
"Helo... Candra,” sapa Lee dengan lembut. Candra segera menutup pintunya dan menguncinya.
Candra enarik naafasnya terlalu berat. Ia merasakan tubuhnya mulai melemah. Keringat dingin akhirnya keluar dari dalam tubuhnya. Lalu pria yang sudah tua itu akhirnya duduk di tepi ranjang.
“Ka... ka... ka... kamu belum mati?” tanya Candra dengan nada bergetar.
“Iya.... aku belum mati. Aku masih hidup dan sedang berbicara pada kamu,” jawab Lee dengan suara renyahnya.
“Bukannya para mafia memburu kamu?” tanya Candra lagi.
“Ah... mana ada pada mafia sekarang sedang memburu aku?” tanya Lee dengan tertawa.
“Ya... mereka sedang memburu kamu tahu!” geram Candra yang membuat Lee semakin semangat untuk mengerjainya
“Eh... jangan terlalu menggeram seperti itu. Aku takut nanti penyakit jantungmu kumat lalu lewat,” ejek Lee yang melihat Erra tertawa.
“Kamu tahu kalau aku memiliki penyakit jantung?” tanya Candra.
“Iyalah. Aku tahu segalanya,” jawab Lee dengan nada sombong.
“Dasar singa betina!” teriak Candra.
Lee tertawa terbahak-bahak karena Candra. Entah kenapa percakapan ini sungguh sangat seru. Bahkan Lee yang notabenenya adalah gadis dingin ketika bertemu musuh, malah sangat akrab.
“Candra,” panggil Lee dengan lembut.
“Ada apa?” tanya Candra yang mulai curiga.
“Aku ingin bicara sama kamu. Tapi kamu harus mendengarkannya baik-baik. Begini... para karyawan dan karyawati sangat berterima kasih kepadamu. Matanya mereka Anda adalah seorang pria yang sangat dermawan,” puji Lee.
“Memang aku adalah pria yang sangat dermawan. Aku sering membantu para korban bencana alam, kelaparan dan apa lagi ya... ah... yang penting judulnya dermawan,” jelas Candra dengan sombong.
“Mereka sangat berterima kasih karena Anda telah melunasi hutang-hutangnya,” kata Lee dengan sopan tapi dalam hatinya mengejek.
“Maksudnya apa?” tanya Candra yang mulai curiga.
__ADS_1
“Nanti aku kirimkan ratusan kota pembayaran di setiap bank yang menerima pembayaran anda,” ujar Lee.
Tubuh Candra mulai bergetar karena ulah Lee. Kepalanya mulai pusing dan matanya mulai berkunang-kunang. Nafasnya mulai tersengal lalu suaranya sangat berat.
'Apa maksud kamu singa betina?” tanya Candra.
“Inilah balas dendam yang sangat indah buatku hari ini. Karena setelah sekian lama aku ingin membalas dendamku. Apakah kamu ingat tentang kecelakaan mobil yang kamu lakukan?” tanya Lee yang mengingatkan kejadian di masa silam.
“A... a... a... aku enggak tahu,” jawab Candra.
“Kamu memang enggak tahu. Kamu lupa dengan kejadian masa silam. Coba kamu ingat kecelakaan yang menewaskan seorang wanita dan anak laki-laki yang bernama Brucce Sebastian?” tanya Lee yang mulai membuka tabir masa lalunya.
Mata Chandra membulat sempurna. Ia mulai mengingat kejadian di masa lalu saat kecelakaan itu. Lalu ia lupa, siapa yang dibunuhnya? Ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak ingat.”
“Tumben kamu enggak ingat. Aku jelaskan siapa yang berada di dalam mobil itu. Dia salah kakakku yang bernama Brucce Sebastian dan wanita yang sedang menyetir adalah mamaku yang bernama Kartika Putri Alamsyah. Dan nama papaku adalah Andi Sebastian. Yang di mana Andi adalah salah satu anggota enam pilar utama. Apakah kamu paham?” tanya Lee dengan tegas.
“Aku tidak percaya itu!” teriak Candra.
“Enggak percaya juga enggak apa-apa. Aku juga enggak terlalu terpengaruh soal itu,” ujar Lee. “dan kamu tahu kalau aku singa betina adalah putri dari Andi Sebastian. Yang di mana Andi telah menyembunyikan idenditasku agar kamu leluasa mencari keberadaan kamu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan mamanya.”
“Sialan lu! Gue kasih hidup!” bentak Candra.“Sabar... jangan berteriak seperti itu. Kamu tahu enggak orang yang memiliki penyakit jantung tidak boleh tegang. Aku saranin agar kamu tersenyum,” saran Lee. “Tapi mereka sudah ketemu kok. Mereka sudah berada di sekitarku. Oh... ya... uang kamu sebanyak tiga puluh milyar dolar sudah dibuat membayar seluruh hutang-hutang karyawan> Kalau begitu semua urusan kini telah selesai.”
“Apa!” pekik Candra.
“Iya... mereka sangat terima kasih atas bantuan Anda,” jawab Lee. “Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan maka lihatlah email kamu.”
“Kamu jangan bohong soal itu!” gertak Candra.
“Aku tidak bohong. Aku jujur mengatakannya kepadamu. Jika kamu tidak percaya maka segera cek rekening kamu!” seru Lee dengan nada melengking.
Pria paruh baya itu segera mengambil tabnya di atas nakas. Ia segera membuka aplikasi m-banking dan melihat saldo yang sudah berkurang cukup banyak, Matanya membulat seakan ingin keluar dari tempatnya. Candra sudah tidak kuat lagi merasakan jantungnya yang seakan berhenti berdetak.
“A... a... a... a... a... kan... a... ku... bu... nuh... ka.. ku... si... nga...be... ti... na...,” lirih Candra sambil merasakan sesak nafas dan jantungnya berderak lebih kencang.
“Lakukanlah sesukamu. Aku sudah tidak perduli dengan ancaman kamu!” jelas Lee yang malas dengan Candra.
__ADS_1
Sambungan terputus.
Seketika Candra telah kehilangan oksigen di ruangannya itu. Ia seakan-akan ingin berteriak namun tidak bisa. Jantungnya memaksa untuk bekerja terlalu keras. Candra tidak bisa menerima kenyataan ini.
Detik-detik Candra di ambang kematian masih sempat mengatakan bahwa enam pilar utama menang. Ia tidak akan mengganggu lagi kehidupan enam pilar utama mulai saat ini. Matanya mulai menutup perlahan dan mulutnya seakan ingin memanggil seseorang. Namun mulutnya rasanya keluh.
“Kalian menang!” ucap Candra dalam hati sambil menutup matanya.
Setelah mengobrol bersama Lee, akhirnya Candra menghembuskan nafasnya. Hari ini Candra telah menghembuskan nafasn terakhirnya dan seluruh pengawal belum ada mengetahuinya.
New York City.
“Lee,” panggil Garda sambil mengetuk pintu.
“Iya kak,” sahut Lee yang memakai baju.
“Kamu lagi apa?” tanya Garda.
“Sebentar!” teriak Lee.
Beberapa saat kemudian Erra membuka pintu dan melihat Lee. Ia segera mendekatinya sambil mencium aroma pemilik tubuh mungil itu, “Kamu mau ke mana?”
“Aku ingin ke pusat perbelanjaan bersama Kak Garda untuk memburu diskon midnight sale yang akan dilaksanakan malam ini. Aku ingin membeli baju untuk para pelayan. Kakak tahukan kalau bulan depan sudah memasuki akhir tahun?’ tanya Sascha.
“Oh... ya udah dech... kita ke sana bersama. Aku juga ingin membelikan hadiah untuk akhir tahun. Aku harap Garda tidak marah,” celetuk Erra.
“tidak akan mengamuk. Lagian juga kita perginya rame-rame. Ngapain juga harus marah?” ujar Lee.
“Keluarlah terlebih dahulu. Nanti aku segera menyusul kalian,” pinta Erra.
“Apakah kamu tidak cemburu sama kak raksasa?” tanya Lee yang meledek Erra lalu pergi meninggalkan Erra.
“Hmmp... sepertinya kamu harus diberikan hukuman agar tidak nakal,” ucap Erra yang menyunggingkan senyumannya.
“Hukuman apa?” tanya Lee.
__ADS_1