
“Sepertinya sang ketua sedang tidur. Kamu harus menghubungi papamu itu untuk segera membebaskan mereka. Atau juga kita pulang ke sana bersama-sama. Bagaimana menurutmu?”jawab Sam sedang memberikan pertanyaan.
“Sepertinya. Tapi aku tidak membawa ponsel. Ponselku ada di kamar,” jawab Lee yang lupa membawa ponsel.
“Kalau begitu pakailah ponselku,” sahut Sam sambil menyodorkan ponselnya ke arah Lee.
Lee segera meraihnya dan mengetik nomor telepon sang papa. Lalu sang papa yang sedang menginterogasi kedua putranya itu mengangkat dan menyapa Lee, “Halo.”
“Pa,” panggil Lee dengan lembut.
“Katanya kamu mau pergi ke air terjun Niagara. Apakah kamu sudah berangkat?” tanya Andi.
“Bagaimana mau berangkat? Jika aku kepikiran dengan dua pria yang kusayangi,” jawab Lee dengan nada sendu.
“Aish.... Kamu masih memikirkan mereka!” geram Andi.
“Iyalah pa,” ujar Lee dengan semangat.
“Jadi kamu nggak mikirin papa?” tanya Andi dengan kesal.
“Ya mikirin sih. Tapi sedikit. Papa kan sudah punya istri. Lalu kenapa bapak protes?” tanya li hingga membuat Andi mencak-mencak.
“Lho, aku salah ngomong ya?” tanya Lee yang membuat saya tertawa terbahak-bahak.
“Awas saja kamu! Semenjak ada dua pria itu kamu melupakan papa!” gera mandi semakin menjadi-jadi.
“Waduh Papa marah,” celetuk Lee.
“Terserah kamu aja! Dasar Putri kurang ajar!” teriak Andi yang membuat Erra dan Garda melotot.
Lee semakin tertawa terbahak-bahak mendengar Andi marah. Sudah lama dirinya tidak mengerjai sang papa hingga semarah ini. Ada benarnya juga Li mengatakan kalau sama papa sudah memiliki istri. Kenapa juga minta perhatian dirinya?
“Papa tahu nggak? Kalau istri bapak itu sangat cantik melebihi seorang Barbie. Tapi kenapa Papa selingkuh dan mengajak Lee berjalan-jalan terus-menerus?” tanya Lee.
“Astaga naga,” keluh Andi sambil menatap tajam ke arah dua pria tersebut.
__ADS_1
“Pa... Jangan ngomongin naga. Nanti kalau kena sembur... Aku tidak mau tanggung jawab,” ledek Li yang membuat Sam makin tertawa.
“Terserahlah apa katamu! Pokoknya bapak akan menghukum dua pria itu di ruangan bawah tanah selama dua hari dua malam! Apakah kamu paham?” tanya Andi dengan nada tegas.
“Lha, Kenapa Papa menghukum mereka?” tanya Lee dengan serius.
“Karena mereka kamu telah melupakan Papa titik nggak pakai koma,” jawab Andi yang membuat kedua pria itu semakin bengong.
“Ja... ja... ja... Jadi papa menghukumnya?” tanya Lee.
“Iyalah... Biar mereka merasakan akibatnya. Karena telah merebut putriku satu-satunya dari pelukanku,” jawab Andi yang meledek Erra dan Garda. “Sekarang bapak tanya, apakah kamu jadi pergi ke air terjun Niagara?”
“Aku belum ke mana-mana. Aku masih berada di apartemennya Kak Sam. Aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku ingin pergi ke makam Chandra tapi nggak jadi. Si Adam telah mengibarkan bendera peperangan. Sudah saatnya aku beraksi untuk menghabisinya. Selesai makan aku kembali ke markas. Dan papa harus melepaskan mereka berdua. Aku ada rencana yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Dan ini sangat penting sekali mengingat Adam akan memburu enam pilar utama,” ungkap Lee dengan sebenarnya.
“Kalau itu maumu baiklah. Cepatlah pulang setelah itu bersih-bersih. Karena malam ini kita akan pulang ke Jakarta,” pinta Andi.
“Baiklah,” balas Lee.
Sambungan terputus.
“Aku memutuskan tidak jadi dulu. Karena aku sudah menyusun rencana untuk menghancurkan Adam. Aku tidak ingin menundanya lagi. Jika kita menundanya, Adam akan menghancurkan kita dengan cepat,” jawab Lee dengan serius.
“Terserah kamu,” ucap Nanda dengan serius. “Aku harap badai ini segera berakhir. Aku sangat bosan sekali mendengar ada membuat ulah pada kita.”
“Kalau begitu kita makan terlebih dahulu setelah itu kembali ke markas,” titah Sam.
Istanbul Turki.
Seorang pria tua berduka atas kematian sang kakak. Pria itu tidak menyangka kalau sang kakak pergi selama-lamanya. Namun hatinya merasakan panas membara yaitu dendam. Adam nama pria itu mengepalkan tangannya sambil menggeram, “Mulai saat ini aku akan memburumu. Karena kamu sudah membuat Candra meninggal.”
Beberapa saat kemudian datang Ignatius dan Marco. Mereka masuk ke dalam kamar dan melihat Adam sedang tidak baik.
“Apa kabarmu Adam?” tanya Ignatius.
“Aku sedang tidak baik-baik saja,” jawab Adam.
__ADS_1
“Kami turut berduka cita atas kematian Chandra,” ucap Marco yang membuat Adam mendongak ke atas.
“Terima kasih atas ucapannya,” balas Adam.
“Aku ingin bicara padamu,” pinta Ignatius.
“Apa yang harus aku bicarakan pada kalian?” tanya Adam dingin.
“Bisakah kamu tidak memperpanjang dendam ini kepada mereka?” tanya Marco.
“Semudah itu kau mengatakan padaku? Keluargaku dihabisi mereka dengan brutal,” jawab Adam berapi-api.
“Aku ingin kamu mengetahui sesuatu. Kamu harus tahu sesungguhnya. Siapa yang dihabisi dan menghabisi?” ujar Marco.
“Mereka telah menghabisi ayah ibuku,” jawab Adam dengan lirih.
“Mereka tidak bersalah sama sekali. Tapi orang tuamulah yang bersalah. Kenapa aku mengatakan seperti itu? Karena selama ini kamu sudah dicuci otaknya oleh papamu. Singa betina berhak marah atas kelakuan kamu dan Chandra. Jujur aku bukan orang mafia. Tapi aku harus menghentikannya. Lebih baik kamu berdamai dengan keadaan. Tanpa harus banyak orang yang menanggungnya. Apakah kamu paham soal itu?” tegas Ignatius.
“Maksud kamu apa melarangku untuk membantai mereka?” tanya Adam dengan ketus.
“Aku memang bukan siapa-siapamu. Dan aku juga bukan siapa-siapa mereka. Kamu tahu papaku adalah sahabat baik papamu dan papa mereka. Papaku adalah penyambung lidah bagi mereka. Selama papaku berteman dengan kalian ada yang mencolok dari kalian semua. Enam pilar utama didirikan bukan untuk mencari musuh. Mereka ingin membantu makhluk hidup di bumi ini menjadi makmur. Sedangkan papamu tidak menyukai itu. Papamu menginginkan mereka lenyap dari bumi ini agar bisa menguasai semua sektor,” jelas Ignatius.
“Jika kamu tidak sadar kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sekalinya singa betina ngamuk ditambah singa jantannya maka tahu akibatnya. Jika kamu menghentikan sekarang dan tidak mengusik mereka, kamu bisa hidup dengan damai dan tenang. Apakah kamu paham soal itu?” tegas Marco yang sudah muak oleh Adam.
“Kalian lebih memilih membela mereka,” ketus Adam.
“Sudah aku katakan, aku tidak memilih membela siapapun. Tapi aku menginginkan kalian berdamai dan bekerja sama membangun bumi ini menjadi lebih baik lagi. Jika kamu bermusuhan secara terus menerus, maka jangan salahkan aku, jika singa betina mengaum terus-terusan mengejarmu dan membunuhmu. Aku sekarang melepaskanmu. Terserah apa mau,” perintah Marcp.
“Jangan ikut campur semua masalahku! Percuma kamu ngomong seperti itu ke aku! Cepat atau lambat aku akan menghabisi mereka dengan tanganku sendiri!” garam Adam yang tidak mau dengar mereka.
“Terserah apa katamu. Aku sudah bosan melihat pertengkaran ini. Jika ada masalah apapun yang berhubungan dengan mereka, aku memilih angkat tangan dan selesaikan sendiri masalahmu. Karena mereka tidak salah sama kamu. Camkan itu Adam! Kami balik dulu!” pamit Ignatius.
Terpaksa mereka kembali ke negaranya. Mereka sangat bosan sekali sering memperingatkan Adam maupun Candra. Sebelum orang tua mereka meninggal, mereka mendapatkan sebuah map. Map itu berisi tentang siapa dulu yang membuat tali permusuhan ini berkobar? Mereka membacanya dan baru sadar, kalau selama ini pihak Chandralah yang membuat masalah. Mereka memutuskan untuk membantu mendinginkan suasana dunia bawah tanah.
“Kita gagal untuk mendamaikan mereka. Aku nggak tahu harus bagaimana? Sesuai amanat orang tuaku, Aku gagal total,” ucap Marco yang bersedih.
__ADS_1
“Di mana Marvin?” tanya Ignatius.