
"Ya... kadang aku membayangkan kamu yang kejam, tidak memiliki perasaan dan sadis. Setelah kakak memutuskan untuk menikah aku terkejut,'' jawab Caroline yang mengingat masa lalu Rani yang tomboy.
"Huaha... kamu masih ingat itu. Kamu tahu aku malu sekali. Aku tidak ingin Erra tahu mamanya tomboy,'' jawab Rani yang frustasi.
"Lee sudah tahu kamu tomboy. Bahkan Lee memuji kamu,'' ujar Caroline.
"Bahkan stylish yang kamu dicontoh habis-habisan,'' jawab Caroline.
"OMG... kok aku baru sadar ya,'' ucap Rani.
"Selama ini kamu tidak memperhatikan Lee?'' tanya Caroline yang memandang wajah Rani.
"Aku tidak memperhatikannya. Aku sangat kagum sekali kalau Lee itu sangat cantik. Aku sering memperhatikan kalau wajah Lee itu mirip sekali dengan Erra. Saat Erra dileempar ke Amerika aku selalu bersama Lee dan menganggapnya sebagai Erra versi perempuan,'' jelas Rani.
"Apa?" pekik Caroline. "Ternyata selama ini aku enggak sadar kalau anakku mirip Erra?"
"Ya... ketika jauh dengan Erra, Lee sangat mirip. Bahkan Lee sering bersama kami ketimbang papanya,'' jawab Rani.
"Syukurlah. Terima kasih sudah menjaga putriku,'' ujar Caroline yang nampak sedih saat berpisah dengan putrinya kala itu.
"Dia memang sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Dia sering menangis mencarimu dan Brucce. Tapi Baguslah yang mendiamkan Lee. Sedangkan Andi sangat drop dan diopname selama da bulan. Kami sering mengunjunginya dan menyuruhnya sadar demi Lee. Andi berjuang hidup demi Lee,'' kata Rani yang mulai mengingat masa pasca peristiwa kecelakaan maut tersebut.
"Maafkan aku yang telah merepotkan kalian. Aku tidak tahu lagi soal itu. Aku tidak tahu ada dendam apa Candra hingga membunuhmu?'' tanya Caroline dengan sendu.
"Semuanya sudah jelas. Lee udah menemukan surat wasiat milik papa Johnson. Papa memang sengaja menulis surat itu untuk menghentikan aksi Candra dan Adam. Semakin lama mereka semakin menjadi. Mereka menginginkan keturunan enam pilar utama mati. Kisah ini berawal dari Brucce. Apakah kamu masih ingat sebulan kelahiran Brucce, Andi menetapkan sebagai ahli waris Sebastian Groups?" tanya Rani.
"Ya... Kak Andi yang mengumumkannya. Kak Andi sangat semangat untuk menjadikan Brucce menjadi pemegang terbesar setelah Lee. Korban selanjutnya adalah Erra. Tapi syukurlah Erra sudah diselamatkan terlebih dahulu,'' kata Caroline.
"Itu semuanya berkat Kak Andi yang memprediksi tentang Erra. Jika Kak Andi tidak meminta Erra disembunyikan kemungkinan besar ya,'' ucap Rani yang tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Erra jika tidak cepat-cepat dikirimkan ke Amerika.
"Semoga anak-anak kita bisa hidup dengan tenang. Aku enggak mau di generasi selanjutnya masih ada peperangan. Sedari dulu Kak Bayu memang meredam semuanya agar tidak terjadi keributan,'' jelas Caroline.
"Kalau sekarang terjadi perang antar mafia?" tanya Rani.
__ADS_1
"Mungkin saja bisa. tapi saranku bisa enggak tanpa harus melibatkan banyak pihak?" tanya Caroline. "Kamu tahukan bagaimana Candra? Meski usianya sudah bangkotan tapi dia sangat menginginkan perang.''
"Aku harap putra-putri kita bisa meredam agar tidak terjadi perang,'' balas Rani. "Apakah kamu sibuk?"
"Aku tidak sibuk. Aku berencana ingin membuka outline BL Company di Jakarta. Setelah itu menyusul Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya. Argh... kemunginan aku harus mendirikan banyak cabang di Indonesia,'' ucap Caroline.
"Ah... boleh tuh. Ayolah bangun yang banyak supaya bisa mengurangi pengangguran,''suruh Rani.
"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang!" ajak Caroline yang bersemangat.
Siang itu juga mereka pergi ke pusat perbelanjaan di pusat kota. Mereka sedang melihat-lihat tempat yang kosong. Akan tetapi Caroline belum menemukan yang sreg. Kemudian Rani mengajaknya berkeliling mencari baju.
Saat melintasi toko yang menjual lingerie Rani tersenyum manis. Rani menarik tangan Caroline sambil berbisik, "Kita harus membeli ini.''
Mata Caroline membulat sempurna dan menatap wajah Rani yang penuh dengan pertanyaan, "Buat apa?'
"Buat Lee. Aku ingin Lee belajar agar Erra semakin tertarik padanya,'' jawab Rani yang polos.
"Ternyata menantuku selangkah lebih maju dari aku,'' kesal Rani.
Caroline tertawa terbahak-bahak mendengar Rani yang kalah telak dari Lee. Memang Lee suka membaca hal-hal yang aneh seperti itu dari internet. Berbagai cara sudah dilakukannya membuat sang suami hasratnya langsung menggelora.
"Kita memang apes. Coba saja Kak Andi dan kak Bayu enggak dingin kaya salju abadi di Himalaya ya. Kemungkinan besar akan semakin menarik,'' kesal Caroline.
"Kamu tahu itulah tantangan perempuan yang dimana sedang di hadapkan sebagai manusia kutub,'' ucap Rani.
"Dan itu sangat mengasyikkan,'' ucap Caroline yang membuat dirinya dan Rani tertawa terbahak-bahak.
"Apakah jadi beli?" tanya Caroline.
"Tidak,'' jawab Rani. "Ayo, aku ingin membeli sebuah baju buat Bayu,''
Mereka akhirnya melanjutkan berkeliling. Tak sengaja mereka bertemu dengan Naomi dan Feli. Mereka segera mendekat dan saling bertegur sapa.
__ADS_1
"Kakak,'' panggil Naomi.
"Mau kemana?" tanya Rani.
"Mau beli baju hamil,'' jawab Naomi yang baru saja melihat wajah Caroline dengan mata berbinar.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Caroline yang menyunggingkan senyumnya yang indah.
"Kakak mau enggak menemaniku membeli baju hamil?" tanya Naomi yang menunjukkan wajah imutnya.
Semua orang akan terpana melihat wajah imut Naomi Meskipun usianya mau masuk ke usia senja Naomi adalah wanita masih cantik. Jangankan March yang mantannya playboy, semua orang yang lewat disana menjadi kagum.Untung saja Naomi membawa Feli untuk melindunginya. Bahkan Feli sangat protektif terhadap Naomi.
"Ayolah!" ajak Caroline. "Wait?"
"Ada apa?" tanya Naomi.
"Kak Rani, apakah kakak mau ikut memilihkan baju buat Naomi?" tanya Caroline.
"Baiklah," jawab Rani yang tersenyum.
Mereka memutuskan untuk pergi menuju ke toko yang menyediakan baju hamil. Ketika mereka berjaan dengan santai, Rani tidak sengaja menyenggol seorang perempuan yang sedang berjalan hingga barang-barang yang berada di tangan perempuan itu terjatuh.
Brak!
Setelah menyadari adegan tabrakan itu, Rani langsung jongkok dan mengambilnya. Namun sang empunya tidak terima dengan perlakuan Rani. Si perempuan itu menatap tajam ke Rani sambil memakinya, "Kamu!" bentak si perempuan itu.
Rani yang masih menata barang-barang yang telah dijatuhkan kemudian mengambilnya. Rani menyodorkan barang-barang itu dan segera meminta maaf, "Maaf!"
"Maaf! Maaf!" geram wanita itu yang mengambil belanjaannya kemudian membuangnya. "Gue enggak sudi barang yang sudah di tangan lu! Perempuan miskin!"
"Nona... Jika semuanya rusak saya akan membelinya dengan yang baru. Jika hanya kotor saja saya akan menggantinya. Tapi jika tidak ada kamu enggak boleh menuntut aku," ucap Rani.
"Emangnya lu bisa apa? Ha!" bentak perempuan itu.
__ADS_1