
Masih episode Garda Prayitno alias Brucce Sebastian.
Garda yang tubuhnya melemah segera masuk ke lobi apartemen. Garda segera naik ke lantai delapan sambil merasakan tubuhnya hangat. Garda tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini tubuhnya melemah.
Ting.
Garda keluar dari lift lalu menuju ke unitnya Arini. Sambil berjalan Garda merasakan tubuhnya semakin lemah. Lalu Garda menemukan unit apartemen Arini sambil membuka kenop pintu. Ia mengerutkan keningnya sambil berkata dalam hati, "Kenapa enggak dikunci!"
Garda masuk ke dalam dan menutup pintu. Matanya mulai mengecek ruangan agar memastikan bahwa tidak ada orang sama sekali. Lalu Garda mendekati sofa panjang dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Arini yang selesai mandi segera keluar dari toilet. Dengan cepat Arini memakai baju dan menuju ke ruang tamu. Saat mandi tadi Arini mengingat pintu tidak terkunci. Lalu Arini bergegas menguncinya.
Ketika sedang menoleh Arini terkejut. Arini melihat seorang pria yang sedang tertidur pulas. Arini mendekatinya lalu jongkok. Arini menyunggingkan senyumnya sambil berkata dalam hati, "Ternyata Kak Garda sangat tampan sekali jika tertidur seperti ini."
Tak sengaja tangan mungilnya terulur ke wajah Garda. Arini merasakan suhu tubuh Garda yang panas. Arini cepat-cepat membangunkan Garda dengan lembut, "Kak... Kak Garda."
Garda membuka mata lalu melihat wajah Arini. Kemudian Garda bangun, "Bolehkah aku menginap disini?"
"Boleh," jawab Arini. "Kakak sakit?"
Garda menganggukan kepalanya dan tidak menjawab. Arini bergegas berdiri sambil berkata, "Lebih kakak ke kamar dan berbaring. Setelah itu kakak istirahat."
Garda beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar Arini. Sementara itu Arini mulai mengikutinya dan memastikan tidak terjadi apa-apa. Ketika tiba di kamar Garda langsung berbaring sambil menatap Arini dengan sikap yang keibuan.
"Apakah Kak Garda sudah makan?" tanya Arini.
"Belum," jawab Garda.
"Kalau begitu aku buatin bubur ayam ya," ucap Arini.
"Baiklah," balas Garda.
Sebelum keluar dari kamar Arini menarik selimut Garda. Kemudian Arini pergi ke dapur untuk memasak. Arini jago sekali memasak bubur karena dulu sering membuat untuk Lee. Saat jatuh sakit Arinilah yang membuat makanan buat Lee. Bahkan Arini sendiri yang terjun ke dapur guna memastikan aman dan terjamin.
__ADS_1
Di tempat lain Bayu yang bersama Rani sedang duduk di gazebo. Mereka menikmati teh hijau. Tak sengaja Rani melihat Bayu dan berkata, "Musuh semakin gencar melakukan teror."
"Biarkan saja. Mereka hanya bisa berkoar-koar. Coba saja kalau bertemu dengan Lee," sahut Bayu yang sedang memakan snack.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Rani.
"Mencari bukti terlebih dahulu," jawab Bayu.
"Apakah bukti itu bermanfaat bagi kita?" tanya Rani.
"Tidak sepenuhnya. Kamu tahu Candra sangat licik sekali. Dia akan melakukan berbagai cara agar bisa memenangkan pertempuran. Kita punya banyak bukti lalu disebarkan ke media agar seluruh penduduk bumi ini akan tahu siapa itu Candra atau Adam," jawab Bayu.
"Semua ini mengandung resiko. Kalau kita berbuat baik tanpa ada kecurangan sedikitpun pastinya semua aman. Jika kita berbuat seperti Adam atau Candra bisa dipastikan mereka akan jatuh. Kita tidak akan membiarkan begitu saja. Kalau kita membiarkan akan banyak korban berjatuhan," sahut Caroline yang membawa coklat bersama Andi.
"Hari ini Candra sudah melakukan kecurangan pada lawan bisnisnya. Yaitu menipu perusahaan yang sedang berkembang dengan iming-iming investasi dalam jumlah besar. Sang kaki tangan Candra berhasil menerkam mangsanya," tambah Caroline.
"Apakah kita harus membuat perusahaan fiktif?" tanya Rani.
"Tidak perlu. Lebih baik kita mengincar Gerry sang kaki tangannya," jawab Caroline. "Kita tunggu Lee pulang ya."
"Ah... Itu benar. Sudah seharusnya yang lain ikut bekerja sama. Kita harus melibatkan mereka," imbuh Bayu.
"Kira-kira siapa yang pantas melakukan ini?" tanya Rani.
"Kemungkinan besar Nanda atau Sam. Mereka berwajah tengil tapi otak licik," jawab Andi.
Mereka tersenyum manis ketika Nanda dan Sam menjebak Gerry. Mereka akan tertawa tidak bisa membayangkan bagaimana itu terjadi.
"Kalau begitu tunggu Nanda menyelesaikan di perusahaannya," balas Bayu.
Imam yang berada di mansion sedang bermain dengan Raka. Imam tersenyum melihat Raka yang mengoceh. Sedangkan Suci dan Mama Widya sedang memasak makan malam. Kedua wanita itu sangat kompak sekali ketika memasak.
Beberapa saat kemudian datang Irwan. Lalu Irwan tidak sengaja melihat Imam yang sedang bermain dengan sang cucu. Betapa bahagianya hati Irwan karena sang putra sangat menyayangi darah dagingnya.
__ADS_1
"Apakah kamu sangat menyayangi Raka?" tanya Irwan yang duduk di bawah bersama Imam dan Raka.
"Aku sangat menyayanginya pa. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya diriku ketika memiliki seorang putra yang sangat lucu sekali," jawab Imam.
"Syukurlah. Papa kira kamu enggak mau terima Raka," ujar Irwan.
"Setelah Lee bercerita tentang kejadian itu aku ingin menemui Raka. Mungkin peristiwa itu aku bisa membuka hatiku," ucap Imam dengan bahagia.
"Apakah kamu sudah melupakan Giselle?" tanya Irwan yang ingin mendapatkan jawaban dari Imam.
"Bukannya papa tahu kalau Gisele sudah meninggal?" tanya Imam.
"Papa tahu itu. Papa hanya tanya sama kamu," jawab Irwan. "Apakah di hatimu masih ada nama Gissele?"
"Sudah tidak. Semenjak ketahuan selingkuh dengan Aldi, hatiku sudah membeku," jawab Imam.
"Apakah kamu mencintai Suci?" tanya Irwan.
"Ya... Aku sangat mencintai Suci. Dialah seorang wanita yang telah memberikan replika diriku," jawab Imam sambil menunjuk Raka.
"Kalau begitu cintailah Suci. Jangan kecewakan Suci. Karena Suci akan membimbingmu untuk menjadi pria baik," kata Irwan yang tersenyum manis.
"Apakah papa menerimanya untuk menjadi bagian dari keluarga ini? Papa tahukan kalau Suci dari kalangan biasa," tanya Imam.
"Papa enggak peduli dengan strata sosial. Mau dari kalangan bawah atau atas setara sama kita. Kalau tidak baik buat kamu papa tidak mengijinkan kalian menikah. Yang penting tulus dan saling mencintai satu sama lain," jawab Irwan yang mau menerima calon menantu dari kalangan manapun.
"Terima kasih pa... sudah memberikan aku kebebasan untuk memilih pasangan. Kelak jika Raka dan adik-adiknya sudah dewasa aku akan membebaskan mereka memilih pasangan hidup sesuai dengan kriterianya masing-masing," ujar Imam yang paham akan Irwan.
"Jadilah ayah yang baik. Jangan mentang-mentang kamu CEO lalu seenaknya kamu menentukan jodoh anak-anakmu. Papa enggak mau ada pernikahan politik yang sengaja mengambil keuntungan dari peristiwa ini," sambung Irwan yang tidak menyukai dengan pernikahan politik.
"Bagaimana dengan Lee dan Erra? Apakah mereka bisa dikatakan dengan pernikahan politik?" tanya Imam.
"Ya enggaklah. Mereka saling mencintai sejak kecil. Berawal Erra yang sudah mengikat Lee dalam kandungan mamanya. Erra bersumpah akan menjadikan Lee sebagai istrinya. Dan kenyataannya semua terjadi," tambah Irwan.
__ADS_1
"Semoga adik kecil berbahagia dengan Erra," ucap Imam dengan tulus.
"Amin," balas Irwan dengan tulus.