
Sore itu juga rumah sakit Sebastian diserbu oleh para petinggi enam pilar utama. Mereka semangat menyambut kelahiran adik kembarnya Jake. Mereka sangat antusias sekali melihat kedua bayi itu yang terlelap tidur.
Lee mendekatinya lalu melihat kedua bayi itu sambil tersenyum tipis. Ia berharap kalau ketiga bayinya lahir dengan selamat.
Salah satu dari mereka membuka matanya. Bayi berselimut pink melihat Lee sambil tersenyum manis. Bayi itu memilih tidur lagi.
Melihat bayi itu yang terlelap, Lee tersenyum tipis. ia memegang tangan bayi itu sambil mendoakan agar menjadi orang sukses kelak. Lee sangat bahagia dan penuh haru ketika mendapat senyuman sang bayi.
"Ternyata dia tersenyum sama kamu," bisik Erra sambil tersenyum manis.
"Iya... aku melihatnya. Aku sangat bahagia sekali melihatnya tersenyum. Aku mendoakan kedua bayi ini bisa menjadi orang sukses," bisik Lee yang tidak ingin mengeluarkan suara gaduhnya.
Setelah itu Erra mengajak Lee pergi ke ruangan Bibi Ria. Yang dimana Bibi Ria adalah ibu dari Adrian. Adrian adalah dokter ortopedi yang menangani tulang Andi yang saat ini sedang bermasalah.
Mereka berjalan santai ketika menuju ke sana. Terkadang mereka saling melihat dan tersenyum tipis seperti orang baru saja berpacaran.
Sesampainya di sana, mereka melihat ada Imam bersama Suci. Mereka juga tidak sengaja melihat keberadaan Nanda dan Angela.
"Kalian disini?" tanya Erra.
"Iya... sedang periksa kandungan. Lihatlah para wanita kami yang sedang mengandung benih super kami," jawab Nanda yang mewakili jawaban Imam.
Seketika ketiga wanita itu melotot ke arah pasangan masing-masing. Mereka mulai mengeluarkan kilatan cahaya agar tidak berbicara sembarangan.
Ketiga pria itu langsung menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa ketiga wanitanya sangat menyeramkan sekali jika sedang marah.
"Sepertinya kita harus membelikan mereka coklat," celetuk Imam sambil berbisik namun terdengar oleh ketiga wanita itu.
"Ah... coklat," ucap Lee dan Suci bersamaan dengan mata berbinar.
"Ya nanti aku belikan," ucap Imam sambil tersenyum manis.
"Aku mau coklat juga kak," pinta Angela tersenyum manis.
"Ya... setelah ini kita beli," ucap Nanda dengan penuh kesabaran.
"Aku enggak mau coklat dijual disini," ujar Lee yang langsung membuat Erra memicingkan matanya.
"Memangnya kamu mau coklat apa?" tanya Erra.
__ADS_1
"Aku mau coklat asli Belgia," jawab Lee yang membuat Angela dan Suci menganggukkan kepalanya.
Mata mereka membulat sempurna. Mereka langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Mereka mulai menatap wajah secara bergantian dalam keadaan bingung.
"Dimana ada yang menjual coklat asli Belgia?" tanya Nanda yang tidak tahu toko mana yang menjual coklat Belgia asli.
"Nanti aku hubungi teman. Dia adalah pemilik toko penjual coklat dari banyak negara," jawab Imam.
"Aku tidak mau beli coklat di sini. Aku mau makan jika coklatnya asli dari Belgia," ucap Suci yang tidak mau memakan coklat itu.
"Begitu juga dengan aku," sahut Angela.
"Aku pun sama," ujar Lee yang tidak mau kalah dari mereka.
Ketiga pria itu hanya bengong mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Mereka tidak menyangka kalau ketiga wanita itu meminta hal aneh. Dengan terpaksa Erra langsung menyanggupi keinginan Lee.
Lalu bagaimana dengan Nanda dan Imam? Mereka sudah mendapatkan tatapan tajam dari wanitanya. Mau tidak mau mereka harus menurutinya dan menyanggupinya.
"Besok saja kita berangkat," ucap Nanda.
"Tidak!" tegas Angela yang tiba-tiba saja kesal dengan Nanda.
"Malam ini juga. Karena bayi kamu sedang meminta coklat," jawab Angela.
"Bagaimana?" tanya Nanda ke arah Imam dan Erra.
Mereka menganggukkan kepalanya dan menyetujuinya. Lalu Imam segera menghubungi seseorang untuk menyiapkan jet pribadinya dalam tiga jam ke depan.
Melihat banyaknya pasien malam ini, ketiga pria itu sudah tidak sanggup lagi menunggu antrian. Sebab ketiga wanitanya merengek meminta coklat. Dengan terpaksa Erra menghubungi pengawalnya untuk mengantarkannya ke bandara.
Di dalam perjalanan menuju ke sana, Lee masih membayangkan rasa coklat asli di dalam otaknya. Ia ingin memakannya sambil tersenyum manis. Lalu Erra hanya bisa menghela nafasnya secara kasar. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Memang Erra harus memiliki stok sabar demi menghadapi sang istri yang mengidam itu.
Sesampainya di bandara, mereka dengan kompak masuk ke dalam pesawat. Sebenarnya sih mereka tidak ada beban sama sekali membelikan coklat untuk pasangannya masing-masing. Tapi kenapa wanitanya meminta coklat asli Belgia dari pabriknya langsung.
"Inilah yang dinamakan ngidam berjamaah," celetuk Imam yang tertawa.
"Kamu benar," sahut Erra yang tertawa juga.
"Tapi mereka meminta coklat itu dari Belgia," ujar Nanda.
__ADS_1
"Aku sudah lama tidak ke sana,'' ucap Imam. ''Terakhir aku ke sana dia tahun yang lalu. Pas sedang membuat lahan pertanian untuk Pradipta. Sekarang lahan itu sedang dipegang oleh asistennya papa"
"Boleh tuh kita ke sana," celetuk Erra.
"Di kebun itu ada sebuah rumah mewah. Rumah itu ditujukan buat keluarga Pradipta yang akan berlibur ke sana," jelas Imam. "Kalau kalian pergi ke sana sambil liburan ayo. Jarang kan kita liburan ke sana bersama-sama."
"Boleh juga ide kamu itu," Nanda langsung menyetujui untuk liburan ke sana.
Sementara di rumah sakit terjadi kehebohan. Di saat berkumpul Bayu tidak melihat Lee bersama Erra. Begitu juga dengan Joko dan Irwan. Mereka juga tidak menemukan anak-anaknya.
"Tiba-tiba saja Nanda dan calon menantuku hilang?" tanya Joko yang mendapat tatapan tajam sama Bayu.
"Memangnya kamu memiliki calon menantu?" tanya Bayu yang baru mengetahui kalau Joko memiliki menantu.
"Ya... punya. Dia bernama Angela," jawab Joko yang membuat Bayu dan Irwan terkejut.
"Bagaimana bisa Angela menjadi menantu kamu? Bukannya Nanda sendiri adalah pria yang sangat pendiam? Ditambah lagi Nanda tidak pernah dekat," ujar Irwan yang mengetahui sifat Nanda.
"Ya... kamu tahu itu. Kalau Nanda adalah anakku yang paling misterius sekali," sahut Joko. "Diam-diam menghamili pengawal istriku."
"Apalagi aku. Diam-diam juga Imam memiliki seorang anak kecil yang lucu," kesal Irwan terhadap Imam.
"Jangankan kalian. Diam-diam Erra menikahi Lee tanpa sepengetahuanku," keluh Bayu.
"Ada apa dengan kita? Selama ini kita tidak pernah berbuat salah. Kenapa anak-anak kita berbuat ajar seperti itu," kesal Joko.
"Entahlah. Ada apa dengan kita?" tanya Irwan.
"Kalau begitu aku akan menyebarkan para pengawal untuk mencari keberadaan mereka," ucap Joko sambil meraih ponselnya dan menghubungi para pengawal itu.
Selesai menghubungi para pengawal, mereka memutuskan untuk bersantai. Lalu para Mama akhirnya datang dan mencari keberadaan putra dan menantunya itu. Wajah mereka langsung pucat dan ketakutan tidak bisa menemukan menantunya itu.
"Dimana Lee?' tanya Rani ke Bayu.
"Dimana Angela?" tanya Mama Yi ke Joko.
"Dimana Suci?" tanya Widya.
Ketiga wanita paruh baya itu langsung panik. Mereka juga tidak tahu dimana keberadaan mereka. Hingga akhirnya salah satu pengawal datang menghadap sambil berkata, "Mereka menghilang Tuan."
__ADS_1
"Apa!"