Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 189


__ADS_3

Candra mengangkat ponselnya sambil menyapanya, "Hallo."


"Hallo Candra Malik sialan. Apakah kamu sudah menerima mayatnya Thomassen?" tanya Lee. 


"Maksudnya apaan?" tanya Candra. 


"Kamu enggak paham apa maksudnya?" tanya Lee balik. 


"Kamu siapa!" tanya Candra dengan suara meninggi. 


"Oh… apakah kamu lupa siapa aku! Bukannya kamu sudah mengenalku?" jawab Lee. "Ah… iya… aku lupa. Aku berbicara pada kakek Candra. Kalau orang yang sudah menjadi kakek memorinya akan menurun. Bahkan lupa dengan suaranya singa betina yang sangat krunchy itu."


Mata Candra membulat sempurna. Bagaimana bisa nomor Thomassen berada di tangan Lee? Tak lama Candra berjalan mendekati Gerry lalu berhenti. Candra jongkok sambil melihat wajah Thomassen yang terbujur kaku di kantong mayat itu. Mata Candra membulat sempurna sambil tubuhnya bergetar. 


"Apakah kamu membunuhnya?" tanya Candra. 


"Tidak. Yang membunuh Thomassen adalah para pengawalku. Mereka sangat menyukai service dari Thomassen. Hingga akhirnya Thomassen kelelahan dan akhirnya mati," jawab Lee. 


Candra tidak pernah menyangka kalau para pengawal Lee sangat kejam sekali. Meskipun para pengawal Lee rata-rata perempuan kejamnya melebihi pria. 


Seketika tubuh Candra melemas. Candra tidak pernah berpikir jika melawan Lee imbasnya akan seperti ini. Bahkan Thomassen sang pembunuh berdarah dingin itu pun harus mati di tangan singa betina dengan cara yang mengenaskan. 


Bubur tidak akan menjadi nasi lagi. Begitu juga dengan nasib Thomassen yang sudah tidak bernyawa lagi. Setelah itu Gerry mendapat pesan email dari seseorang yang bernama Mr. Han. Gerry segera membuka email itu dan melihat sebuah video. Yang dimana video itu berisi markas kedua Black Lotus di Tottenham dilalap jago merah. Gerry memberikan ponselnya ke Candra. Setelah itu Candra meraih ponselnya lalu melihat markas kedua Black Lotus terbakar hebat. 


"Oh… ya… aku lupa. Apakah Mr. Han sudah mengirimkan sebuah video kepadamu?" tanya Lee. 


Candra merasakan tubuhnya limbung. Candra tidak menyangka kalau singa betina mulai mengaum. Itu hanya mengaum saja. Belum lagi kalau Lee sudah mengamuk habis-habisan. Bisa jadi Black Lotus habis dan lenyap di tangan Lee. 


"A… a… a… apakah kamu sudah gila menghancurkan markas itu?" tanya Candra. 


"Aku belum gila. Aku masih waras. Jika aku sudah gila ketika membakar markas utama kamu. Upz… aku lupa. Itu impian terbesar yang sedang aku rancang," jawab Lee yang sedikit membocorkan rahasia itu. 


Hati Candra meringis sambil merasakan kegilaan Lee. Candra hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Candra segera memutuskan teleponnya dan menatap kaki tangannya yang sangat disayanginya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ada sebuah mobil Van hitam berhenti di markas Candra. Lalu sang pengemudi mengambil sebuah kardus. Kemudian sang pengemudi itu menyodorkan kardus tersebut hingga membuat sang pengawal itu bingung. Dengan terpaksa Pengawal itupun mengambil paket tersebut.


Kemudian sang pengawal itu masuk ke dalam. Sebelum memberikan paket itu sang pengawal membungkukkan tubuhnya sambil menyapa, "Selamat siang tuan. Ada kiriman paket dari seseorang."


"Paket apa lagi?" tanya Candra yang mengerutkan keningnya. 


"Berikan kepadaku!" titah Gerry. 


Pengawal itu akhirnya memberikan paket tersebut ke Gerry. Kemudian Gerry meraih paket tersebut sambil mengusirnya, "Pergilah!" 


Akhirnya pengawal itu pergi dari sana. Gerry membolak-balikkan sambil melihat kardus tersebut, "Apakah tuan memesan barang?" 


"Minggu ini tidak," jawab Candra. 


Kemudian Gerry menaruh kardus itu sambil berkata, "Ini aneh. Jika tuan memesan sesuatu akan dikirim ke kantor. Tapi kenapa dikirim ke markas? Apakah Tuan meminta sampel senjata ke organisasi lainnya?"


"Bukalah! Jangan banyak bicara!" bentak Candra yang penasaran dengan isinya.


"Tu.. tu… tu…. Tuan Candra," panggil Gerry. 


"Apa itu?" tanya Candra yang berdiri. "Kenapa suaramu terbata-bata?"


Gerry memilih diam tanpa bicara. Gerry membiarkan Candra melihatnya. Lalu Candra mendekati Gerry dan matanya menuju ke arah paket tersebut. Candra terhenyak kaget kemudian jatuh dan matanya seketika buram. 


"Tuan Candra," pekik Gerry yang menolong Candra. 


Gerry berteriak dengan kencang sambil membuat para pengawal terkejut. Mereka masuk ke dalam dan menolong Candra. Sedangkan Gerry memanggil dokter pribadi Candra. 


Jakarta Indonesia. 


Irwan yang sedari tadi melihat kegiatan Candra dan Gerry hanya bisa mengerutkan keningnya. Irwan mengetahui kalau Candra mendadak pingsan. Irwan berspekulasi kalau Candra memiliki serangan jantung. Tak lama Imam datang sambil membawa dua cangkir teh hijau untuk Irwan. Imam menaruh gelas itu dan menghempaskan bokongnya. 


"Ada apa pa?" tanya Imam. "Kok sepertinya papa dengan bingung?" 

__ADS_1


"Papa sedari tadi melihat kegiatan Candra sialan bersama Gerry sang asisten bodohnya itu. Candra mendapatkan sebuah kiriman dari seseorang yaitu seperti kepalanya Emilia. Candra melihat kepala itu lalu jatuh dan menutup mata," jawab Irwan yang menjelaskan asal muasal dirinya bingung. 


"Pingsan… sepertinya Candra terkena serangan jantung mendadak," sahut Imam. 


Mereka berdua saling menatap dan baru mengetahui satu hal tentang Candra. Diam-diam Candra memiliki penyakit jantung. Yang dimana penyakit itu tidak pernah diekspos ke publik. Jika sampai diekspos ke publik bisa menjadi berita viral. 


Masih di dalam pesawat Erra melihat wajah Lee yang sedang sibuk melacak keberadaan Marvin. Lee mencoba mencarinya melalui nomor telepon yang dipakai Marvin. Lee menemukan sebuah titik koordinat di mana Marvin berada. Lee memperbesar titik itu sambil tersenyum, "Ah…. Akhirnya dapat juga Marvin."


"Ada berada dimana?" tanya Erra. 


"Apakah kakak percaya kalau Marvin tinggal di Amazon?" tanya Lee balik. 


"Kenapa enggak percaya?" tanya Erra lagi. "Semua orang bisa tinggal di sana. Ya… kalau kamu mau kita akan tinggal di sana."


"Maksudnya bukan itu kakak. Marvin tinggal di sebuah desa Kuikuro yang letaknya di Amazon," ucap Lee. 


"Oh… apakah kamu tidak mau tinggal di sana?" tanya Erra. 


"Ah… tidak. Aku lebih menyukai tinggal di Malang Jawa Timur atau Blora Jawa Tengah. Atau juga aku ingin membeli rumah di kaki Gunung Kelud," jawab Lee. 


"Kalau begitu kamu bisa memilihnya. Kita bisa hidup bersama tanpa ada gangguan siapapun," ucap Erra yang membayangkan hidup bahagia bersama Lee. 


"Aku berencana ingin merayakan malam tahun baru di bawah kaki Gunung Salak. Aku ingin menikmati keindahan alam. Dan buat bapak Erra aku mengajukan cuti selama sepuluh hari. Aku ingin memanjakan diriku di sana untuk menjadi orang desa," pinta Lee. 


Mata Erra berubah menjadi sendu. Entah kenapa Lee meninggalkannya begitu saja. Ingin rasanya Erra ikut bersama Lee. Tak lama Erra merubah dirinya menjadi anak baik. Erra memegang tangan Lee sambil bertanya, "Apakah mama tidak mengajakku? Bagaimana jika putramu ini akan melakukan hal gila di mansion?"


Jederrrrrrrrr. 


Lee terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Erra. Bagaimana bisa Erra mengatakan itu kepada Lee? Lee langsung menepuk jidatnya karena melihat Erra berubah menjadi anak baik. Seketika Lee menahan tawa karena ulah Erra. 


"Oh… semakin lama Erra semakin lucu sekali. Aku sangat mencintainya Tuhan," ucap Lee dalam hati. 


"Apakah mama akan mengajakku untuk liburan bersama?" tanya Erra sekali lagi. 

__ADS_1


__ADS_2