
“Raka berada di taman. Sebentar aku panggilkan,” jawab Irwan berdiri meninggalkan Widya di kamar.
Irwan langsung menuju ke taman belakang. Ia berlari-lari kecil hingga sampai ke taman. Pria itu memiliki uia sudah tidak muda lagi. Ia pun masih kuat berlari.
Saat menginjakkan kakinya di taman, Irwan mendekati Raka. Seluruh pengawal yang berada di sana langsung berbaris dan membungkukkan badannya sambil mengucapkan, “Selamat pagi tuan.”
“Pagi,” balas Irwan yang matanya tertuju ke Raka.
Irwan segera mendekatinya lalu jongkok. Ia memegang tangan Raka sambil berkata dengan lembut, “Raka.”
Para pengawal di sana tidak percaya kalau Irwan bisa selembut ini sama anak kecil. Jujur mereka baru sebab kesehariannya adalah seorang pria tegas dan berwibawa. Sangking tegasnya terhadap pengawalnya, Irwan bisa dikatakan sebagai orang berpengaruh untuk menggembleng para pengawal.
“Kakek,” seru Raka sambil tersenyum manis.
“Kamu main apa sama om-om?” tanya Irwan dengan lembut.
“Main petak umpet,” jawab Raka tersenyum lucu sambil memandang wajah para pengawal yang mulai pucat.
Glek!
Para pengawal itu menunduk ketakutan dan tidak berani memandang wajah Irwan. Baru kali ini mereka diajak bermain bersama Raka. Mereka pun menyanggupinya. Suasana ceria di dalam hati mereka langsung lenyap dan tidak berbekas. Sungguh mereka sangat takut dimarahi oleh Irwan.
Irwan menggendong Raka sambil berdiri, “Apakah kalian sudah mengajak cucuku bermain?”
“Iya itu benar tuan,” jawab salah satu pengawal dari mereka.
“Terima kasih,” ucap Irwan dengan tulus.
“Sama-sama tuan,” balas mereka serempak.
Lalu Irawan mengajak Raka menuju ke kamar. Sepanjang menuju ke kamar, Raka tersenyum dan memandang wajah sang kakek sambil berkata, “Kakek.”
“Iya sayang,” sahut Irwan.
“Di mana Ibu Suci?’ tanya Raka.
“Ibu kamu dibawa kabur sama ayahmu itu,” jawab Irwan dengan spontan.
“Apakah itu benar?” tanya Raka yang tidak percaya dengan perkataan Irwan.
“Ya itu benar,” jawab Irwan yang tidak sadar dengan jawaban awal tadi.
“Mengapa ayah membawa kabur? Ah... rasanya itu tidak mungkin,” kesal Raka.
Begitulah percakapan Irwan dan Raka. Mereka sangat akrab sekali ketika berdua begini. Namun semenjak memiliki cucu, Irwan selalu menjaga perkataannya. Ia tidak mau berkata seenaknya. Dikarenakan sang cucu tidak boleh mendengarnya. Sepanjang hidup Irwan selalu berbicara dengan kadar. Terkadang sama teman-temannya itu malah semakin parah. Ditambah lagi ketika sedang mengajar ilmu bela diri. Malah makin patah bahasanya. Untung saja Widya tidak pernah mengetahui kata-kata Irwan yang satu itu.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Irwan menurunkan Raka di atas ranjang. Lalu Raka melihat Widya yang sangat cantik sekali. Dengan senyumnya yang manis, Raka memuji Widya sampai membuat Irwan bengong.
“Nenek sangat cantik sekali,” puji Raka.
Sang nenek bernama Widya langsung memasang wajahnya yang memerah. Ia sungguh malu dipuji sama sang cucu. Sementara itu Irwan bengong dan tidak bisa berbicara.
Sedetik, dua detik lalu ketiga detiknya Irwan berseru, “Iyalah... Nenek Widya memang sangat cantik sekali.”
Raka tersenyum manis sambil menganggukan kepalanya. Ia sangat menyetujuinya apa kata Irwan.
“Apakah kalian sudah siap?” tanya Irwan.
“Sudah siap,” sahut Widya.
“Bagaimana dengan Mbak Yeni?” tanya Irwan.
“Sudah menunggu di bawah,” jawab Widya.
Mereka akhirnya turun ke bawah untuk menemui Mbak Yeni. Sementara di tempat lain Rani sangat heboh sekali. Ia berteriak kegirangan dan membuat Bayu tertawa. Hari ini Bayu membisikan sesuatu. Karena hari ini mereka akan melakukan bulan madu. Betapa bahagianya Rani seperti anak kecil.
Jujur setelah memiliki anak, Bayu tidak bisa mengajaknya kemana-mana. Dulu memang Bayu sepakat untuk tidak mengajaknya kemana-mana sembari Erra. Para musuh sangat cerdik sekali. Pria paruh baya itu memutuskan untuk tidak liburan bersama sampai semuanya reda.
“Sepertinya kita akan berbulan madu ramai-ramai?” tanya Rani.
“Ya... setelah mereka dari Belgia. Irwan memutuskan untuk ke Kanada. Sedangkan Joko mau ke Italia ingin mencicipi pizza asli dari sana,” jawab Bayu yang semalam bertukar pesan bersama mereka.
“Semuanya adalah takdir. Jika tidak begitu anak-anak Andi tidak akan menjadi dewasa. Lee yang dulu tidak dilatih keras kemungkinan besar menjadi anak yang manja. Begitu juga dengan Garda, Garda juga tidak akan menjadi pria tegas,” jawab Bayu. “Semuanya pasti ada hikmahnya dibalik semua kejadian ini,”
“Apakah Kak Andi tidak bisa mendidik mereka?” tanya Rani.
“Bukan. Andi malah membebaskan keinginan anak-anaknya. Tapi Andi tidak mengajarkan mereka berlatih bela diri sejak dini. Soal masih sayang Andi sering banget mencurahkan kasih sayangnya. Bahkan mereka tidak pernah kekurangan. Selain itu juga cara mendidik aku dan dia sangat berbeda. Aku sering banget keras sama Erra. Mengajarkan ilmu bela diri semenjak usia lima tahun. Kalau Garda belum bisa diajarkan ilmu bela diri. Katanya masih terlalu kecil,” jawab Bayu.
“Dari sekian enam pilar utama, hanya Andi lah yang paling keren untuk menjadi seorang ayah bagi Lee dan Garda,” Rani mengakui kehebatan Andi.
“Kalau ada penghargaan Andi yang menang. Kami para papa sangat otoriter sekali dengan putra semata wayang kami. Semenjak kejadian itu Lee sudah bisa dikatakan menjadi wanita tangguh. Yang di mana wanita itu bisa melakukan segalanya,” jelas Bayu. “Apakah kamu sudah siap untuk berbulan madu?”
“Aku sudah siap dan ingin merasakan bulan madu untuk kedua kalinya. Dari Belgia mau ke mana?” tanya Rani yang belum mengetahui rencana baju selanjutnya.
“Kemungkinan besar Aku menuju ke Swiss atau Swedia. Aku hanya menunggu jawaban dari kamu. Kalau kamu mau pilih yang mana? Sekalian mengajak Lee travelling. Rasanya mengajak Lee rasanya mengajak Lee seperti mengajak Putri sendiri jalan-jalan,” jelas Rani yang membuat Bayu tersenyum.
“Kalau begitu Ayo kita turun ke bawah. Kemungkinan mereka sudah berkumpul di bandara. Rasanya aku sangat rindu sekali menghabiskan waktu bersamamu,” ajak Bayu sambil menggandeng tangan Rani.
“dari mana kamu belajar kata-kata romantis seperti itu? Padahal kamu tidak pernah memakai kata-kata seperti itu,” tanya Rani.
“Aku belajar dari Erra. Yang di mana Erra suka merayu Lee dan mengajaknya ke ranjang,” jawab Bayu yang membuat Rani tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“sepertinya aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan. Rasanya ini sangat aneh sekali Jika Erra merayu Lee,” ucap Rani yang tidak mempercayainya Erra.
“Memang. Era sekarang rajin merayu Lee. Agar terlihat romantis di mata Lee. Jujur kalau aku bertanya pada Lee sendiri jawabannya adalah kakak tampan sangat garing sekali jika merayuku. Ditambah lagi kaku ketika berbicara,” jelas Bayu.
“Aku memang sedari awal tidak pernah percaya. Kalau era itu bisa merayu dengan baik. Bukankah kalian sangat mirip sekali? Istilahnya adalah like father like son. Kalau begitu ayo kita berangkat. Aku sangat merindukan putri kecilku itu. Yang di mana putri kecilku sudah menjadi menantuku sendiri,” ajak Rani yang mulai keluar dari kamar dan dibarengi oleh Bayu.
Mereka akhirnya menuju ke bandara. Mereka bahagia ketika tidak mengatur rencana bulan madu ini. Semuanya serba mendadak.
Markas besar White Eragon.
Garda terbangun dari tidurnya dan melihat ruangan khusus itu sangat kotor sekali. Lalu dirinya melihat Sam yang sedang bermain ponsel. Sebelum berbicara Garda memiliki kebiasaan yaitu meregangkan otot-ototnya setelah bangun tidur. Kemudian Garda menatap wajah Sam dengan serius sekali.
“Jam berapa ini? Aku rasa sudah siang sekali,” tanya Garda yang membuat saya terkejut.
“Masih jam enam pagi. Aku akan mengajak Pita pergi ke Belgia. Aku ingin mengajarkan Pita mengecek seluruh restoran-restoran yang sudah menyebar ke dunia. Jika aku sedang sibuk di tempat ini, maka Pita bisa menolongku mengecek seluruh restoran itu,” jelas Sam.
“Baguslah. Aku yakin gadis itu bisa melakukannya. Berikanlah dia kepercayaan untuk membuatmu jatuh cinta. Jangan kamu anggap cuma gadis sama. Meskipun kita tidak terlalu dekat. Aku tahu kamu sering patah hati karena seorang gadis. Tapi tenanglah kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi,” jelas Garda.
“Tapi gadis itulah yang membuat aku benar-benar jatuh cinta. Aku harap gadis itu adalah wanita terakhir buat aku. Rasanya aku ingin menikahinya dan menjadikan ratu di dalam istanaku,” ucap Sam dengan semangat. “Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu menyukai Arini?”
“Iya... Dia sama seperti Lee. Tapi Arini lebih kalem ketimbang adikku itu,” jawab Garda secara blak-blakan.
“Aku tahu perasaanmu. Jika Lee bukan adikmu. Kamu pasti akan menikahinya kan?” tanya Sam.
“Iya... Dia adalah seorang gadis yang sangat istimewa. Tapi takdir berkata lain. Dia adalah adik perempuanku satu-satunya. Makanya kalau aku bertengkar sama Erra, aku sedang mencari perhatian dari Lee. Terkadang aku ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ah rasanya itu tidak mungkin,” jelas Garda sambil tersenyum dan merindukan sang adik.
“Jika saja amnesia kamu tidak sembuh-sembuh. Kemungkinan besar kamu akan menikahinya. Aku tidak bisa membayangkan kamu berperang sama Erra. Bisa-bisa dunia mafia bergetar dan menjadi sebuah berita besar. Sang ketua Black Dragon dan sang asisten sedang berantem karena memperebutkan satu gadis yaitu singa betina,” ledek Sam sambil tertawa terbahak-bahak dengan dibarengi Garda.
“Ya... Kamu benar. Jika benar-benar terjadi berita itu akan mencuat menjadi besar. Rasanya dunia akan menjadi gempar,” tambah Garda.
“Apakah kamu akan menikah secepatnya?” tanya Sam yang menaruh ponselnya di atas meja.
“Kemungkinan besar iya. Aku adalah pria dewasa tidak sanggup menahan hawa nafsu. Aku ini orangnya sial terus-terusan. Bayangkan saja sang ketua Black Dragon suka mencari video hot untuk disebarkan ke seluruh pengawal. Yang lebih parahnya lagi, sang ketua langsung mengirim video itu ke aku. Rasanya aku ingin menangis jika mendapatkan video itu,” jawab Garda.
“Jujur... Aku baru tahu jika kamu mengatakan seperti itu. Kalau Erra yang kalem bisa berbuat yang aneh-aneh. Aku pernah menyuruh Lee mengecek laptopnya dan isinya wow keren. Video hot semuanya ada di situ,” ucap Sam.
“Jangankan kamu yang terkejut. Aku sendiri saja yang ingin tahu laptop itu langsung meringis. Entah dari mana si Erra bisa mendapatkan itu? Padahal wajahnya kalem,” ujar Garda.
Mereka tertawa bersama-sama. Entah kenapa mereka mengingat masa lalu yang tidak bisa dilupakan itu. Memang, Erra sedari dulu diam-diam sangat konyol sekali. Sangking konyolnya membuat semua orang bisa menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah deh kalau begitu. Aku mau membersihkan tubuhku dulu habis itu ke kantor. Rasanya hari ini adalah hari Senin. Sebentar lagi akan ada meeting dengan klien Malaysia,” pamit Garda sambil berdiri dan meninggalkan Sam.
“Lama-lama kamu hebat juga untuk menggaet klien dari luar negeri,” puji Sam ke Garda yang mendapat acungan jempol darinya.
“Aku mulai belajar dari Erra dan papa Bayu. Mereka berdua telah menanamkan satu ilmu percaya diri di dalam hatiku. Mereka sangat sabar sekali mengajariku tentang hal itu. Padahal dulu aku tidak mengerti soal bisnis. Tiba-tiba saja saat masuk ke dunia kerja. Aku terkejut dan merasakan semua pekerjaan itu sangat ringan sekali,” jelas Garda.
__ADS_1
“Kamu benar. Tapi kamu nggak menyadari sama sekali. Bahwa darah Papa Andi soal berbisnis itu mengalir di dalam tubuhmu. Apalagi mama Caroline sangat pandai sekali berbisnis menjual produknya. Maka dari itu kamu memang lahir dari dunia bisnis. Cepat atau lambat kamu akan dinobatkan sebagai ahli waris Sebastian bersama Lee,” tambah Sam.
“Aku bersyukur mendapatkan bakat seperti itu. Rasanya aku ingin menurunkan bakat itu ke putra-putriku kelak. Mereka harus mengikuti jejakku. Karena dengan cara itulah mereka harus bertahan hidup dari segala kerasnya dunia,” sahut Garda. “Apakah kamu tidak mengajarkan putra-putrimu melakukan hal seperti itu?”