
Tanpa merasa bersalah Erra menjawab, "Jam tujuh pagi."
"Apa?" teriak Bayu. "Kamu bilang pagi ini jam tujuh. Lihatlah Erra! Jam sudah menunjukkan sebelas siang."
Jederrrrrrrrr.
Mata Erra membulat sempurna dan terkejut. Lalu Lee meraih ponselnya dan melihat jam. Lee membenarkan perkataan Bayu sambil menyahut, "Itu benar kak yang dikatakan oleh papa. Sekarang sudah menunjukkan waktu sebelas siang. Bahkan sudah lebih sepuluh menit."
"Apa?" pekik Erra. "Jadi kita sudah lama tidur."
"Ah... Itu benar kakak. Aku sangat merindukan tidur lama di dalam pelukanmu itu," celetuk Lee yang tanpa sadar kalimatnya didengar oleh orang banyak.
"Para pria yang berada di sini silakan anda keluar terlebih dahulu. Para mama akan membersihkan tubuh Lee," ucap Rani.
Mereka menganggukan kepalanya sambil berkata secara serempak, "Baiklah."
Mereka keluar dan turun ke bawah. Lalu Erra mengajaknya ke ruangan kerjanya dan memutuskan untuk berdiskusi. Mereka pun menyetujuinya dan menganggukan kepalanya. Sesampainya di sana para pelayan memberikan minuman dan cemilan. Setelah para pelayan pergi Erra menutup pintu itu dan memasang peredam suara.
"Maafkan aku. Aku harus mengatakan ini kepada kalian. Terutama pada Garda," ucap Erra.
"Ada apa memangnya?" tanya Garda yang mengerutkan keningnya.
"Aku ingin menggabungkan Black Dragon dan White Eragon," jawab Erra.
"Menurutku itu tak apa. Lalu bagaimana dengan lainnya seperti Imam dan Jake?" tanya Garda. "Mereka harus diberitahu. Jangan sampai mereka buta pada informasi tentang penggabungan ini."
"Yang dikatakan oleh Garda benar. Jangan sampai Black Dragon pecah berkeping-keping," jawab Bayu.
"Lebih baik kamu hubungi Imam dan Jake ke sini. Agar mereka paham apa maksudnya!" perintah Andi.
"Baik pa," balas Erra.
Sementara di kamar para mama membantu membersihkan tubuh Lee. Lalu Lee merasa sungkan kepada para mama, "Ma."
"Apa?" tanya Rani.
"Besok-besok mama tidak usah ke sini ya," jawab Lee.
"Kenapa sayang?" tanya Caroline.
"Biar aku saja yang membersihkan lukanya," jawab Lee.
"Hmmp... Apakah kamu yakin bisa membersihkan lukamu?" tanya Tika.
"Kak Erra yang akan memanggil perawat di sini," jawab Lee.
__ADS_1
"Semenjak kejadian itu kakak tampanmu sudah tidak pernah percaya lagi sama orang," ucap Rani.
"Apakah benar ma?" tanya Lee.
"Ya... Pada pelayan di mansion ini juga tidak percaya. Jadi kamilah yang akan merawatmu sekarang," jawab Caroline.
Sementara di kediaman Suci, Imam bermain bersama Raka. Imam mengajak Raka bermain kuda-kudaan. Lalu Raka tertawa terbahak-bahak saat naik ke punggung Imam. Melihat mereka yang sedang ceria hati Suci menjadi bahagia. Tak sengaja Suci mendengar ponselnya Imam berdering. Suci segera meraihnya dan sambil berseru, "Tuan."
"Hmmp," balas Imam.
"Tuan Erra menghubungi anda," jawab Suci.
"Kalau begitu angkatlah," titah Imam yang menyuruh Suci mengangkat ponselnya.
Suci segera mengusap lambang hijau dan menyapanya, "Selamat siang Tuan Erra."
"Siang," sahut Erra. "Di mana Imam?"
"Tuan sedang bermain bersama Raka," jawab Suci. "Ada perlu apa?"
"Begini, tolong beritahukan kepada Imam agar ke mansionku sekarang juga. Kamu bisa membawa Raka ke sini," ucap Erra.
"Baik tuan," balas Suci.
Sambungan terputus.
"Tuan Erra menyuruh kita datang ke mansionnya," jawab Suci.
"Baiklah. Sepertinya ada hal yang penting ingin dibicarakan," ucap Imam.
"Bisa jadi," sahut Suci. "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu untuk menyiapkan perlengkapan Raka."
"Baiklah," balas Imam.
Lalu Suci pergi ke kamar dan menyiapkan perlengkapan Raka. Sedangkan Imam bangun dan mengajaknya untuk bersiap-siap. Imam memakaikan baju kepada Raka. Setelah itu Suci keluar dari kamar sambil membawa tas, "Apakah sudah siap?"
"Ya... Aku sudah siap," jawab Imam. "Apakah kamu tidak ingin tinggal di apartemen?"
"Jujur saja saya bisa membeli apartemen. Namun saya lebih menyukai tinggal di sini. Di sini saya memiliki kenangan. Walaupun itu banyak kenangan buruk ketika ayah saya sering memukul ibu saya," jawab Suci.
"Walau itu sangat menyakitkan," ucap Imam.
"Aku rindu pada ibuku," jawab Suci dengan sendu.
"Aku hanya memberikan saran kepadamu. Kamu tahu tempat ini adalah padat penduduk. Yang di mana tidak aman. Cepat atau lambat musuh bisa menemukan kamu dan Raka adalah keturunan Pradipta," ucap Imam.
__ADS_1
"Entahlah. Nanti aku pikirkan," ujar Suci.
"Ok... Aku berikan waktu selama seminggu. Mau tidak mau kamu harus tinggal di apartemen. Aku ingin kamu sama Raka aman!" perintah Imam. "Atau kamu bisa tinggal bersama kedua orang tuaku."
Suci menggelengkan kepalanya, "Maaf."
"Siapa tahu Raka menjadi teman papa," celetuk Imam.
"Ah... Tidak perlu. Lebih baik saya tinggal di apartemen," jawab Suci dengan cepat.
"Kalau begitu aku akan menghubungi pengawalku untuk menyiapkan apartemen. Di sana aku bisa menjamin keamananmu. Aku tidak perlu lagi ketar-ketir lagi. Aku juga akan memperketat penjagaan kamu dan Raka," kata Imam dengan serius.
"Kalau begitu?" tanya Suci.
"Semenjak kakak besarmu terluka kami mulai memperketat penjagaan dan pengawasan. Cepat atau lambat musuh akan menyerang. Dan kamu tahu kelemahan kami apa? Jawabannya hanya satu yaitu keluarga," jawab Imam dengan serius.
"Kalau begitu aku menurut sama tuan. Aku juga tidak mau itu terjadi," sahut Suci.
"Baguslah. Lebih baik kamu menurut. Karena kamu sudah melahirkan anakku," balas Imam. "Kalau begitu kita berangkat."
"Baik tuan," sahut Suci.
Ada baiknya Suci menurut kepada Imam. Karena apa yang dikatakan oleh Imam benar apa adanya. Apalagi Suci tinggal di pemukiman padat penduduk. Yang di mana tidak ada keamanan sekalipun.
Ander's Corporation Groups International.
Seorang pria muda yang sedang kesal karena ulah sang sekretarisnya itu. Sang pria itu langsung memanggil sang sekretaris dengan nada tinggi.
"Feli.... Feli....," panggil Jake nama pria muda itu.
Sedangkan Feli yang mengobrol dengan karyawan prianya itu terkejut. Hampir saja Feli oleng dan terjatuh. Namun Feli dengan cepat memegang dinding sambil berkata, "Hadeh si bos gila sudah teriak-teriak lagi. Padahal hari ini adalah di mana aku bekerja. Nasrib... Nasrib."
Sang teman Feli yang bernama Joni itu langsung menyuruhnya mengambil nafas dalam-dalam. Feli menganggukan kepalanya dan melakukan perintah sang teman. Belum berhenti sampai di sini Jake kembali berteriak hingga membuat jantung si teman berdetak dengan kencang. Terpaksa Feli menelan salivanya berkali-kali. Bagaimana bisa Jake sang bos bawaannya kalem sendiri ketimbang yang lainnya sangat ganas sekali memanggil.
Feli mengambil map yang berdiri dengan membawa laporan dari divisi pemasaran. Dengan tubuh bergetar Feli masuk ke dalam sambil memberikan hormat, "Selamat siang Tuan."
"Siang!" jawab Jacob dengan ketus.
"Kenapa kamu mengobrol sama si Joni itu!" teriak Jake dengan menggelegar.
"Ada yang Joni sampaikan," jawab Feli yang berusaha bersikap tenang.
"Lalu?" tanya Jake.
"Masalah reuni sekolah Minggu depan," jawab Feli.
__ADS_1
"Ok. Kamu boleh ikut reuni. Tapi dengan syarat aku ikut denganmu!" titah Jake.
Glodaaakkkkk.