Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 105


__ADS_3

"Ya itu benar. Aku sudah menerjunkan satu mata-mata di tubuh Black Lotus," jawab Fendy.


"Semakin sulit saja," ucap March.


"Kamu tahu Candra memiliki koneksi orang dalam. Cepat atau lambat Candra akan menyerang," ucap Fendy.


"Koneksi orang dalam. Maksudnya?" tanya March.


"You knowlah," jawab Fendy tersenyum smirk.


"Apakah ini berhubungan pejabat-pejabat kotor?" tanya Saga.


"Iya.... Itu benar. Kenapa kita tidak mencari orang-orang yang menjadi koneksi Candra?" tanya March.


"Enggak semudah itu mencari siapa mereka. Aku sudah mencoba mencarinya," jawab Fendy.


"Kenapa kamu tidak menyuruh Greg atau Jake?" tanya March.


"Aku sudah mencarinya bersama mereka. Tapi mereka tidak menemukan identitas mereka masing-masing," jawab Fendy.


"Ada benarnya juga. Jika mereka bekerjasama dengan Candra. Kemungkinan besar Candra akan melindungi mereka. Walau Candra harus menyamarkan identitas tersebut. Bahkan melenyapkan identitas mereka. Jika itu benar cepat atau lambat Candra bisa memasukkan pasukannya ke sini," ucap Sam yang menganalisis keadaan.


Mereka menganggukan kepalanya tanda mengerti. Mereka mulai menganalisis keadaan jika Candra memasukkan anggotanya. Mereka saling memandang satu sama lain dan menggelengkan kepalanya secara serempak kecuali Saga.


"Kenapa kalian menganggukan kepala secara serempak?" tanya Saga.


"Jika Candra memasukkan pasukannya ke sini mereka akan menggempur White Eragon. Mau tidak mau kita harus bertarung," jawab Sam.


"Jangan salah loh. Candra memiliki mulut manis yang bisa membuat orang mabuk kepayang," ujar Fendy.


"Maksudnya?" tanya Nanda.


"Candra akan menghubungi rival kita di dunia bawah tanah. Jika Candra berhasil mengumpulkan mereka dan menyuruh bergabung dengan Black Lotus. Cepat atau lambat mereka akan menyerang kita," jawab Fendy.


Yang dikatakan Fendy benar apa adanya. Jika Candra tidak menghubungi mereka kemungkinan besar White Eragon tetap aman. Namun jika sampai Candra menghubungi rival White Eragon bisa dipastikan White Eragon terancam bahaya terutama pada enam pilar utama.


"Bukan White Eragon saja yang terancam bahaya. Pikirkan juga enam pilar utama yang nyawanya terancam," tambah Fendy.


"Ya kamu benar. Jika kita mati enam pilar utama tidak akan memiliki keturunan lagi. Lalu bagaimana dengan enam pilar utama selanjutnya?" tanya Sam.

__ADS_1


"Tenanglah kalian. Jangan lupa singa betina. Gara-gara Candra singa betina telah kehilangan bayinya. Cepat atau lambat singa betina akan balas dendam," jawab Nanda.


Fendy menepuk jidatnya karena baru sadar kalau masih ada Lee. Jika menyerang cepat atau lambat Candra akan berhadapan langsung dengan Lee. Malam ini mereka mendapatkan pencerahan yang nyata dari Nanda. Kenapa mereka harus takut untuk menghadapi Candra sialan itu. Lagian juga Candra sialan itu hanya bisa mengeong jika sudah berhadapan dengan Lee.


Pagi yang cerah. Lee terbangun dari tidurnya. Lee menatap wajah Erra yang tampan. Lee memegang wajah Erra dengan jari telunjuk. Lee tersenyum sambil menyusuri wajah Erra. Dengan cepat Erra memegang tangan Lee sambil berkata, "Aku masih tampan ya."


Lee diam dan wajahnya memerah. Lee tidak bisa berkata apapun dan mencoba menyembunyikan kepalanya di dada Erra. Namun sebelum itu Erra membuka mata dan langsung mencium bibir mungil Lee.


"Kok aku dicium sih?" tanya Lee.


"Kamunya sih pake ngerjain aku," jawab Erra.


"Aish... Kak Erra," kesal Lee. "Kak Erra akhir-akhir ini semakin kurus."


"Maafkan kakak. Saat kamu koma kakak tidak menjaga tubuh kakak," jawab Erra.


Mata Lee berkaca-kaca karena saat koma tidak ada yang memperhatikan Erra. Sebenarnya banyak sekali yang memperhatikan Erra. Namun Erra sengaja menghukum dirinya. Kenapa dirinya yang tidak tertembak?


"Habis gini aku akan merawat kakak dan mengembalikan tubuh kakak menjadi seperti dulu," ucap Lee.


"Baiklah. Aku lebih senang kamu merawatku," bisik Erra. "Bahkan aku ikhlas jika kamu menjadikan bayi."


"Apa-apaan kakak ini? Masa kakak ingin diperlakukan seperti bayi?" tanya Lee.


"Maksudnya begini kamu bisa memandikan aku," jawab Erra.


"Terus?" tanya Lee yang sudah mencium gelagat aneh.


"Kamu bisa membelaiku dengan cinta dan kasih sayangmu," jawab Erra yang tanpa berdosa sama sekali.


"Astaga... Kakak tampan... Pokoknya aku tidak mau," kesal Lee.


Erra tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat sang istri kesal. Semakin kesal menurut Erra wajah Lee sangat menggemaskan. Dengan cepat Erra mencium Lee. Kalau sudah begini hati Lee menjadi luluh seketika.


"Kalau begini bagaimana aku bisa marah?" tanya Lee.


"Enggak usah marah. Kalau kamu marah pun kamu aneh," ledek Erra.


Lee hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Lee memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Kemudian Lee membuka piyamanya dan melihat lukanya yang semakin kering. Setelah itu Erra tersenyum puas karena obat yang diberikan oleh Saga ternyata bekerja dengan baik.

__ADS_1


Sementara di apartemen mewah Raka terbangun dari tidurnya. Lalu Raka melihat Imam yang masih tertidur lelap. Tangan mungil Raka memegang wajah Imam dan menyapanya, "Agi ayah."


Imam yang mendapat sambutan selamat pagi dari Raka terbangun dari tidurnya. Imam segera mencium pipi gembul Raka sambil membalasnya, "Pagi juga Raka."


Imam segera bangun sambil menggendong tubuh mungil Raka. Imam mengajak Raka untuk mencari keberadaan Suci. Saat keluar Imam melihat Suci yang sudah rapi. Imam mendekati Suci lalu bertanya, "Kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi ke markas. Sekalian aku mampir ke mansion Tuan Erra," jawab Suci.


"Apakah kamu pergi sepagi ini?" tanya Imam.


"Pagi?" tanya Suci yang mengerutkan keningnya.


"Ya... Ini pagi," jawab Imam.


"Maaf tuan... Ini sudah siang. Bahkan sudah jam sepuluh pagi," jawab Suci.


"Apakah kamu serius?" tanya Imam yang mengerutkan keningnya.


"Benar tuan," jawab Suci.


"Waduh... Gawat... Ada pertemuan penting bersama tuan Hanachiro," ucap Imam yang segera berlari.


"Maaf tuan. Jam berapa pertemuannya?" tanya Suci.


"Jam delapan pagi," teriak Imam.


"Apa!" pekik Suci. "Apakah saya tidak salah dengar tuan?"


Suci malah semakin bingung dengan jawaban Imam. Katanya meeting jam delapan. Tapi sekarang waktu sudah menunjukkan jam sepuluh. Bagi Suci jawaban Imam sangat membagongkan sekali. Tak lama Suci mencari keberadaan Imam sambil berteriak, "Tuan... Bukannya meeting sudah lewat. Tapi kenapa tuan tergesa-gesa?"


"Apa kamu bilang? Ini sudah jam sepuluh?" tanya Imam.


"Itu betul tuan," jawab Suci dengan jujur.


Jederrrrrrrrr.


Bagai petir di siang bolong. Imam yang orangnya tepat waktu ternyata hari ini kesiangan. Bahkan lebih dari dua jam. Ah... Rasanya ini sangat aneh sekali. Imam segera membersihkan tubuhnya di dalam toilet. Tak lama Suci mendengar ponsel Imam berdering. Kemudian Suci meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar. Mata Suci membulat sempurna karena yang menghubungi adalah Irwan bapaknya Imam.


"Tuan," panggil Suci.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" tanya Imam sambil membuka pintunya sedikit sambil mengeluarkan kepalanya.


__ADS_2