
"Iya aku tahu itu. Kamu harus sabar menghadapi orang-orang yang ingin mencibir istrimu itu," jawab Lee sambil menghibur Imam.
"Nggak gampang, istrimu harus bersabar soal mereka yang mencibirnya. Aku tahu ini sangat berat buat kalian. Jika kamu mencintainya maka lindungilah. Jangan pernah takut untuk membuat istrimu bahagia lebih baik kamu nggak usah mendengar apa kata mereka," saran ini Garda.
"Aku tambahin lagi. Status sosial itu tidak penting buat orang saling mencintai. Orang jatuh cinta itu tidak mengenal apapun. Jika mereka mencibir Suci dengan kata-kata menyakitkan. Telat suatu Hari nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang nyata dari istrimu dan Tuhan," tambah Erra.
"Kalau begitu kita akan berkemas sekarang juga. Tiba-tiba saja aku sangat rindu pada mama. Ingin rasanya memeluk mereka bersamaan," ucap Lee yang mulai rindu pada para mama.
"Baiklah kalau begitu. Kami pamit terlebih dahulu. Kita akan bertemu di bandara saja," balas Garda yang menatap sang adik.
Kedua pria itu berdiri dan meninggalkan kamar hotel Lee. Mereka akhirnya memutuskan untuk berkemas dan pergi dari hotel hari ini juga. Mereka sangat bahagia karena masalah ini sudah selesai. Tidak menyangka Adam sudah sadar dari penyakitnya itu. Semoga saja ada mendapatkan kebahagiaan hingga akhir hayat bersama Yoona.
Setelah kepergian mereka, Lee memutuskan untuk membereskan pakaiannya. Pakaian yang tidak dipakai akan dimasukkan ke koper milik Erra. Pakaian yang kotor akan dimasukkan ke dalam keper milik Lee. Begitu juga dengan Erra, pria bertubuh kekar itu pun ikut membereskan pakaian tersebut. Meskipun dirinya adalah CEO, namun Erra tidak pernah tinggal diam untuk membantu sang istri.
"Kita pergi ke Surabaya yuk," ajak Erra.
"Mau ngapain Kita ke sana?" tanya Lee.
"Aku pengen makan sesuatu," jawab Erra sambil tersenyum memandang wajah sang istri.
"Makan apa memangnya?" tanya Lee.
"Aku pengen makan nasi kuning ikannya ayam goreng. Tapi yang jual itu namanya Pak Bram. Aku nggak tahu wajahnya Pak Bram bagaimana? Makanya itu aku ingin memakan nasi kuning buatan pak Bram," jawab Erra yang membuat Lee kebingungan setengah mati.
"Memangnya ada ya, nasi kuning buatan pak Bram. Setahuku nasi kuning dijual di jalanan itu tidak tahu siapa nama penjualnya," ucap Lee dalam hati.
"Kamu jangan mengumpatiku seperti itu. Nanti kalau aku menangis bagaimana?" Erra menatap Lee sambil menahan air matanya.
Jujur saja wanita berwajah imut itu sangat bingung terhadap sang suami. Bagaimana bisa wajah tampannya itu berubah menjadi sendu. Iya juga tidak sengaja melihat mata era berkaca-kaca. Ini sangat aneh sekali menurutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Lee. "Tiba-tiba saja kamu ingin menangis. Seharusnya aku yang menangis, bukan kamu. Memangnya aku salah apa sama kamu?" tanya Lee.
__ADS_1
"Kamu bilang dalam hati,jika yang menjual nasi kuning itu nggak ada yang namanya Pak Bram. Makanya itu kamu sangat jahat sekali sama aku. Nggak mau nyariin malah mengumpatiku. Terpaksa Aku ingin menangis saja. Biar tahu rasa hatiku bagaimana jika kamu mengumpati aku?" kesal Erra yang memajukan mulutnya sepanjang sepuluh senti.
"Kamu kok jadi sensitif begitu? Aku bingung sama kamu. Sekarang salahku apa?" Lee mendekati Erra dan memegang tangan kekar itu.
"Kalau kamu nggak mau nyari ya sudah. Nanti aku yang nyari sendiri bersama Garda. Aku harap kamu mengerti itu," Erra semakin kesal dan menarik tangannya dari tangan Lee.
"Oh my God…what happen with my husband? Tiba-tiba saja sensitif seperti ini. Seharusnya yang sensitif itu adalah pihak perempuan. Kenapa juga harus Erra? Apakah era terkena sindrom bos gila?" Kesal Lee yang meninggalkan Erra sendirian di dalam kamar.
Saat keluar Lee melihat Yoona sedang membuka pintu kamar itu. Tanpa menyapa Lee melewati wanita tersebut. Kemudian Yoona menatap Lee menjauhinya segera berteriak, "Tunggu Aku. Jangan berlari seperti itu. Kamu mau ke mana singa betina?"
Mendengar teriakan Yoona, Lee terpaksa berhenti dan menatap wajah Yoona dari jauh. Kemudian Lee mendekatinya sambil berkata, "Aku ingin mencari papa."
"Bukankah di kamar ada Erra?" tanya Yoona sambil memandang wajah Lee.
"Memang. Tapi aku nggak tahu, tiba-tiba saja Erra berubah drastis. Padahal Erra baik-baik saja dari tadi. Aku tanya nggak ada yang salah katanya," jawab Lee dengan serius.
"Apakah dia meminta sesuatu?" Yoona mulai memegang tangan Lee sambil tersenyum manis.
"Iya. Permintaannya sangat aneh sekali. Malam ini aku kembali ke Jakarta. Tapi Erra meminta ke Surabaya terlebih dahulu. Yang anehnya dia ingin memakan nasi kuning tapi yang buat adalah Pak Bram. Ini yang membuat aku bingung. Mana ada seseorang yang menjual nasi kuning bernama Pak Bram? Aku dimarahi lagi, katanya aku dituduh mengumpati. Lama-lama jadi aneh. Ditambah lagi Erra ingin menangis. Dia bilang, dia ingin mencarinya bersama Kak Garda," jelas Lee yang membuat Yoona curiga.
"Fase ngidam? Tapi kalau mintanya sangat aneh sekali. Aku harus mencari dimana penjual nasi kuning yang namanya Pak Bram itu?" tanya lee serius.
"Suruh pengawalmu saja yang mencarinya. Aku saranin sebar mereka ke penjuru Kota Surabaya untuk mencari namanya Pak Bram si penjual nasi kuning itu. Nanti kamu akan menemukannya. Aku takut suamimu itu akan menangis," jawab Yoona sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku akan kembali ke kamar. Aku harap kak Erra tidak meminta yang aneh-aneh. Kalau sudah minta yang aneh-aneh lebih baik aku tak angkat tangan. Karena permintaannya sangat susah dipenuhinya," ujar Lee.
"Baiklah. Memang jika istrinya hamil pasti sang suami mintanya yang aneh-aneh. Aku harap kamu bisa melewati fase ini hingga mendapatkan bayi yang lucu-lucu," puji Yoona sambil mendoakan Lee dengan tulus.
"Aku nggak tahu kalau diriku hamil. Aku belum memeriksanya sama sekali. Nanti deh kalau sampai Indonesia aku akan memeriksanya," sahut Lee sambil tersenyum manis.
"Kembalilah ke kamar. Rayu serigala gilamu itu. Aku harap kamu akan baik-baik saja," suruh Yoona.
__ADS_1
Lee tersenyum manis sambil memandang wajah Yoona. Setelah itu dirinya berpamitan dan kembali ke kamar. Ketika kembali ke kamar, Lee melihat Erra sedang berbaring di ranjang. Wanita bertubuh mungil itu mendekatinya sambil menatap wajah sang suami yang tiba-tiba saja pucat, "Kakak tampan kenapa?"
"Perutku nggak enak sekali. Rasanya seperti diaduk-aduk. Setelah kamu pergi dari sini, aku memuntahkan semua makanannya di dalam perutku ini," tunjuk Erra ke daerah perutnya itu.
"Apakah kamu akan pulang sekarang?" tanya lee.
"Iya aku ingin pulang. Tapi kamu harus berjanji padaku."
"Janji apa itu?"
"Cariin aku nasi kuning buatan pak Bram."
"Baiklah kalau begitu. Kita akan mencarinya ketika sampai di Surabaya."
"Apakah itu benar?" tanya Erra dengan mata berbinar.
"Iya itu benar. Lebih baik kamu bangun dan cuci wajah jelekmu itu dan ganti pakaianmu," jawab Lee.
Erra mengangguk seperti bocah kecil yang menurut pada ibunya. Kemudian Lee membantu Erra berdiri dan memapahnya ke toilet. Sungguh Erra merasakan kalau ini adalah wanita yang sangat baik sekali.
Kemudian Lee membuka pintu dan mengajak sang suami masuk ke dalam. Dirinya membantu Erra dengan membuka satu persatu baju yang dipakainya.
"Apakah aku masih tampan?" tanya Erra yang penuh dengan percaya diri.
"Iya…Kakak masih tampan seperti dahulu. Tapi bedanya kakak sekarang perutnya agak gendut. Akhir-akhir ini Kakak suka sekali makan. Coba deh kalau dulu disuruh makan susah sekali," jawab Lee dengan jujur.
"Apakah itu benar?" tanya Erra sekali lagi.
"Iya… sesuai dengan apa yang aku katakan. Aku kan nggak boleh bohong sama suamiku sendiri. Lagian juga mau tidur makan dulu. Sepertinya kakak harus berolahraga. Jangan terlalu gendut soalnya jelek," jawab yang mengusulkan agar Erra tidak terlalu gendut.
"Kalau begitu ya sudahlah. Setelah pulang dari Surabaya Aku ingin berolahraga bersama Garda. Perut sixpack ku ini telah menghilang. Rasanya aku harus membentuknya lagi agar kamu tidak pergi dariku dan mencari pria lain," jawab Erra sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Meskipun kamu gendut, aku tidak akan mencari pria lain. Memilikimu itu sudah cukup buat aku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar bisa merawatmu selamanya," ungkap Lee dengan penuh kebahagiaan.
"Apakah itu benar?" tanya Erra.