
"Aku nggak tahu siapa di luar. Sepertinya orang itu kayak dikejar setan," jawab Erra dengan asal.
Lee segera menuju ke ruangan depan. Lalu ketukan pintu itu semakin kencang saja. Dengan malasnya Lee langsung membuka pintu itu dan melihat para mama, "Mama."
Dengan senyumnya yang melebar Lee akhirnya memeluk para Mama secara bersamaan. Hatinya sangat bahagia karena bisa bertemu para Mama di sini. Setelah itu Lee mengajak para Mama masuk ke dalam.
"Sayang," panggil Erra.
Lee tidak menjawab dan menyuruh para Mama duduk di sofa. Kemudian wanita imut itu pun bergabung dengan para mama dan tidak menyahuti panggilan Erra. Erra yang dari tadi memanggil sang istri sangat kesal. Dari tadi dirinya memanggilnya namun tidak ada jawaban. Terpaksa Erra berdiri dan keluar dari kamar.
"Sayang, Ada siapa di luar? Ketukan pintunya seperti orang dikejar setan
Apakah kamu baik-baik saja?" seru Erra yang tidak sengaja melihat para Mama sedang menatapnya dengan tajam.
"Aku baik-baik saja," jawab Lee sambil tersenyum manis.
"Siapa yang menyebutku seperti orang dikejar setan?" tanya Naomi dengan nada menekan sambil menatap wajah Erra.
"Mama Naomi ternyata ada ya?" tanya Erra sambil memasang wajah tengilnya itu.
"Memangnya kenapa kalau ada aku di sini?" Jawab Naomi sambil membalikkan pertanyaan Erra.
"Nggak papa sih ma. Tak sangkain Mama nggak ikut ke sini," ucap Erra sambil tersenyum manis.
"Jangan merayuku seperti itu! Aku nggak mau kau tersenyum manis di hadapanku. Bisa-bisa aku mual melihatmu seperti itu!" tegas Naomi yang membuat Erra bergidik ngeri.
Tak sengaja Lee menangkap wajah Erra yang ketakutan. Entah kenapa dirinya menunduk sambil tersenyum bahagia. Ternyata Erra kalah dari Naomi. Bahkan Erra sendiri nyalinya ciut ketika bertemu dengan Naomi.
"Kalau begitu Aku akan pergi dari sini. Aku ingin bertemu dengan Garda," pamit Erra yang tidak mau membuat masalah semakin runyam.
"Hati-hati di jalan. Kalau bangun jatuh sendiri," seru Haruka.
Erra mengangguk dan baru sadar kalau Haruka berkata salah. Lalu pria bertubuh kekar itu langsung menatap Haruka sambil membetulkan kalimat sang Mama imutnya itu, "Mama salah kalau ngomong."
__ADS_1
"Kan bener aku ngomong. Kalau bangun jatuh sendiri," Haruka tersenyum sambil menatap wajah Erra yang kebingungan.
"Tetap salah Ma. Harusnya Mama mengatakan hati-hati di jalan terus kalau jatuh bangun sendiri," Erra sambil menganggukkan kepalanya dan berhasil membuat Haruka salah.
"Begitu ya? Maaf aku salah," ucap Haruka.
"Itu benar ma. Kalau begitu aku pamit dahulu. Nanti aku akan kembali ke sini sebelum jam tujuh malam," pamit Erra yang meninggalkan mereka.
"Ternyata Erra masih lucu ya?" tanya Haruka ke Rani.
"Memangnya Kakak tampan itu seperti apa ya?" tanya Lee yang penasaran dengan masa kecilnya Erra.
"Jika kamu tahu, Erra itu lucu. Bahkan sangat menyesatkan sekali. Banyak kejadian-kejadian yang telah diciptakannya. Seluruh karyawan di Asco menyerah dan lebih baik sibuk dengan pekerjaannya ketimbang meladeni Erra. Itulah kakak tampanmu. Jangankan mama, para Mama lainnya juga menyerah jika kedatangan Erra mereka langsung pergi," jelas Rani yang membuat Lee mengangguk paham.
"Habislah aku. Makanya Kakak tampanku memiliki sejuta misteri yang belum terpecahkan sampai hari ini," keluh Lee yang membuat mereka mengangguk setuju.
"Kamu harus bersabar saja, jika kakak tampanmu berubah drastis. Maklumin saja karena hidupnya seperti roller coaster. Kadang naik kadang turun. Itulah kakak tampanmu," jelas Widya yang mengetahui sifat Erra yang kadang-kadang berubah.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Lee yang teringat dengan tadi.
"Memangnya selama menikah kamu sudah menemukan hal-hal yang aneh?" tanya Rani yang mengerti Lee.
"Baru saja. Entah kenapa Kak Erra ingin sekali makan nasi kuning buatan pak Bram," jawab Lee yang membuat para Mama terkejut.
Jujur mereka baru tahu kalau permintaan Erra sangat aneh sekali. Secara serempak mereka sadar kalau permintaan itu tidak akan ada di mana-mana. Dengan terpaksa Mama Yi mengatakan, "Kalau kamu mau mencari nasi kuning. Kamu harus mencari bapak-bapak yang namanya Pak Bram. Nanti suruh buat nasi kuning dengan tangannya sendiri. Dan katakan pada Erra, kalau nasi kuning itu buatan pak Bram. Setahuku nama Bram itu adalah klien kita dari Surabaya. Dia adalah pemasok bahan utama yang dipakai untuk kue sus."
"Baiklah kalau begitu. Suruh pulang dari sini aku akan mampir ke Surabaya. Kakak tampan mulai berulah dan ingin memakan nasi kuning buatan pak Bram di Kota Surabaya," jawab Lee dengan serius.
"Setahuku itu tidak aneh apa yang diminta Erra. Orang yang minta seperti itu dan sangat membingungkan sekali itu tandanya pria itu sedang ngidam. Tapi apakah kamu sedang hamil?" Tanya Caroline yang membuat Lee mengganggukan kepalanya.
"Itu benar. Kamu harus periksa dengan tes kehamilan. Aku harap itu akan kejadian di dalam dirimu," jelas Mama Yi sambil meraih tasnya itu. "Akan aku berikan satu alat kehamilan buat kamu."
Para Mama sangat terkejut dengan pernyataan Mama Yi. Bisa-bisanya Mama Yi ke mana-mana membawa tes kehamilan. Dengan penuh curiga Haruka bertanya, "Memangnya kamu membawa tes kehamilan buat apa?"
__ADS_1
"Aku sengaja membawanya hanya untuk jaga-jaga. Kamu tahu kan Kak Joko bagaimana? Aku harus menjaga kehamilanku karena usiaku sudah menua. Seharusnya Nanda yang memberikan aku banyak cucu," jawab Mama Yi yang mendapat anggukan dari para mama dan Lee.
"Para papa ternyata sangat menyeramkan," jelas Lee.
"Ya begitulah. Jangankan para papa. Para pria itu sangat menyeramkan sekali Jika sudah mengenal perempuan. Kamu tidak boleh kaget seperti itu," ucap Naomi yang membetulkan perkataan Lee.
"Tapi ujung-ujungnya enak kan?" Tanya Rani yang memancing Lee.
"Mama memancingku untuk mengatakan sesuatu. Bagaimana rasanya setelah berolahraga malam dengan kakak tampan?" tanya Lee.
"Mama tidak memancingmu. Aku ingin tahu, apakah putra aku sangat liar sekali di atas ranjang? Apakah kamu ingat dengan kejadian pada waktu itu? Sampai-sampai tiga bulan kamu tidak di unboxing segala. Dan itu membuat aku sangat malu sekali kepadamu," jawab Rani melihat Lee.
"Sudah sangat pandai sekali Ma. Tenang saja Kakak tampan tidak seperti dulu lagi," jelas Lee yang membuat Rani tersenyum.
Mereka tahu ucapan Lee dan Rani menjurus ke arah ranjang. Setahu mereka Erra adalah pria kaku dan tidak mengenal perempuan sama sekali. Baru menikah Erra tidak menyentuh sedikitpun. Saat itu mereka bingung harus mengatakan apa kepada Erra. Apakah mereka ingin mengajarkan sesuatu yang aneh? Jawabannya adalah entah.
"Syukurlah kalau begitu. Mama sangka Erra masih menjadi es batu. Aku tidak bisa membayangkan kamu kalau Erra masih menjadi es batu. Aku harus bagaimana untuk mendapatkan cucu dari kalian?" tanya Rani yang sedang bersedih.
"Tenanglah kak Rani. Erra tidak akan menjadi es batu selamanya. Apalagi Lee adalah seorang wanita yang sangat spesial di dalam hidupnya. Jangan pernah bersedih lagi," hibur Naomi.
"Aku tidak bersedih. Aku membayangkan saja Erra masih seperti es batu. Lalu aku harus bagaimana?" ucap Rani dengan jujur.
"apakah para Mama ingin ikut dalam perhelatan acara amal yang diadakan oleh Adam?" tanya Lee.
"Ya kami ingin ikut. Aku masih belum percaya kalau Adam sudah berubah menjadi baik seperti itu. Apakah ini hanya akal-akalannya saja? Di saat lengah Adam akan menyerang kita habis-habisan," jawab Caroline.
"Itulah yang ada di dalam benakku. Aku masih ragu akan hal itu. Jika Adam melakukan itu, akulah orang yang pertama yang akan menghajar pria tua itu. Mama jangan khawatir soal itu," jelas Lee.
"Kami berharap Adam akan cepat sadar dan menjalani hidup dengan normal. Nggak enak lho kalau hidup dikejar-kejar para musuh. Kita akan berdoa bersama agar Adam sadar dari kekonyolannya itu," ujar Widya dengan serius.
"Baiklah kalau begitu," balas Lee.
Setelah itu mereka mengobrol dengan normal. Para Mama ingin menculik Lee setelah dari Bangkok. Mereka ingin mengajak Li jalan-jalan ke daerah Bali. Namun Widya berseru dan mengangkat tangannya, "Aku tidak bisa ikut. Beberapa minggu lagi Imam akan menikah. Aku tidak mau kalau menantuku menjadi bahan ejekan orang. Karena menantuku itu sudah hamil lagi."
__ADS_1
"Kapan tepatnya Imam akan menikah? Kami akan mengosongkan jadwal untuk membantumu melakukan persiapan pernikahan Imam," tanya Rani dengan serius.