
"Baiklah. Aku antar sampai ke depan," ucap Fendi sambil beranjak berdiri.
Fendi akhirnya mengantarkan Adam dan Yoona keluar Mansion. Fendi sangat bahagia bisa bertemu dengan Adam maupun Yoona. Seandainya Candra masih ada, Fendi tidak segan-segan menyambut kedatangannya. Fendi adalah seorang pria yang tidak memiliki dendam kepada siapapun. Karena Sedari dulu Fendi sudah memiliki prinsip hidup yang kuat.Bahwa dendam tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Malah menimbulkan banyak masalah.
Sesampainya di depan mereka masuk ke dalam mobil. Fendi melemparkan senyum dengan bahagia. Sebelum mobil itu pergi, Fendi mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungannya. Sungguh indah hari ini buat Fendi. Fendi berharap Adam dan Yoona tidak akan memiliki dendam lain lagi terhadap enam pilar utama.
Teringat akan permintaan Adam, Fendi masuk ke dalam. Lalu Fendi meminta pengawal yang lewat untuk memanggilkan pelayan yang bernama Ita. Setelah memanggil pelayan itu, Fendi masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Sekilas Fendi melamun dan merasakan ada sesuatu dengan pelayan itu. Sedari dulu ia mulai curiga atas kedatangan pelayan itu. Lalu Fendi pun sering mencari informasi pelayan itu. Namun dirinya tidak mendapatkan apapun.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Seorang pelayan dengan wajah cantiknya menunduk sambil masuk ke dalam. Kemudian pelayan itu melihat Fendi sambil menahan kesedihannya. Melihat pelayan itu sedih, Fendi menyuruhnya duduk di hadapannya. Mau tidak mau pelayan itu akhirnya duduk.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Ita yang masih saja menunduk.
"Kamu tahu kenapa Aku memanggilmu?" tanya Fendi dengan nada tegas.
"Saya tidak tahu Tuan," jawab Ita. "Apakah saya melakukan kesalahan saat bekerja?"
"Tidak. Aku ingin bertanya dengan silsilah keluargamu. Kamu harus menjawabnya dengan jujur. Please jangan mempersulit dirimu di sini," jawab Fendi.
"Baik Tuan. Apa yang anda tanyakan kepada saya?" tanya Ita.
"Siapa nama ayah dan ibumu? Katakan dengan jelas," pinta Fendi.
__ADS_1
"Nama ayah aku adalah Chandra Malik. Nama ibu saya adalah Dewi Sanusi. Mereka sempat menikah lalu berpisah sudah lama. Di saat berpisah aku masih berusia tujuh tahun. Semenjak itulah aku sudah tidak pernah mengenal sosok ayah di hatiku. Sampai saat ini aku tidak pernah bertemu ayahku lagi," jawab Ita.
Fendi langsung melepaskan kacamatanya sambil memijit keningnya. Ternyata selama ini Chandra tidak pernah mengakui putrinya itu. Akan tetapi Adam sedang mencari keponakannya itu. Ada rasa penyesalan di dalam hati Adam. Ketika tahu Ita berada di Mansion Fendi.
Fendi tahu kalau Chandra itu pria brengsek. Sudah berapa orang yang dihamilinya lalu ditinggal pergi. Mereka tidak mungkin untuk datang dan bertanggung jawab. Sebaliknya jika mereka meminta pertanggungjawaban. Ujung-ujungnya Chandra akan membunuhnya.
Masalah semakin runyam di hadapan Fendi. Jika dikumpulkan kemungkinan Candra memiliki banyak anak. Mau tidak mau Fendi harus berkoordinasi dengan Adam. Jangan sampai ada mengakui satu anak Chandra saja. Cepat atau lambat anaknya Chandra akan bermunculan. Jika itu terjadi maka Adam yang kerepotan.
"Kamu kerja di sini aja dulu. Jangan pergi kemana-mana. Kamu tahu tadi itu siapa?" tanya Fendi.
"Dia adalah tuan Adam. Yang di mana Tuan Adam adalah adik dari ayahku. Kami sempat bertemu dan Tuan Adam sangat baik sekali. Setelah pertemuan itu kami tidak pernah menjalin komunikasi lagi," jawab Ita.
"Jika Tuan Adam mau bertanggung jawab terhadap dirimu. Apakah kamu mau menerima bantuan? Sementara dirimu masih memiliki cita-cita yang tinggi. Kamu ingin kuliah tapi terbentur oleh biaya. Jika kamu ingin kuliah. Maka akan aku hubungi Adam. Kamu bisa tinggal di sini sampai kapanpun yang engkau mau. Aku tidak akan mengambil keuntungan sedikitpun dari kamu. Yang penting kamu bisa kuliah dan mendapatkan nilai yang baik. Siapa tahu nanti kamu bisa mendapatkan pekerjaan dari hasil pendidikanmu itu," ucap Fendi.
"Aku nggak jadi kuliah. Aku memutuskan untuk menjadi pelayan Anda hingga seumur hidup. Mau tidak mau aku akan bekerja seumur hidup demi keluargaku yang berada di kampung. Jika aku kuliah, bagaimana ibuku dan adik-adikku yang lainnya? Mereka menginginkan kehidupan yang nyaman dan tidak terambang-ambing dengan badai kehidupan," ujar Ita dengan jujur yang membuat Fendi menghela nafasnya secara kasar.
"Entahlah Tuan. Nanti aku pikirkan bagaimana selanjutnya. Sementara ini aku berterima kasih atas sarannya. Jika Tuan bertemu lagi dengan Tuan Adam. Jangan bilang tentang aku lagi. Aku tidak ingin melihat ibuku menjadi sedih. Sudah cukup luka yang ditorehkan oleh ayahku sendiri. Kenapa dari dulu ayahku pergi dari kami? Bukankah perpisahan itu harus ada alasan yang kuat? Ayahku hanya berkata kalau kami dari keluarga yang tidak mampu. Aku dan ibuku sering disebut benalu bagi ayahku sendiri. Di sinilah luka hatiku yang sangat perih sekali. Mulai saat ini Tuan tidak boleh mengingat cerita keluargaku lagi. Terima kasih Tuan yang telah memberikan solusi buatku," jelas Ita lalu beranjak berdiri dan meninggalkan Fendi di ruangan kerjanya.
Sebegitu sakitkah luka yang ditorehkan oleh Chandra kepada ibunda Ita? Kenapa Chandra melakukan hal itu? Padahal setahu Fendi, silsilah keluarga Ita adalah keluarga baik-baik. Keluarga yang memiliki banyak anggota yang suka bekerja keras. Bukankah seharusnya pria yang sudah menikah tidak boleh mengatakan seperti itu? Mau tidak mau vendi akan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Beginikah rasanya jika dibuang oleh sang ayah? Padahal sang ayah sangat terkenal sekali memiliki nama di dunia ini. Andai saja sang ayah tidak pernah melakukan hal itu. Kemungkinan besar Ita dan nyonya Dewi tidak akan menderita seperti ini," batin Fendi.
Bangkok Thailand.
Imam mengambil botol yang berisikan obat tidur menaruhnya di atas meja. Kemudian Saga datang sambil menghambatkan bokongnya di hadapan Imam.
"Sebenarnya aku nggak rela jika membuat Lee tertidur selama penerbangan," ucap Saga.
__ADS_1
"Sepertinya Papa harus melakukannya. Jika tidak Lee akan di sini hingga kandungannya mencapai empat bulan. Kita tahu kan Lee tidak bisa berpisah dengan anggotanya itu. Sedangkan di sini Lee tidak memiliki siapa-siapa," jelas imam yang membuat Saga menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Aku nggak mau memakai suntikan. Lebih baik obat ini akan diberikan pas waktu Lee makan," ucap Saga.
"Baru saja Lee sarapan. Kita tidak bisa menunggu hingga siang nanti. Pesawat akan mendarat dua jam lagi tepat berada di depan rumah ini. Aku sengaja memakai pesawatku untuk mendarat di sini," jelas Imam.
"Baiklah kalau begitu. Apa yang disuka oleh Lee?" tanya Saga yang mendapat respon dari Garda yang baru saja lewat.
Garda menoleh dan mendekati Imam. Lalu Garda menghempaskan bokongnya di samping Imam.
"Kalian bicara apa?" tanya Garda yang penasaran sekali.
"Apa minuman favorit Lee?" tanya Imam.
"Oh... Lee menyukai jus alpukat atau jus jambu," jawab Garda.
"Begini... Lee ingin pulang ke Jakarta tapi dalam keadaan hamil enam Minggu. Ada salah satu dokter kandungan yang menyarankan Lee nggak boleh terbang menuju Jakarta selama usia kandungannya masih di trisemester pertama. Namun Lee ingin pulang ke Jakarta saat ini juga. Terpaksa kami melakukan tindakan dengan cara memberinya obat tidur. Selama penerbangan Lee akan tidur hingga sampai ke Jakarta. Awalnya aku ingin memberikan obat itu di dalam makanannya. Tapi telat Lee sudah sarapan. Jadinya kami memikirkan cara lain. Makanya aku tanya minuman favoritnya apa? Kamu datang masalah ini selesai," ujar imam yang menjelaskan duduk permasalahannya.
"Kalau begitu aku akan memberikan jus alpukat yang enak di daerah sini. Kemungkinan besar kedainya sudah buka. Aku akan pergi ke sana," sahut Garda.
"Kamu nggak usah ke sana. Suruh saja pengawal untuk membelinya," saran Saga.
"Benar juga. Ya sudah deh aku izin keluar dulu dan meminta pengawal untuk membeli jus alpukat," pamit Garda.
Mereka menganggukkan kepalanya dan melihat Garda pergi dari sini. Ada rasa bahagia di hati mereka. Semoga rencana ini akan berjalan dengan baik. Ditambah lagi dengan permintaan Lee yang ingin pulang ke Jakarta.
"Aku tidak bisa membayangkan jika adik kecilku berkunjung ke rumah kami. Karena calon istriku sedang mengandung," celetuk Imam.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak membayangkan?" tanya Saga yang membayangkan Suci dan Lee duduk berdua pas waktu mengandung berapa bulan kemudian.