itu Lee melihat Erra yang masih tertidur. Dengan pelan Lee membangunkan Erra. Erra langsung membuka mata dan menarik tangan Lee hingga jatuh ke atas tubuhnya.
"Jam berapa rapat pemegang saham?" tanya Erra.
"Habis jam makan siang," jawab Lee dengan serius.
Erra memandang mulut mungil Lee dengan penuh perasaan. Kemudian Erra memegang kepala Lee agar mulutnya bisa saling bersentuhan. Akhirnya Lee mulai melakukan ciuman panas bersama Erra. Saat mereka berciuman tangan Erra mulai menekan leher Lee. Sehingga pasangan suami istri pun merasakan ciuman panas yang menggelora.
Disisi lain tangan Erra mulai nakal dan mulai masuk ke dalam baju Lee. Erra menemukan mainan favoritnya dan memegangnya. Ketika ingin memegangnya Lee menggelengkan kepalanya namun Erra tetap saja melakukannya.
Tak lama mulut mungil mengeluarkan suara sialan itu. Hingga suara sialan itu terdengar hingga keluar. Beberapa saat kemudian Imam masuk dan lewat di depan kamar pasangan itu. Lalu Imam berpapasan dengan Andi. Mereka mendengar suara-suara sialan itu dari dalam kamar. Wajah mereka berubah pucat dan tidak bisa diartikan.
"Ada apa pa?" tanya Imam yang tidak paham dengan arti ******* itu.
"Oh... Singa betina lagi buat singa kecil bareng singa jantan. Lebih baik kamu pergi dari sini!" ajak Andi sambil menarik baju Imam.
Imam pun segera mengikuti Andi untuk keluar dari sini. Lalu Imam bergidik ngeri membayangkan singa betina dan singa jantan sedang membuat anak singa. Setelah keluar dari sana Imam menghela nafasnya.
__ADS_1
"Untung saja kedua singa itu tidak marah," ucap Imam yang bergidik ngeri.
Andi tersenyum manis dan memandang wajah Imam yang tidak paham siapa yang dimaksud oleh kedua singa itu, "Apakah kamu pernah melakukan hubungan suami istri?"
Imam menggelengkan kepalanya dan berkata jujur, "Tidak pa."
"Berarti kamu enggak paham dengan suara sialan seperti itu?" tanya Andi yang curiga.
"Tidak," jawab Imam.
"Lalu bagaimana kamu bisa memiliki Raka?" tanya Andi yang tidak tahu dari mana Imam bisa memiliki anak.
Imam melihat banyaknya pengawal yang masih berada di taman. Imam mendekati Andi sambil membisikinya dengan berkata jujur, "Jujur saja aku diperk*sa oleh ibunya Raka. Makanya aku bisa memiliki Raka."
Sejenak Andi tertegun karena tidak paham apa yang dikatakan oleh Imam. Andi hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Otak Andi mulai berpikir bagaimana bisa Imam yang notabenenya bisa menjaga keperjakaaan malah hilang. Andi segera pergi meninggalkan Imam sambil mengelus dada sambil berkata, "Ada-ada saja."
Setelah melakukan ciuman panas Lee segera bangun dan tersenyum memandang wajah Erra. Erra terbangun dari tidurnya sambil membelai lembut rambut Lee sambil berkata, "Kamu tahu aku sangat mencintaimu."
"Ya... Aku tahu itu. Aku juga begitu. Aku tidak mau kehilanganmu," ucap Lee.
"Begitu juga denganku. Aku sangat mendambamu ketika dirimu masih berada di dalam kandungan mama," bisik Erra.
"Bagaimana bisa kamu tahu kalau di dalam kandungan mama adalah aku?" tanya Lee yang bingung.
Erra mengulum senyumnya dan menjawab, "Kamu tahu dahulu aku bersama Garda ikut mama ke rumah sakit. Ketika mama melakukan USG kami ikut dan melihat kamu yang berbentuk janin."
Mata Lee membulat sempurna dengan kata-kata Erra. Bagaimana bisa Erra ikut pas mamanya saat USG? Akhirnya Erra bercerita saat dirinya ikut USG.
Flashback On.
Kediaman Sebastian.
Erra yang baru saja datang bersama Bayu segera mendekati Andi. Erra memegang kaki Andi sambil bertanya, "Apakah papa ingin menggendongku?"
"Baiklah," jawab Andi yang tersenyum bahagia menyambut kedatangan Erra.
"Sepertinya mansion sepi?" tanya Bayu.
"Oh... Tika lagi bersiap-siap ke rumah sakit," jawab Andi yang menggendong Erra. "Kamu mau ke mana?"
__ADS_1
"Aku sama Rani mau ke Surabaya ingin lihat proyek yang akan selesai. Paling kita kesana hanya dua hari. Aku titip Erra ya," jawab Bayu yang memandang wajah Andi.
"Ok.... Aku akan mengajak Erra ke rumah sakit," ucap Andi.
Bayu menganggukan kepalanya tanda setuju. Setelah itu Bayu pamit dan meninggalkan Andi dan Erra. Melihat kepergian Bayu, Andi langsung pergi ke kamar. Namun sebelum masuk Andi melihat Brucce yang sudah bersiap-siap.
"Ah... Rasanya kamu harus menunggu kami bersiap-siap. Bermainlah dengan Brucce dahulu," ucap Andi yang menurunkan Erra.
"Ok pa," balas Erra.
Setelah menurunkan Erra, Andi masuk ke dalam dan melihat Tika yang selesai berdandan. Andi mendekati Tika sambil berbisik, "Di kehamilan kamu yang kedua. Kamu sekarang suka dandan. Apakah anakku perempuan?"
"Entahlah. Kalau perempuan aku bersyukur karena kita telah mendapatkan anak sepasang," jawab Tika.
"Kayaknya kamu harus hamil lagi setelah melahirkan anak kedua kita," bisik Andi.
"Nanti ya... Tunggu anak kedua kita berusia lima tahun," pinta Tika.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan menunggu hingga kamu siap," sahut Andi yang bahagia.
Andi dan Tika akhirnya keluar dari kamar. Tak sengaja Tika melihat Erra dan Brucce yang sudah menunggu. Tika menunjuk Erra sambil bertanya, "Apakah Erra ikut?"
"Ya... Erra akan ikut. Karena Bayu dan Rani pergi ke Surabaya untuk mengecek proyek," jawab Andi.
"Syukurlah. Brucce memiliki teman," jawab Rani.
"Kamu benar," ujar Andi.
Kemudian mereka pergi menuju ke rumah sakit. Di dalam perjalanan Erra dan Garda duduk bersebelahan. Erra yang merasakan Garda yang bersikap dingin hanya bisa menghela nafasnya. Tak lama Erra mengatakan sesuatu, "Begini ya... Kalau dekat dengan kulkas berjalan."
Andi yang menyetir mobil hanya bisa mengerutkan keningnya. Sedangkan Tika memegang perutnya sambil berkata dalam hati, "Itulah Brucce yang memiliki sifat dingin seperti bapaknya."
"Aku memang begini karena tidak ada bahan yang dibicarakan," ketus Brucce.
"Ternyata kamu bisa bicara," ejek Erra yang mendapat pukulan dari Brucce.
"Apa maksudnya kamu mengejekmu?" tanya Brucce yang melipat kedua tangannya di dada.
"Aku kira kamu tidak bisa berbicara," jawab Erra yang tersenyum meledek.
__ADS_1
"Pa! Kenapa papa mengajak Erra sialan ini?" tanya Brucce yang kesal.
Andi langsung menghentikan mobilnya dan memandang kedua calon ahli waris itu. Lalu Andi bertanya kepada kedua bocil yang sedang memasang wajah tengil, "Kenapa sih kalian berdua kalau bertemu sering berantem?"