
Mereka ingat akan hidup Andi waktu dahulu. Semenjak kepergian Caroline dan Brucce, Andi memang tidak memperdulikan tubuhnya. Bahkan hidupnya hanya untuk Lee, bekerja dan White Eragon. Meskipun begitu para anggota inti sudah mengingatkan untuk menjaga tulangnya.
"Aku tidak tahu pa. Aku enggak bisa memastikan semuanya," jawab Imam yang serius. "Lebih baik papa mengosongkan waktunya terlebih dahulu. Jika papa sudah mengosongkan waktunya aku akan memanggil Adrian ke sini," usul Imam.
Andi pun menyetujuinya dan menganggukkan kepalanya. Lalu Andi meminta ke Imam dan Saga untuk tidak memberitahukan kepada Lee. Andi tidak mau sang putri akan bersedih. Mereka pun menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andi.
"Aku mendapat perintah dari Erra untuk mengoperasi pengambilan chip di dalam tubuh Dennis," jawab Saga.
"Kok gue lupa ya. Ya udah dech gue balik ke mansion," pamit Andi.
"Hati-hati," balas Saga.
Andi segera melangkahkan kakinya maeninggalkan mereka. Mereka hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Imam segera meraih ponselnya dan menghubungi Adrian untuk segera pulang ke Jakarta. Lalu Imam memberikan tugas penting untuk membantu mengobati Andi.
Erra yang selesai memarkir mobilnya langsung menatap Lee. Dengan cepat tangannya meraih uang yang berwarna merah dari kantong celananya sebanyak lima lembar. Sebelum keluar Erra meraih tangan Lee dan berkata, "Belanjalah sesukamu! Aku akan menunggu di sini bersama Jake dan papa March."
Lee menganggukan kepalanya lalu melihat Erra. Akhirnya Lee keluar dari mobil dan melihat Caroline yang melipat dadanya di tangan. Kemudian Lee mendekati Caroline sambil tersenyum manis, "Sepertinya mama agak jengkel sama aku."
"Memang mama jengkel tapi enggak sama kamu. Tuh sama suami kamu yang semakin lama sangat posesif sekali. Padahal tiap detik, tiap menit, tiap jam bahkan pagi hingga pagi lagi kalian selalu bersama," kesal Caroline terhadap Erra.
Jake dan March hanya cekikikan mendengar Caroline yang kesal. Bagaimana tidak hampir tiap menit Lee selalu dikuasai oleh Erra. Rasanya Caroline ingin melemparkan Erra ke Laut Jawa.
"Sepertinya kakak cemburu sama Erra," celetuk Naomi.
"Memang itu benar," ucap Caroline secara blak-blakan. "Masa aku sebagai orang tuanya tidak bisa mengajak putriku berbelanja."
__ADS_1
"Rasanya aku tidak bisa bilang apa-apa," ucap Naomi yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Ayolah ma... Kita berburu buah-buahan!" ajak Lee.
"Bukannya jam sekarang buah-buahan datang dari kebun?" tanya Jake.
"Memangnya kakak tahu?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya.
"Ya tahulah... Aku memang sering membeli buah-buahan di pasar ini. Bahkan aku diberitahu sama yang punya toko jam berapa buah itu datang ketika masih segar," jawab Jake.
"Ruaaarrr biasa... Calon suami yang idaman," puji Lee yang suaranya terdengar ke telinga Erra.
Erra menatap nyalang ke arah Lee sambil meminta penjelasan. Tiba-tiba saja Lee merasakan ada sesuatu yang panas di sekitarnya. Lee tersenyum smirk dan mengajak Naomi dan Caroline pergi dari situ. Sementara itu Jake hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Dasar bucin akut. Bisa-bisanya kamu cemburu sama Jake," kesal March.
March semakin kesal terhadap Erra. March tidak mau menambah waktu untuk berdebat dengan masalah yang tidak berguna itu. Lalu Jake melihat Erra dan March yang masih santai di tempat, "Apakah papa betah menunggu para mama dan Lee berbelanja?"
"Enggak. Menunggu adalah hal yang membosankan," jawab March.
"Kalau begitu ayo kita berburu sesuatu!" ajak Jake.
Ketika masuk ke dalam pasar para perempuan berteriak histeris sambil memanggil mereka dengan kencang. Mereka memuji ketampanan ketiga pria itu. Erra dan Jake yang dihadapkan dalam situasi ini merubah dirinya menjadi mode kulkas berjalan. Mereka tidak memperdulikan teriakan mereka. Lalu bagaimana dengan March? March bingung karena tidak ada pengawal di sekitar mereka. Mau tidak mau March merubah dirinya seperti kedua putranya itu.
Mereka berjalan mengelilingi pasar untuk membeli sesuatu. Jake mengajak mereka untuk membeli jajanan pasar. Jake tidak lupa juga membantu mempromosikan jajanan itu ke big bos Erra. Erra yang masih memasang mode kulkas akhirnya mulai tertarik dengan jajanan yang berbentuk bulat berbalut kelapa yang dibungkus di mika. Erra mengambilnya dan membuka makanan itu kemudian mulai mencicipinya. Erra merasakan ada sesuatu yang aneh ketika mencoba pertama kali. Lalu Erra merasakan ada yang meledak di dalam mulutnya. Satu detik... Dua detik.... Tiga detik... Erra berkata, "Makanan ini sangat enak sekali."
Ketika Erra mengeluarkan suaranya seluruh orang yang berada di sana terhipnotis. Meskipun suara Erra termasuk dalam kategori bariton. Namun suara yang dihasilkan sangat merdu sekali. Hingga membuat semua orang yang berada di sana menyukainya. Bahkan ibu-ibu yang berada di sekelilingnya sana sangat terpanah.
__ADS_1
"Haduh... Tampannya mas itu. Aku ingin menjadikan mas itu sebagai mantuku," puji ibu tukang tahu.
"Eh... Enak saja lu langsung mengklaim kalau mas itu calon mantumu!" bentak tukang asinan.
Mereka semuanya pada ribut untuk merebutkan Erra. Erra hanya diam dan tidak memperdulikan omongan mereka. Lalu bagaimana dengan Lee? Lee, Naomi dan Caroline sudah membeli banyak buah. Untung saja saat itu Andi mengirimkan pengawal khusus bertujuan membawakan buah-buahan itu. Setelah selesai Lee menatap wajah para mama, "Kita mau kemana?"
"Bisakah kamu membelikan kami jajanan pasar? Perut mama sangat lapar sekali," jawab Naomi yang memohon sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Baiklah. Mari kita pergi ke toko kue!" ajak Lee.
Kemudian mereka menuju ke toko kue itu dengan santai. Yang di mana area toko kue itu sedang terjadi keributan. Mereka tidak tahu kalau yang membuat keributan adalah Erra.
Sesampainya di sana ketiga wanita itu sangat terkejut karena mereka masih ribut dan bertambah parah. Sementara itu Lee menghembuskan nafasnya sambil menggerutu, "Dasar emak-emak. Kenapa juga pake ribut segala."
Mata Caroline membulat sempurna ketika ada Erra, Jake dan March berada di sana. Caroline menepuk pundak Lee sambil membisiki sesuatu, "Lee... Coba lihatlah suami kamu yang berada di toko kue itu."
Lee menatap wajah Erra dan terkejut. Bagaimana bisa sang suami berada di toko kue. Bukannya Erra akan menunggu di dalam mobil?
"Bagaimana kakak tampan berada di sana ya?" tanya Lee yang memutar bolanya dengan malas.
"Pasti ini ulah Jake yang hobinya ke pasar untuk membeli jajanan pasar," jawab Naomi yang paham kebiasaan Jake.
"Iya ya... Kok aku baru paham," kesal Lee yang tiba-tiba saja mendengarkan emak-emak itu memperebutkan sang suami untuk dijadikan sang menantunya.
Para mama yang masih berdiri di tempat juga mendengar. Emak-emak itu enggak tahu kalau di belakang mereka ada sang istri dan ibu mertuanya. Lee yang masih mendengar emak-emak itu sangat jengah. Lee tidak akan membiarkan sang suami menjadi rebutan.
"Rasanya aku tidak rela jika suamiku dijadikan sebagai bahan rebutan," kesal Lee yang mendekati Erra.
__ADS_1