
"Kamu itu nggak ada romantis-romantisnya. Pakai ngusir-ngusir orang segala. Untung yang diusir nggak marah," ledek Andi.
"Aku memang begini kok pa. Kalau nggak percaya tanya saja sama Lee. Lee tahu tabiatku bagaimana? Kalau nggak ada urusan pasti aku akan mengusirnya," ucap Garda yang melihat jam di tangan. "Waktunya makan siang. Aku akan mengajak Arini pergi ke warung makan di ujung jalan sana."
"Ya sudah sana. Sekalian selesai jam istirahat kamu minta semua laporan dari seluruh divisi!" perintah Andi.
Garda hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Garda keluar dari ruangannya Andi. Garda melihat ada seseorang yang mendekati Arini. Namun orang itu ingin mengajaknya bertengkar.
"Lu nggak lihat? Seluruh anak divisi pemasaran lagi pusing!" tanya wanita itu dengan tegas namun menyakitkan.
"Maksud lo apa? Kan gue minta laporannya. Bukan minta laporan anak-anak divisi lagi pusing. Wajar toh. Lagian juga 2 bos kita sedang meminta laporannya! Apa salahnya sih!" jawab Arini dengan nada yang tegas juga.
"Lu sudah kelewatan! Gue bilang nanti ya nanti! Lu setiap hari minta laporan pemasaran terus! Apa otak lu gak mikir!" geram wanita itu.
"Amber.... Gue minta laporan dari empat bulan yang lalu. Wajar kan gue. Bayangin 4 bulan lalu mintanya sekarang. Apa susahnya sih tinggal ngasih sama gue? Lagian yang minta bukan gue! Gue di sini sekretaris! Nggak ngurus soal penjualan apartemen! Sekarang gue salah apa? Yang minta kan Pak bos bukan gue!" kesal Arini yang tidak mau mengalah.
"Gue nggak peduli itu. Anak-anak lagi pusing bikin laporan empat bulan yang lalu. Dan lu seenaknya saja minta-minta ini," ucap Ambar nama wanita itu.
Garda pun bingung dengan pernyataan Ambar. Dirinya dan sang papa meminta laporan selama empat bulan. Tapi alasannya seluruh anggota divisi pemasaran pusing. Garda mulai curiga dengan Ambar. Kemudian Garda mendekatinya sambil menatap wajah Arini, "Apakah itu betul?"
"Iya Pak. Aku sudah meminta laporan pemasaran tentang penjualan unit di Jabodetabek dan Jawa Barat. Ketika Aku mau mintanya beberapa hari yang lalu. Jawabannya adalah masih diurus," jelas Arini yang menunduk ketakutan.
"Nggak ada tuh. Lu nggak minta laporan itu selama beberapa hari belakangan. Lu mintanya sekarang," ucap Ambar sambil tertawa.
__ADS_1
"Eh... Gua punya salinan berkas pesan dari warna hijau. Kalau gue print. Lalu kasih ke Pak Garda bagaimana? Jangan ngeles jadi orang. Atau jangan-jangan uang penjualan apartemen udah lu ambil. Buat bayar mobil mewah lu itu," ujar Arini dengan nada sarkas.
Seketika Ambar terkejut dengan tuduhan Arini. Wanita itu langsung mengangkat tangannya dan hendak menampar Arini. Namun Ambar mendapatkan tetapan tajam dari Garda. Lantas dirinya mengurungkan niatnya untuk tidak menampar Arini.
"Mobil mewah? Baiklah... Aku akan meminta Nyonya Lee untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Jika kamu terbukti melakukan korupsi di dalam perusahaan ini. Maka kamu tahu akibatnya," ancam Garda dengan nada yang datar namun mematikan.
Ambar langsung tercekat dan tidak bisa berbicara. Ia langsung mati kutu di hadapan Garda.
"Arini!" panggil Garda dengan nada tegas.
"Iya Pak," sahut Arini. "Ada apa Pak?"
"Minta pada kakak besarmu untuk menyelidiki kasus penjualan apartemen empat bulan belakangan ini! Aku nggak mau tahu kalau orang ngamuk. Masalah ini harus cepat diselesaikan. Aku nggak mau masa ini berlarut-larut hingga tahun depan," jawab Garda dengan suara beratnya sambil mengintimidasi Ambar.
Tiba-tiba saja Ambar merasakan hawa yang tidak enak. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia harus mencari cara agar bisa keluar dari sarang macan ini. Jujur saja dirinya sekarang sangat ketakutan sekali.
"Tunggu nanti sore! Nasibmu akan aku tentukan! Jika kamu terbukti melakukan pencucian uang untuk membeli sebuah mobil mewah. Aku tidak segan-segan memecatmu lalu menarik seluruh fasilitas yang kamu miliki di perusahaan ini! Aku pastikan kamu tidak mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Karena namamu sudah aku blokir!" ancam Garda sambil menatap tajam ke arah Ambar.
Arini langsung meraih ponselnya dan menghubungi Lee. Sedangkan Garda mengusir Ambar untuk pergi dari hadapannya. Dengan kesalnya garden memaki seluruh anak-anak divisi pemasaran. Bagaimana bisa ketika dirinya meminta laporan? Jawabannya hanyalah nanti saja. Apakah ini yang disebut dengan kerja profesional? Garda tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang.
Selesai menghubungi Lee, Arini tidak berani menatap wajah Garda. Memang betul apa yang dikatakan oleh para anggota White Eragon maupun Black Dragon. Kalau Garda adalah orang paling kejam di Black Dragon. Saking kejamnya mereka tidak berani mendekatinya.
"Kita tunggu hasil dari Kakak besarmu itu. Cepat atau lambat kita akan mengetahui hasil yang sesungguhnya. Kalau bisa Lee disuruh ke sini saja," pinta Garda.
__ADS_1
"Bagaimana dengan suami Kakak besar?" tanya Arini.
"Suruh saja ke sini. Nggak usah takut sama itu orang. Lagian juga Kakak besarmu masih terikat dalam perusahaan ini. Bahkan seumur hidup," jawab Garda.
Arini menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Garda. Meskipun Lee tidak pernah mengurus Sebastian Groups International Corporation, namun Lee didaulat untuk menjadi penjaga sistem keamanannya.
Meskipun ada tugas dadakan, Lee harus tetap mengerjakannya walau malam hari pun. Upaya yang diberikan oleh Andi untuk Lee sangat fantastis sekali. Jika ditotal Lee bisa membeli pesawat jet pribadi setahun sekali.
Bayangkan saja. Lee yang sudah memegang sistem keamanan Sebastian Groups selama delapan tahun, kemungkinan besar Lee bisa memiliki jet pribadi sebanyak delapan buah.
Setelah menghubungi Lee, akhirnya Garda mengajak Arini keluar dari hotel. Sepanjang perjalanan menuju ke lobby, Arini mendapatkan tatapan tajam dari para karyawati. Mereka tidak suka jika Arini mendekati Garda. Karena Garda di sana sudah menjadi famous. Sangking famousnya Garda sering dikejar-kejar oleh karyawatinya sendiri.
Sesampainya di lobby Garda melihat jalanan sedang macet. Ia langsung menghembuskan nafasnya secara kasar. Niat ingin mengajak makan malahan terjebak macet. Lalu dirinya memandang Arini sambil bertanya, "Mau makan di mana?"
"Entahlah. Macet parah nggak bisa keluar. Emang nggak mau ya makan di restoran sana," tunjuk Arini.
"Kalau begitu ya sudah. Terpaksa makan di sana lagi. Kapan ya bisa mengajakmu menikah? Setelah menikah kamu harus memasak buat diriku. Agar aku bisa menikmati masakan sederhana darimu," bisik Garda yang membuat Arini merinding.
"Tuan serius mau nikah?" tanya Arini yang pura-pura tidak tahu.
"Seriuslah. Memangnya aku bercanda apa? Aneh kalau aku sampai bercanda. Bisa-bisa pemilik perusahaan ini akan menggantung ku di atas gedung Asco," jawab Garda secara blak-blakan.
"Kenapa harus di gedung Asco? Kenapa nggak di gedung ini saja?" tanya Arini yang bingung dengan gedung Sebastian Group.
__ADS_1