
Beberapa
saat kemudian datang seorang paruh baya mendekatinya. Pria itu melihat Lee
sambil tersenyum mengejek. Dalam hatinya pria itu mengatakan kalau Lee akan
terjebak dengan keusilannya.
“Selamat
malam gadis,” sapa pria itu.
Sambil
mengunyah makanan, Lee mengangkat wajahnya sambil melihat pria itu yang sengaja
menutupi wajahnya separuh. Ia mengerutkan keningnya sambil memasang kewaspadaan
tinngi.
“Selamat
malam tuan,” sapa Lee kembali.
“Apakah
kamu akan memberikan aku uang seratus euro?” tanya pria itu. “Aku belum makan
seharian ini.”
Mendengar
pria itu belum makan, Lee hanya bisa memelas. Lee memberikan kebab itu ke arah
Erra. Lalu Erra mengambilnya dan melihat pria yang berada di hadapannya.
“Sepertinya
aku mengenal pria ini?” tanya Erra dalam hati. “Apakah dia adalah papaku?”
“Baiklah
tuan,” jawab Lee yang berdiri dan merogoh kantongnya.
Seketika
pria itu merasa dirinya merasa curiga karena dipandangi oleh Erra. Pria itu
akhirnya menoleh dan melihat keberadaan Erra sambil tersenyum devil. Ia
tersenyum mengejek sambil berkata dalam hati, “Janganlah kamu membuka kedokku
di hadapan singa betina. Awas saja kamu membukanya! Aku pastikan dirimu tidak
akan bisa tidur selama seminggu. Kamu harus menemaniku main catur.”
“Ah...
ini tuan,” ucap Lee yang menyerahkan uang itu ke pria yang berada di
hadapannya.
“Terima
kasih,” balas pria itu.
Sebelum
pergi meninggalkan Lee, pria itu mendekatinya sambil berbisik, “Jika kamu ingin
melakukan penyerangan di markas Black Lotus, hubungi aku!”
Sontak
saja Lee terkejut dengan pengakuan pria itu. Lee menatap wajah pria itu sambil
tersenyum dan menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Lalu pria itu segera
meninggalkan Lee tanpa berpamitan.
“Ternyata
pria itu adalah papa mertuaku,” batin Lee.
Melihat
kepergian papa mertuanya Lee menghempaskan bokongnya di samping Erra. Ia
menatap wajah Erra sambil bertanya, “Apakah mereka akan datang?”
“Iya...
mereka bersembunyi di suatu tempat,” jawab Erra sambil tersenyum hangat. “Habis
gini temani aku makan ya!”
“Beres,”
balas Lee.
“Kamu
tahu tadi siapa?” tanya Erra yang menatap wajah Lee.
“Iya...
dia adalah ketua. Sering sekali sang ketua muncul tiba-tiba seperti ini. Hanya
demi memberikan informasi,” jawab Lee yang memberitahukan kebiasaan sang papa
mertuanya itu.
“Kamu
enggak sadar kalau ketua kamu membawa pasukan khususnya. Yang terdiri dari para
papa itu?” tanya Erra dengan serius.
“Udah
biasa itu,” celetuk Lee. “Setiap pembicaraan yang kami dikusikan pasti mereka
tahu. Kalau tugas berat mereka turun tangan untuk membantu kami. Jika tidak berat
__ADS_1
mereka tidak membantu. Tapi mereka mengawasi saja. Sepertinya para papa ingin
ikut dalam misi ini?”
“Sepertinya.
Ah... biarkan saja. Mereka adalah pria gila yang suka membuat jantungan
anak-anaknya,” ujar Erra yang sudah biasa melihat para papa yang sering
menggila.
“Syukurlah
kamu tahu,” balas Lee.
Tak lama
ketiga pengawal itu datang secara bersamaan. Mereka mendekati Erra dan menatap
wajah sang tuannya. Mereka sengaja tidak membungkukkan badannya agar orang di
sekitaran tidak curiga.
“Ini,
ambilah,” suruh Erra yang menyodorkan kebab yang belum dimakannya.
“Baik,”
ucap salah satu dari mereka sambil meraih bungkusan kebab itu.
“Dan
ini,” sahut Lee yang memberikan uang sebesar dua ratus euro. “Buat makan
kalian.”
“Terima
kasih nyonya,” balasnya sambil meraih uang tersebut.
Lalu
mereka pergi meninggalkan Erra dan Lee. Setelah itu Lee menatap wajah Erra
sambil bertanya, “Apakah kakak tidak makan?”
“Makanlah.
Cacing-cacing yang berada di dalam perutku sedang berdemo meminta jatah
mereka,” jawab Erra.
“Baiklah
kita makan sekarang!” ajak Lee.
Di
tempat lain Garda dan Nanda sedang duduk sambil berhadapan. Mereka sedang
mendiskusikan soal keberadaan Brenda. Entah kenapa mereka merasa Brenda akan
“Kok perasaanku
enggak enak ya?” tanya Nanda.
“Maksud
kamu apa?” tanya Garda balik.
“Maksud
aku pernikahan Lee dengan Erra,” jawab Nanda. “Ada seseorang yang berusaha akan
membubarkan pernikahan mereka.”
“Hmmp...
aku juga begitu. Ada seorang wamita yang sangat ambisius sekali ingin
memisahkan Lee dan Erra,” ucap Garda yang menghela nafasnya.
“Bagaimana
pendapatmu?” tanya Nanda.
“Pendapatku
ini sangat tidak baik buat mereka. Terutama pada Erra,” jawab Garda.
“Ya...
kamu benar. Aku merasakan itu. Brenda benar-benar gila. Aku tahu dia akan
mengejar Erra sampai ke Jakarta,” ucap Nanda. “Apa yang harus kita lakukan?”
“Tenang
saja... kita sudah mengincarnya. Kita bebaskan terlebih dahulu. Kamu tahukan
yang namanya singa betina? Cepat atau lambat singa betina akan mengoyak
tubuhnya secara bersamaan,” jawab Garda.
Nanda
akhirnya paham akan hal itu. Mereka tersenyum kembali dan membayangkan,
bagaimana singa betina menghabisi pelakor.
New York
City USA.
Selesai
berbenah Brenda langsung meninggalkan kamarnya. Ketika melangkah Brenda melihat
seorang pria bertubuh kekar. Brenda memicingkan matanya sambil mendekatinya,
“Kamu siapa?”
__ADS_1
“Aku
Clay Satoshi. Aku dari kepolisian New York,” jawab Clay. “Oh... ya... kamu
Brenda?”
“Kamu
kok tahu, kalau aku adalah Brenda?” tanya Brenda yang tiba-tiba saja ramah.
“Ya...
aku tahu itu. Aku melihat kamu yang akan menculik Erra di toko kue sus beberapa
hari sebelumnya,” jawab Clay.
“Apakah
yang kamu imginkan?” tanya Brenda.
“Kamu
mau ke mana?” tanya Clay.
“Aku mau
pulang ke Jakarta. Kemungkinan besar
kekasihku sudah pergi dari sini. Kamu tahukan kalau kekasihku kemungkinan besar
berada di sana. Aku sangat merindukannya.”
“Bolehkah
aku tahu sesuatu?” tanya Clay. “Siapa kekasihmu?”
“Kekasihku
adalah Erra Drajat,” jawab Brenda yang mengakui Erra dengan penuh percaya diri.
“Apakah
itu benar?” tanya Clay yang tersenyum manis.
“Ya...
itu benar,” jawab Brenda. “Apakah kamu tidak mempercayainya?”
“Tapi
kenapa Lee selalu bersamanya?” tanya Clay yang ingin tahu.
“Ya...
kamu tahukan kalau Lee sudah merebut Erra dari tanganku. Padahal saat itu aku
sudah dijodohkan olehnya?” tanya Brenda.
“Kalau
itu aku enggak tahu,” jawab Clay. “Apakah kamu akan mengajakku mengobrol di
sini?”
“Oh...
iya... sorry... sorry... aku akan membuka pintunya terlebih dahulu,” jawab Brenda.
“Sepertinya
kamu akan pergi sekarang?” tanya Clay.
“Penerbanganku
nanti malam. Kemungkinan besar aku akan check-out beberapa jam lagi,” jawab
Brenda sambil membukakan pintunya.
“Aku
ganggu enggak?” tanya Clay yang menebarkan senyuman manisnya itu.
“Enggak
juga,” jawab Brenda yang sedikit ramah. “Sepertinya kamu ada sesuatu yang ingin
kamu bicarakan?”
“Ini
sangat penting sekali,” jawab Clay.
“Kalau
begitu masuklah,” ajak Brenda yang masuk ke dalam.
“Baiklah,”
balas Clay.
Kemudian
Clay masuk ke dalam dan melihat suasana hotel itu yang masih rapi. Tanpa
dipersilakan duduk, Clay menghempaskan bokongnya di sofa.
“Kamu
mau ngomong apa?” tanya Brenda langsung to the poin.
“Apakah
kamu sangat mencintai Erra?” tanya Clay dengan serius.
“Ya...
aku samgat mencintainya. Bahkan aku tergila-gila sama Erra,” jawab Brenda yang
membayangkan Erra di dalam otaknya.
“Maukah
kamu bekerja sama denganku?” tanya Clay.
__ADS_1