Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 347


__ADS_3

Beberapa


saat kemudian datang seorang paruh baya mendekatinya. Pria itu melihat Lee


sambil tersenyum mengejek. Dalam hatinya pria itu mengatakan kalau Lee akan


terjebak dengan keusilannya.


“Selamat


malam gadis,” sapa pria itu.


Sambil


mengunyah makanan, Lee mengangkat wajahnya sambil melihat pria itu yang sengaja


menutupi wajahnya separuh. Ia mengerutkan keningnya sambil memasang kewaspadaan


tinngi.


“Selamat


malam tuan,” sapa Lee kembali.


“Apakah


kamu akan memberikan aku uang seratus euro?” tanya pria itu. “Aku belum makan


seharian ini.”


Mendengar


pria itu belum makan, Lee hanya bisa memelas. Lee memberikan kebab itu ke arah


Erra. Lalu Erra mengambilnya dan melihat pria yang berada di hadapannya.


“Sepertinya


aku mengenal pria ini?” tanya Erra dalam hati. “Apakah dia adalah papaku?”


“Baiklah


tuan,” jawab Lee yang berdiri dan merogoh kantongnya.


Seketika


pria itu merasa dirinya merasa curiga karena dipandangi oleh Erra. Pria itu


akhirnya menoleh dan melihat keberadaan Erra sambil tersenyum devil. Ia


tersenyum mengejek sambil berkata dalam hati, “Janganlah kamu membuka kedokku


di hadapan singa betina. Awas saja kamu membukanya! Aku pastikan dirimu tidak


akan bisa tidur selama seminggu. Kamu harus menemaniku main catur.”


“Ah...


ini tuan,” ucap Lee yang menyerahkan uang itu ke pria yang berada di


hadapannya.


“Terima


kasih,” balas pria itu.


Sebelum


pergi meninggalkan Lee, pria itu mendekatinya sambil berbisik, “Jika kamu ingin


melakukan penyerangan di markas Black Lotus, hubungi aku!”


Sontak


saja Lee terkejut dengan pengakuan pria itu. Lee menatap wajah pria itu sambil


tersenyum dan menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Lalu pria itu segera


meninggalkan Lee tanpa berpamitan.


“Ternyata


pria itu adalah papa mertuaku,” batin Lee.


Melihat


kepergian papa mertuanya Lee menghempaskan bokongnya di samping Erra. Ia


menatap wajah Erra sambil bertanya, “Apakah mereka akan datang?”


“Iya...


mereka bersembunyi di suatu tempat,” jawab Erra sambil tersenyum hangat. “Habis


gini temani aku makan ya!”


“Beres,”


balas Lee.


“Kamu


tahu tadi siapa?” tanya Erra yang menatap wajah Lee.


“Iya...


dia adalah ketua. Sering sekali sang ketua muncul tiba-tiba seperti ini. Hanya


demi memberikan informasi,” jawab Lee yang memberitahukan kebiasaan sang papa


mertuanya itu.


“Kamu


enggak sadar kalau ketua kamu membawa pasukan khususnya. Yang terdiri dari para


papa itu?” tanya Erra dengan serius.


“Udah


biasa itu,” celetuk Lee. “Setiap pembicaraan yang kami dikusikan pasti mereka


tahu. Kalau tugas berat mereka turun tangan untuk membantu kami. Jika tidak berat

__ADS_1


mereka tidak membantu. Tapi mereka mengawasi saja. Sepertinya para papa ingin


ikut dalam misi ini?”


“Sepertinya.


Ah... biarkan saja. Mereka adalah pria gila yang suka membuat jantungan


anak-anaknya,” ujar Erra yang sudah biasa melihat para papa yang sering


menggila.


“Syukurlah


kamu tahu,” balas Lee.


Tak lama


ketiga pengawal itu datang secara bersamaan. Mereka mendekati Erra dan menatap


wajah sang tuannya. Mereka sengaja tidak membungkukkan badannya agar orang di


sekitaran tidak curiga.


“Ini,


ambilah,” suruh Erra yang menyodorkan kebab yang belum dimakannya.


“Baik,”


ucap salah satu dari mereka sambil meraih bungkusan kebab itu.


“Dan


ini,” sahut Lee yang memberikan uang sebesar dua ratus euro. “Buat makan


kalian.”


“Terima


kasih nyonya,” balasnya sambil meraih uang tersebut.


Lalu


mereka pergi meninggalkan Erra dan Lee. Setelah itu Lee menatap wajah Erra


sambil bertanya, “Apakah kakak tidak makan?”


“Makanlah.


Cacing-cacing yang berada di dalam perutku sedang berdemo meminta jatah


mereka,” jawab Erra.


“Baiklah


kita makan sekarang!” ajak Lee.


Di


tempat lain Garda dan Nanda sedang duduk sambil berhadapan. Mereka sedang


mendiskusikan soal keberadaan Brenda. Entah kenapa mereka merasa Brenda akan


“Kok perasaanku


enggak enak ya?” tanya Nanda.


“Maksud


kamu apa?” tanya Garda balik.


“Maksud


aku pernikahan Lee dengan Erra,” jawab Nanda. “Ada seseorang yang berusaha akan


membubarkan pernikahan mereka.”


“Hmmp...


aku juga begitu. Ada seorang wamita yang sangat ambisius sekali ingin


memisahkan Lee dan Erra,” ucap Garda yang menghela nafasnya.


“Bagaimana


pendapatmu?” tanya Nanda.


“Pendapatku


ini sangat tidak baik buat mereka. Terutama pada Erra,” jawab Garda.


“Ya...


kamu benar. Aku merasakan itu. Brenda benar-benar gila. Aku tahu dia akan


mengejar Erra sampai ke Jakarta,” ucap Nanda. “Apa yang harus kita lakukan?”


“Tenang


saja... kita sudah mengincarnya. Kita bebaskan terlebih dahulu. Kamu tahukan


yang namanya singa betina? Cepat atau lambat singa betina akan mengoyak


tubuhnya secara bersamaan,” jawab Garda.


Nanda


akhirnya paham akan hal itu. Mereka tersenyum kembali dan membayangkan,


bagaimana singa betina menghabisi pelakor.


New York


City USA.


Selesai


berbenah Brenda langsung meninggalkan kamarnya. Ketika melangkah Brenda melihat


seorang pria bertubuh kekar. Brenda memicingkan matanya sambil mendekatinya,


“Kamu siapa?”

__ADS_1


“Aku


Clay Satoshi. Aku dari kepolisian New York,” jawab Clay. “Oh... ya... kamu


Brenda?”


“Kamu


kok tahu, kalau aku adalah Brenda?” tanya Brenda yang tiba-tiba saja ramah.


“Ya...


aku tahu itu. Aku melihat kamu yang akan menculik Erra di toko kue sus beberapa


hari sebelumnya,” jawab Clay.


“Apakah


yang kamu imginkan?” tanya Brenda.


“Kamu


mau ke mana?” tanya Clay.


“Aku mau


pulang  ke Jakarta. Kemungkinan besar


kekasihku sudah pergi dari sini. Kamu tahukan kalau kekasihku kemungkinan besar


berada di sana. Aku sangat merindukannya.”


“Bolehkah


aku tahu sesuatu?” tanya Clay. “Siapa kekasihmu?”


“Kekasihku


adalah Erra Drajat,” jawab Brenda yang mengakui Erra dengan penuh percaya diri.


“Apakah


itu benar?” tanya Clay yang tersenyum manis.


“Ya...


itu benar,” jawab Brenda. “Apakah kamu tidak mempercayainya?”


“Tapi


kenapa Lee selalu bersamanya?” tanya Clay yang ingin tahu.


“Ya...


kamu tahukan kalau Lee sudah merebut Erra dari tanganku. Padahal saat itu aku


sudah dijodohkan olehnya?” tanya Brenda.


“Kalau


itu aku enggak tahu,” jawab Clay. “Apakah kamu akan mengajakku mengobrol di


sini?”


“Oh...


iya... sorry... sorry... aku akan membuka pintunya terlebih dahulu,” jawab Brenda.


“Sepertinya


kamu akan pergi sekarang?” tanya Clay.


“Penerbanganku


nanti malam. Kemungkinan besar aku akan check-out beberapa jam lagi,” jawab


Brenda sambil membukakan pintunya.


“Aku


ganggu enggak?” tanya Clay yang menebarkan senyuman manisnya itu.


“Enggak


juga,” jawab Brenda yang sedikit ramah. “Sepertinya kamu ada sesuatu yang ingin


kamu bicarakan?”


“Ini


sangat penting sekali,” jawab Clay.


“Kalau


begitu masuklah,” ajak Brenda yang masuk ke dalam.


“Baiklah,”


balas Clay.


Kemudian


Clay masuk ke dalam dan melihat suasana hotel itu yang masih rapi. Tanpa


dipersilakan duduk, Clay menghempaskan bokongnya di sofa.


“Kamu


mau ngomong apa?” tanya Brenda langsung to the poin.


“Apakah


kamu sangat mencintai Erra?” tanya Clay dengan serius.


“Ya...


aku samgat mencintainya. Bahkan aku tergila-gila sama Erra,” jawab Brenda yang


membayangkan Erra di dalam otaknya.


“Maukah


kamu bekerja sama denganku?” tanya Clay.

__ADS_1


__ADS_2