
Sesampainya di dapur, Lee melihat Fendi sedang meminum kopi bersama Pak Jang.
''Pernisi... maaf mengganggu,'' ucap Lee dengan sopan.
''Ada apa ya?'' tanya Fendi.
''Ayah... Ayah masih marah sama Lee?'' tanya Lee balik.
''Hmmp...," jawab Fendi.
''Ayah... hari ini aku mengatakan fakta yang sejujurnya,'' ungkap Lee.
''Kemaren-kemaren kamu bilang Ayah ganteng. Terus kenapa kamu bilang ayah hari ini sangat menyeramkan?'' tanya Fendi.
''Khusus hari ini saja aku dan kak Erra mengatakan menyeramkan,'' jawab Lee dengan jujur.
''Terserahlah apa mau kamu. Lee bisakah kamu mencarikan seorang wanita yang sangat tulus mencintai ayah?'' tanya Fendi.
''Apakah Ayah ingin menikah?'' tanya Lee balik.
''Kamu tau kalau aku sudah tua,'' jawab Fendi.
''Nona... tolong berikan teman-teman wanita anda untuk Tuan Fendi. Kasian... Tuan Fendi yang sudah tua,'' ungkap Pak Jang memelas.
''Baiklah... akan aku usahakan. Bukannya di sini banyak perempuan-perempuan yang cantik sekali. Kenapa Ayah dan Pak Jang memintaku untuk mencarinya?'' tanya Lee.
''Aku tidak suka sama mereka. Aku ingin mencari seorang yang tulus,'' jawab Fendi.
''Baiklah... aku akan menyuruh Angela menyeleksi satu perempuan buat ayah,'' ucap Lee dengan tulus. ''Oh... Ya.. Pak Jang ada teh hijau?''
''Ada nona. Nona mau teh hijau?'' tanya Pak Jang.
''Iya...,'' jawab Lee.
Tak lama kemudian datang seorang pengawal yang tergesa-gesa.
''Maaf... Tuan Fendi, Pak Jang dan Nona Muda Lee. Ada Tuan Garda dan Tuan Erra bertarung,'' ucap pengawal.
''Apa!!!!''
Teriak mereka serempak.
''Pak Jang buat teh hijau saja buat Lee. Biar aku yang menghadapi kedua bocah tengil ini!!!!'' titah Fendi.
''Tidak usah Ayah... Akan aku hadapi mereka. Aku yang menyebabkan mereka bertarung!!'' titah Lee.
''Baiklah,'' sahut Fendi.
Kemudian Lee langsung berlari menuju halaman depan. Begitu juga dengan Fendi yang mengikut Lee. Sesampainya di sana, Lee melihat mereka bertarung memakai samurai. Lee dengan kesalnya mengambil samurai punya salah satu pengawal.
''Oh... Tuhan... Kenapa mereka bodoh sekali ya?'' tanya Lee.
__ADS_1
Dengan cepat, Lee mendekati mereka dan mengajak bertarung.
TRANG.....
TRANG.....
TRANG.....
TRANG.....
TRANG....
Suara samurai bersahut-sahutan. Seluruh pengawal melihat pertarungan sengit ke tiga orang itu. Fendi yang melihat mereka bertarung hanya menggelengkan kepalanya.
''Aish... Kenapa juga Erra dan Garda berantem?'' tanya Fendi.
''Setelah Nona muda masuk kedalam. Tuan muda Erra meminta kami menyiapkan samurai. Mereka adu tanding. Tuan muda Erra yang tidak terima dengan Nona muda yang memuji bentuk badan Tuan Garda. Setelah itu mereka bertarung,'' ucap sang Pengawal.
''Oh... Ceritanya Erra cemburu sama Garda nih,'' senyum Fendi merekah.
Tak lama kemudian, samurai yang di pegang oleh Garda patah. Garda yang melihat samurainya parah hanya menunduk dan terdiam.
''Sudah puaskah kalian bertarung!!!!'' teriak Lee dengan penuh penekanan.
Kedua pria itu terdiam dan tidak bersuara. Mereka menunduk seperti anak kecil yang sedang di marahi oleh ibunya.
''Kalian ini adalah partner kerja, Partner bisnis dan partner dunia bawah tanah. Kalau kalian sampai bertarung begitu. Musuh kalian bisa mudah menyerang Black Dragon. Kalau kalian terus-menerus bertarung akan aku ambil ahli Black Dragon dan kalian berdua sebagai gantinya mengurus gudang senjata milik White Eragon. Apakah kalian mengerti?'' teriak Lee dengan berapi-api.
Seluruh orang yang berada di area tersebut, merasakan hawa membunuh dari Lee. Mereka ketakutan dan memutuskan untuk bubar.
''Aku sudah bilang kepada kalian. Jangan bertarung. Untung mansion ini jauh dari perkotaan,'' ucap Lee.
''Tapi kan kamu menyukai bentuk tubuh Garda,'' ungkap Erra dengan kesal.
''Oh... Tuhan... Aku hanya bilang saja kalau tubuh kak Garda bagus,'' ungkap Lee dengan kesal.
Kemudian Lee masuk ke dapur. Sementara itu Erra dan Garda pergi dengan hati yang dongkol.
Tak selang berapa lama, datang mobil sport Aston Martin DB 11 berhenti di depan mansion.
Fendi yang mendengar suara mobil itu tersenyum manis.
''Lee... Mama kamu datang,'' ucap Fendi.
Lee yang ingin meminum teh hijau tersenyum manis dan langsung berlari menuju ke halaman seperti anak kecil.
Fendi dan Pak Jang hanya menggelengkan kepalanya. Sesampainya di halaman, Lee langsung menghambur ke pelukan Caroline.
''Mama...,'' bisik Lee.
''Kamu kesini kok enggak bilang?'' tanya Caroline.
__ADS_1
''Mendadak ma,'' jawab Lee.
Kemudian Lee memegang tangan Caroline dan mereka berjalan memasuki mansion Fendi.
''Hmmp... Lee... Maksud kamu?'' tanya Caroline.
Tak lama kemudian datang Fendi dan Pak Jang.
''Tumben kamu kesini, ada apa?'' tanya Fendi.
''Aku ada perlu sama kamu. Aku meminta kamu hubungi Lee. Eh... Lee nya di sini,'' jawab Caroline.
''Ada apa ma?'' tanya Lee.
''Rindu sama kamu,'' jawab Caroline.
''Aish... Mama... Ayo ma duduk,'' ucap Lee.
Kemudian Caroline duduk.
''Mama mau minum apa?'' tanya Lee.
''Teh hijau saja,'' jawab Caroline.
''Biar aku yang membuat teh hijau buat mamaku,'' sela Lee.
''Tidak perlu. Biarkan Pak Jang membuat teh hijau untuk mamamu!'' titah Fendi.
''Ok,'' sahut Lee lalu duduk di samping Caroline.
Kemudian Pak Jang membuat teh hijau untuk Lee dan Caroline. Sementara itu Garda dan Erra berpindah tempat di halaman belakang untuk melanjutkan pertarungan. Kali ini bukan pedang yang di mainkan, melainkan memakai pistol mainan yang isinya hanya peluru karet.
''Erra... aku belum ingin kalah,'' sungut Garda.
''Begitu juga dengan aku, aku juga ingin melihat kamu kalah sehingga Lee tidak akan memuji kamu lagi!!!'' geram Erra.
''Baiklah.... Aku setuju. Nah... disini ada pistol mainan yang baru saja aku minta dari pengawal. Isinya adalah peluru karet. Jika melukai tidak sesakit peluru beneran. Untuk para pengawal yang di sini berjumlah 10 orang aku bagi 2. 5 untuk kamu dan 5 untuk aku. Jika anak buahku tidak tumbang selama waktu yang di tentukan, berarti aku menang. Begitu juga sebaliknya. Waktunya 20 menit. Kalau aku menang, aku akan membawa Lee liburan ke Jepang selama 2 Minggu. Kamu mengerti!!'' titah Garda.
''Eh... Garda... Lee kan istriku. Kenapa kamu membuat peraturan seperti itu?'' tanya Erra menyelidik.
''Erra... Meskipun Lee istrimu... aku juga berhak donk atas kehidupan Lee,'' jawab Garda.
''Jangan bilang kamu mencintai Lee. Karena Lee di usia 7 hari aku sudah meminta pada Papa Andi untuk menjadi istriku!!'' seru Erra.
''Aku tidak peduli itu. Aku sudah menganggap Lee adalah adik kandungku. Bahkan aku lebih menyayangi Lee ketimbang Tantri adikku sendiri,'' ucap Garda.
''Aku tidak akan memberikan Lee ke kamu. Aku sangat mencintai Lee. Perlu kamu ingat, aku bisa membahagiakan Lee walau ada pengacau seperti kamu!!!!'' geram Erra.
''Ok... mari kita bertarung. Aku yakin kamu kalah Erra Drajat!!!'' seru Garda yang penuh penekanan.
''Aku terima tantangan kamu!!'' bisik Erra sambil menatap Garda sinis.
__ADS_1