
"Maksudnya?" tanya Bayu yang sungguh terkejut dengan pernyataan Elizabeth.
"Ya… saya pernah tidur dengan tuan Erra ketika kami mabuk," jawab Elizabeth yang tersenyum manis ke Erra.
Brakkkkkkkkk!
Bayu benar-benar marah terhadap sikap Erra. Erra yang terkenal dingin ternyata menyimpan sebuah rahasia yang terpendam. Sedangkan Elizabeth sendiri tersenyum puas dan berdiri di hadapan Erra.
"Jika kamu mencoba melupakan putrimu itu. Kamu akan tahu akibatnya. Aku akan menyebarkan skandal percintaan kita ke sosial media. Biar kita sama-sama hancur bersama. Camkan itu Erra Drajat!" ancam Elizabeth yang pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Elizabeth pergi dari ruangan rapat, Lee mengirim pesan kepada seseorang untuk mengikuti Elizabeth.
Lalu bagaimana dengan Jarot dan Delon yang sepertinya puas dengan Elizabeth? Mereka berpamitan undur diri terlebih dahulu. Mereka tidak mau terkena sangkut pautnya kasus Erra. Setelah mereka pergi Lee keluar dari ruangan itu. Lee meminta Edo untuk kembali ke ruangan.
"Edo… kembalilah ke ruangan. Selebihnya biar aku yang mengurusnya!" perintah Lee.
"Tapi asisten Lee?" tanya Edo.
"Tak apa… kembalilah ke ruangan kamu sekarang," jawab Lee.
Edo menganggukkan kepalanya dan segera kembali ke ruangannya. Lee hanya tersenyum lucu ketika sang suami sedang dituduh meniduri wanita lain. Yang tak lain adalah Elizabeth. Lee sering mendapatkan banyaknya informasi tentang Erra. Jujur saja Erra tidak pernah tidur sama siapapun. Bahkan mengenal wanita saja hatinya sudah membeku seperti es. Beberapa saat kemudian Lee masuk ke dalam dan melihat ketegangan yang terjadi.
"Kalau yang dikatakan oleh Elizabeth itu benar. Papa akan menarik seluruh fasilitas yang kamu miliki. Papa akan menggabungkan Asco dengan Sebastian! Biarkan Garda dan Lee akan mengurus semuanya! Kamu tahu apa yang akan dilakukan setelah ini! Papa akan mengirimkan kamu ke daerah konflik! Setelah itu kamu tidak usah kembali lagi ke Indonesia!" perintah Bayu yang penuh dengan amarah.
Jederrrrrrrrr.
Bagai petir di siang bolong. Lee langsung terdiam dan tidak akan membiarkan Erra pergi dari hidupnya. Lee terpaksa keluar dari ruangan meeting itu untuk mencari udara segar. Lee tidak menangis sama sekali. Namun hatinya merasa berdenyut hebat. Lee bisa merasakan kegundahan sang suami. Ya… nasib Erra sekarang berada di ambang kehancuran.
Setelah itu Lee kembali ke ruangan Asco. Tak sengaja Lee melihat Jake dan Greg yang sudah duduk di ruangan itu. Lee menatap Jake lalu mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Jake.
"Aku pergi dulu. Aku akan kembali seminggu lagi," jawab Lee.
"Adik kecil… sepertinya kamu ada masalah?" tanya Greg.
Lee menganggukan kepalanya, "Ya… aku ada masalah. Aku akan segera menyelesaikan masalah itu sendiri. Kak Jake dan Kak Greg… jangan khawatir."
__ADS_1
Mereka menganggukan kepalanya tanda paham. Lalu Lee menaruh ponselnya di meja Bayu dan melangkahkan kakinya untuk pergi dari Asco.
Setelah keluar dari lobi Lee berjalan menuju ke halte. Lee melihat banyak mobil yang berlalu-lalang. Mata Lee memutar jengah dengan aktivitas yang ada di jalanan itu. Sesampainya di halte Lee mengambil ponsel rahasianya. Lee menghubungi Pita dan Arini untuk segera menemuinya di bandara. Selesai menghubungi pengawalnya, Lee menelepon seseorang agar menyiapkan jet pribadinya.
Beberapa saat kemudian bus Transjakarta menuju ke Bandara Soekarno Hatta berhenti di depannya. Lee masuk ke dalam dan duduk dengan santai.
Sementara itu Bayu, Andi, Garda, Rani dan Sam meninggalkan Erra. Mereka tidak sanggup lagi melihat Lee yang kembali menderita. Mereka bergegas mencari keberadaan Lee di ruangan CEO. Namun mereka tidak menemukannya. Mereka hanya bertemu dengan Jake dan Greg.
"Di mana Lee?" tanya Garda yang merasakan hatinya tidak tenang.
"Lee pergi dari sini," jawab Jake.
"Dia meninggalkan ponselnya di meja," tambah Greg.
Mereka semua terdiam dan merasakan hatinya berdenyut. Sedari tadi Rani hanya diam tanpa kata langsung meneteskan air matanya. Rani tidak kuat harus berpisah dengan Lee. Karena selama ini Rani sudah menganggap Lee putri kandungnya.
"Sebarkan para pengawal untuk mencari keberadaan Lee!" perintah Bayu.
"Sepertinya tidak perlu pa. Aku sudah mengenal Lee dari dulu. Lee akan segera membereskan masalah ini dengan caranya sendiri," ucap Sam.
Saat Garda mengucapkan Lee menghilang, Erra tidak sengaja mendengarnya. Erra terdiam dan membuka pintu. Hati Erra berdenyut hebat dan mulai frustrasi. Matanya yang normal berubah menjadi merah karena menahan amarah.
"Aku akan mencarinya! Lee harus kembali kepadaku!" tegas Erra yang berlari meninggalkan mereka.
Melihat kepergian Erra, Sam dengan cepat mengejar Erra. Namun Sam kali ini beruntung karena lift masih tertutup. Sam mendekati Erra sambil berkata, "Ikut aku terlebih dahulu!"
"Apa maksudnya? Istriku menghilang dari pelukanku!" geram Erra yang ingin menghajar Sam.
"Ikut aku!" bentak Sam.
Akan tetapi Sam menghajar Erra dengan sekali menendang kakinya. Erra jatuh tersungkur dan merasakan kakinya sakit. Erra berusaha bangun tapi tidak bisa. Akhirnya Sam membantu Erra bangun. Kemudian memapah Erra kembali ke ruangan CEO.
Sesampainya di ruangan CEO, Sam membantu Erra duduk di sofa. Sam segera jongkok dan membuka sepatu Erra. Sedangkan Erra hanya meringis kesakitan. Tendangan Sam kali ini membawa bencana bagi Erra.
"Apakah lu tahu sifat Lee gimana?" tanya Sam yang berhasil melepaskan sepatu Erra.
Meskipun Sam adalah CEO perusahaan bergerak di bidang makanan. Sam sangat ahli dalam mengobati kaki yang terkena tendangan. Bisa dikatakan Sam memiliki jiwa tabib. Sam sengaja mempelajari pengobatan alternatif melalui gurunya yang mengajarkan jurus-jurus ninja. Alhasil Sam bisa menggunakan ilmunya itu dalam keadaan darurat.
__ADS_1
"Istri gue pergi Sam," jawab Erra yang masih meringis kesakitan.
"Gue bilangin sekali lagi. Lee tidak akan pernah lepas dari pelukan lu. Lee sekarang pergi sebentar hanya untuk mencari barang bukti soal anak yang dimiliki oleh Elizabeth," ucap Sam.
"Apakah itu benar?" tanya Erra.
"Ya… Lee tidak mau bukti yang dikirim oleh orang lain untuknya. Karena Lee memiliki tipe yang tidak bisa mempercayai orang begitu saja," jawab Sam.
Seluruh orang yang berada di sana langsung bergidik ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan nasib Elizabeth setelah ini. Mereka tahu singa betina akan mengamuk.
"Sepertinya singa betina akan mengaum," celetuk Greg.
"Apakah aku harus mencarinya?" tanya Erra dengan wajah sendu.
"Tidak perlu kamu mencarinya. Biarkan saja singa betina yang akan mencari bukti itu!" perintah Bayu.
"Lalu bagaimana dengan nasib ular pitonku ini?" tanya Erra yang secara tidak sadar membuat semua orang jengah.
"Garda, apa yang dikatakan Elizabeth itu benar?" tanya Rani ke Garda.
"Itu tidak benar sama sekali. Erra tidak pernah bertemu dengan yang namanya Elizabeth. Erra tidak pernah mabuk sama sekali. Jika Erra keluar malam aku selalu berada di sisinya," jawab Garda dengan jujur.
Disisi lain Bayu belum mempercayai sama sekali dengan cerita Garda. Karena selama di Amerika Bayu tidak mendengar berita tentang Erra. Bayu lebih fokus pada pekerjaannya.
"Aku belum percaya apa yang dikatakan oleh Garda. Otakku masih putih abu-abu. Kemungkinan besar Erra sering keluar malam tanpa sepengetahuan Garda," ucap Bayu yang belum sepenuhnya percaya.
"Kalau papa enggak percaya sudah. Biarkan aku mencari bukti untuk menemukan kebenarannya," kesal Erra terhadap Bayu.
"Papa tidak perlu bukti dari kamu. Papa hanya ingin bukti dari singa betina. Jika anak itu adalah anakmu. Maka ceraikan Lee. Papa tidak mau Lee menderita karena ulahmu!" gertak Bayu dengan tegas.
Ancaman Bayu membuat Erra berhasil kelimpungan. Erra tidak mau berpisah dengan singa betinanya itu. Setelah Sam mengurut kaki Erra. Sam berpamitan pulang. Sam akan melacak keberadaan Lee sendiri.
Hampir satu jam Lee akhirnya sampai ke bandara. Lee berjalan melalui jalur VVIP. Dengan tenang Lee masuk ke ruangan khusus dan melihat Arini dan Pita yang sudah bersiap-siap.
"Kakak," seru Pita dengan suara manjanya.
Lee tersenyum sambil mendekati Pita. Lee menghempaskan bokongnya lalu duduk di samping gadis imut itu, "Apakah kamu bekerja hari ini?"
__ADS_1