
"Mereka memang saudara kembar. Tapi mereka asli Tiongkok dan menetap disini ketika masih bayi. Orangtuanya memiliki usaha di New York yaitu perusahaan makanan. Tapi Adam telah menghabisi mereka karena enggak mau diajak kerja sama karena sudah tahu tabiat Adam yang suka memaksa. Oleh karena itu Adam langsung membantainya di depan mereka dengan dalih kita yang melakukannya. Si kembar tumbuh besar menjadi gadis cantik. Namun mereka dijadikan sebagai mesin pembunuh. Mereka jugalah yang mencari korban untuk diambil organ tubuhnya,'' jawab Lee yang menjelaskan siapa mereka.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nanda.
"Rencana aku ingin menyelamatkan mereka. Tapi aku enggak jadi. Aku harus mempertimbangkan enaknya bagaimana. Jika aku menolong mereka akan berakibat fatal buat kita semua dan White Eragon. Siapa tahu mereka diam-diam memberikan informasi kepada Adam,'' jawab Lee yang gelisah dengan nasib si kembar.
Bayu mulai membenarkan apa perkataan Lee. Memang benar apa adanya kalau mereka adalah kaki tangan Adam. Bisa jadi ketika ditolong bukannya terima kasih malah membunuhnya. Lee jadi ragu akan keputusannya akan diambilnya itu.
"Jika kamu ingin menolong si kembar pastikan dulu yakin enggaknya hati kamu. Jika kamu menolongnya lalu menyerang kita bisa dipastikan mereka akan menyerang kita secara membabi buta," ucap Nanda.
"Kita lihat saja nanti," celetuk Lee.
Beberapa detik kemudian Lee mendapatkan sebuah pesan dari Christian. Lee membaca pesan itu dengan seksama. Lee terkejut dengan apa yang ditulis sang paman. Lee menghembuskan nafasnya secara kasar sambil berdiri, "Aku harus pergi sebentar."
"Mau kemana?" tanya Erra.
"Mencari Papa Andi," jawab Lee.
Lee mulai berlari sambil mencari keberadaan Andi. Ia diberitahu kalau di mansion sang kakek ternyata ada sebuah ruangan bawah tanah. Di bawah tanah itu ada beberapa dokumen penting berhubungan dengan pertengkaran Adam dan lima pilar utama dunia. Lee sangat penasaran sekali sama dokumen itu hingga akhirnya menemukan Andi dan Garda.
"Papa... Kak Garda," panggil Lee.
"Ada apa?" tanya Andi.
"Apakah di mansion ini ada ruangan bawah tanah?" tanya Lee.
"Ada," jawab Andi. "Kenapa?"
"Apakah papa pernah masuk ke dalam?" tanya Lee lagi.
"Tidak. Papa tidak pernah kesana. Palingan gudang yang berisi tentang barang-barang bekas," jawab Andi.
"Paman Christian memberikan petunjuk kalau ada beberapa dokumen yang tersusun rapi di lemari. Di sana ada banyak bukti tentang keturunan Candra. Aku sangat penasaran sekali pa dengan isi dokumen itu," ucap Lee yang penasaran.
Andi menganggukan kepalanya lalu memijit keningnya. Andi lupa kalau beberapa hari ke depan para pelayan tidak berada di tempat. Mereka adalah panggilan Andi ketika dua Minggu sekali mansion ini dibersihkan.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu," ucap Andi.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Lee.
"Kunci utama ketinggalan di Jakarta," jawab Andi.
"Apa?" pekik Lee.
"Lalu bagaimana dengan penjaga di sini?" tanya Lee yang semakin bingung.
"Mereka tidak pernah masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Adapun yang sering masuk adalah kakekmu," jawab Andi.
"Lee," panggil Garda.
"Apakah kamu masih mengingat sesuatu hal yang penting dalam hidupmu?" tanya Garda yang sedari tadi menatap Erra yang berdiri sambil bersandar di dinding.
"Apa itu?" tanya Lee dengan penuh curiga.
"Kamu tahu kalau ketua mafia Black Dragon sangat pandai membobol pintu? Jika kamu enggak tahu kenalan dulu sana," jawab Garda yang menahan tawa karena melihat sang adik sedang bingung.
"Hmmmp... Aku sepertinya hampir melupakan itu. Bahkan aku tidak tahu kalau ketua Erra sangat pandai membobol pintu," jawab Lee. "Aku akan menariknya ke sini."
Andi baru tahu kalau Erra memiliki kelebihan suka membobol pintu. Andi menatap tajam ke sang putra lalu bertanya, "Apakah itu benar?"
"Apa?" pekik Lee.
"Iya. Karena kekonyolannya Papa Bayu pernah menghukumnya untuk tidak pernah ke kantor selama sebulan," jawab Garda.
"Usia berapa saat itu?" tanya Lee.
"Kurang lebih empat tahun," jawab Garda.
Lee dan Andi saling berpandangan lalu menggelengkan kepalanya. Mereka berpikir secara logika, bagaimana anak sekecil itu bisa membobol kunci ruangan rahasia milik Asco? Sontak saja Andi terkejut mendengar pengakuan Garda. Andi sepertinya mengingat kejadian masa-masa itu. Yang dimana Erra sudah berbuat onar.
"Apakah dia masih mengingat bagaimana caranya membobol pintu?" tanya Andi.
"Ya masihlah. Kenapa juga aku lupa. Kalau begitu pintu mana yang aku bobol?" tanya Erra dengan penuh percaya diri.
"Huahaha... Menantuku memang cakep kalau membuat keonaran," jawab Andi dengan nada menyindir.
__ADS_1
"Papa jangan menyindir aku. Itu belum seberapa. Aku bisa menghancurkan hotel papa yang berada di New York," ucap Erra dengan dingin.
"Kamu tahu beberapa hotel yang berdiri itu adalah milik Lee. Jika kamu yang menghancurkan berarti berurusan dengan Lee," ujar Andi dengan membuat kalah telak Erra.
"Apakah itu benar?" tanya Erra.
Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum membunuh. Lalu Erra menunduk sambil berkata, "Sial dech gue kalau yang ini. Jujur saja jika berhadapan dengan singa betina dengan mode seperti ini gue bisa dipecat."
Garda dan Andi langsung meledakkan tawanya. Jujur saja Erra takut dipecat oleh Lee karena urusan menghancurkan hotel. Erra langsung memasang wajah bocah kecil dan mendekati Lee dan menghamburkan kepalanya di dada sang istri.
"Mama," panggil Erra dengan nada merengek. "Mama jangan memecatku."
Mata Garda membulat sempurna melihat Erra yang tiba-tiba saja manja kaya bocah. Garda mengusap wajahnya yang penuh frustasi. Garda ingin melemparkan Erra ke jurang neraka saat ini juga.
"Ayo ikut papa. Biarkan Erra mendadak jadi bocah!" ajak Andi yang menarik tangan Garda.
"Aku tidak mau jika enggak bersama Lee," ucap Garda yang tersenyum devil.
Tiba-tiba saja Garda ingin merusak kebahagiaan Erra saat ini. Garda langsung mengambil dompetnya dan mencari kartu hitam.
"Apakah kamu pergi jalan-jalan bersamaku sore ini?" tanya Garda yang tersenyum mengejek Erra.
"Ah... Rasanya itu bukan ide yang buruk," jawab Lee yang setuju.
"Ayolah ikut aku! Tinggalkan saja dia!" ajak Garda.
Lee melepaskan pelukannya sambil tersenyum melihat Erra. Kemudian Lee memegang wajah tampan sang suami sambil berkata, "Kakak tampan... Aku mau pergi dulu ya sama kak Garda."
Glek.
Erra menelan salivanya dengan susah payah. Disaat lagi sayang-sayangnya Lee malah pergi meninggalkannya. Dengan wajah yang sulit diartikan Erra langsung memandang Garda dengan tatapan membunuh, "Kamu mau ajak kemana istriku!"
"Cih, istrimu. Dia adalah adikku," jawab Garda dengan santai.
"Dia adalah istriku. Dia adalah jodohku sejak kecil. Kamu tahu itu kan. Aku memang menunggunya ketika masih dalam perut mama Caroline," ucap Erra dengan nada dingin.
"Hey... Kamu tahu enggak... Kalau aku yang meminta Lee dari papa. Dan papa mengabulkan permintaanku. Aku memang menginginkan seorang adik hanya untuk menemaniku," jelas Garda yang tidak mau kalah.
__ADS_1
"Dia adalah jodoh aku," ujar Erra yang tidak terima.
"Jodohmu atau bukan itu terserah. Aku akan bilang sama kamu kalau Lee adalah adikku," kata Garda yang membuat Erra kalah telak.