
"Apakah ada Tuan besar dan tuan muda di dalam?" tanya Lee.
"Mereka sedang latihan menembak," jawab pengawal itu.
"Baiklah kalau begitu," balas Lee. "Lalu nyonya?"
"Nyonya sedang menjadi juri," jawab sang pengawal.
"Apakah itu benar? Ah... Rasanya aku sudah lama tidak memegang senjata," ucap Lee.
Para pengawal itu langsung bergidik ngeri. Mereka takut jika Lee memegang senjata. Sedangkan Lee menarik tangan Erra dan mengajaknya masuk ke dalam, "Ayo kak. Aku ingin ikut lomba menembak."
"Apa?" pekik Erra.
"Kenapa kakak kaget?" tanya Lee.
"Ah... Enggak... Aku merasa ada yang aneh saja," jawab Erra.
"Aneh bagaimana? Apakah kakak lupa kalau aku adalah ketua dari fields of despair?" tanya Lee.
"Oh... Ya maaf aku lupa," jawab Erra yang tiba-tiba saja mendadak lupa kalau Lee adalah ketua dari pasukan khusus White Eragon. "Tapi kan di sini kita numpang makan."
"Oh... Iya sih... Maaf aku lupa. Ayo masuk! Aku sudah lapar!" titah Lee.
Lee mengajak Erra masuk ke dalam. Lalu Lee melihat lampu masih menyala. Kemudian Lee melihat Garda dengan wajah memelas.
"Kenapa kak?" tanya Lee yang mengerutkan keningnya.
"Papa curang ketika ada perlombaan menembak," jawab Garda yang malas.
"Aish... Hanyalah beberapa orang yang bisa melihat kecepatan peluru dari papa," ucap Lee.
"Apa?" pekik Erra. "Memangnya Papa Andi adalah seorang sniper?"
"Hmmp... Tidak. Papa memang jago kalau lagi menembak," jawab Lee.
"Aku memang jago main pistol. Kamu tahu Nanda... Nanda adalah muridku," sahut Andi.
Mata mereka membulat sempurna. Bagaimana bisa mereka tidak tahu kalau Andi adalah gurunya Nanda. Mereka akhirnya terdiam dan menggelengkan kepalanya karena tidak percaya. Lalu Lee menekuk wajahnya sambil berkata, "Aku tidak percaya."
__ADS_1
"Kalau kamu tidak percaya telepon Nanda," suruh Andi.
"Kenapa papa tidak mengajariku sih?" tanya Lee.
"Kamu bisa kok dari kecil. Kenapa minta diajarin segala," jawab Andi.
"Ketimbang kamu meminta papa mengajari kamu menembak. Suami kamu jago menembak. Minta ajari gih," usul Garda yang memang mengakui kelebihan Erra.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Andi.
"Kami numpang ingin makan," jawab Lee.
"Ke dapur sana. Mamamu sudah masak rendang," ujar Andi yang menyuruh Lee makan.
"Darimana kamu hingga malam ini belum makan?" tanya Garda.
"Habis menyelesaikan kasus Suci," jawab Lee.
"Apakah ada titik terangnya?" tanya Andi.
Lalu Lee bercerita tentang kasus Suci dari awal. Lee juga tidak menutupi kenapa Suci hingga trauma kepada pria. Hingga Andi paham apa yang diceritakan oleh Lee.. Andi sempat tidak percaya apa yang didengarnya itu. Dibalik kejadian itu Andi bersyukur karena sang putri semakin dewasa untuk menengahi masalah. Selesai bercerita mereka akhirnya menuju dapur dan mengambil makan.
Saat melihat rendang Lee tersenyum manis. Entah kenapa Lee teringat akan pertengkarannya dengan Erra ketika masih kecil. Lee memandang wajah Erra sambil mengingatkan masa lalunya itu, "Apakah kakak tampan masih ingat ketika kita bertengkar gara-gara rendang?"
"Maafkan aku. Aku memang sengaja mengambilnya karena kamu tidak bisa memakan," ucap Erra.
"Tak apa. Memang saat itu gigiku masih belum kuat untuk makan daging. Jika kita memiliki anak cerita itu akan menjadi yang terindah," jawab Lee.
"Kamu tahu, kenapa aku mengambil daging kamu?" tanya Erra.
"Tak tahu," jawab Lee.
"Aku ingin melindungi gigimu. Aku tahu kamu sangat membenci ketika gigimu sakit," jawab Erra.
Lee terdiam dan memandang wajah Erra. Lee semakin jatuh ke dalam hati Erra. Dari kecil memang Erra sangat memperhatikan Lee. Wanita mana yang tidak mau mendapatkan perhatian dari pria tercintanya. Pasti semua wanita juga mau. Bahkan perhatian kecilpun wanita itu akan sangat bahagia sekali.
Tak sengaja Andi dan Caroline melihat anak dan menantunya sangat akur. Mereka tersenyum bahagia. Akhirnya mereka lega dan pergi meninggalkan anak mantunya itu. Sesampainya di kamar Caroline menitikkan air matanya. Terkadang di dalam hati Caroline ada sedikit penyesalan karena tidak bisa melihat Lee tumbuh menjadi seorang wanita yang baik.
Andi yang melihat Caroline menyesal langsung memeluk tubuh mungil Caroline. Andi mengelus punggung Caroline dengan lembut sambil berkata, "Janganlah kamu menyesali tentang kehidupanmu itu setelah kecelakaan itu. Kamu tahu inilah takdir yang harus kita jalani. Begitu juga dengan Lee. Adanya peristiwa ini Lee menjadi wanita tangguh dan tidak bisa dikalahkan sama sekali. Seluruh musuh di dunia ketakukan. Jika Lee sudah mengamuk. Aura yang terpancarkan keluar dengan sendirinya."
__ADS_1
Tika paham apa yang dikatakan oleh Andi. Dibalik kejadian itu Tika bisa mengambil hikmahnya. Kemudian Tika membisiki sesuatu di telinga Andi, "Ayo kita main kuda-kudaan."
Seakan mendapat angin segar Andi tersenyum bahagia. Andi menggendong tubuh Caroline dan membaringkannya di atas ranjang. Namun sebelum melakukan ritual ranjangnya Caroline mengingatkan sesuatu kepada Andi. Agar bermainnya jangan terlalu agresif. Lalu Andi mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Tika.
"Ada apa?" tanya Andi.
"Enggak... Aku hanya mengingatkan kalau kamu memiliki penyakit encok," jawab Caroline.
Andi mengepalkan tangannya sambil membatalkan keinginannya untuk tidak menyentuh Caroline. Andi sangat kesal sekali karena akhir-akhir ini. Ketika pertengahan puncak Andi merasakan punggungnya encok. Kemudian Andi memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya di sebelah Caroline.
"Kenapa?" tanya Caroline.
"Aku harus mencari dokter untuk mengobati sakit encokku," jawab Andi.
"Kenapa kamu enggak pergi ke Saga?" tanya Caroline.
"Kamu benar. Aku harus ke sana untuk mencari solusi yang tepat," jawab Andi.
Selesai makan Lee mengajak Erra masuk ke dalam kamarnya. Erra tersenyum dan menghempaskan tubuhnya di ranjang Lee, "Tidurlah."
"Baik kak," jawab Lee.
Di markas Saga, Sam, Nanda dan March sedang berkumpul. Mereka membicarakan tentang ke depannya dan nasib White Eragon bagaimana setelah penggabungan dengan Black Dragon?
"Akhir-akhir ini Erra ingin menggabungkan Black Dragon dengan White Eragon. Bagaimana menurut papa?" tanya Sam.
"Menurutku bagus. Kamu tahu yang kami sesali kenapa Erra dari dulu tidak memegang langsung White Eragon? Kenapa juga harus membuat organisasi lainnya," jawab Saga.
"Iya ya... Papa benar. Seharusnya Erra langsung menjabat dan menggantikan posisi papa Bayu," ucap Sam.
"Dan kalian sebagai gantinya akan menduduki jabatan para papa masing-masing di posisi yang sudah ada," tambah March.
"Terus kalau kami duduk di kursi sana, para papa ngapain?" tanya Nanda.
"Pensiun," jawab Saga.
"Belum saatnya pensiun. Kalian harus membantu mereka menghancurkan semua musuh bawah tanah," sahut Fendy yang berdiri di ambang pintu.
"Apa-apaan kamu Fendy?" tanya March yang kesal.
__ADS_1
"Bayu pernah memberikan sebuah perintah agar kalian tidak melakukan pensiun dini. Meskipun para anak-anak yang menjabat di White Eragon. Karena Candra dan Adam sangat licik dan licin bagaikan belut," jawab Fendy.
"Apakah benar seperti itu?" tanya March.