
Lee hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi. Kejadian ini terulang lagi tapi versi Amerika. Jujur saja Lee menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku merasa de Javu."
"Maksudnya?" tanya Andi.
"Adegan seperti ini terulang lagi hingga membuatku muak," kesal Lee melihat mereka saling memandang.
"Apakah adegan ini pernah terjadi?" tanya Andi yang mengerutkan keningnya.
"Pernah. Ketika kami berada di Helsinki," jawab Lee yang tersenyum manis.
"Jika kamu tersenyum manis seperti ini pasti ada maunya," ucap Andi yang memandang senyum manisnya itu.
"Ayo pa! Traktir aku makan!" ajak Lee.
"Lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Andi yang merasakan ada peperangan.
"Biarkan saja mereka seperti itu. Entah sampai kapan mereka akan seperti itu. Aku rasa mereka akan kuat tanpa makan sekalipun," jawab Lee yang menarik tangan Andi.
Andi tersenyum kemenangan karena malam ini dirinya akan menghabiskan waktu bersama sang putri. Semenjak menikah Andi tidak memiliki waktu sedikit pun dengan Lee. Bisa dikatakan Andi sangat cemburu kepada Erra.
Sementara itu Bayu tidak sengaja lewat di depan Lee, Andi, Garda dan Erra. Bayu terkesiap melihat mereka saling pandang dengan penuh kebencian. Ketika ingin mengeluarkan suaranya Lee menariknya terlebih dahulu. Mau tidak mau Bayu mengikuti mereka.
"Kenapa mereka?" tanya Bayu.
"Biasa... Mereka sedang adu kekuatan untuk mendapatkan Lee," jawab Andi yang malas.
"Apa?" pekik Bayu.
"Iya memang itu orang seperti itu. Entah kenapa mereka sangat sinis sekali jika berhubungan dengan putri tercintaku," jawab Andi yang menjelaskan semuanya.
"Mari papa mertua... Kita makan yang kenyang. Tidak usah memperdulikan mereka," ajak Lee dengan ramah.
Bayu menyungginkan senyumnya sambil merasakan hatinya membuncah. Baru kali ini Bayu bisa menghabiskan waktu bersama Lee. Keluhan Bayu hampir sama dengan Andi. Setiap membuat janji Erra adalah orang yang pertama menggagalkannya.
"Rasanya aku ingin memakan yang berkuah," celetuk Lee.
"Kalau begitu aku memiliki sebuah rekomendasi tempat yang enak di Los Angeles. Ada suatu tempat yang menjual berbagai macam olahan daging dan kuah panas yang sangat menyegarkan. Apalagi kuahnya ditambah sama ginseng bisa membuat tubuhmu akan sehat," ucap Bayu yang berbinar.
"Apakah kita bisa makan gratis di sana?" tanya Andi.
__ADS_1
"Kalian bisa makan gratis. Apa yang kalian minta akan diberikan oleh pelayan. Ayolah... Aku sudah tidak sabar mengunjungi kedai Maharani Drajat," jawab Bayu.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan ikut dengan Bayu. Sepanjang perjalanan mereka hanya santai saja tanpa harus memperdulikan tempat apa yang dijumpainya itu.
Setelah kepergian mereka, Garda dan Erra baru sadar kalau di area ruangan itu tidak menemukan Lee. Erra langsung mengusap wajahnya dengan kasar sambil berkata dengan sendu, "Istriku hilang entah kemana."
Garda hanya tersenyum kocak sambil meninggalkan Erra yang frustasi. Namun ketika ingin keluar Garda dihadang oleh Nanda.
"Ada apa?" tanya Garda.
"Masuk lagi. Sebentar lagi papa March akan datang bersama Jake dan Greg. Ada hal yang penting dibicarakan," jawab Nanda.
Garda menganggukkan kepalanya tanda setuju. Garda akhirnya kembali lagi ke ruangan itu sambil menghempaskan bokongnya di karpet berbulu. Lalu Erra tidak sengaja melihat Garda yang sedang duduk di lantai, "Ada apa?"
"Ada yang harus aku bicarakan mengenai satu anggota kartel narkoba," jawab Nanda.
"Maksudnya?" tanya Erra yang duduk di samping Garda.
"Tunggu Papa March yang sedang menggagalkan Lee dan lainnya keluar. Sedari kita keluar dari New York ke sini ternyata Candra sedang mengincar Lee. Jujur saat ini Lee dalam bahaya besar. Ditambah lagi Candra mendatangkan para mafia kartel mafia obat-obatan terlarang. Jujur saja aku sudah geram menghadapi Candra yang selama ini kucing-kucingan. Jika kita seperti ini secara terus-menerus bisa dipastikan hidup kita dalam bahaya," jawab Nanda.
"Pancing Candra keluar!" titah Erra.
"Yang dikatakan Nanda tidak semudah itu. Kalau kita seperti ini ya wassalam. Semakin kita diamkan semakin lama Candra ngelunjak," ucap Garda.
"Kita serang markasnya," sahut Erra.
"Apa kamu sudah gila menyerang markas!" geram Nanda.
"Hmmp... Kalau begitu kita pancing saja mereka yang ingin melenyapkan Lee di sini. Lalu keesokan harinya kita hancurkan markas sekarang," ujar Erra yang memberikan sebuah solusi yang dimana membuat Nanda menyetujuinya.
Entah ada setan apa dengan Erra jika berhubungan dengan Lee. Saat dalam bahaya Erra langsung membuat ide brilian. Begitu juga Garda yang tersenyum iblis yang membuat Nanda ketakutan. Memang sedari dulu Garda memang sangat menakutkan.
Lee yang berada di jalanan menuju ke restoran Maharani Drajat terkejut melihat March. Sangking terkejutnya Andi dan Bayu menatap wajah Lee. Mereka tidak paham apa yang sedang terjadi saat ini.
"Ada apa?" tanya Andi.
"Coba lihat arah jam dua," jawab Lee sambil mengintip March membawa senjata.
Kedua pria itu segera menoleh ke arah jam dua. Mereka terkejut melihat March yang memakai senjata. March langsung memberikan kode ke arah timur dengan sebuah tangan. Bayu akhirnya menganggukkan kepalanya tanda paham lalu menarik tangan Lee, "Jangan bergerak. Mereka akan menyerangmu!"
__ADS_1
Lee menganggukan kepalanya sambil berkata, "Bilang ya... Kalau dia maju!"
Andi tetap saja melihat pergerakan musuh yang semakin mendekat. Andi tersenyum manis, "Lebih baik kita giring ke gang buntu. Kamu bisa menghajarnya!"
"Apakah kamu gila mengalihkan merek ke gang buntu? Bisakah kamu melakukan yang lainnya?" tanya Bayu.
"Sudah... Jangan berantem. Kita akan giring ke sana. Aku tidak mau membuat keributan sama mereka di sini," jawab Lee dengan bergerak bebas mendekati mereka.
"Astaga!" pekik Andi dan Bayu.
Lee berjalan menuju ke salah satu orang yang memakai baju serba hitam. Lee memandang pria itu sambil mengerutkan keningnya dan tertawa mengejek, "Dibayar berapa lu sama Candra?"
Pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar dan merasa frustrasi karena ketahuan aksinya. Pria itu hanya tersenyum sambil berpamitan dengan wajah memerah.
"Eike... Pergi dulu ya bo!" ucap pria itu yang melambaikan tangannya seperti perempuan.
"Apa?" pekik Lee yang terbengong-bengong melihat pria tadi.
"Lee," panggil Greg dengan mengerutkan keningnya.
"Dia musuh?" tanya Lee.
"Entahlah," jawab Greg.
"Dia memang musuh tapi jelmaan pria jadi-jadian," ucap March.
Lee terbengong mendengar apa yang dikatakan oleh March. Baru kali ini Candra menyuruh seorang pria jadi-jadian untuk menghabisi nyawanya. Bukannya ini sangat aneh? Ya memang ini sangat aneh sekali. Bahkan keanehannya mengundang protes buat Lee.
"Tapi," ucap March yang menggantung.
"Tapi apa?" tanya Lee.
"Di belakang dia ada lagi," jawab March.
Andi dan Bayu yang sedari tadi diam bergegas mendekati Lee. Bayu mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa March?"
"Lebih baik kita balik. Biarkan Jake bersama pengawal memesan makanan di sini untuk dibawa pulang," jawab March.
Mereka menuruti apa yang dikatakan oleh March. Lalu mereka akhirnya pergi meninggalkan restoran itu dengan agak sedikit kecewa. Entah apa yang dipikirkan oleh Lee, kenapa hidupnya terancam di Amerika. Lee harus mencari cara agar para musuh tidak mengejarnya ketika berada di Amerika.
__ADS_1