
"Ada kabar buruk dari Andrew. Candra akan menggulingkan kekuasaan Erra," jawab Nanda.
"Apa!" pekik Sam.
"Ya... Itu benar. Beberapa bulan terakhir ini aku menerjunkan pengawalku untuk menjadi mata-mata. Dia adalah Andrew," jawab Nanda.
"Ish.... Masalah semakin banyak. Rasanya aku ingin menghabisi mereka saja," kesal Sam.
"Enggak semudah itu kamu membalikkan telapak tanganmu. Kamu tahu Candra memang pandai bersembunyi di belakang pejabat-pejabat tinggi di seluruh dunia. Bahkan Candra juga menyuap kepolisian di beberapa negara besar. Sehingga bisa memuluskan pekerjaannya dengan curang. Kalau kamu ingin menghabisinya. Kamu harus bisa membungihanguskan para pejabat tersebut," ucap Nanda.
"Kalau begitu habislah kita. Bisa-bisa mereka bisa menjadi bumerang buat kita," celetuk Sam.
"Nah itu dia. Makanya para papa memang tidak ingin gegabah melakukan ini semuanya. Salah langkah sedikit kita hancur," tambah Nanda. "Tapi ngapain ya kita ke pejabat tinggi ya... Kita bisa menghabisinya."
"Ah... Lu... Katanya mau menghabisi mereka. Sekarang langsung ke Candra," ucap Sam.
"Terus bagaimana dengan kasus gue ini?" tanya Sam.
"Sekarang gue tanya, lu ngelakuin enggak ngerebut bini tetangga lu?" tanya Nanda balik.
"Gue mah jarang di apartemen. Gue juga jarang ke mansion. Lu tahu sendiri kalau gue ngabisin hidup di markas," jawab Sam yang hidupnya terombang-ambing karena tetangganya.
"Ya.. gue tahu itu. Jika lu enggak salah... Lu harus konfirmasi ke kepolisian," saran Nanda. "Bukannya lu besok pagi akan berangkat ke Dubai untuk meeting?"
"Enggak hari ini tapi Minggu depan," ujar Sam yang semakin gusar. "Apakah gue harus meminta bantuan adik kecil?"
"Boleh juga. Adik kecil lebih mempunyai perasaan yang peka untuk masalah satu ini. Jika lu cerita secara mendetail kemungkinan besar adik kecil bisa menolongmu," jawab Sam sambil memberikan usul.
"Kalau begitu baiklah," balas Sam dengan semangat.
"Lu mau ikut?" tanya Nanda ke Sam.
"Ikut kemana?" tanya Sam balik.
"Ke mansion Sebastian. Adik kecil tinggal di situ," jawab Nanda.
Tanpa pikir panjang Sam berdiri dan menarik Nanda keluar. Sangking semangatnya Sam menggandeng Nanda seperti orang pacaran. Nanda yang melihat tangannya digandeng sama Sam hanya bisa bergidik ngeri. Bagaimana tidak Nanda sangat membenci momen ini? Kalau boleh memilih Angelalah yang menggandeng seperti itu.
"Lepasin tanganku!" titah Nanda sambil mengeluarkan suaranya datar.
Sam mengetahui kalau Nanda dalam mode tidak suka hanya bisa tersenyum. Sam memandang Nanda dan segera melepaskan tangannya, "Sorry... Gue enggak sengaja memegang tangan lu. Gue tahu tangan lu hanya boleh dipegangn oleh Angela atau adik kecil."
__ADS_1
"Darimana lu tahu kalau gue sering dipegang sama Angela?" tanya Nanda dengan wajah kesal.
"Ya elah... Gue memang sudah dari dulu sering lihat lu bareng Angela. Bahkan menginap bareng. Gue mau bilang ke adik kecil lupa mulu. Jika tahu bahwa kakaknya yang misterius itu mempunyai pacar adik kecil bakalan senang," jawab Sam yang membuat Nanda terdiam.
Nanda menganggukan kepalanya tanda setuju. Nanda sedang dilema menghadapi semua ini. Terkadang Nanda sendiri kurang percaya diri dan takut akan hubungan ini semua. Tapi apakah Nanda akan terus menyembunyikan kabar baik ini? Jawabannya hanya di Nanda sendiri. Tak lama kemudian kedua pria itu memutuskan untuk pergi ke mansion Sebastian.
Mansion Sebastian.
Lee terbangun dari tidurnya sambil melihat foto Erra di dinding. Lalu Lee duduk di sambil mencari keberadaan Erra. Tak lama ponsel Lee berdering dan bergegas meraih benda pipih itu. Beberapa saat kemudian Erra keluar dari toilet dengan memakai memakai handuk yang melingkar di pinggang. Erra melihat sang istri sudah bangun itu segera mendekatinya.
"Selamat malam sayang," sapa Erra.
"Malam juga kakak tampan," sapa Lee balik yang melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Erra.
"Suci," jawab Lee yang mengusap lambang hijau. "Halo."
Sementara Suci masih berada di markas sambil menidurkan Raka di kamar Imam. Suci menghela nafasnya secara berat dan mengatakan, "Kak... Dua Minggu lagi aku sama kak Imam akan menikah."
"Huaha... Berita bagus itu. Aku suka mendengarnya," jawab Lee yang tersenyum bahagia.
"Tapi apa? Sepertinya kamu tidak senang dengan pernikahan ini?" tanya Lee yang mendapatkan kegundahan hati Suci.
"Bukannya aku tidak senang kakak. Aku belum menemukan keberadaan bapak. Aku ingin melihat bapak dan menjadi waliku," jawab Suci yang gelisah.
"Sementara ini bapakmu belum diketemukan. Aku masih memantau anggota inti yang sudah diterjunkan. Kamu tenanglah... Jangan panik begitu. Jika bapakmu tidak diketemukan kamu boleh meminta Papa Joko untuk menjadi walimu sementara," saran Lee.
"Memangnya boleh ya kak?" tanya Suci yang ketakukan jika mendengar nama Joko.
"Nanti aku bilangin sama papa Joko tapi enggak sekarang," jawab Lee. "Tapi aku akan mengusahakan agar bapak cepat ketemu."
"Baik kak," balas Suci yang tenang. "Ya... Sudah dech kak... Aku ingin masak buat kak Imam."
"Siap," sahut Lee.
Sambungan terputus.
Setelah menatap sang istri selesai mengangkat telepon, Erra menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang. Erra menarik tubuh mungil Lee dan berkata, "Ada apa?"
"Kak Imam ingin menikahi Suci. Dan sekarang Suci sekarang dilema karena sang bapak belum diketemukan. Suci ingin bapaknya menjadi walinya saat ijab kabul nanti," jawab Lee dengan lesu.
__ADS_1
"Lalu, bukannya kamu sudah menurunkan pasukan inti?" tanya Erra.
"Ya... Aku sudah menurunkan pasukan inti. Semenjak rumah Suci terbakar seluruh foto kedua orang tuanya musnah. Aku sendiri agak susah mengingat wajah bapaknya Suci," jawab Lee.
"Apakah Suci mirip sekali dengan bapaknya?" tanya Erra.
"Tidak. Suci cenderung mirip sekali sama ibunya," jawab Lee.
"Ya... Nanti kalau ada waktu di luar kita bisa mencarinya," saran Erra.
"Kalau begitu besok ya kak. Selesai rapat pemegang saham," ucap Lee.
Tak lama ada suara ketukan pintu terdengar cukup keras. Lee menatap Erra dan menyuruhnya memakai baju, "Pakailah bajumu."
"Kamu enggak menyiapkan bajuku," ucap Erra yang mengingatkan Lee.
"Upz... Aku lupa," sahut Lee.
"Erra! Lee!" teriak Garda.
"Aku yang membukanya," pinta Lee yang berdiri.
"Lalu bagaimana aku?" tanya Erra.
"Aish... Tunggu situ dululah," jawab Lee.
Erra menurut saja apa yang diperintahkan sang istri. Lalu Erra dengan jahilnya memanggil Lee, "Bagaimana kalau ular pitonku lepas dan mencari sarangnya?"
Lee hanya memutar bola matanya dengan malas. Ingin rasanya Lee menenggelamkan Erra ke Laut Merah. Disuruh menunggu malah membuat ulah.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Lee melihat wajah Garda yang agak kesal. Lee keluar dan mendekati sang kakak, "Ada apa kak?"
"Ah... Tidak apa-apa. Aku ingin mengatakan ada Nanda dan Sam di ruangan kerjaku. Kamu jangan lama-lama di dalam. Aku enggak ingin kamu di monopoli sama Erra sialan itu," jawab Garda yang kesal sama adik iparnya itu.
"Benar juga ya... Ah... Aku sudah lama tidak berjalan-jalan sama kak Garda," celetuk Lee.
"Apakah kamu mau berjalan-jalan dengan aku?" tanya Garda.
__ADS_1