
Lee segera mengusap lambang hijau itu dan menyapa Suci yang berada di seberang sana, "Hallo."
"Kak... Apakah kakak sibuk?" tanya Suci.
"Tidak. Kakak sedang berkumpul dengan keluarga," jawab Lee. "Ada apa Suci?"
"Bisakah kakak menurunkan pasukan khusus untuk mencari keberadaan bapakku?" tanya Suci.
"Bisa. Aku akan meminta Angela untuk segera mengaktifkannya. Paling lama dua Minggu," jawab Lee.
"Baik kak. Aku juga akan mencari keberadaan bapak. Mudah-mudahan ketemu," jawab Suci.
"Baiklah," balas Lee.
Sambungan terputus.
Lee segera menghubungi Angela yang saat ini masih berada di kantor. Lalu sebelum telepon itu tersambung Lee melihat kedatangan Nanda. Namun sebelum ke taman Nanda mendekatinya dan menyapa, "Lee."
"Iya kak," sapa Lee balik.
"Apakah lukamu sudah sembuh?" tanya Nanda.
"Sudah. Tapi masih nyeri," jawab Lee.
"Kamu sudah lama tidak latihan keras. Setelah sembuh kamu harus kembali latihan. Aku hanya mengingatkan bahwa musuh segera bergerak," ucap Nanda.
Sedari tadi Lee merasakan ada sesuatu yang tidak beres di mansion ini. Lee melihat ada salah satu pelayan yang mencurigakan. Matanya mulai melirik seorang pelayan yang pura-pura membersihkan guci.
"Kak," panggil Lee.
"Ada apa?" tanya Nanda.
"Apakah kakak membawa pistol?" tanya Lee dengan lirih hingga didengar oleh Nanda.
"Tidak. Why?" tanya Nanda.
"Ikut aku!" ajak Lee.
Lee mengajak Nanda untuk mendekati pelayan itu. Tapi pelayan itu semakin menjauhi Lee dan masuk ke dalam toilet. Pelayan itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang sambil berkata dengan tegas, "Serang Mansion Sebastian!"
Lee yang merasakan sang pelayan itu masuk ke dalam toilet langsung menendang pintu itu dengan kuat. Namun pintu itu tidak bisa terbuka.
"Lee minggirlah!" titah Nanda.
Nanda menendang pintu itu dengan keras. Hingga pintu itu terbelah menjadi dua. Nanda segera mencari keberadaan pelayan itu di kamar. Sontak saja Nanda terkejut karena sang pelayan itu mati dan mengeluarkan busa dari mulutnya.
"Argh... Sial!!!" teriak Nanda hingga membuat Lee ikut masuk ke dalam.
"Ada apa kak?" tanya Lee.
"Lihatlah," jawab Nanda yang menunjuk wanita itu mati.
__ADS_1
Lee segera menemukan ponsel wanita itu dan mengambilnya. Lee sengaja mengecek panggilan keluar dan melihat nomor asing. Kemudian Lee berkata, "Ada yang tidak beres."
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
"Argh... Sial!!! Kenapa siang-siang begini ada yang menyerang!" geram Lee.
"Ayolah adik kecil. Saatnya bertarung!" ajak Nanda.
Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum devil. Sebelum bertarung Lee menghubungi nomor itu. Beberapa saat kemudian nomor itu tersambung dan menyapa Lee, "Hallo Lid."
"Tarik pengawalmu... Atau aku bakar markasmu sekarang juga!" gertak Lee.
Tut.
Sambungan terputus.
"Aku akan membawa ponsel ini! Setelah pertarungan aku akan mencari biang keladi di balik penyerangan ini!" geram Lee.
"Kalau begitu... Lakukanlah adik kecil!" seru Nanda.
Mereka akhirnya keluar dan melihat pertarungan di taman. Lee hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum devil. Lee menggabungkan kekuatannya dan mengajak Nanda berduet. Nanda pun menganggukan kepalanya sambil membalas senyumannya.
Mereka mulai menyerang sang musuh dengan memakai jurus ninja. Kemudian Lee memakai pukulannya melalui punggung sang musuh ketika ingin menembak Erra.
Belum sampai menarik pelatuk sang musuh langsung tumbang dan memuntahkan darahnya. Lee sengaja memukul keras tulang belakang sang musuh hingga terdengar ke telinga Nanda.
"Wow... Amazing," puji Nanda.
"Terima kasih. Tapi aku belum puas!" seru Lee.
"Ayo bantu mereka!" ajak Nanda lagi.
Mereka akhirnya bergabung dengan Erra dan Garda. Mereka mengedipkan matanya dan menyerang beberapa musuh yang sedang melingkari mereka. Dengan penuh kekuatan penuh Lee menghajar mereka secara membabi buta.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tendangan Lee membuat mereka lumpuh seketika. Lee sengaja menendang kaki mereka dengan menggunakan tendangan keras. Hingga tulang kaki patah seketika. Amarah Lee memuncak dan menarik pedang milik Garda. Lee menghabisi mereka satu persatu tanpa ampun. Lee sudah tidak akan memaafkan siapapun ketika musuh masuk ke dalam kediaman Sebastian.
Lalu lainnya... Mama Yi yang kelihatannya kalem ternyata memiliki ilmu beladiri yang mumpuni. Mama Yi memakai seni beladiri Wushu. Mama Yi memang memiliki strategi menyerang sangat epic. Bahkan Lee dulu pernah belajar Wushu dari mama Yi. Tak selang berapa lama Caroline dan Rani juga bergabung dengan mama Yi. Dengan kompaknya mereka melakukan strategi untuk menyerang.
Bagaimana dengan Bayu, Joko dan Andi. Mereka adalah orang yang sangat terlatih. Bahkan mereka memutuskan untuk menggabungkan dirinya menjadi satu. Mereka menyerang satu persatu dan menghajar mereka.
Tak sampai satu jam para musuh sudah terkapar dan tewas. Andi meminta tolong kepada para pengawalnya untuk membereskan kekacauan ini. Akhirnya Lee mengajak Nanda, Garda dan Erra pergi ke ruangan rahasia Andi. Sesampainya di sana Lee melacak keberadaan nomor asing itu.
__ADS_1
"Kenapa mereka tiba-tiba saja menyerang mansion ini?" tanya Erra.
"Entahlah," jawab Lee.
"Logikaku mengatakan Candra tidak akan puas jika Lee belum mati. Mau tidak mau Candra aman memburu Lee hingga dapat," jawab Nanda.
"Oh... Baguslah. Aku lebih suka menjadi buruan," ucap Lee sambil tersenyum devil.
Ketika Garda dan Erra tidak sengaja melihat senyum iblis Lee, mereka bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka kalau Lee malah bahagia menjadi buruan Candra. Dibalik itu semua Lee sangat dendam dan akan memburu Candra.
"Lihatlah Candra! Kamu akan mati di tanganku!" geram Lee.
Seketika mereka terdiam dan merasakan hawa panas yang berada di sana. Dengan langkah seribu mereka akhirnya keluar dari ruangan itu dan melihat Bayu, Joko dan Andi. Mereka menghela nafasnya dan menetralkan jantungnya.
"Ada apa?" tanya Bayu.
"Ah... Tidak apa-apa," jawab Nanda.
"Lee berubah menjadi singa betina dalam waktu sekejap," jawab Erra.
"Apa!" pekik Andi yang benar-benar terkejut.
Bagaimana bisa Lee berubah menjadi singa betina dalam waktu sekejap. Mereka bertanya-tanya dalam hati dan merasakan ada sesuatu yang aneh. Mereka menganggukan kepalanya tanda paham dan tersenyum manis.
"Cepat atau lambat akan ada perang besar," ucap Joko.
"Apakah itu benar?" tanya Nanda.
"Ya... Lihat saja Lee berubah menjadi singa betina," jawab Joko.
"Aish... Ini sangat menyeramkan. Rasanya hatiku meringis," ucap Erra yang penuh ketakukan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Mereka masuk dan melihat Lee yang sedang menghubungi seseorang. Mereka akhirnya mendekati dan mendengarkan percakapannya Lee.
"Siapkan pasukan khusus kita! Kita akan menyerang markas di tengah hutan!" titah Lee dingin.
Sambungan terputus.
Lee bangkit dari tempat duduknya. Lalu mereka menelan salivanya dengan susah payah. Kalau sudah begini tidak ada yang bisa menghentikan Lee. Malam ini penyerangan markas musuh akan terjadi.
"Aku ikut!" teriak Erra.
"Aku juga!" teriak Garda.
"Bisakah kalian tidak usah ikut! Biarkan saja aku yang membereskan semua ini!" perintah Lee.
"Tapi... Kamu dalam keadaan bahaya," ucap Erra yang mulai ketakukan.
__ADS_1
"Bahaya dari mana?" tanya Lee.