Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 425


__ADS_3

"Memang itu kok kenyataannya," jawab Bayu yang menahan tawanya karena melihat sang anak sudah berwajah aneh.


"Nggak juga gitu kali pa. Aku adalah pria yang setia. Tidak akan macam-macam dan melihat bahkan melirik wanita lain," kesal Erra.


"Papa percaya itu. Bahkan kamu tidak mau kehilangan Lee sedetik saja. Papa nggak ngomongin kamu. Tapi ada kok kenyataannya seperti itu. Kalau kamu nggak percaya banyak kok di kantor seperti itu," jelas Bayu yang mendapatkan anjungan jempol dari sang menantunya.


Rani mendekati Lee lalu memegang pundak sang menantunya itu. Kemudian Rani Mama apanya untuk duduk bersama di sofa kosong itu.


"Sayang, besok ikut mama arisan komplek yuk,'' ajak Rani.


"Kenapa istriku diajak?" tanya Erra.


"Mama mau memperkenalkan Lee ke ibu-ibu komplek. Biar mereka mundur satu persatu untuk tidak mengejarmu lagi. Mama pusing setiap hari ditanyain. Bu anaknya udah laku belum?" jawab Rani yang membuat Erra terdiam.


"Lalu Mama jawab apa?" tanya Bayu. "Apakah Mama diam-diam memberikan lampu hijau kepada mereka? Lalu mama mempersilakan mereka untuk memperkenalkan putri-putrinya ke Erra?"


"Ya nggaklah. Papa kok ngaco gitu sih. Mama bilang Erra sudah laku. Terus mereka menyuruh mama untuk memperkenalkan siapa sih calonnya?" jawab Rani.


"Kenapa Mama nggak bilang saja? Kalau istriku adalah wanita yang berkualitas. Sangking berkualitasnya tidak ada yang mengalahkan. Ditambah lagi istriku memiliki otak di atas rata-rata," ucap Erra dengan jujur.


"Mama nggak bilang siapa istrimu itu. Mama takut kalau Lee dibanding bandingkan dengan Putri mereka. Padahal mama bangga sendiri memiliki seorang menantu yang cantik dan pintar," jelas Rani.


"Aku setuju. Lebih baik bawa saja Lee. Biar mereka diam dan tidak bicara sama sekali. Kalau mereka membandingkan... Biarkan saja. Mereka belum tahu kalau menantu kita itu adalah pengusaha berlian yang sukses. Selain itu juga Lee bisa membawa Asco menjadi besar," ucap Bayu sesuai fakta.


"Tapi aku mohon. Jangan bilang apa-apa kepada mereka. Biarkan saja kalian yang tahu semua. Aku tidak ingin identitasku terekspos. Aku tahu nanti Ada kesenjangan sosial. Apalagi nanti musuh emak-emak. Bukannya aku bahagia ikut arisan. Malahan kepalaku pusing tujuh keliling," pinta Lee.


"Oh sebaiknya... Kamu diam-diam saja. Nggak usah ngomong apa-apa. Biarin saja di cibir. Lagian juga mereka tidak akan percaya jika tidak ada bukti. Soalnya kamu itu memiliki otak cerdas," ujar Rani.


"Nanti deh kita pikirkan. Yang penting gak usah koar-koar. Lebih baik diam nggak usah banyak bicara. Lagian juga Papa mengajarkanku untuk tidak memamerkan segala fasilitas yang diberikannya untukku," sahut Lee.


"Sip kalau begitu. Kamu memang istriku terbaik," puji Erra.


Di Mansion Pradipta, Suci yang bermain bersama Raka dikejutkan dengan keusilan Imam. Lalu Suci mendekati Imam dan memandang wajahnya itu.


"Pulang jam berapa?" tanya Suci.


"Malam. Tapi aku nggak pulang ke sini. Aku lagi ke apartemenku bareng papa. Ada yang harus aku bicarakan soal perusahaan. Aku juga tidak mengabarkanmu. Sebab baterai ponselku habis," jawab Imam yang memegang pinggang Suci.


"Jadi Papa semalam bersiap-siap pergi?" tanya Suci.

__ADS_1


"Memang. Selamat di Bangkok Aku tidak akan membicarakan soal perusahaan. Mama selalu protes jika kami membicarakan soal perusahaan," jawab Imam sambil memandang wajah Suci.


"Aku tahu itu. Pasti Mama langsung memberikan ultimatum. Ditambah lagi Papa tidak akan diizinkan tidur bersama mama."


"Ya itu benar. Makanya semalam Papa menjemputku dan langsung ke apartemen. Jadi kami membicarakan masa depan perusahaan. Aku harap kamu nggak marah."


"Aku nggak marah sama kamu. Kalau kamu sudah jujur begitu. Aku malah bahagia."


"The best banget kamu. Bagaimana calon bayiku yang kedua?"


"Baik. Aku rasa Anak kamu perempuan deh."


"Alhamdulillah. Sepasang deh. Nanti kalau kurang tambah lagi ya?"


"Terserah. Aku mah nurut saja Apa katamu."


"Kamu memang calon istri yang hebat. Apakah Raka nakal?"


"Tidak. Raka sangat lucu sekali. Bahkan sering menjadi rebutan para pelayan di sini. Sekarang aja dia dibawa oleh Mbak Yeni."


"Sepertinya kita harus mencari baby sitter untuk Raka?"


"Nggak perlu. Biar aku saja yang merawatnya. Kadang-kadang Mama juga ikutan merawat. Ditambah lagi sama mbak-mbak pelayan itu."


"Apakah kakak besar ada di rumah?"


"Ada. Kan aku yang mengawal pulang ke sini. Erra sangat bucin sekali kepada istrinya. Bahkan setelah tahu Lee sedang mengandung. Erra menjadi bahagia."


"Syukurlah. Kakak besar memang terbaik. Aku terima kasih banget sama kakak besar. Gara-gara Kakak besar, aku tidak menjadi sedih lagi. Ditambah lagi Kakak itu sering menguatkan aku untuk menjalani hidup."


"Bagaimana kalau kita ke sana?"


"Baiklah. Sepertinya anggota khusus akan berkumpul di Mansion Drajat."


"Sepertinya ada reuni besar di sana?"


"Enggak. Cuma kumpul-kumpul saja. Lagian juga di sana ada para mama."


"Oh ya aku juga ikutan ngumpul bersama Erra. Kata Erra akan ada program baru yang akan diluncurkan buat anak-anak sekolah. Program itu sedang direncanakan."

__ADS_1


"Program apa sih?"


"Kurang tahu juga. Nanti kita bicarakan lebih lanjut lagi. Terus ada tiga orang yang ingin masuk ke dalam perkumpulan pilar utama."


"Tambah rame."


"Iya itu benar. Rumah kamu yang dibakar itu kan sudah rata dengan tanah. Kamu mau buat apa di sana?"


"Aku tidak buat apa-apa. Mau pulang ke sana juga nggak bisa. Lagian juga aku sudah memiliki suami."


"Bagus itu. Jadi nggak susah untuk mencarimu."


"Kamu sudah makan?"


"Belum. Aku memang sengaja nggak sarapan."


"Dari tadi nggak sarapan? Kalau begitu makan nasi sup ayam aja. Aku yang masak."


"Beneran kamu yang masak?"


"Iyalah. Masa aku bohong sama kamu."


"Nggak usah masak nggak apa-apa. Lagian juga di sini banyak pelayan."


"Aku lagi pengen. Ditambah lagi Raka lagi senang-senangnya makan. Sepertinya Kakak besar rindu pada Raka."


"Kamu benar. Setiap bertemu mesti nanyain Raka. Sekarang nggak pernah nanyain aku."


Suci pun tertawa terbahak-bahak karena Imam. Suci tahu kalau suaminya itu sedang cemburu pada Raka. Dulu Kakak besarnya sangat perhatian sekali pada Imam. Sekarang terbalik. Lee memilih untuk memperhatikan Raka. Apa karena ada Erra di belakangnya? Atau Lee sering melihat kelucuan Raka? Jawabannya entah.


"Kamu malah tertawa seperti itu. Bukannya kamu membela aku," ucap Imam sambil mencium mulut Suci.


Tiba-tiba saja Suci terdiam. Ia lalu melepaskan tangannya Imam dan memegangnya.


"Lucu aja. Lagian juga Kakak besar udah punya suami. Jadi kalau kakak besar merhatiin kakak. Suaminya Kakak besar akan marah-marah," ujar Suci dengan jujur.


"Kamu itu memang jujur sekali. Memang Erra hobinya tukang marah-marah. Jika ada yang menyentuh kakak besarmu. Erra tidak akan pernah rela. Bahkan Garda sendiri juga akan diajak tarung di ring," sahut Imam.


"Aku belum pernah melihat Tuan Garda sama Tuan Erra bertarung," ungkap Suci yang membayangkan mereka bertarung dalam satu ring.

__ADS_1


"Jangan harap mereka bertarung dalam satu ring. Tuan Andi dan Tuan Bayu tidak akan pernah membiarkan mereka bertarung. Ujung-ujungnya mereka akan dihukum di ruangan bawah tanah," jelas Imam.


"Apa itu benar Kak?" Tanya suci yang menggandeng Imam ke ruangan makan.


__ADS_2