
Mata Lee membulat sempurna. Lee seakan tak percaya apa yang di lihatnya. Erra memeluk Caroline seperti bocah kecil. Lee bingung dengan mereka.
"Kenapa Kak Erra memeluk Mama seperti itu?" tanya Lee dalam hati.
Setelah meluapkan rasa rindunya, Erra melepaskan pelukannya.
"Mama... Mama enggak pernah pulang ke Jakarta?" tanya Erra.
"Untuk saat ini mama masih di sini. Kamu tau kalau musuh sedang berkeliaran ada di mana-mana," jawab Caroline.
"Musuh oh musuh!!!" geram Lee yang memakai logat Upin Ipin.
"Memangnya kamu ngapain dengan musuh nak?" tanya Caroline yang mendekati Lee.
"Rasanya aku ingin bertarung lagi," jawab Lee dengan santai.
"Ah... tidak. Jangan dulu bertarung. Aku mau kamu melahirkan anak-anakku," ucap Erra dengan sendu. "Kamu tau kan usiaku sudah mencapai 32 tahun."
"Ya baiklah," senyum Lee dengan tulus.
Caroline bingung apa yang di bicarakan oleh Erra dan Lee. Caroline akhirnya bertanya kepada mereka.
"Maksud kalian?" tanya Caroline menyelidik.
"Kak Erra menginginkan anak ma," jawab Lee.
"Apakah kalian?" tanya Caroline dengan tatapan tajam.
"Waduh, aku belum cerita pada mama. Kalau aku sudah menikah dengan kak Erra," batin Lee.
"Ah... Iya... maaf ma. Erra belum cerita. Kami berdua sudah menikah. Aku memaksa Lee menikah," ucap Erra dengan jujur.
Kemudian Caroline bingung. Bagaimana bisa anak perempuannya tiba-tiba saja menikah tanpa sepengetahuannya?
"Bagaimana bisa kamu menikah tanpa bilang ke Mama?" tanya Caroline yang ingin melemparkan kedua orang itu di hadapannya ke Samudra Atlantik.
"Hmmp... Aku juga tidak mengerti ma... Aku mengetahui bahwa namaku sudah tertera di buku nikah," jawab Lee.
"Erra, apakah kamu melamar putriku?" tanya Caroline.
"Enggak ma," jawab Erra.
"Kalian berdua berdiri di sini!!" titah Caroline.
Kemudian Lee dan Erra langsung berdiri di hadapan Caroline. Lee dan Erra langsung merasakan hawa pembunuh. Caroline yang bener-bener kalem berubah menjadi singa yang kelaparan. Caroline ingin memangsa mereka bulat-bulat.
Mereka berdua susah menelan salivanya. Mereka ingin kabur dari ruangan itu.
"Kak Erra bagaimana ini? Kita di hadapkan oleh singa betina yang sesungguhnya. Matilah kita kak hari ini," batin Lee meringis.
Sementara itu Erra mendengar apa kata hati Lee.
"Jadi ini yang di namakan mamanya singa betina? Makanya Lee mempunyai sifat bar-barnya dari mama singa betina. Habislah aku... Bagaimana ini? Ingin kabur dari amukan Papa eh... di sini malah terkena amukan mama singa betina. Argh!!!!" jerit Erra dalam hati.
"Aku tau apa yang kalian katakan. Untuk Erra nanti malam kamu tidur di rumah Fendi dan untuk Lee kamu harus tidur di kamar mama!!!" titah Caroline.
__ADS_1
Glek.
"Argh... enggak bisa begini caranya. Kami kan masih pengantin baru. Selamanya jadi pengantin baru," batin Erra.
"Atau enggak usah selamanya!!!" geram Caroline kepada Erra.
"Waduh mama singa betina sangat galak sekali terhadapku. Aku harus bagaimana? Aku ingin memproduksi generasi Asco, Sebastian dan juga generasi bangsa," ringis Erra dalam hati.
Caroline hanya tersenyum dalam hati melihat menantunya panik. Jiwa jahilnya seakan keluar mendadak karena ingin menjahili menantunya.
Sementara di luar. Ada seorang pria paruh baya bingung ingin mencari perhiasan yang elegan buat kado ulang tahun pernikahan putrinya.
"Aku harus pilih yang mana? Perhiasannya sangat bagus sekali. Ah... aku jadi de javu. Teringat 30 tahun yang lalu. Mau melamar Tika bingungnya minta ampun," batin Andi.
Pria paruh baya itu adalah Andi. Andi memang bukan pria romantis. Andi juga bukan pria yang ahli memberikan hadiah ke istri dan anaknya.
"Ah... seharusnya aku panggil March. Tapi March tidak ada disini. Argh... sial!!" geram Andi dalam hati.
Kemudian Maura mendekati Andi.
"Ada apa Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Maura dengan sopan.
"Ada!!" sahut Andi.
"Anda mencari hadiah untuk istri Tuan?" tanya Maura.
"Tidak! Aku ingin memilih perhiasan untuk putri saya. Saya meminta tolong kepada anda. Tolong panggilkan pemilik perusahaan ini," jawab Andi.
"Baiklah Tuan. Saya akan panggilkan sang pemilik," ujar Maura lalu menuju ke ruangan khusus Caroline.
Maura masuk tanpa mengetuk pintu. Ia sangka di dalam ruangan ada Caroline saja.
"Maaf Nyonya," sapa Maura yang ketakukan.
"Tidak apa-apa. Ada apa?" tanya Caroline.
"Begini Nyonya. Ada pria paruh baya yang meminta pendapat untuk memilihkan perhiasan," jawab Maura.
"Mama biar aku saja. Aku juga sudah lama tidak menemui pelanggan-pelangganku. Kemungkinan pria paruh baya itu adalah pelanggan lamaku," ucap Lee.
"Ya baiklah!" ujar Caroline.
"Maura ayolah!! Temani aku," perintah Lee.
"Baik Nona muda," sahut Lee.
Kemudian Lee keluar dengan di ikuti oleh Maura.
"Itu nona!" seru Maura sambil menunjuk Andi.
Lee langsung mendekati Andi.
"Tuan mau perhiasan yang bagaimana? Saya bisa membantu anda," ucap Lee dengan sopan.
Andi yang sedang bingung melihat perhiasan itu berjingkat kaget karena ada suara Lee.
__ADS_1
"Kok ada suara Lee ya? Apakah aku bermimpi? Sejak kapan Lee mempunyai toko perhiasan sebesar ini? Dari dulu aku tidak pernah memberikan uang sepeserpun?" tanya Andi dalam hati.
"Tuan.. tuan kok bengong ya???" tanya Lee.
Kemudian Andi menoleh dan melihat Lee. Lee yang melihat Andi langsung kaget.
"Papa!!" pekik Lee.
"Lee... Kenapa kamu berada di Rumah Berlian BL Company?" tanya Andi.
Sementara itu Andi belum mengerti. Bahwa BL adalah istri tercintanya.
"Ah papa... Papa mau beli apa?" tanya Lee.
"Sekarang papa tanya. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Andi balik.
Kemudian Caroline dan Erra keluar. Dari jauh Caroline mencium wangi aroma Andi. Jantungnya berdetak kencang. Andi memang sengaja memakai parfum yang di pilihkan oleh Caroline sebelum kecelakaan itu terjadi.
Erra mendekati Lee dengan mata membulat.
"Papa Andi!" pekik Erra.
"Erra, kenapa kamu ada di sini?" tanya Andi.
Caroline mendekati mereka. Tanpa sengaja mata Caroline dan Andi bertemu. Mereka saling memandang satu sama lain. Erra dan Lee berpegangan tangan. Hati Andi tidak percaya bahwa Caroline Riu adalah Tika.
"Andi," lirih Caroline dengan dada penuh sesak.
"Tika," lirih Andi yang merasakan jantungnya berdetak kencang.
Kemudian Lee dan Erra saling menatap dan memberi kode. Mereka berdua langsung pergi dan memasuki ruangan tadi.
Andi yang seakan tak percaya dengan keberadaan Caroline diam mematung. Air mata Andi menetes begitu juga dengan Caroline. Mereka langsung berpelukan dengan erat meluapkan rasa rindu mereka.
Erra dan Lee yang melihat mereka berpelukan langsung meneteskan air mata. Lee langsung memeluk Erra dan menangis. Lee sangat terharu melihat kedua orang tuanya sudah bertemu.
"Kak.. bisakah kisah cinta kita seperti mereka?" tanya Lee.
"Bisa, aku berharap bisa seperti mereka. Aku tidak ingin kita berpisah. Lee... aku mencintaimu," jawab Erra sambil mencium mulut mungil Lee.
"Aku juga mencintai kakak," sahut Lee.
"Kakak menangis?" tanya Lee.
"Aku terharu kepada mereka. Aku akan selalu menjagamu," jawab Erra.
Kemudian mereka saling memandang. Erra melihat Lee dengan wajah bahagianya.
"Tak akan pernah aku lepas kamu selamanya," bisik Erra dengan lembut.
Hi Readers. Sudah ketemukan orang tua Lee yang sebenarnya. Tenang saja nanti ada cerita selanjutnya mengenai kenapa mereka berdua terpisah.
Tetap semangat untuk kalian. Jaga kesehatan 😘😘😘😘
__ADS_1