
"Itu terserah kamu. Semuanya tidak ada yang memaksa, siapa saja yang ingin masuk ke sana. Para papa juga tidak akan memaksa kamu masuk ke sana. Yang penting kamu dituntut untuk menjadi ahli waris Sebastian," jawab Nanda.
"Kalau begitu aku akan masuk ke sana. Demi menjaga perdamaian diantara dunia bisnis dan dunia bawah tanah. Sekalian berjaga-jaga untuk melindungi keenam perusahaan yang sudah ada berdiri sejak lama," jelas Garda.
"Aku harap kamu tidak keberatan dengan semua ini. Bukankah kita dilahirkan untuk menjadi ahli waris sesungguhnya di enam pilar utama? Kemungkinan besar akan bertambah lagi satu atau dua pilar utama," ucap Nanda.
"Siapa saja mereka?" tanya Garda sambil meraih ponselnya.
"Aku belum tahu itu," jawab Nanda.
"Kemungkinan besar Adam akan bergabung menjadi satu pilar selanjutnya. Yang satunya aku belum tahu siapa. Semoga saja kita bisa akur selamanya hingga memiliki banyak keturunan," ucap Nanda yang melihat banyaknya pesan dari Angela
"Aku pun sama. Bukankah besok adalah pernikahan Gerry?" tanya Garda.
"Aku tidak bisa datang. Aku sudah menitipkan banyak hadiah ke para pengawal yang diutus oleh Papa Bayu ke sana. Aku harap Gerry bisa bahagia selamanya dengan istrinya itu," jawab Nanda sambil melihat pesan yang kocak dari Angela.
"Setiap masalah pasti ada hikmahnya jika sudah selesai. Kita dituntut untuk menjadi manusia menjadi dewasa," lontar Garda yang membuat Nanda mengangguk tanda setuju.
"Kamu benar. Aku berharap tidak akan ada lagi peperangan dan pertengkaran hanya demi menjadi sok hebat dan berkuasa. Sudah cukup kita harus membuat dunia ini menjadi aman damai dan sejahtera," sahut Nanda.
"Kalau begitu ayo kita pulang ke rumah papa Andi!" ajak Garda.
"Sebenarnya aku malas sekali Jika pulang ke rumah Papa Andi yang berada di Bangkok. Aku lebih memilih memesan kamar hotel," ucap Nanda yang masih santai dalam posisinya itu.
"Kenapa kamu tidak ingin pulang ke sana? Biasanya kamu sering menginap di sana jika ada tugas di Bangkok," tanya Garda.
"Kamu tahu rumah itu sangat kecil sekali. Rencananya rumah itu papa Andi ingin sekali membawa kalian untuk berlibur ketika libur sekolah. Tapi semenjak peristiwa kamu menghilang serta mama. Papa Andi mengurungkan niatnya. bahkan kami semua sangat sedih sekali melihat keadaan papa Andi seperti mayat hidup," jelas Nanda yang membuat Garda bersedih.
Nanda merasakan Garda bersedih. Lalu pria bertubuh kurus itu pun menatap sang sahabat tersenyum manis. Kemudian Nanda menepuk bahu Garda, "Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kamu tahu kenapa hidupmu seperti itu? Kamu adalah orang pilihan dan sang pencipta membuat kamu lebih dewasa untuk menghadapi hidup."
"Cukup sedih sih. Tapi aku sangat bersyukur sekali ketika bertemu dengan Erra. Memang sudah ditakdirkan jalan hidupku begini. Aku sangat bersyukur sekali karena Tuhan membuatku menjadi dewasa," ujar Garda yang sangat bersyukur sekali atas hidupnya.
__ADS_1
Lalu Nanda melihat jam di ponselnya itu. Malam semakin larut Nanda sudah menguap. Dirinya semakin mengantuk dan berdiri.
"Ayo kita pesan kamar hotel. Aku sudah mengantuk sekali," ajak Nanda yang membuat Garda berdiri dan mengikutinya.
Kedua pria itu memutuskan untuk pergi ke hotel depan. Mereka memasuki lobi dan memesan satu kamar hotel saja dengan dua ranjang. Setelah memesan mereka memutuskan untuk pergi ke kamar. Di sana mereka langsung beristirahat.
Di tempat lain, Imam bersama Irwan sedang bermain kartu. Kedua pria berbeda generasi itu saling mengobrol. Lalu Irwan menatap Imam sambil bertanya, "Apakah kamu masih menjalankan profesi doktermu itu?"
"Kenapa pa? Sebenarnya aku bukan dokter. Aku hanya asisten Papa Saga. Yang di mana aku selalu mengikuti papa Saga demi menciptakan obat-obatan herbal maupun kimia yang bisa menyembuhkan manusia," jawab Imam.
"Kalau begitu ya sudahlah. Tapi ingatlah Kamu adalah seorang ahli waris Pradipta. Cepat atau lambat kamu akan menduduki jabatan CEO," ucap Irwan yang memperingatkan Imam.
"Aku tahu itu pa. Cepat atau lambat aku akan ke sana. Tapi pa?" tanya Imam.
"Tapi apa?" tanya Irwan sambil memegang kartunya itu.
"Bisakah aku membuat apotek untuk menjual obat-obatan herbal?" tanya Imam dengan serius.
"Kalau kamu membukanya. Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Irwan dengan serius.
"Terus bahan-bahannya dari mana? Apakah kamu membeli barang-barang itu dari pasar?" tanya Irwan yang tidak mengerti dengan pikiran Sang putra.
"Berang-berangnya aku ambil dari tanaman yang sudah ditanam. Kemungkinan besar aku akan meneliti bahan-bahan itu yang tumbuh liar di kebun Pradipta. Di situlah aku bisa berkreasi dan menentukan obat apa yang cocok dengan penyakitnya," jawab Imam yang menjelaskan rencana selanjutnya.
"Lakukanlah apa maumu. Selagi rencanamu itu sangat bagus sekali buat makhluk hidup di muka bumi ini," ujar Irwan yang mendukung keputusan Sang putra.
"Terima kasih Pa. Yang sudah mendukung keputusan aku. Aku akan berusaha menjadi seseorang yang berguna bagi seluruh makhluk hidup di muka bumi ini," balas Imam sambil tersenyum manis.
"Apakah kamu tidak rindu kepada Suci?" tanya Irwan.
"Sangat rindu. Besok kita akan pulang ke Jakarta. Aku harap Suci tidak akan melupakanku," jawab Imam sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Ternyata kamu benar-benar sangat mencintainya. Sebentar lagi kalian akan menikah dan memiliki anak yang kedua. Papa ingin hubungan pernikahan kalian tidak dibuat main-main," pesan Irwan.
"Terima kasih Pa," ucap Imam.
"Kalau begitu ayo kita beristirahat. Papa sudah mengantuk sekali!" Ajak Irwan yang menaruh kartu itu di atas meja.
"Oke Pa. Aku akan menyusul sebentar lagi," sahut Imam yang membereskan kartu-kartu di atas meja.
Keesokan paginya. Lee sudah terbangun dari tidurnya. Ia menatap wajah kedua para mama yang sedang bermain ponsel. Lalu ia menyapa para mama, "Selamat pagi mama."
"Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu? Enak tidak?'' tanya Caroline sambil menaruh ponselnya di atas nakas.
"Sangat enak sekali Ma. Aku rasa tidurku kali ini sangat nyenyak sekali," jawab Lee.
"Syukurlah kalau kamu nyenyak. Papa jadi mengirimkan pesan. Jika kamu sudah bangun temui para papa. Papa akan berbicara sama kamu," pesan Rani.
"Baiklah. Aku akan mencuci wajahku terlebih dahulu. Aku tidak akan menemui Papa dengan wajah yang masih aroma bantal ini. Rasanya aku sangat bersemangat sekali hari ini," sahut Lee yang pelan-pelan sekali turun dari ranjang.
"Kamu benar," sahut Caroline.
"Memangnya apa yang akan dibicarakan oleh para papa?" tanya Lee.
"Kakak tampanmu ingin sekali pulang ke Jakarta. Dia meminta para papa untuk melakukan sesuatu agar kamu ikut pulang juga. Mau tidak mau kamu sama kakak tampanmu agar ikut pertemuan bersama Papa Saga dan juga Imam," jawab Rani.
"Baiklah. Aku harap ada berita baik. Soalnya aku sendiri sudah rindu dengan keadaan kota Jakarta. Rasanya aku ingin memakan ketoprak milik Pak Wanto di depan kantor Asco," ucap Lee yang semakin semangat dan masuk ke dalam toilet.
"Tumben kamu suka ketoprak?" tanya Rani yang bingung dengan Lee.
"Oh itu," jawab Lee lalu keluar lagi dari toilet. "Ada filosofinya aku suka ketoprak."
"Memangnya ada ya filosofi kamu makan ketoprak?" tanya Caroline.
__ADS_1
"Ada Ma. Semuanya itu gara-gara Kak Garda. Dulu memang aku tidak suka. Setelah dibelikan sama Kak Garda. Aku jadi suka sekali makan ketoprak," jawab Lee.
"Pasti kamu dipaksa ya sama Kak Garda?" tanya Caroline sambil tersenyum manis.