
"Caranya adalah aku disuruh tinggal di apartemen selama sehari dan tidak boleh melakukan apa-apa," jawab Gerry sambil tersenyum manis.
"Itu namanya diskorsing alias istirahat. Kamu itu bagaimana sih nggak bisa membedakan dibekukan sama istirahat?" tanya Elizabeth.
"Ya begitulah ceritanya. Kalau bos Chandra memang mengatakan seperti itu. Tapi kalau Tuan Adam beda lagi. Tuan Adam menyuruhku beristirahat saja," jawab Gerry yang membuat Elizabeth bingung.
"Aku yakin kamu bingung. Begitu juga dengan aku. Istilahnya bos Chandra itu sangat aneh sekali dan sulit dicerna," jelas Gerry.
"Ah sudahlah... Biarkanlah bos Candra tenang. Aku berharap bos Chandra sudah tidak membuat kita susah lagi," ucap Elizabeth yang mendapat anggukan dari Gerry.
"Kapan-kapan kita ke Jakarta yuk!" ajak Gerry.
Elizabeth langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau ke Jakarta lagi. Karena di kota itulah Elizabeth telah membunuh putrinya sendiri dengan cara dimutilasi. Ada rasa sesak di dalam dada. Andaikan dirinya tidak melakukannya. Dirinya tidak akan seperti ini. Sungguh sesak rasa di dalam hati. Namun ia langsung memeluk Gerry sambil menangis.
Gerry yang paham dengan keadaan Elizabeth hatinya teriris. Bagaimana tidak dirinya juga mengetahui kasus pembunuhan itu? Memang dulu mereka memiliki sifat iblis. Namun Sekarang keadaan berbeda. Ia tidak mau mengingat hal itu lagi. Suatu hari nanti jika dirinya memiliki keturunan. Ia tidak akan membunuhnya dan membiarkan mereka hidup untuk menghiasi rumah kecilnya itu.
Jakarta Indonesia.
Pesawat Imam sudah mendarat dengan baik di bandara. Imam sengaja menurunkan pesawat itu karena tidak ada tempat landasan di markas. Sebab pesawat yang dimiliki oleh Imam yang satu ini adalah pesawat Airbus. Yang di mana pesawat itu memiliki kapasitas yang sangat besar sekali.
"Apakah di sini bisa mendaratkan pesawat Airbus?" tanya Erra.
"Nggak apa-apa. Justru itu pesawatku tidak akan muat jika mendarat di depan markas," jawab Imam. "Yang penting surat perizinan sudah diurus sama asistenku di kantor."
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan istriku ini?" tanya Erra.
"Bawa saja sama brangkar itu," jawab Imam. "Sebentar lagi akan ada ambulans ke sini. Mereka yang akan mengantarkan adik kecilku ini ke rumah."
"Kamu gila kali. Kamu memakai fasilitas Rumah sakit," kesal Erra.
Imam tersenyum lucu sambil menganggukkan kepalanya. Memang Imam sengaja melakukannya agar Lee nyaman hingga sampai ke tempat tujuan. Banyak mengira kalau Imam sedang membawa pasien. Ternyata Imam membawa Putri tidur yang sangat cantik sekali.
"Aku memang sengaja melakukannya. Agar istrimu itu tiba sampai tujuan. Kamu nggak akan mungkin menggendongnya ketika turun dari pesawat," sahut Imam sambil tertawa mengejek Erra.
"Dasar sialan lu!" kesal Erra semakin menjadi.
"Jangan kesal seperti itu. Tidak baik untuk kesehatan. Sebentar lagi ambulans akan tiba ke sini. Kemungkinan besar ambulans sedang dalam kemacetan di kota Jakarta ini," ujar Imam yang masih menjaga sepasang suami istri itu.
__ADS_1
"Dasar dokter gila! Kenapa juga kamu menjadi dokter sinting seperti ini?" tanya Erra.
"Kenapa juga kamu menjadi seorang pria yang sangat aneh sekali?" balas Imam.
Mereka saling memandang langsung tertawa. Entah mengapa mereka saling mengejek satu sama lain? Sedari kecil kedua pria itu selalu melontarkan ejekan hingga membuat orang di sekelilingnya pusing. Namun ejekan kali bisa membuat mereka bahagia.
"Selamat ya bro sebentar lagi menjadi seorang papa," ucap Imam dengan tulus.
"Kamu juga. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang suami dan Papa," ujar Erra dengan tulus.
"Tinggal lainnya yang belum menikah. Aku berharap mereka akan segera menyusul kita. Terutama bekas asistenmu itu yang masih menjadi kulkas berjalan," ledek Imam.
"Untung saja di sini tidak ada Garda. Kalau ada Garda kamu akan dilempar ke daerah konflik," sahut Erra.
"Memang Garda hobi sekali melemparkan orang ke daerah konflik. Untung saja para pengawal Black Dragon tidak berangkat ke sana. Kalau sampai berangkat ke sana kemungkinan besar kita kehabisan pengawal," beber Imam.
"Apakah itu benar? Ternyata Garda benar-benar serius ingin melemparkan mereka ke daerah konflik," tanya Erra.
"Kalau tidak aku cegah mereka akan berangkat ke sana. Terpaksa aku harus ngerolling mereka ke beberapa daerah. Agar mereka bisa menikmati hidup sambil menjadi pengawal Black Dragon," jawab Imam yang membuka kartu Garda.
"Untung saja kamu langsung bergerak. Jika tidak aku tidak bisa membayangkan Bagaimana kehabisan pengawal saat kita bertempur bersama musuh," sahut Erra yang sedang membayangkan tidak memiliki para pengawal.
Selepas malam tiba. Ambulans pun datang untuk mengangkut Lee. Para papa dan para mama sudah kembali ke rumah untuk menunggu kedatangan Lee. Mereka langsung mengevakuasi Lee dengan hati-hati.
Setelah mengevakuasi, mereka langsung melesat ke arah Mansion Drajat. Namun di dalam perjalanan, Lee sudah membuka mata dan melihat Erra.
"Kok aku berada di ambulans ya?" tanya Lee yang membuat Erra terkejut.
"Kamu sudah bangun yang?" tanya Erra balik.
"Aku nggak tidur kok," jawab Lee yang membuat Imam juga terkejut.
"Bagaimana bisa kamu tidak tidur? Padahal obat tidur itu sudah aku targetkan delapan jam ke depan kamu bangun," tanya Imam.
"Mungkin Kakak salah memberikan obat tidur. Kakak hanya memberikan obat itu hingga membuat tubuhku menjadi segar," jawab Lee.
Seketika Imam mengerutkan keningnya. Apakah dirinya salah membawa obat ketika ke sini? Ini sangat aneh sekali baginya.
__ADS_1
Kemudian Imam merogoh kantongnya dan menemukan sebuah botol bekas obat tadi. Lalu Imam meraih ponselnya dan menyalakan senter. Setelah dicek obat itu ternyata hanya sebuah vitamin. Imam memandang wajah Erra sambil tersenyum meringis.
"Maafkan Aku. Aku nggak baca sih obat itu. Lagian obat tidur sama vitamin botolnya mirip. Bahkan labelnya juga mirip. Entah siapa yang ngasih label itu dan botol itu secara sama," ucap Imam sambil meringis.
"Oh jadi itu. Kenapa juga kamu nggak bangun dari tadi?" tanya Erra.
"Aku tadi benar-benar ngantuk sekali. Aku memutuskan untuk tidur di dalam pesawat," jawab Lee.
"Lho, selesai minum jus alpukat. Kamu kok langsung menaruh kepalamu di atas meja?" tanya Erra.
"Aslinya aku sudah mengantuk. Jadi aku putuskan untuk tidur setelah minum jus alpukat. Memangnya kenapa? Sepertinya Kakak keberatan," jawab Lee sambil bertanya balik.
"Berarti kita kena tipu," kesel Erra yang mendapat anggukan dari Imam.
"Sepertinya calon bayimu sedang mengerjaimu," ucap Lee.
Erra terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisanya dirinya tertipu oleh Imam. Kenapa istrinya tidak bangun saja dari tidurnya itu?
Lalu bagaimana dengan Imam? Jujur selama hidupnya menjadi dokter. Imam tidak pernah salah memberi obat. Malahan Imam sekarang salah memberi obat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Imam. Obat tidur sama obat vitamin labelnya sama. Padahal Imam sendiri sudah meminta suster untuk membedakannya. Untung saja obat itu membuat tubuh menjadi sehat dan kuat. Dan vitamin itu tidak mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan Lee.
Sesampainya di mansion, Lee turun dari mobil ambulans. Baru kali ini dirinya naik di dalam mobil ambulans tersebut. Akan tetapi wanita berwajah imut itu pun tidak pernah protes kepada Imam maupun suaminya sendiri. Bahkan Lee akan menjadikan pengalaman ini sebagai pengalaman yang kocak di dalam hidupnya.
Tepat di depan mansion, air mata Lee mulai menetes. Ia sangat merindukan rumah keluarga derajat yang bergaya klasik itu. Untung saja dirinya bisa sampai rumah dengan selamat begitu juga dengan anak-anaknya. Lee akan berjanji akan hidup tenang di rumah ini.
"Kita akan merawat anak-anak kita di sini," ucap Lee penuh haru.
"Kamu benar. Cepat atau lambat anak-anak kita akan tumbuh di sini dan mengeluarkan teriakan-teriakan yang membuat rumah ini menjadi ramai," ujar Erra yang tersenyum manis memandang rumahnya itu.
"Sepertinya aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Ayolah kita masuk! Aku ingin pergi ke kamar," ajak Lee.
"Bagaimana dengan Imam?" tanya Erra sambil menoleh ke arah Imam.
"Aku akan di sini menunggu supirku datang. Aku sudah menghubungi supirku," jawab Imam.
"Kalau begitu kita masuk ke dalam. Aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkan teh hijau hangat buat kakak," ajak Lee.
"Baiklah," balas Imam.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya Suci ya?" tanya Lee yang tiba-tiba saja rindu pada suci.