Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 297


__ADS_3

Haruka yang sedang tertawa itupun terkejut. Haruka mengangkat wajahnya lalu melihat kedua pria itupun tersenyum manis.


“Halo Haruka,'’ sapa seorang pria bermata sipit.


“Ah... iya,'’ balas Haruka yang merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.


Mama Yi yang sedari tadi menunggu si pelayan keluar ternyata tidak keluar-keluar. Mama Yi sangat kesal kepada mereka. Jujur saja Mama Yi malas sekali jika berhubungan dengan orang yang kepo pada urusannya. Ketika masuk ke dalam Mama Yi terkejut melihat Haruka didekati oleh salah satu pelayan tersebut.


“Hallo sayang,'’ sapa pria itu sambil menghempaskan bokongnya di samping Haruka.


Sedangkan satu pria itu lagi mulai mendekat dan mengendus aroma Mama Yi. Pria itu tersenyum devil sambil menyapa dengan suara lembut, “Hallo sayang.”


Mata Mama Yi membola sempurna. Mama Yi melihat wajah pria itu dengan menunduk sambil berkata dalam hati, “Waduh... kenapa ada Mas Joko di sini ya?”


“Haruka sayang... aku kan sudah bilang sama kamu. Jangan bepergian jauh-jauh. Katanya kamu ingin istirahat? Kenapa kamu berada di sini?” tanya pria itu.


“Ah... iya... aku memang ingin beristirahat. Tapi aku hanya pindah tempat. Aku bosan di Jakarta,'’ jawab Haruka yang mulai mencari alasan.


“Bosan... apa mencari keributan di pelabuhan?” tanya Saga yang mengerti sang istri akan membuat keributan.


“Ah... iya kak Saga. Tujuanku ke sini adalah ingin melihat pameran mobil. Siapa tahu aku menyukai mobil tersebut. Kan lumayan bisa membeli mobil baru,” jawab Haruka yang mulai memasang wajah imut.


“Bagaimana Mas Joko tahu kalau kami berada disini?” tanya Mama Yi.


“Ya... tahulah. Pasti kamu tidak membawa dompet?” tanya Joko yang memasang wajah datar.


“Argh... sial! Kenapa gue kagak bawa dompet? Gara-gara enggak membawa dompet akhirnya terlacak dech,'’ gumam Mama Yi hingga terdengar ke telinga Joko.


“Tujuan kalian di sini apa?” tanya Saga.


“Kakak... kakak tahu enggak cara membahagiakan istri?” tanya Haruka.


“Tahu,'’ jawab Saga. “Lalu?”


“Jika kakak tahu maka biarkan kami pergi ke markas Black Dragon. Aku ingin meminta pedang ke Lee untuk menebas kepala,” jawab Haruka yang menggantung sambil memasang wajah iblis.

__ADS_1


“Begitu juga dengan aku. Aku juga sudah lama tidak memegang pedang. Jika para suami menghalangi kami... Maka kami tidak akan memberikan jatah sebulan,” ucap Mama Yi dengan lembut tapi mematikan.


Glek.


Kedua pria paruh baya itu saling menatap satu sama lain. Dalam hati kalau soal titah tentang jatah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka akhirnya menyerah dan menyuruh para istri makan.


“Kalau begitu makanlah. Setelah itu kami mengantarkan kalian ke markas agar bisa bertemu dengan singa betina,'’ suruh Joko dengan lembut.


“Ah... terima kasih,'’ balas Mama Yi dan Haruka tersenyum manis.


“Tapi jatah setiap malam tidak akan dicabut kan?” tanya Saga.


“Tidak. Jika kalian membiarkan kami bertekuk dengan Lee dan ikut dalam penyergapan obat-obatan terlarang nanti malam maka kami akan memberikan service berkualitas,” jelas Haruka.


Dengan terpaksa mereka menuruti keinginan para istri. Jika tidak menuruti para istri maka mereka tidak bisa berolahraga ranjang setiap malam. Bagaimana tidak aktivitas tersebut sangat mengasyikkan.


Istanbul Turkey.


Seorang pria yang terbangun dari tidurnya melihat seluruh tubuhnya dipasang alat medis. Matanya membulat sempurna dan berusaha bangun. Namun pria itu tidak dapat bangun karena masih lemas di sekujur tubuhnya. Ia melihat ada seorang pria sedang membaca koran kemudian memanggilnya, “Gerry... Gerry...”


Meskipun suaranya lemah pria yang bernama Gerry langsung mengangkat kepalanya. Gerry melemparkan korannya lalu beranjak dari duduknya.


“Kenapa aku disini?” tanya Candra nama pria itu.


“Tuan kemarin mendapatkan serangan jantung mendadak. Lalu aku membawanya ke rumah sakit,” jawab Gerry sambil meraih air mineral di atas nakas. “Sebelum berbicara lebih lanjut sebaiknya tuan meminum dulu air ini.”


“Baiklah,” balas Candra yang meminum air.


“Bagaimana keadaan Tuan Candra?” tanya Gerry.


“Aku baik-baik saja,'’ jawab Candra. “Bagaimana dengan Adam?”


“Tuan Adam sedang mengurus obat-obatan terlarang yang akan dikirimkan malam ini melalui jalur laut,'’ jawab Gerry yang menaruh air itu di tempatnya.


“Bagaimana dengan singa betina? Apakah singa betina tahu soal ini?” tanya Candra.

__ADS_1


“Aku belum tahu soal itu,” jawab Gerry yang tidak mengetahui rencana apa yang akan dilaksanakan oleh singa betina dan kawan-kawan.


“Jika sampai singa betina tahu... maka habislah aku. Kemungkinan besar singa betina akan mengincar pabrik yang telah aku dirikan di New York,” ucap Candra dengan lemah. “Berapa kerugian yang aku tanggung?”


“Jika singa betina tahu maka kerugian yang kita tanggung adalah dua belas triliun dolar tuan. Aku sudah menghitungnya. Ditambah lagi dengan lahan di belakang pabrik,” ujar Gerry yang memperkirakan jumlah kerugian yang akan ditanggung.


Candra hanya menggeleng pelan dan menghembuskan nafasnya. Jika itu terjadi maka ia harus kehilangan uang sebanyak itu. Lalu Gerry melihat Candra dengan wajah sendu. Gerry tidak tega melihat pria tua itu menderita.


“Maaf tuan kita masih memiliki tujuh lahan lagi yang tersebar di dunia. Aku yakin singa betina tidak akan menemukannya. Jika dia menemukannya maka aku yakin tidak dapat menjangkaunya,” jelas Gerry. “Oh iya tuan... ada kabar gembira buat anda.”


“Kabar gembira apa?” tanya Candra lagi.


“Tuan Adam sedang mencari donor jantung yang cocok untuk anda. Dokter bisa memastikan Anda bisa hidup lebih lama lagi dan menikmati surga dunia.”


“Baguslah. Memang aku belum pengen mati,” celetuk Candra. “Setelah menghabisi keturunan enam pilar utama kita akan bersenang-senang dan berhura-hura. Dan aku adalah orang yang paling beruntung di dunia.”


“Ya... itu benar Tuan. Aku akan menunggu masa-masa itu,” balas Gerry.


New York City USA.


Lee yang berada di ruangan khusus dikejutkan oleh kedatangan Mama Yi dan Haruka. Lee segera bangun dan mulai mendekati mereka dengan merentangkan kedua tangannya. Setelah itu mereka berpelukan dengan erat sambil melepaskan kerinduan yang mendalam.


“Mama tahu tempat ini dari mana ya?” tanya Lee sambil melepaskan mereka.


“Mendekatlah pada aku,'’ jawab Haruka yang menyuruh Lee mendekatinya.


Lalu Haruka berbisik kepada Lee dengan suara pelan. Setalah tahu Lee pun tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak kedua mama itu mengancam para papa dengan tidak memberikan jatah untuk sebulan ke depan?


“Mama ada-ada saja,” ujar Lee.


“Duduklah ma. Kak Sam sedang mengumpulkan pedang yang akan digunakan penggrebekan obat-obatan terlarang. Kak Nanda sedang perjalanan pulang menuju kesini,” ujar Lee.


“Apakah kami boleh meminta dua pedang?” tanya Mama Yi.


Sontak saja Lee terkejut dengan permintaan Mama Yi. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Mama buat apa meminta dua pedang?”

__ADS_1


“Mama ingin menjadi ninja nanti malam,” jawab Haruka dengan senyum yang merekah.


“Apa?” pekik Lee.


__ADS_2