
"Kamu itu ya… pas ada meeting kamu selalu tidak ada di tempat. Kamu tahu divisi pemasaran sedang kacau. Mereka tidak memberikan data-data dengan jelas terhadap papa," jawab Irwan yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Besok pagi aku akan mengurusnya," ucap Imam yang melihat Irwan.
"Kalau begitu uruslah itu semua. Papa enggak mau tahu laporan penasaran harus ada tiga hari ke depan. Jika mereka membangkang pecat semua. Buka lowongan pekerjaan lagi!" titah Irwan. "Darimana saja tadi?"
"Aku sedang membuat adiknya Raka," jawab Imam dengan polos.
Mata Irwan membulat sempurna. Entah kenapa Irwan ingin melempar Imam ke daerah konflik. Bisa-bisanya ketika meeting Imam tidak hadir.
"Papa akan mengajak Suci dan Raka ke Surabaya. Papa ingin mengecek persediaan senjata di gudang baru," ucap Irwan dengan serius.
"Oklah kalau begitu," balas Imam.
Imam segera meninggalkan Irwan dan menuju ke Suci. Kemudian Imam menyuruh Suci bersiap-siap untuk ikut Irwan. Suci langsung menyiapkan semuanya.
Nanda yang baru saja sampai di kediaman Angela masuk ke dalam. Nanda langsung mencari keberadaan Angela di kamar. Tanpa mengetuk pintu Nanda membukanya dan melihat Angela yang terbaring lemah. Seketika Nanda panik dan mendekatinya dengan wajah khawatir, "Sayang… kamu enggak apa-apa?"
Angela yang baru saja terpejam membuka matanya. Angela melihat sang kekasih matanya membulat sempurna. Angela menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku rindu kamu sayang," jawab Nanda dengan jujur.
"Tapi aku tidak rindu kamu. Sekarang kamu pergilah. Aku sangat membenci wajahmu," usir Angela yang membuang wajahnya.
Glodaaakkkkk.
Bagai peralatan dapur jatuh yang berserakan. Beberapa hari yang lalu Angela mengirimkan pesan kepada Nanda kalau dirinya sangat merindukannya. Tapi tiba-tiba saja saat Nanda datang Angela malah mengusirnya.
"Kamu kenapa kok tiba-tiba saja membenciku?" tanya Nanda dengan wajah sendu.
"Aku tidak menyukai wajahmu," jawab Angela dengan jujur.
"Memangnya ada apa dengan wajahku? Apakah wajahku tidak tampan?" tanya Nanda.
"Jujur saja iya. Wajahmu memang tidak tampan sekarang," jawab Angela yang mencium aroma parfum Nanda.
Tak lama Angela pergi ke toilet dan memuntahkan isi dalam perutnya. Angela merasa tidak nyaman dengan perutnya. Baru saja diisi Angela membuangnya. Sementara itu Nanda tidak sengaja mendengar Angela muntah. Nanda merasakan khawatir secara bertubi-tubi. Nanda bergegas masuk dan melihat Angela yang lemah. Nanda mendekatinya dan memijit lehernya.
"Kamu kenapa tiba-tiba begini? Aku tinggal beberapa hari. Kok kamu malah muntah-muntah begini?" tanya Nanda.
Setelah memuntahkan seluruh isi perutnya Angela menyiramnya. Akhirnya Angela menatap wajah Nanda dengan berlinang air mata. Melihat Angela yang cepat berubah mood membuat Nanda semakin bingung. Angela memeluk Nanda sambil berkata, "Aku memang membencimu! Tapi aku sangat menginginkan kamu!"
"Angela… apakah kamu sakit?" tanya Nanda dengan serius.
"Entahlah," jawab Angela yang tidak memperdulikan keadaannya.
"Kita ke rumah sakit ya," ajak Nanda.
Angela menggelengkan kepalanya dan menolak untuk pergi ke rumah sakit. Dengan terpaksa Nanda mengalah dan membiarkan Angela beristirahat.
"Kalau begitu kamu istirahat," ucap Nanda.
Angela menganggukan kepalanya tanda setuju. Nanda mengangkat tubuh Angela dan menggendongnya ala bridal style.
Nanda akhirnya keluar dari toilet untuk menuju ke ranjang. Nanda membaringkan tubuh Angela di ranjang. Kemudian Nanda menarik selimut lalu duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Aku panggilkan dokter ya," saran Nanda.
"Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja," ucap Angela dengan lembut.
"Akhir-akhir ini aku memang sibuk. Aku belum bisa menemui kamu. Kamu tahu mansion Sam habis diserang? Lalu Pradipta tiba-tiba saja dihabisi. Kami yang tidak ikut berkumpul dengan kakak besarmu mengamankan seluruh perusahaan," ujar Nanda yang berkata jujur. "Aku juga habis pulang dari Taipei menggantikan Sam."
"Tak apa kak. Aku baik-baik saja. Sebulan ini aku lembur. Mungkin saja kecapekan," sahut Angela.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat. Atau mau aku pijitin?" tanya Nanda.
"Aku ingin makan cap cay buatan kakak besar yang dicampur sama seafood," jawab Angela yang membayangkan makan cap cay buatan Lee.
"Aku mendapatkan informasi bahwa Lee tidak berada di Indonesia. Lee berada di luar negeri. Tepatnya dimana aku enggak tahu," kata Nanda.
Angela tersenyum dan tidak sengaja memegang perutnya yang masih datar. Sedangkan Nanda bingung saat Angela memegang perutnya.
"Kenapa kamu memegang perut? Apakah perutmu sakit?" tanya Nanda.
"Enggak… aku hanya ingin memegang perut saja," jawab Angela yang memang ingin memegang perutnya. "Tenang saja aku bisa menahan keinginan itu. Setelah kakak beser pulang. Aku akan memintanya memasakkan cap cay."
"Kamu mau makan apa?" tanya Nanda.
"Aku ingin makan soto ayam Lamongan di Surabaya. Tapi yang jual namanya Cak Toh," jawab Angela tersenyum hingga membuat mata Nanda membulat sempurna.
"Apakah kamu tidak ingin makan Soto Ayam Lamongan di sini saja?" tanya Nanda yang menawarkan makan Soto yang areanya tidak terlalu jauh.
"Aku ingin itu," jawab Angela dengan wajah sendu.
Tiba-tiba saja Angela menangis dan membuang wajahnya dari hadapan Nanda. Angela berbaring lalu membelakangi Nanda. Nanda yang kembali melihat Angela ngambek malah bingung. Mau tidak mau Nanda harus merayu Angela agar tidak ngambek.
"Kamu enggak mau menuruti permintaan aku," ketus Angela.
"Angela… kamu tahu jarak antara Jakarta ke Surabaya sangat jauh. Kalau kita kesana memakai mobil kemungkinan besar membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh jam. Kalau kita berangkat sekarang bisa dipastikan sampainya malam," jawab Nanda yang mulai menjelaskan tentang jarak antara Jakarta ke Surabaya.
"Kalau pakai jet?" tanya Angela.
"Sama saja. Kalau kita memakai jet juga butuh waktu. Enggak mungkin kita naik langsung sampai," jawab Nanda. "Tapi bedanya adalah kalau memakai jet hanya satu jam. Belum lagi kita mencari tukang soto ayam Lamongan yang bernama Cak Toh."
"Kita berangkat sekarang. Kalau hari ini tidak ada berarti besok. Aku ingin sekali makan soto ayam Lamongan Cak Toh," ucap Angela yang tersenyum manis.
"Ya udah… lebih baik kamu makan yang lainnya dulu. Nanti kalau kamu sakit aku malah bingung," ucap Nanda yang membuat Angela bangun.
"Aku ingin makan bakso Pak Rahmat," ucap Angela.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak Nanda yang tersenyum lembut.
Tottenham Inggris.
Lee, Pita dan Arini selesai beristirahat merasakan tubuhnya sangat segar. Lee meraih ponselnya kemudian mencari nomor Cecilia. Namun sebelum itu Lee merasakan perutnya sangat kelaparan. Lee memandang wajah Arini dan Pita, "Apakah kalian tidak lapar?" tanya Lee.
"Ya… kami sangat lapar sekali. Tapi ini sudah malam. Kita membeli makanan di mana?" tanya Pita.
"Kamu mau makan apa?" tanya Lee.
Mereka terdiam dan membayangkan ayam panggang. Mereka menelan salivanya berkali-kali. Tak lama Lee menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, "Aku lupa ini negara Inggris."
__ADS_1
Mereka tersadar dan menganggukkan kepalanya secara serempak. Mau tidak mau mereka mengurungkan niatnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur. Saat keluar kamar beberapa pengawal yang berada di situ sungguh terkejut. Salah satu pengawal dari mereka mendekati Lee dan menyapanya, "Kakak besar… Kenapa kakak besar ada disini? Apakah kakak ada misi dari ketua Bayu?"
Lee menggelengkan kepalanya, "Tidak ada misi apapun. Aku hanya mencari Cecilia," jawab Lee dengan ramah.
"Oh… Ceci… Ceci sekarang ditugaskan oleh ketua mengurus peternakan sapi di Liverpool," jawab Cathy.
"Apa? Memang ketua Bayu sekarang memiliki peternakan sapi disana?" tanya Pita.
"Tidak. Peternakan itu milik ketua Irwan. Ketua Irwan membangun peternakan itu dua tahun belakangan ini. Ketua sekarang sedang mengembangkan produk baru yaitu yogurt. Yang dimana yogurt itu akan dipasarkan secara masal," jawab Cathy yang menjelaskan apa maksudnya Irwan.
Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lee mencoba mencari cara agar misinya ini berhasil. Namun sebelum memikirkan rencana lebih lanjut Lee memandang wajah Cathy.
"Kemana para pengawal?" tanya Lee.
"Sebagian dari mereka sedang berlatih di hutan bersama Red Swan Lake. Sebagian lagi menunggu misi dari kakak besar dan ketua Bayu," jawab Cathy.
"Aku datang kesini bukan untuk berperang melawan mafia atau gangster. Aku ingin membeli perusahaan Taylor Inc. Jadi kalian masih bisa bersantai disini," ucap Lee yang menjelaskan maksud tujuan kesini.
Cathy paham apa yang dimaksud oleh Lee. Lalu Lee mengajak Pita, Cathy dan Arini pergi ke restoran yang menjual steak. Dalam perjalanan menuju kesana Lee menghubungi Cecilia untuk segera datang ke markas utama pasukan inti. Cecilia pun menyanggupi.
Istanbul Turki.
Emilia yang matanya sembab karena menangis hanya bisa terdiam. Emilia tidak mengira kalau adik kembarnya sudah tidak ada. Cita-cita Emilia yaitu ingin menikahkan Alicia dengan Candra. Namun cita-citanya itu tidak berwujud.
Emilia bangun dari tidurnya dan menatap wajahnya di cermin. Dengan penuh amarah Emilia mengepalkan tangannya dan bersumpah ingin membunuh enam pilar utama. Namun Emilia sadar yang melindungi enam pilar utama adalah Lee. Tangannya mulai terkepal dan sorot matanya yang tajam membuat Emilia semakin membenci Lee.
"Kamu akan tahu akibatnya jika menjadi perisai enam pilar utama! Sebentar lagi kamu akan mati di tanganku!" ancam Emilia.
Emilia tertawa terbahak-bahak membayangkan telah berhasil membunuh Lee. Emilia berharap misi ini akan berhasil. Ketika Emilia melangkahkan kakinya menuju ke toilet. Ada pelayan yang sedang mengetuk pintu. Emilia segera menuju ke sana dan membukanya, "Ada apa?"
"Ada tuan Candra di bawah sana," jawab pelayan itu dengan jujur.
"Suruh tunggu di bawah sana!" perintah Emilia.
Pelayan itu segera pergi dan meninggalkan Emilia. Lalu Emilia memutuskan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah selesai Emilia menemui Candra di bawah.
"Ada apa datang sepagi ini?" tanya Emilia.
"Apakah kamu ingin membalas dendam atas kematian adik kamu?" tanya Candra balik.
"Ya… aku ingin membalas dendam atas kematian Alicia," jawab Emilia.
"Kalau begitu aku pinjamkan pasukan khususku. Kamu bisa memakainya hingga enam pilar utama mati," saran Candra.
"Aku memang ingin membunuh enam pilar utama. Kamu tahukan kalau enam pilar utama itu dilindungi oleh singa betina itu," ujar Emilia.
"Ya… aku tahu itu. Makanya aku meminjamkan mereka untuk memburu singa betina itu. Jika kamu berhasil membunuh singa betina. Maka bawakan aku kepalanya!" perintah Candra dengan serius.
"Kalau begitu baiklah. Aku menerima bantuan itu," kata Emilia yang menyetujui alasannya.
Jakarta Indonesia.
Erra yang selesai memeriksa dokumen-dokumen hanya bisa menghela nafasnya. Erra teringat akan Lee suka berseliweran di ruangan itu. Erra memang sengaja mengerjai Lee. Akan tetapi Lee tidak pernah marah sama sekali. Bahkan Lee berhasil meruntuhkan sifat arogan milik Erra.
Di ruangan sebelah Garda yang selesai membersihkan mejanya melihat jam di tangan. Garda bergegas berdiri. Setelah berdiri Garda merasakan perasaannya tidak enak, "Kok tiba-tiba saja perasaanku enggak enak sih?"
__ADS_1