
"Tidak. Aku tidak gila. Aku ingin tidur bersama Raka putraku,* jawab Imam.
"Tuan tahu ini adalah kampung?" tanya Suci.
"Ya tahulah," jawab Imam. "Lalu sepertinya kamu keberatan?"
Suci terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Mau melawan salah satu anggota enam pilar utama rasanya tidak sanggup. Suci akhirnya mengalah dan tidak ingin berdebat lagi. Dsudut sana ada kedua ibu-ibu sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Suci. Dari dulu mereka sudah menganggap kalau Suci adalah gadis nakal. Hamil diluar nikah tanpa suami. Mereka sangat geram kepada Suci. Mereka berencana ingin mengusirnya. Tetapi Lee mencegahnya dan membuat pertemuan.
Ibu-ibu itu akhirnya memutuskan lapor Pak RT untuk menggrebek Suci yang kedapatan membawa Imam. Mereka juga membumbuhi ucapannya dengan menyudutkan Suci. Akhirnya Pak RT itu geram. Kemudian Pak RT keluar untuk menuju pos. Sedangkan kedua orang tadi tersenyum jahat. Mereka berharap semua warga bisa mengusir Suci.
Sesampainya di sana Pak RT langsung memukul kentongan dengan kencang. Sehingga para warga yang ingin berangkat ke alam mimpipun bangun untuk keluar dari rumah. Mereka akhirnya berkumpul di pos. Hampir lima belas menit mereka sudah berkumpul. Sebelum bicara Pak RT menarik nafasnya lalu berteriak, "Bapak-bapak... Ibu-ibu... Baru saja saya mendapatkan laporan dari ibu Nilam dan ibu Tina... Bahwa Suci anaknya bapak Supri membawa seorang pria. Yang di mana Suci telah mencoreng nama kampung ini."
"Apakah itu benar?" tanya warga lainnya.
"Ya itu benar. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Jika tidak percaya mari pak.. bu... Kita ke rumah Suci. Di depan rumah Suci ada mobil mewah yang terparkir," ajak Ibu Tina.
Mereka mendengar ucapan Tina dan paham apa yang dimaksud. Lalu mereka memutuskan untuk berbondong-bondong menuju ke kediaman Suci.
Suci yang sedang menidurkan Raka di ranjang tersenyum. Pasalnya Suci hari ini sangat bahagia karena Lee telah pulih. Lalu bagaimana dengan Imam? Suci mendapatkan kebahagiaan tiada Tara. Meski belum kenal secara dekat dengan Imam. Namun Suci menganggap Imam adalah pria baik.
"Kalau begitu tidurlah di sini. Aku akan tidur di depan," ucap Suci dengan lembut. "Tapi maaf?"
"Maaf untuk apa?" tanya Imam yang mengerutkan keningnya.
"Kasurku hanya kapuk saja. Aku belum memiliki kasur busa," jawab Suci.
__ADS_1
"Maafmu aku terima. Aku tak apa tidur di sini. Aku bisa menyesuaikan diriku. Apakah kamu lupa kalau aku sering latihan militer bersama Black Dragon?" tanya Imam. "Bahkan kamu pernah memperk*saku di lantai yang dingin," ucap Imam yang berhasil membuat wajah Suci memerah.
"Ah... Rasanya aku melupakan itu," ujar Suci yang memerah.
"Kalau kamu lupa nanti aku ingatkan lagi," bisik Imam yang membuat tubuh Suci meremang.
Suci cepat-cepat kabur dari sana agar Imam tidak melakukan lebih jauh lagi. Lalu Suci segera duduk di sofa dan menatap foto ibunya yang sengaja ditempel di dinding. Beberapa saat kemudian warga berbondong-bondong untuk memanggil Suci sambil berteriak. Suci terhenyak kaget dan hampir loncat. Sedangkan Imam ingin membaringkan tubuhnya sangat terkejut. Imam menyelimuti sang putra dan menuju keluar untuk melihat keadaan. Namun sebelum keluar Imam melihat Suci dan bertanya, "Ada apa di luar?"
"Aku tidak tahu," jawab Suci.
Imam mengintip dari jendela dan terhenyak kaget. Lalu Imam memandang wajah Suci dan bertanya, "Kenapa para warga berbondong-bondong datang ke sini?"
"Aku tidak tahu," jawab Suci dengan lirih.
Di luar sana warga sudah teriak-teriak memanggil Suci dan mengancam akan membakar rumahnya. Tapi warga tidak mengetahui siapa yang akan dihadapinya itu. Jika mereka tahu yang dihadapinya adalah salah satu anggota enam pilar utama. Kemungkinan besar Imam akan meminta Erra untuk mengeksekusi lahan di kampung itu untuk dijadikan pabirk atau apartemen.
"Aku takut warga akan marah," ucap Suci dengan lemah.
"Kenapa kamu takut? Bukannya kamu adalah anggota inti White Eragon?" tanya Imam.
"Ah... Iya aku lupa. Jika aku berhadapan dengan musuh. Aku tidak akan pernah mundur. Lalu jika aku berhubungan dengan masyarakat apalagi emak-emak aku takut. Aku kalah bersaing dengan mereka," jawab Suci dengan jujur.
Yang dikatakan Suci benar. Suci sangat takut jika harus berhadapan dengan mereka. Yang notabennya adalah emak-emak. Suci kalah telak jika saling adu mulut. Suci lebih baik mundur dan mencari lawan yang tangguh.
"Tenanglah ada aku. Mereka juga tidak kenapa-kenapa," ajak Imam sambil memegang tangan Suci yang dingin.
__ADS_1
Mereka akhirnya keluar untuk menghadapi para warga. Seluruh warga itupun langsung terkejut saat Suci bergandengan tangan. Lalu Ibu Tina mulai memprovokasi keadaan agar warga menjadi panas dan berbuat anarki. Tetapi Pak RT menahan mereka untuk tidak melakukan anarki. Setelah keadaan kondusif Pak RT mengeluarkan suaranya dan mulai mengajak warga berdiskusi, "Bapak-bapak... Ibu-ibu... Janganlah kalian bertindak anarkis. Kalian tahu Suci tidak pernah melakukan kesalahan di kampung ini."
"Halah pak RT membela terus Suci!" geram para warga.
"Saya selaku Pak RT mempunyai amanat dari ibu Ira untuk selalu menjaga Suci," jawab Pak RT dengan sabar menghadapi warga yang ingin berbuat keonaran.
"Bapak kan tahu kalau Suci pernah hamil di luar nikah. Melahirkan bayi laki-laki yang di mana sang bapak belum diketahui keberadaannya!" sungut Ibu Tina yang mulai menyudutkan Suci.
"Akulah ayah kandungnya. Kalian ingin bilang kalau Raka adalah anak haram. Begitukah maksud anda!" teriak Imam agar suaranya didengar oleh warga.
Warga terdiam dan tidak berani berkata apa-apa lagi. Kemudian warga saling menatap untuk membetulkan jawaban Imam. Secara garis besar Raka sangat mirip sekali sama Imam. Yang di mana Raka memiliki paras yang tampan. Bahkan kedua orang tuanya sudah mengakui kalau Raka adalah Imam kecil.
"Ah.. itu bohong! Anda tahukan kalau Suci adalah wanita malam?" tanya ibu Tina.
Imam pun paham apa maksud mereka. Imam tahu kalau Suci sering bersama Lee di markas besar White Eragon. Bahkan jarang pulang ke rumah jika ada misi tertentu. Lalu Imam mengeluarkan suaranya dan bertanya, "Kenapa anda berpikiran seperti itu?"
"Karena Suci sering pulang pagi. Terkadang Suci tidak pulang. Sering sekali Suci pulang dengan memakai mobil mewah seperti anda," jawab Nilam.
Imam akhirnya mengerti apa yang dimaksud ibu Nilam itu. Memang Suci sering diantar oleh Lee dan lainnya. Yang pasti mereka bukan laki-laki. Karena mereka jarang menampakkan dirinya jika berada di kampung itu. Bukannya mereka sombong untuk menyapa para warga. Setelah menurunkan Suci mereka langsung tancap gas.
"Lalu?" tanya Imam.
"Aku tidak ingin kampung ini sial gara-gara Suci. Aku ingin Suci diusir dari sini!" geram ibu-ibu yang lainnya.
Airmata Suci langsung luruh. Suci tidak menyangka kalau dirinya diusir oleh warga kampungnya. Jujur saja Suci tidak menyangka perlakuan warga yang kurang mengenakkan itu. Mereka mengetahui kalau Suci mempunyai masalah berat. Hingga mereka mencemooh Suci secara terus-menerus.
__ADS_1
"Cukup!" teriak Imam yang tidak tega melihat Suci menangis.