Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 223


__ADS_3

Di dalam perjalanan Garda meminta Tono penjelasan atas penemuan mayat itu. Tono segera bercerita tentang penemuan mayat itu secara mendetail. Seluruh orang yang berada di sana sangat terkejut dengan pengakuan Tono. Mereka menggelengkan kepalanya dan menganggap Elizabeth adalah pembunuh berdarah dingin. Mau tidak mau Garda segera menyelidikinya. 


Sesampainya di sana beberapa pengawal itu keluar dari mobil. Mereka akhirnya pergi menuju ke rumah Rio. Saat menuju ke sana Garda mengetahui ada seseorang yang mengikutinya. Garda mencium harum parfum yang dikenalnya itu sambil tersenyum dalam hati. Garda mengetahui siapa yang memiliki parfum seperti itu hanya ada dua wanita yaitu Lee dan sang mama. Caroline sengaja membuat parfum untuk dikonsumsinya sendiri.


Terpaksa Garda berhenti dan memberikan sebuah kode. Garda meminta mereka untuk bersandiwara. Akhirnya mereka menaruh kantong mayat itu. Mereka menoleh kemudian menatap tajam wajah Lee. Di sinilah perdebatan terjadi. yang dimana Garda dibanting oleh Lee si tubuh mungil itu. namun Garda tidak marah dan mengakui kehebatan sang adik.


Flashback Off.


Garda dan Erra tertawa melihat Lee yang terkena prank secara tidak sengaja. Lee semakin kesal terhadap sang kakak. Kenapa juga sang kakak tidak mengaku? Untung saja sang para pengawal bayangan Lee dan Erra mengetahuinya. Jika tidak mereka akan habis dipenyet.


"Kamu harus tahu tentang tumpukan-tumpukan mayat yang berada disana," ucap Garda.


"Apakah Elizabeth adalah pembunuh berdarah dingin?" tanya Erra. 


"Mana ku tahu? Sekarang kita harus menyelidikinya satu-persatu," jawab Garda.


Lee teringat akan pasar gelap yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Lee mencoba mengkaitkan pasar gelap itu, tumpukan-tumpukan mayat dan Adam. 


"Aku merasakan ada sesuatu yang janggal," celetuk Lee.


Beberapa saat kemudian datang Andi datang dengan membawa beberapa cemilan dan menaruhnya di meja. 


"Kok kalian belum tidur?" tanya Andi yang menghempaskan bokongnya di kursi. 


"belum bisa tidur pa," jawab Lee.


"Apakah kamu teringat pada Lala?" tanya Andi lagi.


"Salah satunya itu," jawab Lee.

__ADS_1


"Ikhlaskan Lala. Biarlah Lala tenang berada di sana," pinta Andi. "Kamu merasakan ada sesuatu yang janggal." 


Garda menceritakan sesuatu yang dimana ketika dirinya sedang menyamar. Andi paham apa yang dimaksud oleh Lee. Andi mencoba ambil garis besarnya. Hingga mereka menemukan jawaban tersebut.


"Kamu tahu kalau Elizabeth itu sangat dekat dengan Adam? Kemungkinan Elizabeth adalah salah satu anggota mafia penjualan organ tubuh manusia," ucap Andi. 


Beberapa saat kemudian Nanda datang bersama Jake. Mereka mendekati dan duduk di kursi kosong dengan wajah pucatnya, Lee bingung dengan mereka yang tiba-tiba saja memasang wajah pucat, "Kakak kenapa? Kok tiba-tiba saja memasang wajah pucat? Apakah kakak sedang sakit?"


"Kami tidak sakit. Organ tubuh Lala hilang semuanya. Tubuhnya hancur dan tidak berbentuk." ucap Nanda.


Lee menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya. Kenapa ini bisa terjadi pada Lala yang tidak memiliki dosa?


"Kapan pemakaman Lala akan dilaksanakan?" tanya Lee.


"Besok pagi. Tim dokter yang menangani Lala engga sanggup melihat tubuh sang gadis malang itu tidak berbentuk,'' jawab Nanda.


"Apa yang harus kita laakukan?" tanya Jake.


Andi dan Erra menyetujui keputusan Garda. Andi sengaja membebaskan putra-putrinya untuk mengemukakan pendapat terlebih dahulu. Agar mereka bisa memimpin banyak orang. 


"Aku berharap Elizabeth lepas,'' celetuk Lee.


"Ya… enggak lama lagi. Silakan kamu berpesta mengoyak Elizabeth," ucap Andi.


"Aku pamit dulu pa. Aku sudah mengantuk. Besok aku harus menghadiri pemakaman Lala,'' pamit Lee yang mulai beranjak dari duduknya.


Lee segera pergi dari sana. Lee berjalan dengan kesedihan. Impiannya ingin mengadopsi Lala terkubur sudah. Lala dahulu pernah memintanya untuk menjadi ibu sambungnya. Namun Lee menolaknya. Bukan berarti Lee menolak Rio dan meremehkan pekerjaannya yang sebagai tukang sampah. Namun di hati Lee nama Erra sudah terukir indah. Lee berjanji suatu saat setelah menikah dengan Erra akan mengadopsi Lala. 


Ketika sampai di kamar Erra memeluk sang istri. Erra membisiki sesuatu agar Lee tetap kuat. Lee akhirnya tersenyum dan mengangguk paham. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.

__ADS_1


Pagi yang mendung semendung hati Lee. Lee memakai baju serba hitam untuk menghadiri pemakaman. Begitu juga dengan Erra yang sudah bersiap juga. Mereka turun dari lantai atas untuk menuju ke bawah. Namun Garda, Bayu, Rani, Andi dan Caroline memakai baju yang warna senada untuk mengikuti upacara pemakaman. 


Sedangkan yang lainnya juga ikut. Seluruh enam pilar utama sangat peduli dengan Lala. Mereka berbondong-bondong untuk menghadiri pemakaman Lala.


Sebelum sampai sana Lee membelikan sebuket mawar putih. Lee dan Lala memiliki bunga favorit yang sama. Lee membeli sebuket itu dengan tubuh lemas. Setelah membeli bunga itu Erra melihat Lee yang sedih. Lee hanya bisa menghela nafasnya. 


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Erra. 


"Aku baik-baik saja kak. Jalanlah… Aku ingin bertemu Lala untuk terakhir kalinya," jawab Lee.


"Setelah ini jadilah singa betinaku! Mengaumlah… Kejar Elizabeth hingga dapat," perintah Erra.


Lee menganggukan kepalanya. Setelah ini Lee tidak akan tinggal diam untuk mengejar Elizabeth. Lee akan memainkan skenario untuk membiarkan Adam atau Candra melepaskan Elizabeth. Dengan begitu Lee mudah menghabisinya. Tanpa perlu susah payah menangkapnya. Lee akan menunggu waktu yang tepat. Tak lupa juga sang pembuat skenario yang ingin menghancurkan sang suami yaitu Yoona. Lee juga akan memburu Yoona hingga ke ujung dunia. Lee sudah membidik Yoona jauh-jauh hari.


Sesampainya di area pemakaman, Lee melihat banyaknya orang yang berdatangan. Lee melihat Lala di keranda itu. Air matanya sudah tidak tertahankan lagi. Akhirnya Erra segera memeluk sang istri dan membiarkan menangis. Begitu juga dengan Angela dan Feli. Mereka tidak kuat menahan kesedihannya.


Setelah dikubur seluruh orang yang mengucapkan selamat tinggal. Mereka akan mengenang wajah Lala yang cantik dan menggemaskan. Bahkan dengan senyuman manisnya serta kebaikan hatinya. bagaimana dengan Rio? Rio merelakan kepergian sang putri dengan ikhlas. Rio akan bertahan hidup sendiri tanpa ada teman di sampingnya. 


Lee segera mendekati Rio untuk menawarkan pekerjaan yang layak di Asco. Pak Rio akan menimbang penawaran tersebut. 


"Nona," panggil pengawal tersebut. 


"Iya," sahut Lee yang melihat sang pengawal itu. 


"Ada apa?" tanya Erra. 


"Dipanggil Tuan Bayu untuk segera menghadap," jawab pengawal itu. 


"Baiklah. Aku akan kesana," ucap Erra yang menggandeng tangan Lee. Mereka akhirnya pamit ke Rio untuk meninggalkannya. 

__ADS_1


"Pak… kami pamit dulu," pamit Lee dengan sopan. 


"Baiklah nona. Terima kasih," balas Rio yang mencoba tersenyum. 


__ADS_2