Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 132


__ADS_3

"Belanja... Aku rindu ingin mengajaknya belanja. Semenjak pulang kesini aku tidak bisa mengajaknya belanja," jawab Caroline yang kesal terhadap Erra.


"Kenapa kamu tidak mengajakku belanja? Bukannya kamu ingin belanja sesuka hatimu?" tanya Andi yang meledek Caroline.


"Ah... Rasanya tidak perlu. Aku tahu hatimu akan jengkel ketika aku mengajakmu," jawab Caroline yang pergi meninggalkan Andi.


"Sayangku! Kamu tahu saja kalau aku jengkel!" seru Andi yang terkekeh karena ulah sang istri itu.


"Ya tahulah," sahut Caroline yang berhenti dan menatap Andi. "Makanya setelah aku melahirkan Brucce. Aku ingin menambah anak lagi yang berjenis kelamin perempuan. Agar anak perempuanku bisa menemaniku belanja. Tapi nyatanya malah dikuasai oleh Erra."


Andi tertawa tertawa terbahak-bahak ketika Caroline mencurahkan isi hatinya. Andi memang paling tidak suka kalau diajak belanja. Caroline hanya memutar bola matanya dengan malas. Ingin rasanya Caroline menghukum suaminya itu.


"Jika mengajak Lee kamu harus meminta izin dulu ke Erra," ucap Andi.


"Apakah aku harus menculiknya ke Paris ya? Sebentar lagi akan ada peluncuran minyak wangiku," ucap Caroline yang meminta saran dari Andi.


"Kapan itu?" tanya Andi.


"Tiga bulan lagi," jawab Caroline.


"Oh... Begini saja... Biarkan Lee pergi ke New York bersama Erra. Bayu sudah memberinya tugas mencari bukti-bukti Seva," saran Andi.


"Aku hampir lupa," ujar Caroline. "Waktunya masih lama. Nanti kamu atur sajalah. Aku hanya bisa menunggu keputusan kalian."


"Ya," balas Andi dengan singkat.


Caroline masuk ke dapur dan mencari keberadaan Lee. Namun sungguh terkejut melihat March dan Jake sambil teler. Matanya membulat sempurna ketika melihat Naomi yang tersenyum manis. Caroline mulai curiga atas Naomi yang membuat sang anak dan suami teler.


"Apa yang kamu lakukan sama anak dan suami kamu itu?" tanya Caroline.


"Ah... Aku ngapa-ngapain," jawab Naomi.


"Kami disuruh meminum jus jeruk buatan Lee tanpa gula. Dan kamu harus tahu itu jeruk yang dipakai itu sangat asam sekali," keluh March.


"Apa?" pekik Caroline. "Oh... Jadi kamu tadi membeli jeruk asam itu hanya untuk mengerjai anak dan suami kamu itu?"


"Iya... Karena adik bayinya yang pengen melihat papanya dan kakaknya meminum jus jeruk buatan kakak Lee," jawab Naomi yang tidak bersalah sama sekali.


Caroline hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Untung saja ketika Naomi hamil Jake tidak menyusahkan seperti ini. Jadi saat itu Caroline dan Rani sangat beruntung sekali karena tidak dikerjai Naomi habis-habisan.


"Dimana Lee?" tanya Caroline.

__ADS_1


"Lagi di kamar sama Erra," jawab Naomi.


"Baiklah kalau begitu," balas Caroline yang meninggalkan mereka yang masih asyik di dapur.


Setelah membuatkan jus jeruk yang asam Lee bersama Erra berada di kamar. Lee tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Jake dan March. Lee membuat rencana untuk mengerjai Candra dengan mengobrak-abrik bisnis dunia bawah tanah milik Candra.


"Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Erra yang membuka bajunya dan memamerkan tubuh atletisnya itu.


"No... Aku sedang membuat rencana untuk mengerjai Candra," jawab Lee yang masih memikirkan rencana itu.


"Kalau begitu baiklah. Aku akan mendukungmu," sahut Erra yang mendekati Lee.


"Jika Candra adalah pengedar obat-obatan terlarang pasti ada pabriknya," celetuk Lee yang memegang keningnya.


"Ya adalah... Masa tidak ada," ujar Erra yang sangat gemas terhadap Lee.


"Apakah kita harus mencarinya?" tanya Lee.


"Buat apa kita mencarinya?" tanya Erra.


"Dibakar dan dihabisi," jawab Lee.


"Lalu, kenapa kamu buat apa organisasi bawah tanah?" tanya Lee.


"Hmmp... Aku hanya melindungi diriku dan mencari keberadaanmu saat itu. Tapi aku tidak menemukanmu," jawab Erra.


"Ya... Kamunya enggak bisa mencariku," ucap Lee.


"Tapi akulah pria yang paling bodoh karena tidak bisa menemukanmu," ujar Erra yang merangkul Lee.


Lee menggelengkan kepalanya sambil menatap Erra, "Tidak... Kakak tidak bodoh. Hanya butuh waktu saja saat itu untuk ketemu."


"Ya... Kamu benar," balas Erra. "Kembali ke topik. Apakah kamu tahu bahan dasar apa yang digunakan untuk membuat obat-obatan terlarang?"


"Selama ini aku belum tahu. Aku tidak memperdulikan itu," jawab Lee.


"Jika kamu tidak tahu, kenapa kamu mencarinya dan membakarnya?" tanya Erra yang mulai curiga.


"Hmmp... Kan aku sudah bilang... Aku ingin membakarnya. Biar tahu rasa itu Candra sialan," jawab Lee yang menghembuskan nafasnya. "Sebentar... Kenapa kita enggak nanya ya ke Dennis?"


"Boleh... Bukannya Black Roses penyuplai barang itu dari Candra?" tanya Erra.

__ADS_1


"Atau kita tanya Marvin?" tanya Lee.


"Apakah Red Devils berkaitan?" tanya Erra balik.


"Aku belum tahu. Kalau kita mengorek informasi dari Dennis. Berarti kita mendapatkan jawaban dari segala hal," jawab Lee. "Tapi kemungkinan besar nyawa Dennis terancam. Terlebih lagi nyawa Marvin. Karena Marvin sendiri adalah kroni-kroninya."


"Kalau begitu kita barter," saran Erra sambil memegang tangan Lee.


"Barter apa?" tanya Lee.


"Kita akan melindungi Dennis. Disisi lain kita bisa merebut perusahaan Marvin. Yang dimana perusahaan itu kita berikan ke Dennis," jawab Erra.


"Apakah kita enggak merebutnya terlebih dahulu?" tanya Lee yang mulai serius.


"Buat apa kita merebutnya terlebih dahulu?" tanya Erra yang mengerutkan keningnya.


"Aku memiliki rencana," jawab Lee. "Jika kita merebut perusahaan Marvin dibidang manufacturing itu... Kita bisa menggabungkan ke Strada Groups milik papa March. Kita bisa mengolah bahan dasar pembuatan mobil. Kita bisa memperbesar dan membangun pabrik itu ke negara-negara besar yang berada di dunia."


"Yang kamu katakan itu benar. Kenapa enggak terpikirkan olehku? Sambil menyelam aku bisa meminum air."


Otak Erra mulai memikirkan caranya merebut perusahaan Marvin. Erra ingin membangunnya kembali hingga besar. Erra akan memasukkan ke Asco Groups untuk sementara. Setelah masalah Candra dan Adam selesai. Kemungkinan besar perusahaan itu akan diberikan ke Dennis.


"Kita harus menemui Marvin terlebih dahulu," ucap Erra.


"Apakah kamu yakin?" tanya Lee.


"Ya... Kita harus membuat surat perjanjian. Yang dimana perusahaan itu akan berada di tangan kita. Kalau Marvin menggugat kita bisa mengajukan semua ini ke pengadilan. Kita harus mempunyai pegangan," jawab Erra.


Lee menganggukan kepalanya tanda setuju. Lee juga tidak mau ada masalah dikemudian hari. Jika ada masalah Lee atau Erra bisa menuntutnya balik. Beberapa saat kemudian Lee memandang wajah Erra sambil bertanya, "Kapan kita berangkat ke Amerika?"


"Sepertinya kamu tidak sabar kesana? Bersabarlah aku memiliki langkah demi langkah yang sedang aku rencanakan. Aku tidak mau semuanya berantakan," jawab Erra yang tersenyum manis. "Apakah lukamu sudah sembuh?"


"Sudah. Kakak tampan... Aku ingin pergi ke kantor," jawab Lee.


"Ngapain ke kantor?" tanya Erra.


"Ya biasalah... Kerja... Masa tidur di kantor," jawab Lee.


"Bisa... Kamu boleh tidur di kantor," ujar Lee.


"Lalu?" tanya Lee.

__ADS_1


__ADS_2