
Erra mengambil gelas entah milik siapa. Erra meminum teh hijau itu hingga tandas. Tak lama Erra merasakan ada sesuatu yang aneh. Yaitu Erra merasakan tubuhnya yang panas.
"Kenapa tubuhku panas sekali ya?" tanya Erra dalam hati.
Sam yang melihat satu gelas yang kosong mengerutkan keningnya. Sam melihat wajah Erra yang mulai berubah. Tak lama Sam tersenyum devil dan menyuruh Nanda berdiri, "Bantu aku mengantarkan Erra ke kamar Lee."
"Kenapa kamu menyuruhku ke kamar Lee?" tanya Nanda.
"Buruan… kalau kita enggak cepat-cepat! Salah satu dari kita akan menjadi korban," jawab Sam.
"Ada apa memangnya?" tanya Garda.
Mereka tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi. Mereka paham Erra terkena obat perangsang karena ulah Sam yang konyol itu. Dengan cepat Sam membawa Erra ke markas sebelah.
Sementara Garda curiga dengan kedua orang tersebut. Garda akan menunggu mereka kembali meminta penjelasan. Sementara itu mereka memakai mobil agar sampai ke markas sebelah. Beruntung saja markas milik Sam dan milik Lee hanya berjarak lima meter. Bisa dikatakan mereka bisa berjalan hanya membutuhkan waktu tiga menit.
Sesampainya di markas Lee, Sam menarik Erra dan mencari keberadaan Lee. Nanda melihat beberapa pengawal milik Lee sedang berjaga.
"Dimana kakak besar?" tanya Nanda.
"Ada dikamar," jawab Pita.
Nanda dan Sam langsung membawa Erra ke kamar Lee. Sesampainya di kamar Lee, Nanda mengetuk pintu sangat kencang. Sehingga Lee yang tertidur jadi terbangun.
"Haduh… siapa sih malam-malam mengganggu," kesal Lee yang matanya sangat berat sekali.
Lee memutuskan untuk bangun walau kantuk menyerang. Lee berjalan menuju pintu dan membukanya. Mata Lee membulat sempurna melihat Sam dan Nanda bersama Erra.
"Ka… kalian pada ngapain di sini?" tanya Lee yang bingung.
Jujur saja Lee bingung dengan mereka. Karena mereka sedang membawa Erra. Bukannya Lee tidak mau menerima sang suami. Akan tetapi Sam kenapa tidak cerita terlebih dahulu. Agar Lee bisa mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Erra.
"Aku mengantarkan suami kamu. Katanya ada sesuatu yang di bawah lagi menegang," jawab Sam tersenyum penuh arti sambil mendorong Erra hingga jatuh ke pelukan Lee.
Sam menutup pintunya dan mengaktifkan kode agar Lee dan Erra tidak kabur. Setelah itu mereka kembali ke markasnya.
Lee merasakan tubuh Erra sangat berat dan
__ADS_1
berusaha melepaskannya. Namun Erra tidak mau melepaskan Lee begitu saja. Lee akhirnya memapah Erra sampai ke ranjang.
"Kak," panggil Lee dengan lembut sambil melepaskan Erra.
Dengan mata sayu Erra membuka kemejanya dan menampakkan tubuh indahnya. Tak lupa juga Erra membuka semua celananya hingga tidak memakai sehelai benangpun. Lee yang melihat Erra yang tidak memakai benang sehelai pun terkejut. Matanya membulat sempurna ketika melihat ular piton milik Erra berubah menjadi besar. Sementara itu Erra tersenyum manis dan mendekati Lee dan merobek bajunya. Erra sudah tidak kuat lagi menahan hasr*t. Tanpa ada pemanasan Erra langsung menerkam Lee seperti binatang buas.
Lee hanya bisa pasrah mengikuti permainan sang suami. Lee berkata dalam hati sambil berteriak, "Sakarepmu mas… entek-enteken Kono. Aku wes pasrah."
Malam ini malam yang sangat indah sekali bagi kedua insan yang sedang memadu kasih. Untung saja Nanda bisa membobol sistem keamanan kamar Lee. Bahkan Nanda dengan cepat bisa meredam suara sialan itu. Hingga tidak terdengar ke luar.
Sekembalinya dari markas sebelah mereka tersenyum licik. Sekali-sekali mereka mengerjai calon ketua mafia White Eragon. Kapan lagi mereka akan melakukannya? Sedangkan Garda sedari tadi curiga dan mengerutkan keningnya. Garda langsung to the point menanyakan kejahilan mereka.
"Kalian terus terang saja padaku. Apa yang kalian lakukan pada Erra?" tanya Garda dengan kesal yang sedari tadi tidak melibatkan rencana gesrek mereka.
Flashback On.
Sore yang cerah di kamar Sam. Sam mencari keberadaan sesuatu. Tak lama Nanda masuk ke dalam dengan membawa susu kotak.
"Sam," panggil Nanda.
"Hari ini ada rencana keluar enggak?" tanya Nanda balik.
Setelah itu Sam menemukan sesuatu di laci. Sam mengambilnya dan tersenyum licik, "Aku rasa enggak deh. Aku ingin mengajak Erra menikmati teh hijau. Kamu tahukan Quan Shi habis pulang dari kampung membawa teh hijau yang khas itu."
"Oh… teh hijau dari desanya? Aku setuju. Aku merindukan teh hijau itu. Kapan aku bisa ke sana? Sementara pekerjaanku banyak," keluh Nanda yang tidak sengaja melihat Sam yang tersenyum licik. "Kamu kenapa tersenyum seperti itu? Kamu tahu senyummu itu sangat mengerikan."
"Ya… aku tahu itu. Aku memiliki rencana. Aku ingin mengerjai Erra malam ini," jawab Sam yang menghempaskan bokongnya di tepi.
"Apakah kamu berani mengerjai Erra? Kamu tahu di samping Erra ada Garda?" tanya Nanda yang melipat kedua tangannya di dada.
"Tahu. Aku tidak akan bilang ke Garda tentang soal ini. Kalau ngajak balok es itu ribet dan tidak bisa diajak kompromi," kesal Sam.
"Kalau begitu rencana kamu apa?" tanya Nanda.
"Aku akan membuatkan teh hijau buat Erra lalu dicampurkan dengan obat perangsang," jawab Sam.
"Sepertinya rencana kamu menarik. Kamu harus berhati-hati dengan Garda," ucap Nanda yang memperingatkan Sam.
__ADS_1
"Ok," balas Sam yang tersenyum puas karena mendapatkan dukungan penuh dari Nanda.
"Lalu jika obat itu bereaksi?" tanya Nanda lagi.
"Kita antarkan saja ke kamar adik kecil," jawab Sam. "Saat obat itu sudah bereaksi. Kamu pura-pura saja tidak tahu."
Nanda menganggukkan kepalanya tanda setuju. Akhirnya mereka sepakat untuk melakukan rencana itu semuanya.
Flashback Off.
"Sialan lu! Enggak ngajak-ngajak gue!" kesal Garda.
"Setiap berhubungan dengan Erra lu selalu menolak. Kenapa kali ini lu marah sama gue?" tanya Sam.
"Inikan lain. Gue mau Lee melahirkan keponakan gue," jawab Garda.
"Jadi lu?" tanya Sam.
"Kalau itu gue enggak akan nolak," jawab Garda yang tersenyum manis.
"Oalah," balas Nanda.
Rencana gesrek mereka telah disetujui oleh Garda. Garda sangat bahagia dan menunggu kabar Lee hamil. Entah kenapa mereka tersenyum lebar dan berdoa bersama-sama. Semoga mereka lancar dan bisa memiliki bayi.
Pagi yang dingin di kota Tottenham Inggris. Sepasang suami istri yang selesai bergulat di ranjang sedang menikmati tidur. Tubuh mereka sangat remuk dan kecapekan. Malam tadi Erra benar-benar menggila. Begitu juga dengan Lee yang sangat menggila. Berbagai macam gaya mereka lakukan. Saat Lee terserang kantuk sekejap rasa itu hilang.
Sedangkan pengawal Lee sedang kebingungan. Biasanya kakak besarnya itu keluar ketika matahari akan terbit. Namun kali ini tidak sama sekali. Kakak besarnya sedang menikmati tidur panjangnya.
"Tumben… kakak besar jam segini belum keluar?" tanya Cecilia yang sudah bersiap.
"Kak Sam semalam kesini bersama kak Nanda. Tapi kak Sam sedang membawa seorang pria. Entah siapa pria itu lalu mendorongnya ke dalam kamar Kakak besar," jawab Cathy.
"Siapakah pria itu? Kok Kak Sam berani membawa pria ke dalam markas kita?" tanya Cecilia.
"Entahlah. Kita tanya ke kakak besar," jawab Cathy.
Tak lama datang Arini yang sudah bersiap. Arini dibuat bingung dengan kedua seniornya sambil bertanya, "Ada apa? Sepertinya kalian sangat khawatir?"
__ADS_1