Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 441


__ADS_3

Begitulah aslinya Erra yang dulu cuek bebek akhirnya perhatian juga. Melihat Arini yang sedang sakit, Lee akhirnya memeluknya dengan erat. Tiba-tiba saja tubuhnya mulai enak kembali.


"Cepatlah sembuh. Nanti aku traktir makan ketoprak di depan Asco. Atau gado-gado. Kamu sangat menyukai makanan yang mengandung banyak sayuran," ucap Lee yang membuat Arini semangat.


"Ah baiklah. Rasanya aku ingin sekali memakan serba sayuran," pinta Arini.


Rani melihat Arini dan Lee sangat akrab sekali. Mereka akhirnya mengobrol sambil menghibur Arini. Jujur Arini adalah gadis yang kesepian. Sehingga mereka merangkul Arini dengan penuh kasih sayang.


Beberapa saat kemudian Rani berpamitan kepada Arini. Rani mengajak Lee pergi dari sana. Ia menggandeng tangan Sang Putri sambil mendekati Erra.


"Sepertinya kamu harus di sini," ucap Rani kepada Garda.


Garda mengganggukan kepalanya sambil berkata, "Baik ma."


Mereka akhirnya pergi meninggalkan Garda sendirian di apartemen Arini. Lalu Garda memutuskan masuk dan melihat wajah Arini yang pucat. Ia mendekati Arini sambil bertanya, "Sudah berapa lama kamu sakit?"


"Baru tadi pagi tubuhku demam. Mungkin aku kecapean sekali karena mengatur seluruh jadwal Sebastian Groups," jawab Arini yang mendengar suara Garda.


Garda menghempaskan bokongnya di samping Arini. Lalu Garda melihat wajah Arini yang payah sekali.


"Kamu itu kalau kerja terlalu diforsir. Jika kamu membutuhkan orang lain maka tariklah siapa yang bisa dipercaya. Jangan pernah menanggung bebanmu sendiri. Karena kamu tidak akan pernah bisa menanggungnya," ucap Garda.


"Terpaksa aku melakukannya. Aku masih trauma dengan kejadian yang lalu. Aku melepaskan salah satu pekerjaanku. Tapi orang itu tidak mengerjakannya hingga deadline tiba. Makanya itu aku harus melakukannya semua," ujar Arini.


"Tapi ingat tubuhmu itu sangat kurus sekali. Bagaimana bisa kamu menahan tubuh besarku ini?" tanya Garda yang memberikan sebuah kode untuk Arini.


Plakkkkkk.

__ADS_1


Dengan terpaksa Arini memukul lengan kekar Garda. Bagaimana bisa Garda bertanya seperti itu kepadanya? Ingin rasanya Arini bersembunyi di lemari.


"Kenapa kak Garda bilang seperti itu kepadaku? Aku kira Kak Garda orangnya dingin dan tidak berkata yang aneh-aneh. Tapi kenapa kok ujung-ujungnya berkata seperti itu," ucap Arini sambil bertanya.


"Aku kan memberikan kamu kode agar paham. Kenapa kamu jadi sewot begitu? Memangnya kamu nggak tahu kode apa yang aku berikan?" tanya Garda yang memancing Arini.


"Beginilah kalau pria yang pengen sekali menikah. Ditembak pun aku nggak pernah. Malah diajakin main tindih-tindihan. Ada ya orang seperti itu?" kesal Arini sambil membuang wajahnya ke sembarang arah dan membuat Garda tertawa.


"Aku pernah menembakmu. Tapi kamu nggak respon sama sekali. Bagaimana bisa aku berpacaran sama kamu. Lebih baik kita langsung menikah saja. Tanpa perlu tahu rasanya berpacaran," sahut Garda yang tidak mau kalah berdebat dengan Arini.


"Aku belum meminta izin kepada tuan Andi maupun Nyonya Caroline. Jika Aku belum minta izin. Aku belum berani menjawab pertanyaanmu. Apakah Kak Garda paham dengan soal itu? Oh iya ditambah lagi dengan Kakak besarku. Aku juga ingin Kakak besar ku tahu semuanya," ucap Arini.


"Sepertinya kakak besarmu sudah memberikan tiket restu untuk kita berdua. Tinggal papa dan mama saja yang belum. Aku harap mereka memberikan Restu secepat kilat. Agar aku bisa menikahimu tanpa harus susah payah," kata Garda.


"Memangnya nggak perlu resepsi?" tanya Arini yang menatap wajah Garda tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.


"Sepertinya kita harus merayakan resepsi pernikahan dengan konsep perkebunan yang dihiasi oleh bunga mawar merah. Aku yakin kamu suka bunga mawar itu," ucap Garda sambil tersenyum tipis.


"Okelah kalau begitu. Ada lagi?" tanya Garda yang sengaja memberikan Arini kebebasan untuk memilih konsep pernikahannya.


"Sepertinya kakak serius kali untuk menanyakan konsep pernikahan ala aku?" tanya Arini balik.


"Yang mau nikah siapa? Kan kamu bilangnya mau nikah sama aku," jawab Garda dengan kemenangan.


"Aku kan belum izin sama mereka. Bisa-bisanya Kakak bilang aku yang nikah. Bukannya kakak yang udah ingin nikah?" tanya Arini yang mulai mengajak debat Garda.


"Terus siapa calon mempelai perempuannya? Jangan bilang kamu menolaknya. Justru Jika kamu menolaknya, aku akan mengurungmu di dalam sangkar emas," jawab Garda.

__ADS_1


Sungguh hari ini Arini sedang pusing menghadapi perdebatan yang tidak penting itu. Bisa-bisanya Garda menyuruh dirinya menikah dengannya. Jujur Arini tidak suka dipaksa seperti itu. Apalagi ancaman Garda juga percuma sama sekali.


"Kalau kamu nggak mau nikah ya sudah. Aku akan melakukan sesuatu agar bisa mengikatmu di dalam ikatan pernikahan. Cepat atau lambat aku akan melakukannya," tegas Garda sambil memamerkan senyum seringainya.


Tak sengaja Arini melihat senyuman seringai dari Garda. Jujur dirinya sangat takut sekali. Mau tidak mau ia harus mengikuti Apa perkataan Garda. Memang ada ya? Kalau jodoh bisa dipaksakan seperti itu?


"Lebih baik kamu istirahat. Jangan berdebat denganku. Jika kamu berdebat denganku. Maka kamu tidak akan selesai-selesai. Karena aku orang yang suka berdebat," perintah Garda.


"Sebelum aku tidur, Aku ingin makan terlebih dahulu. Meskipun aku sakit, aku teringat pada perutku yang belum diisi sama sekali. Jadi ijinkanlah aku makan terlebih dahulu," pinta Arini.


Seketika Garda terkejut mendengar pernyataan Arini. Namun Garda mengambilkan nampan Arini di atas nakas.


"Kamu hanya makan nasi goreng ya?" tanya Garda yang memberikan nampan itu ke Arini.


"Ya aku sering sekali memakan itu. Mau bagaimana lagi. Aku memasak tanpa membutuhkan waktu yang lama. Jadi aku tidak perlu membuang-buang waktuku begitu saja," jelas Arini.


"Nanti aku bawakan satu pelayan untukmu," ucap Garda.


"Nggak perlu. Aku masih bisa sendiri kok. Lagian di apartemen ini barangnya tidak banyak. Aku sengaja tidak mengisi meja kosong itu dengan barang-barang. Karena aku nggak punya waktu untuk bersih-bersih," ujar Arini sambil berkata jujur.


"Pokoknya aku akan meminta papa satu pelayan di Mansion Sebastian. Gadis itu akan membersihkan apartemenmu dua hari sekali. Kamu tidak boleh menolaknya. Di sana sudah banyak sekali pelayan yang menetap di rumah itu," tawar Garda. "Yang intinya kamu nggak boleh menolakku."


Iya iya aja deh dalam batin Arini. Percuma Arini menolaknya. Sekali menolak Garda selalu menyerangnya terlebih dahulu. Itulah sifat Garda sesungguhnya. Di sisi lain Garda sangat suka sekali memaksa Arini. Jujur Garda selalu membuat Arini semakin kesal.


Di mansion Drajat.


Mereka yang baru saja sampai langsung memasuki ruang tamu. Di sana mereka melihat Bayu yang sedang membaca koran.

__ADS_1


"Selamat pagi Papa," sapa Lee terlebih dahulu.


"Selamat pagi sayangku. Oh ya bukannya hari ini kamu akan pergi ke arisan?" tanya Bayu sambil mengingatkan kedua wanita berbeda generasi itu.


__ADS_2